Bandung; Apa yang Anda Pikirkan?

Oktober 9, 2009

Kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis.

Bila Anda asli urang Sunda (baca: Bandung), pernahkah menanyakan kepada orang lain apa kira-kira yang terlintas di benaknya ketika pertama kali disebutkan nama Kota Bandung? Mungkin jawabnya adalah Kota Kembang—sesuai dengan julukan kota ini, seperti halnya Bogor disebut Kota Hujan.

Atau, ketika disebutkan Kota Bandung maka yang langsung terbayang adalah kesejarahannya (Bandung lautan api), gedung sate, kulinernya, atau justru neng geulis-nya? Ya, orang bisa menyebut apa saja sesuai dengan apa yang diketahui dan dipahaminya.

Dari sekian julukan dan identifikasi itu, apakah semuanya (masih) relevan? Siapakah yang tahu mengapa (dulunya) Kota Bandung disebut sebagai Kota Kembang? Apakah karena di kota ini banyak terdapat kembang? Atau kembang itu hanya metafora dari neng geulis? Hmm…, saya kira yang terakhir itu yang lebih tepat. Sebab, kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis. Baca entri selengkapnya »


Setelah Pinggul, Paha, Selanjutnya..?

September 6, 2009

Barangkali memang lebih banyak wanita yang lebih percaya diri dengan apa yang dipakainya daripada apa yang dipikirkannya.

Rasanya baru kemarin kita menyaksikan pinggul-pinggul wanita yang berkibaran lantaran model bawahan hipster (celana atau rok yang dikencangkan di bawah pinggul) yang dipadukan dengan baju agak pendek. Kini, gaya baru yang kita lihat di jalan-jalan, mal, atau malah di kampus, adalah wanita-wanita dengan paha terbuka. Trend celana pendek yang sekarang banyak digandrungi (tak hanya wanita muda) membuat paha-paha mereka bisa ditatap bebas, tak peduli apakah paha itu putih bersih, sawo matang, ideal, gemuk atau kurus, malah tak jarang kita juga mendapati paha yang selulit. Alahai…
Baca entri selengkapnya »


homesick

September 2, 2009

..aku masih mengingat kampung kecil itu; angin yang datang dari tepi laut, musala dengan pohon sawo berdaun lebat – tempat waktu kecil menunggu bedug berbuka dan salat tarawih, pelita di depan rumah, dan tegur sapa ramah kerabat tetangga. Akhirnya, selalu, semuanya bermuara pada dua pasang batu kembar di tanah lapang….[]


di puncak bogor…

Agustus 22, 2009

puncak

memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta’Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat…

sebelumnya, selama perjalanan pulang dari Bogor ke Bandung lewat jalur puncak (saat berangkat ke Bogor pada Kamis (20/8) itu kami lewat jalan tol cipularang), papan-papan bertuliskan villa berderet sepanjang jalan nyaris hanya berjarak 50 meter. Kebanyakan villa-villa  itu menjorok ke arah dalam, baik ke tebing maupun ke atas. Tentu saja setiap villa itu menawarkan view yang menarik; pemandangan lembah, perkebunan teh yang begitu luas, serta puncak-puncak yang berjajar tinggi rendah. Namun, sebagian orang juga menghubungkan villa ini dengan layanan perempuannya. Dan seketika saja saya teringat dengan seorang teman (tak elok pasti bila saya menuliskan namanya di sini…)

memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta’Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat…

Alhamdulillah, saat berada di puncak di Masjid Atta’Awwun, waktu memasuki salat Ashar. Brrrr… betapa dinginnya kala air di kran masjid membasuh tangan. Makmum, yang sebagian besar adalah pelancong, cukup banyak mengisi shaf, sekira lima baris. Barangkali, ketinggian puncak mengingatkan diri kepada sang pencipta — bukankah kala kita berdoa menadahkan tangan, dan nabi pun mi’raz ke langit ke tujuh…, puncak semesta…

memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta’Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat…

di puncak, aku mengingatmu penuh seluruh…


Surat dari Cakrawala

Juli 25, 2009

Salam sastra,

Kiranya memang inilah saatnya. Saya telah sampai pada jalan yang tidak lagi hanya lurus ke depan, tapi ada sebuah belokan yang begitu menggoda saya. Dan saya memilihnya.

Saya pun tiba-tiba seperti terjaga, bahwa jalan lurus selama ini terasa kian melenakan, sehingga melemahkan daya hidup saya. Sedangkan pada jalan berbelok itu, masih misteri, menjanjikan warna-warna baru dan menggelorakan tantangan.

Memang, bukan hal mudah untuk akhirnya saya memilih jalan berbelok itu. Di jalan sekarang ini, di Banjarbaru ini, di tempat kerja saya Radar Banjarmasin ini, semuanya tidaklah terbangun begitu saja. Dan betapa juga begitu banyak hal yang mewarnai perjalanan hidup saya selama ini, selama sembilan tahun lebih sejak Radar Banjarmasin berdiri pada 25 Januari tahun 2000 lalu. Terlebih, saya termasuk orang pertama di koran ini. Baca entri selengkapnya »