Novel Lampau

lampau okee
Judul: Lampau
Penulis: Sandi Firly
Jumlah Halamanan: 356 hlm
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga: Rp48.000
ISBN: 979-780-620-0

Setelah beberapa waktu merasakan hidup di Ibu Kota, Sandayuhan atau Ayuh harus melangkahkan kakinya lagi ke kampung halaman. Sebuah surat yang menyebutkan bahwa Uli Idang, ibunda Ayuh, sakit keras. Hanya Ayuhlah yang mampu menyembuhkannya karena ia adalah seorang Balian.
Sayangnya, terkadang perjalanan hidup seseorang tidak mesti sesuai dengan takdir yang telah digariskan. Seperti halnya Uli Idang yang begitu yakin bahwa Ayuh bisa menjadi seorang Balian, Ayuh malah tertarik untuk menjadi seorang penulis.
Tidak hanya itu, dalam ‘pelariannya’ di Ibu Kota, Ayuh juga bertemu seorang perempuan yang membuatnya kagum. Seorang perempuan yang tidak mengingatkannya pada takdir yang menunggu.
Namun, kisah Ayuh bersama Alia—perempuan yang membuatnya kagum—juga tidak semulus apa yang ia pikirkan. Dalam perjalanannya menuju kampung halaman, karena Uli Idang membutuhkan bantuannya, tanpa sadar Ayuh teringat pada sesosok gadis berkepang dua dari masa lalunya.
Ayuh pun bimbang. Seperti halnya ia bimbang antara menerima takdir menjadi Balian atau mengenyampingkannya. Ayuh juga tak tahu, mana yang harus ia pilih antar Alia atau gadis masa lalunya.
*****
Lampau merupakan sebuah novel karya Sandi Firly yang akan mengajakmu menyelami perjalanan hidup dan masa lalu seorang lelaki yang ditakdirkan menjadi seorang Balian. Novel terbitan GagasMedia ini begitu sarat akan budaya dan tradisi. Berbalut kisah cinta yang bersisian dengan garis takdir, novel ini begitu menarik untuk diikuti. Kemanakah langkah kaki akan membawa lelaki itu? Temukan jawabannya dalam novel ini.

http://www.gagasmedia.net/artikel/1262-lampau-yang-menjelma-kini-yang-mewujud-lalu.html

Tahun Baru

//Saya pernah membayangkan, bagaimana seandainya pada malam tahun baru malaikat Israfil tergoda meniup terompet sangkakala?//

Tahun berganti. Kita pun segera membiasakan untuk mencatatkan angka tahun 2012; di buku-buku kerja, di surat-surat, di kwitansi, dan juga barangkali di salah satu sudut lembaran pertama buku novel yang baru dibeli. Awal-awal mungkin kita masih terlupa mencatat angka tahun baru itu – karena serasa masih di tahun 2011, dan betapa itu akan menyadarkan kita bahwa tahun telah berganti, dan waktu terasa begitu cepatnya berlari.

Almanak di rumah, di kantor, juga akan segera berganti dengan yang baru, tahun 2012. Hanya jam dinding yang tidak berganti. Tetap jam yang itu-itu juga dari tahun ke tahun – kecuali baterainya yang sering diganti karena mati.

Seperti biasa, perpindahan tahun akan selalu disambut dengan gegap-gempita. Pesta-pesta dan arakan-arakan. Dari pesta jalanan hingga ruang-ruang rahasia. Kembang-kembang api selalu saja memiliki pesona yang tidak pernah bosan untuk dinikmati saat memancar di langit yang hitam di malam tahun baru. Dentaman petasan dari yang terkecil hingga yang mampu membuat jantung berdebar dan telinga berdengung seperti hendak mengguncang dunia agar tetap terjaga meski malam telah larut. Juga terompet-terompet yang tak henti ditiup seolah-olah dengan meniup terompet itu maka kita berhak atas malam pergantian tahun itu, berhak ikut gembira, berhak menjadi bagian dari orang-orang yang secara bersama-sama larut dalam euforia itu.

