Menulis, Melawan Lupa

Agustus 24, 2008

Yang terucap kembali sunyi, yang tercatat menjadi abadi

Saya (lebih) percaya, bahwa menulis itu seperti belajar bersepeda. Teori-teori tentang menulis tak lebih hanyalah seperti mengenal onderdil-onderdil dari sepeda dan bagaimana cara naik pertama yang baik di atas sepeda. Namun itu tak otomatis membuat kita langsung bisa bersepeda. Bagaimana bisa bersepeda dengan baik dan benar, ya kita harus menaikinya dan kemudian mencoba mengayuh pedalnya. Sudah tentu, awalnya akan jatuh bangun dan terkadang membuat terluka. Bila dengan luka itu membuat kita jera, maka kita takkan pernah bisa naik sepeda. Namun bila kita mencoba dan terus mencoba, meski berkali-kali terluka, pasti bisa juga. Mahir atau tak mahir, setidaknya sudah bisa melaju di jalanan. Baca entri selengkapnya »


Kematian yang Terlalu Pagi

Agustus 16, 2008

(ini cerpen saya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan, juga terdapat dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07)

BERSAMA harum kamboja, tiba-tiba saja cahaya berebutan menerobos kamar dari jendela. Udara berpusing, teraduk-aduk, kertas-kertas berterbangan, buku-buku berbukaan bersicepat membolak-balik lembar halamannya sendiri di tengah lesatan bilah-bilah cahaya yang menyakitkan mata. Kamar pun banjir cahaya, menggigilkanku dalam sergapan ketakutan sekaligus ketakjuban. Gigilku dalam kecemasan melebihi kecemasanku atas kata-kata.
Seperti sepasang sayap yang saling bersedekap, perlahan cahaya menjadi lebih tenang. Gelombang udara pun membantun pelan. Dalam gentar yang teramat, kuberanikan membuka perih mata menangkap sesosok. Cahaya! Cahaya! Ahai! Tuankah malaikat itu? Tuankah? Baca entri selengkapnya »


Lelaki dan Pelacur

Juli 20, 2008

(Ini cerpen lama, yang saya tulis tahun 1998. Yeah, sekadar iseng, saya coba tampilkan di sini. Barangkali ada yang baca… )

 

BEGITULAH. Abidin seolah-olah baru tersadar. Dan mendapatkan dirinya sudah berada di sebuah lokalisasi, dalam kamar bersama seorang pelacur. Ketika pelacur itu hendak melucuti pakaiannya sendiri, kontan Abidin tersentak. Kaget.

“Tunggu…tunggu. Apa-apaan ini,” katanya bingung.

“Lho, bukankah mas berada di sini untuk ini?” jawab pelacur itu tak kalah bingung. Baca entri selengkapnya »


Hudan III

Juli 13, 2008

Dia terlihat baik-baik saja, tapi siapa tahu dalam hatinya…?

Hudan Nur kembali hadir di Book Café, Sabtu (12/7) malam. Kali ini dia bersama Isuur Loeweng membacakan cerpen saya, Tubuh dan Kepala Mencari Rupa. Ia sudah terlihat lebih baik. Canda tawanya kembali berderai, seakan peristiwa kecelakaan tiga bulan lewat telah menjadi bagian masa lalunya – meski dia masih harus menjalani beberapa perawatan termasuk rencana operasi cairan darah beku di dalam kepalanya akibat benturan saat tabrakan di wilayah Pelaihari itu. Berikut ini adalah sambungan catatannya saat dirawat di RS Ulin, Banjarmasin, yang dibacakan pada malam Minggu (7/7), pekan lalu: Baca entri selengkapnya »