Bandung-Banjar yang Kukenal…

Posted November 27, 2009 by sandi
Categories: Uncategorized

Di bawah ini beberapa “perbandingan” antara kota BANDUNG dan BANJAR (Kalimantan Selatan). Tentu saja ini hanya berdasarkan pengamatan dan analisis dangkal saya yang baru sekian bulan tinggal di BANDUNG (sedangkan di BANJAR cukup lama, bertahun-tahun). Bagi yang mengenal kedua kota ini, boleh bersepakat juga boleh tidak. Boleh “meralat” juga boleh menambahkan. Silakan…

BANDUNG: Setiap sekira 2 kilometer terdapat mini market (bisa alfamart, indomaret, superindo, borma, yomart, griya, atau circel K yang buka 24 jam).
BANJAR: Setiap sekira 2 kilometer terdapat langgar (surau) atau masjid.

BANDUNG: 2 dari 3 wanitanya, cantik.
BANJAR: No Comment. (tergantung selera…)

BANDUNG: 1 dari 7 wanitanya, merokok.
BANJAR: 1 dari 20 (barangkali).

BANDUNG: Nasi bungkus (daun pisang) Rp2000 tanpa lauk.
BANJAR: Tambah Rp 50 (= Rp2500) nasi bungkus (daun pisang) pakai lauk telor, ayam, atau haruan (ikan gabus)

BANDUNG: Sebagian besar jalan diteduhi pohon-pohon tua nan rimbun.
BANJAR: Sebagian besar jalan diteduhi “pohon-pohon” baliho.

BANDUNG: Siang malam udaranya dingin.
BANJAR: Siang malam tetap panas.

BANDUNG: Seperti halnya wilayah Jabar lainnya, termasuk rawan gempa.
BANJAR: Seperti halnya wilayah Kalimantan lainnya, rawan banjir.

BANDUNG: Tarif angkot berdasarkan jauh dekat jarak (Rp1000- Rp6000).
BANJAR: Tarif angkot jauh dekat sama

BANDUNG: Jarang terjadi antrean panjang di pom bensin (tak banyak penjual bensin eceran).
BANJAR: Sering terjadi antrean panjang di pom bensin (penjual bensin eceran hampir setiap 10 meter)

BANDUNG: Banyak terdapat pemain teater.
BANJAR: Banyak terdapat penyair.

BANDUNG: Pameran lukisan hampir tiap pekan (sama seringnya dengan konser musik).
BANJAR: Pameran lukisan kadang-kadang (setahun sekali mungkin hanya “kewajiban”).

BANDUNG: Diskon/Bazaar buku hampir tiap bulan.
BANJAR: Setahun sekali sudah bagus.

BANDUNG: Kaset cd film (di gramedia) jarang diskon.
BANJAR: Di gramedia jalan veteran justru diskonnya besar dan cukup lama.

BANDUNG: Jenis kulinernya beraneka ragam.
BANJAR: Idem.

BANDUNG: Satu gelas teh (biasanya pakai teh celup) Rp 1000
BANJAR: Satu gelas (biasanya teh saringan) Rp 1000 juga.

BANDUNG: Satu gelas kopi hitam (biasanya kopi sachet) Rp 1500.
BANJAR: Satu gelas kopi hitam (biasanya bukan kopi sachet) Rp 1500 juga.

Oke, ada yang mau menambahkan…?

Bandung; Apa yang Anda Pikirkan?

Posted Oktober 9, 2009 by sandi
Categories: Esai

Kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis.

Bila Anda asli urang Sunda (baca: Bandung), pernahkah menanyakan kepada orang lain apa kira-kira yang terlintas di benaknya ketika pertama kali disebutkan nama Kota Bandung? Mungkin jawabnya adalah Kota Kembang—sesuai dengan julukan kota ini, seperti halnya Bogor disebut Kota Hujan.

Atau, ketika disebutkan Kota Bandung maka yang langsung terbayang adalah kesejarahannya (Bandung lautan api), gedung sate, kulinernya, atau justru neng geulis-nya? Ya, orang bisa menyebut apa saja sesuai dengan apa yang diketahui dan dipahaminya.

Dari sekian julukan dan identifikasi itu, apakah semuanya (masih) relevan? Siapakah yang tahu mengapa (dulunya) Kota Bandung disebut sebagai Kota Kembang? Apakah karena di kota ini banyak terdapat kembang? Atau kembang itu hanya metafora dari neng geulis? Hmm…, saya kira yang terakhir itu yang lebih tepat. Sebab, kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis. Read the rest of this post »

Setelah Pinggul, Paha, Selanjutnya..?

Posted September 6, 2009 by sandi
Categories: Esai

Barangkali memang lebih banyak wanita yang lebih percaya diri dengan apa yang dipakainya daripada apa yang dipikirkannya.

Rasanya baru kemarin kita menyaksikan pinggul-pinggul wanita yang berkibaran lantaran model bawahan hipster (celana atau rok yang dikencangkan di bawah pinggul) yang dipadukan dengan baju agak pendek. Kini, gaya baru yang kita lihat di jalan-jalan, mal, atau malah di kampus, adalah wanita-wanita dengan paha terbuka. Trend celana pendek yang sekarang banyak digandrungi (tak hanya wanita muda) membuat paha-paha mereka bisa ditatap bebas, tak peduli apakah paha itu putih bersih, sawo matang, ideal, gemuk atau kurus, malah tak jarang kita juga mendapati paha yang selulit. Alahai…
Read the rest of this post »

homesick

Posted September 2, 2009 by sandi
Categories: Esai

..aku masih mengingat kampung kecil itu; angin yang datang dari tepi laut, musala dengan pohon sawo berdaun lebat – tempat waktu kecil menunggu bedug berbuka dan salat tarawih, pelita di depan rumah, dan tegur sapa ramah kerabat tetangga. Akhirnya, selalu, semuanya bermuara pada dua pasang batu kembar di tanah lapang….[]

di puncak bogor…

Posted Agustus 22, 2009 by sandi
Categories: Perjalanan

puncak

memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta’Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat…

sebelumnya, selama perjalanan pulang dari Bogor ke Bandung lewat jalur puncak (saat berangkat ke Bogor pada Kamis (20/8) itu kami lewat jalan tol cipularang), papan-papan bertuliskan villa berderet sepanjang jalan nyaris hanya berjarak 50 meter. Kebanyakan villa-villa  itu menjorok ke arah dalam, baik ke tebing maupun ke atas. Tentu saja setiap villa itu menawarkan view yang menarik; pemandangan lembah, perkebunan teh yang begitu luas, serta puncak-puncak yang berjajar tinggi rendah. Namun, sebagian orang juga menghubungkan villa ini dengan layanan perempuannya. Dan seketika saja saya teringat dengan seorang teman (tak elok pasti bila saya menuliskan namanya di sini…)

memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta’Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat…

Alhamdulillah, saat berada di puncak di Masjid Atta’Awwun, waktu memasuki salat Ashar. Brrrr… betapa dinginnya kala air di kran masjid membasuh tangan. Makmum, yang sebagian besar adalah pelancong, cukup banyak mengisi shaf, sekira lima baris. Barangkali, ketinggian puncak mengingatkan diri kepada sang pencipta — bukankah kala kita berdoa menadahkan tangan, dan nabi pun mi’raz ke langit ke tujuh…, puncak semesta…

memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta’Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat…

di puncak, aku mengingatmu penuh seluruh…