Namun saya pernah membayangkan, bagaimana seandainya pada malam tahun baru itu malaikat Israfil tergoda meniup sangkakala? Begitu banyaknya terompet yang ditiup pada malam tahun baru sehingga seolah-olah dunialah yang sedang berteriak, tidakkah itu akan mengundang kejengkelan dan kecemburuan Israfil? Barangkali merasa diejek oleh kesombongan manusia-manusia yang seakan dengan meniup terompet itu dia merasa telah memiliki dunia ini.

Sedangkan kita telah membaca, malaikat Israfil senantiasa meletakkan terompet sangkakala di mulutnya. Terompet itu di mulutnya sejak alam raya ini diciptakan. Nah, tidakkah itu berarti sangkakala senantiasa siap ditiupkan? Bayangkan pula, sebagai malaikat yang mendapat tugas satu-satunya sebagai peniup sangkakala, tidakkah Israfil ingin segera melaksanakan tugas itu agar tunai? Meniup terompet berupa tanduk raksaksa yang terdiri dari cahaya. Bercabang empat; ke barat, ke timur, ke bawah bumi, dan ke langit ketujuh. Besar tiap lingkaran dalam tanduk itu selebar langit dan bumi. Terompet itu akan ditiup sebanyak tiga kali. Tiupan pertama membuat makhluk takut, tiupan kedua makhluk mati, tiupan ketiga membangkitkan makhluk dari kubur.

Untunglah malaikat tidak punya selera humor. Misalnya Israfil merasa tergoda untuk meniup terompet itu sebelum ada perintah dari Tuhannya. Tidak juga akan iseng dua malaikat yang menemaninya, malaikat Jibril di sebelah kiri dan malaikat Mikail sebelah kanannya, misalnya dengan merebut terompet itu dari mulut Israfil. Namun, Israfil disebutkan selalu memasang telinga untuk mendengarkan perintah untuk meniup sangkakala itu!

Tapi dunia memang penuh senda gurau. Maka perenungan malam tahun baru adalah perenungan yang berdebam, lebam, bukan perenungan yang diam. Pergantian tahun disambut seperti sebuah ujian yang berhasil dilewati, dan kemudian menyosong tahun baru dengan gairah yang terlalu berlebihan pada malam hari awal tahun itu. Meski ketika keesokan harinya, di siang hari pertama tahun baru, kita terbangun dengan perasaan nelangsa menatap matahari siang yang telah meninggi karena baru tidur pagi hari. Dan itu adalah matahari yang itu-itu juga, meski tahun telah berganti. Lalu apakah bedanya tahun baru, selain hanya almanak-almanak yang berganti dan usia kita yang dikurangi?

Barangkali di siang hari pertama itu juga akan ada perasaan getir. Usia hidup terpotong, kita terus menua, jauh meninggalkan masa kanak-kanak atau usia muda sepuluh atau duapuluh tahun lalu. Tapi juga barangkali tetap akan ada perasaan gembira, karena berada di antara keluarga; istri dan anak-anak tercinta. Menghitung-hitung hidup, baik dan buruk selama tahun 2011 yang telah lewat. Lalu menatap hari-hari tahun 2012 dengan perasaan riang, dan syukur.[]

15 Penulis Terpilih UWRF 2011


TEMPO Interaktif, Denpasar – Sejumlah 15 penulis Indonesia terpilih untuk tampil di ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Mereka yang lolos dalam proses kurasi itu akan diundang untuk mengikuti UWRF 2011 pada 5-9 Oktober mendatang di Ubud, Bali.

“Mereka berasal dari berbagai daerah di nusantara. Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, serta NTB. Semua terwakili dalam jajaran para penulis terpilih ini,” ujar Manajer Pengembangan Komunitas UWRF Kadek Purnami, Jumat, 3 Juni 2011.

