Sajak Sebatang Pohon Karet

Aku telah menyaksikan gajah-gajah besi
seperti pasukan Abrahah di tepi hutan ini
berderap, menerbangkan debu hitam batubara
dan tanah kering merah bata

Pepohonan sunyi burung
embun lesap sebelum mencium daun
angin kaku, kehilangan peta arah
pada subuh beraroma barah

Tanah terang, anak penakik getah datang
wajahnya pucat lesi bulan kesiangan
telah terbayang harga karet turun beribu-ribu
sebab getahku berserbuk, kesat kain belacu

Nadiku tercekat berlarat-larat
dalam bola mata anak penakik getah yang sekarat
tepi hutan, tepi kematian
suaranya kian menghilang

Kubayangkan arakan ababil datang dari samudra sunyi
menghujani gajah-gajah besi dengan batu api
langit terbakar, berkibar, menerbangkan lelatu
tepi hutan ini pun berubah menjadi abu

bulan awal tahun 2008

Yang Bertahan dan Melawan
: kepada Jhonson Maseri di pegunungan Meratus

Selalu ada yang bertahan dan melawan
di tanah ulayat dan hutan larangan
setiap jengkal tanah, sebatang pohon
adalah warisan hidup tujuh turunan

Chico Mendes
lelaki liat hutan Amazonia
meradang
menghadang deru gergaji siang malam
meski akhirnya tumbang ditembus peluru bayaran
di tanah basah ia rebah
…,
dan kita membaca
seorang teman mengenangnya, Luis Sepulveda
pada buku Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta 

bulan awal tahun 2008

Explore posts in the same categories: puisi

5 Comments on “”

  1. sandi Says:

    kenal balik juga…

  2. Balisugar Says:

    San belm update ? aku mau baca

  3. sandi Says:

    sudah update mbak, selamat menikmati hujan…

  4. Rizky adha Says:

    Asaslamualaikum mas Sandi… salam kenal…
    Wah, sajaknya benar2 meresap setalah saya baca… Semoga kita dapat bertukar pikiran yaa… Nanti kalo ada waktu mas sandi mampir ya ke blog saya di : rizkyadha.blogspot.com… Saya tunggu mass…


Comment: