Dan apakah kaum pria harus bersyukur untuk ini?
Huah! Hari-hari ini kita kerap disuguhi pemandangan pinggul-pinggul yang berkibar-kibar di jalanan, mal-mal, warung-warung makan, hingga kampus. Pinggul-pinggul itu menyembul dan berkilauan karena baju “adik”—istilah untuk baju kekecilan– yang dikenakan kaum hawa itu terlalu kecil, pendek dan sering tertarik ke atas hingga tak bisa menutup seluruh jenjang badannya. Jadilah…, huah!
Ruang pinggang celana bagian belakang, tak jarang juga bagian depan, yang terbuka sedemikian rupa saat duduk di sepeda motor atau di kursi, kadang juga memberikan pemandangan lebih di sebaliknya. Ya, kita bisa melihat warna celana dalam yang dikenakan, bahkan hingga ke mereknya. Terkadang kita juga melihat ada gambar di celana dalam itu, entah boneka yang lucu atau mungkin kupu-kupu, atau malah ada tato? Beruntung saja, barangkali kita tak pernah melihat celana dalam yang karetnya terputus atau warnanya yang telah memudar. Ini saya yakini, karena kaum hawa yang mengenakan baju kekecilan — yang beberapa teman wanita saya juga tak tahu namanya– itu memang sadar sesadar-sadarnya bahwa pinggulnya sewaktu-waktu memang bisa menyembul lantaran baju kecil yang dikenakannya. Sebab itulah maka setiap yang berada di bagian pinggul bawah belakang itu dipastikan haruslah mencerminkan keindahan dan clean.
Dari tren memakai baju “adik” yang setiap saat bisa mengibar-ngibarkan pinggul sang pemakainya, maka terciptalah jua suatu budaya di sekitar bagian pinggul itu. Ya, budaya untuk memelihara keelokan di wilayah yang sebenarnya cukup sensitif bagi memicu adrenalin kaum pria. Jadi percayakah bila para kaum hawa yang senang memakai baju “adik” itu juga akan lebih rajin membersihkan bagian pinggulnya? Juga rajin merawat celana dalamnya, atau cukup selektif memilih celana dalamnya? Ya, ini agar setiap yang tersembul dari bagian pinggul yang terbuka itu tetap berkilauan dan mencerminkan suatu keelokan. Memang belum ada survei untuk kasus ini, tapi mungkin saja ini bisa menjadi bahan pemikiran bagi produsen alat-alat kecantikan bagaimana membuat pinggul yang sering tersembul itu menjadi lebih indah, termasuk juga produsen celana-celana dalam agar bagian belakang celana dalam yang tersembul itu menjadi lebih keren dan menarik, entah secara estetika atau malah secara seksualitas. Hmm…
Janganlah berpikiran bahwa kaum hawa yang suka berpakaian baju “setengah badan”– istilah lainnya– atau yang memakai celana hipster yang memperlihatkan selingkaran pinggulnya itu malu dengan berpakaian seperti itu. Boleh jadi, mereka justru bangga karena bisa memamerkan sedikit keindahan dari bagian anggota tubuhnya (dan apakah kaum pria harus bersyukur untuk ini?). Namun kenyataannya, kaum pria atau setidaknya saya justru sering merasa “malu”, tapi barangkali juga “malu-malu”, melihat keindahan pinggul yang berkilauan itu. Bagaimana tak malu atau malu-malu bila terus menatap pinggul itu di tengah keramaian jalan atau warung makan? Apa pula penilaian orang terhadap lelaki yang suka menatap pinggul perempuan yang terbuka, kalau bukan lelaki “nakal” atau lelaki yang tak tahu etika? Tapi, sebenarnya siapakah yang tak beretika?
Saya yakin, selain malu-malu menatap pinggul yang berkilauan itu, juga pasti ada kaum pria yang di benaknya pernah terbersit untuk mencolek pinggul yang berkilauan itu. Atau malah lebih dari itu? Astaga!
Keindahan, atau kenikmatan (?), melihat pinggul-pinggul yang berkilauan di jalan-jalan itu barangkali seperti menikmati ayam tepung. Gurih dan renyah. Hmm… inilah sebuah “kemajuan” dari mode perpakaian yang memberikan suatu sensasi tersendiri bagi (kaum hawa) pemakainya dan juga bagi siapa saja yang memandangnya. Atau, barangkali memang ada konsep berpakaian yang mengatakan seperti ini: semakin sedikit kain yang menutupi tubuh, dan semakin banyak anggota tubuh yang terbuka, maka semakin indahlah gaya berpakaiannya—yang kemudian lahirlah jenis-jenis pakaian ala tank top atau celana hipster.
Yeah, cara berpakaian atau apapun namanya untuk sebuah penampilan, memang lebih banyak diadopsi dari tayangan-tayangan di televisi, termasuk iklan. Juga dari surat kabar atau majalah. Boleh jadi, banyak remaja putri – jangan-jangan di antaranya anak gadis kita, adik kita, kakak kita, saudara kita, atau teman kita — sekarang ini yang meniru penampilan Agnes Monica, yang sebenarnya bintang cantik itu pun meniru gaya berpakaian Britney Spears.
Dan kita, suka atau tidak suka, hanya bisa menjadi penyaksi atau malah ikut arus dari perkembangan suatu konstruksi citra budaya dalam berpakaian, termasuk yang memperlihatkan pinggul berkilauan – yang sungguh, tak jarang kita juga melihat ada belahan (tidak pakai kata: maaf*) pantat di sana. Huah!
*) Saya sengaja tidak meminta maaf untuk menyebutkan kata “pantat”, sebab mereka yang memperlihatkan pantat di jalanan itu pun tidak pernah menuliskan, misalnya: “Maaf, saya memperlihatkan pantat saya”.
**) Dengan sedikit revisi, Potret ini pernah terbit di Radar Banjarmasin edisi 12/8/2005



Agustus 10, 2007 pada 11:52 pm
Ha ha ha dulu ketika kebudayaan blum berkembang, manusia ngak pakai busana, kembali ke zaman batu bisa aja kali je
Agustus 12, 2007 pada 2:38 pm
salam pantat…. welcome to the blog world :p
Agustus 18, 2007 pada 4:28 am
Mungkin mereka sudah sampai pada puncak peradaban ’sakit’ sehingga balik ke peradaban menuju zaman flinstone, mungkin.
Nah, kalau di Indonesia ada yang meniru, menurut saya: inilah yang disebut sebagai ghozwul fikri.
Salam kenal dari saya, Irsan
Agustus 18, 2007 pada 5:07 pm
pinggul berkibar, tapi kalian (lelaki) suka kan..?
Oktober 3, 2007 pada 10:06 am
wah, bang sandi, puasa2 postingannya, hehehe. salam kangen bang sandi! apa kabarkah istri dan anakmu? salam ya!
Oktober 5, 2007 pada 4:14 pm
Judul dan foto yang terpampang asyik juga…he..he… bejejalanan selajur belelihat….web kekawanan
Januari 1, 2008 pada 2:51 pm
ihiks ihiks….Payah walai…handak dilihat tatarusan kawalnya Setan…., kada dilihat sayang Gratisan… huiikk…, lihat sekali aja kedua kali bahaya ketagihan kena….badimapa walai ngintip pang kawa kada lah ???
Salam dari Surabaya
Januari 1, 2008 pada 4:56 pm
…sebab pantat-pantat itu adalah wajah-wajah kita…
Januari 17, 2008 pada 4:07 am
walah walah pantat aja diliat,toh itu juga buat”e’ek”
salam menado
Maret 21, 2008 pada 3:16 pm
slt ca va b1 si tri jouli biane moi akenitra
Maret 28, 2008 pada 2:10 pm
busyeeeeeeet..bikin horni lah