Para penulis itu adalah Alan Malingi (Bima/NTB), Arafat Nur (Aceh), Aulia Nurul Adzkia (Ciamis), Budy Utamy (Riau), Fitri Yani (Bandar Lampung), Ida Ahdiah (Tangerang), Irianto Ibrahim (Kendari), Pinto Anugrah (Padang), Ragdi F. Daye (Padang), Rida Fitria (Lumajang), Sandi Firly (Banjarmasin), Sanie B. Kuncoro (Solo), Saut Poltak Tambunan (Jakarta), Satmoko Budi Santoso (Yogyakarta), dan Wahyudin (Banten).

Para penulis ini dipilih dalam sidang Dewan Kurator UWRF 2011 yang berlangsung di Sanur akhir Mei lalu. Dewan Kurator beranggotakan empat penulis senior, yaitu Kurnia Effendi (Jakarta), Iyut Fitra (Payakumbuh), Dorothea Rosa Herliany (Magelang), dan Made Adnyana Ole (Bali).

“Para penulis terpilih ini telah mencerminkan prinsip kenusantaraan karena mereka berasal dari daerah serta latar budaya yang beragam. Karya-karya mereka pun beragam bentuknya, ada yang menulis puisi, ada yang menulis novel, esai, cerpen, dan juga naskah drama,” ujar Kurnia Effendi.

Beragam karya itu terinspirasi dari banyak hal, di antaranya kekayaan cerita daerah dari tanah kelahirannya, eksplorasi kehidupan dan tantangan yang dialami para buruh migran Indonesia di luar negeri.

Keragaman latar belakang penulis, bentuk karya dan tema ini, menurut Iyut Fitra, akan memungkinkan terjadinya diskusi dan tukar pikiran yang hangat saat para penulis terpilih ini berkumpul di Ubud. “Semoga pertukaran ide dan dialog yang terjadi selama UWRF 2011 akan saling menginspirasi para penulis dan tentunya makin meneguhkan jalinan kebangsaan kita,” ujarnya.

Dorothea Rosa Herliany meminta pihak panitia UWRF untuk lebih memberikan perhatian kepada wilayah timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, yang tidak terwakili dalam jajaran para penulis terpilih kali ini. Menurut dia, perlu dipikirkan langkah-langkah tambahan untuk memperkenalkan UWRF ke wilayah timur serta untuk mendorong partisipasi para penulis di wilayah tersebut..

Kadek Purnami mengungkapkan bahwa para penulis terpilih itu diseleksi dari sekitar 235 penulis yang telah mengajukan karya-karyanya ke panitia UWRF 2011. “Tahun ini jumlah penulis yang mengikuti seleksi memang meningkat luar biasa. Tahun lalu ada 105 penulis yang mengikuti proses seleksi,” ujarnya.

Para penulis yang mengirim karyanya untuk proses seleksi tahun ini berasal dari 60 kota di Indonesia. “Ini menunjukkan bahwa memasuki tahun kedelapan, UWRF telah berhasil menjadi salah satu ajang kesusastraan yang paling dikenal di Indonesia,” ujarnya.

Para penulis terpilih akan diterbangkan ke Ubud untuk menghadiri UWRF 2011. Selain itu, karya-karya terpilih mereka akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi bersama festival.

Sejak 2008, UWRF telah menerbitkan tiga antologi bilingual yang menghimpun karya-karya para penulis terpilih Indonesia. Antologi pertama berjudul Reasons for Harmony, kedua berjudul Compassion and Solidarity, dan ketiga berjudul Harmony in Diversity. Buku-buku ini telah dikirim ke berbagai universitas dan pusat penulisan di luar negeri untuk lebih memperkenalkan sastra Indonesia ke tataran global.

Seluruh proses seleksi dan partisipasi penulis Indonesia terpilih serta penerbitan antologi dibiayai bersama oleh UWRF dan Hivos, sebuah lembaga nirlaba asal Belanda yang memajukan upaya-upaya demokratisasi dan pembangunan masyarakat sipil di negara-negara berkembang.

UWRF diselenggarakan pertama kali pada 2004. Kini, telah berkembang menjadi salah satu festival sastra terbesar di dunia. Fatimah Bhutto, penyair yang juga cucu mendiang PM Pakistan Zulfikar Ali Bhutto, memuji UWRF sebagai festival sastra terbaik di dunia.

