Arsip untuk Juni, 2008

Saigo

Juni 29, 2008


Percayakah, hasrat manusia akan damai sama besarnya dengan hasrat membuat senjata pemusnah yang paling mematikan?

Ketika sekelompok kecil prajurit Jepang di gua pulau Iwo Jima terdesak oleh pasukan Amerika, sang pimpinan memutuskan agar para prajurit Jepang itu bunuh diri, suatu tindakan yang diyakini sebagai sikap ksatria.

“Saudara-saudara, kita adalah pasukan kehormatan Kaisar. Satu-satunya bagi kita adalah gugur secara hormat. Inilah takdir kita… untuk menemukan tempat kita di Kuil Suci Yasukuni. Kita akan bertemu di sana,” khotbah sang pimpinan dengan hikmat sekaligus heroik. “Banzaaaiiii….!” Maka satu per satu prajurit jepang itupun meledakkan diri mereka sendiri dengan granat tangan. Hancur tercerai-berai.

Baca entri selengkapnya »

Jalan Perbatasan

Juni 12, 2008

perbatasan kalsel-kalteng 

Cukup dengan merasakan jalan mobil Anda, andaipun Anda menutup mata (tentu tidak sambil nyetir) saat melakukan perjalanan dari Banjarmasin ke Palangka Raya, Anda tetap bisa mengetahui persis apakah Anda berada di wilayah Kalsel atau Kalteng. (Percaya sajalah…)

ANDA lama tak melakukan perjalanan ke Palangka Raya lewat jalur darat?
Saya menanyakan itu, karena saya juga hampir dua tahun tak melakukannya. Sampai kemudian pada Mei 7 2008 lalu saya ke sana, dan tampaklah perbedaan yang nyata itu.

Saya berangkat pagi-pagi bersama Hajriansyah, penyair yang juga cerpenis di Banjarmasin, untuk menghadiri acara bedah buku kumpulan cerpen saya berdua Harie Insani Putra, “Perempuan yang Memburu Hujan”, di Universitas Palangka Raya. Selama masih melaju di atas jalanan Kalsel, tak ada perbedaan yang terasa, masih seperti dulu, jalanan berlubang-lubang dan bergelombang. Itu sudah bertahun-tahun, barangkali jumlah lubang jalanannya telah bertambah pula.

Baca entri selengkapnya »