Tahun ini, UWRF akan mengangkat tema “Nandurin Karang Awak” / Cultivate The Land Within yang terinspirasi oleh puisi tradisional karya mendiang Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta-pujangga terbesar Bali di abad ke-20.[]

Rumah Debu: Ketidakberdayaan dalam Segitiga Kekuasaan

Oleh: Aprinus Salam
Dosen Pascasarjana Prodi Sastra FIB UGM.

Pengantar: Perihal Tiga Kekuasaan
Awalnya, ketika membaca Rumah Debu, ada dugaan cerita akan berkitar pada kehidupan religi para santri. Sebagian tokohnya merupakan orang-orang pesantren dan ada kehidupan pesantren yang diceritakan di dalamnya meskipun tidak banyak kosa kata dari lingkup santri. Namun kemudian, cerita juga sedikit bergulir mengenai persaingan para preman dalam memperebutkan kekuasaannya menarik uang dari sopir-sopir truk pengangkut batu bara. Selain itu, ada pula penceritaan mengenai kehidupan keluarga seorang pengusaha pertambangan batu bara. Dari cerita-cerita itu, penulis novel ini seperti ingin menunjukkan kesalinghubungan ketiganya dalam membentuk suatu alur kisah kehidupan masyarakat di dalam novel.
Dalam pandangan Langland (1989: 4), masyarakat dalam karya sastra berbeda dengan masyarakat yang ada di dalam realitas. Menurutnya, masyarakat yang ada di dalam karya sastra memiliki fungsi sebagai bagian dari elemen pembentuk novel. Di sini, kehadiran masyarakat ditujukan oleh pengarang untuk mengungkap suatu maksud yang dengannya pengarang akan memosisikan tokoh-tokohnya pada peristiwa-peristiwa yang nanti akan mengembangkan karakter mereka. Melalui kehidupan pesantren, persaingan antarpreman, dan permasalahan keluarga pengusaha pertambangan batu bara, novel ini membangun masyarakat dalam suatu struktur kekuasaan. Tulisan ini akan memfokuskan bahasan pada masalah tersebut.
Secara garis besar, Rumah Debu mendedahkan tiga kekuasaan. Pertama, kekuasaan agama yang diwakili Guru Zaman. Kedua, kekuasaan uang yang direpresentasikan melalui tokoh Pak Ismail dan Ibu Diyang. Ketiga, kekuasaan fisik yang diwakili kelompok Pak Sawang dan Udin Tungkih. Pada akhirnya, tulisan ini akan menyoroti posisi Rozan, tokoh utama dalam novel ini, yang tidak masuk secara tegas ke dalam tiga struktur kekuasaan tersebut. Di sini, Rozan seakan ingin lepas dari ketiga kekuasaan itu dan membangun kekuasaan baru. Apakah Rozan berhasil membangun kekuasaan yang baru itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, akan diuraikan dulu ketiga kekuasaan yang ada dalam novel ini. Lanjut membaca

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 5,700 times in 2010. That’s about 14 full 747s.

 

In 2010, there were 5 new posts, growing the total archive of this blog to 71 posts.

The busiest day of the year was January 16th with 107 views. The most popular post that day was Bab Terakhir Novel Rumah Debu.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were hajriansyah.wordpress.com, search.conduit.com, facebook.com, kayuhbaimbai.org, and manusiasuper.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for makkah, cerita mini, hujan, pinggul wanita, and warung makan.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Bab Terakhir Novel Rumah Debu January 2010
24 comments

2

Salat Jumat di Makkah July 2010
23 comments and 2 Likes on WordPress.com

3

cerita-cerita mini February 2009
30 comments and 1 Like on WordPress.com,

4

Pinggul yang Berkilauan August 2007
16 comments

5

Ensiklopedia (Sekadarnya) Sastra Kalsel September 2008
83 comments

Menunggukah, Kau…?

….

Ya, cukup lama saya tidak menulis di blog ini.
Terakhir Ramadan lalu, sudah sekian bulan berlalu.
Tetapi, apakah memang ada yang benar-benar merindui tulisan saya di blog sederhana ini?
Apakah, misalnya, ketika seorang teman bertanya “Mana tulisan barunya?” itu berarti dia sungguh-sungguh menunggu tulisan saya? – meski harus saya akui, pertanyaan semacam itu kadang membuat saya “malu” – ya, malu karena lama tidak menulis lagi, dan malu apakah memang pantas tulisan saya ditunggu sedemikian rupa.

Saya juga kadang bertanya, mengapa lama sekali tidak menulis lagi.
Apakah saya kehilangan “daya” untuk menuliskan sesuatu?
Memang, perjalanan hidup telah membawa saya melewati pelbagai macam peristiwa – tapi bukankah memang begitulah hidup?
Nasib adalah kesunyian masing-masing, kata Chairil Anwar.

Tetapi, apakah memang ada yang benar-benar merindui tulisan saya di blog sederhana ini?
Yang kadang saya pikir barangkali hanyalah omong kosong – dan kalian tentu takkan mendapat apa-apa setelah membacanya. Dan andaipun kalian merasa mendapatkan sesuatu, itu bukanlah semata karena tulisan saya, tapi telah bercampur layaknya dua unsur kimia dengan pengalaman Anda.
Walau, sering juga saya terkesima ketika membaca kata-kata dari sebuah puisi atau novel, atau catatan apa pun (dan mungkin itu di antaranya adalah tulisan Anda), dan saya takjub. Kendatipun saya tak harus mengerti kata-kata itu, seumpama puisi gelap.

Saya tahu,
Saya masih tak tahu harus menulis apa setelah lama tak menulis.
Tapi setidaknya ini juga adalah sebuah tulisan, bukan?
Anggap saja, kita adalah dua kawan lama yang lama tak berjumpa. Dan saya masih merasa kikuk di depan Anda, dan tak tahu berkata apa…
Semoga nanti kita, tentu saja saya, bisa lebih banyak bercerita, sebelum blog ini yang saya andaikan sebuah taman benar-benar ditinggalkan karena tak terawat penuh rumput-rumput liar dan bangku-bangku yang semula berwarna putih menghitam berkarat layaknya sebuah hutan tak bertuan.

Menunggukah, kau…?[]

Ramadan Kali Ini…

Ramadan kali ini, saya bersama keluarga di tanah jauh. Tak mudik, karena si kecil masih belum bisa dibawa terbang. Jadi, ini kali pertama Lebaran di luar tanah Banjar – meski tahun kemarin Idul Adha juga di Bandung.

Ramadan dan Idul Fitri memang selalu mengingatkan kita kepada orang-orang yang kita cintai. Kepada keluarga dan sahabat. Baik yang masih hidup maupun tiada. Bahkan, Ramadan juga selalu mengingatkan kita kepada kampung halaman. Sebab itulah, menjelang akhir Ramadan, orang berbondong-bondong menuju udik (mudik), tempat asal ia berasal. Ada yang melesat di kereta, melaju di sepeda motor, mengarungi lautan di kapal, dan mengangkasa di kapal udara. Semuanya dalam satu perasaan, ingin membilas rindu dendam pada kampung halaman, pada orang-orang yang selalu dikenang.

Ramadan kali ini, saya dan keluarga di tanah jauh. Tak mudik. Adakah bedanya?

Ramadan kali ini, tak banyak permenungan yang saya lakukan. Saya tak kuat mengenang yang hilang. Lagi pula Nabi menyuruh kita bergembira menyambut Lebaran. Berbagi kebahagiaan bersama keluarga, tetangga, anak-anak kecil di sekitar.

Ramadan kali  ini, kepada kalian pengunjung blog ini, saya ucapkan:
SELAMAT IDUL FITRI
1 Syawal 1431 H
Mohon Maaf Lahir & Batin

Semoga kita masih betemu Ramadan tahun depan. Amin…