Arsip untuk Agustus, 2008

Ramadan, Maka Berbahagialah…

Agustus 31, 2008

 Pinggan perak sungguh gemilang
antik cawan dari pangeran
saban lekang Ramadan menjelang
patik mohon maaf pada puan dan tuan
selamat menjalankan puasa. (lf)

SMS itu saya terima dari seorang penulis perempuan keturunan Tionghoa, Lan Fang (seperti inisial lf yang dicatatkannya di akhir SMS-nya itu), Jumat (29/8) lalu. Apakah Lan Fang seorang muslimah? Sungguh saya tak tahu.

Saya yakin, beberapa kawan sastrawan di Kalsel juga mendapatkan SMS yang sama dari penulis novel Perempuan Kembang Jepun itu. Barangkali Lan Fang mengirimkan SMS ke saya, karena mengingat perkenalan pada tahun 2007 lalu di Kongres Cerpen Indonesia (KCI) di Banjarmasin. Atau, mungkin dia juga mengingat bahwa dia pernah mengirimkan cerpennya ke email saya untuk diterbitkan di halaman Cakrawala. Atau, barangkali sebenarnya dia tidak ingat sama sekali siapa saya. Tapi karena nama saya ada di ponselnya, lalu dia pun mengirimkan SMS itu – dan saya lebih meyakini yang terakhir ini. Baca entri selengkapnya »

Menulis, Melawan Lupa

Agustus 24, 2008

Yang terucap kembali sunyi, yang tercatat menjadi abadi

Saya (lebih) percaya, bahwa menulis itu seperti belajar bersepeda. Teori-teori tentang menulis tak lebih hanyalah seperti mengenal onderdil-onderdil dari sepeda dan bagaimana cara naik pertama yang baik di atas sepeda. Namun itu tak otomatis membuat kita langsung bisa bersepeda. Bagaimana bisa bersepeda dengan baik dan benar, ya kita harus menaikinya dan kemudian mencoba mengayuh pedalnya. Sudah tentu, awalnya akan jatuh bangun dan terkadang membuat terluka. Bila dengan luka itu membuat kita jera, maka kita takkan pernah bisa naik sepeda. Namun bila kita mencoba dan terus mencoba, meski berkali-kali terluka, pasti bisa juga. Mahir atau tak mahir, setidaknya sudah bisa melaju di jalanan. Baca entri selengkapnya »

Kematian yang Terlalu Pagi

Agustus 16, 2008

(ini cerpen saya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan, juga terdapat dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07)

BERSAMA harum kamboja, tiba-tiba saja cahaya berebutan menerobos kamar dari jendela. Udara berpusing, teraduk-aduk, kertas-kertas berterbangan, buku-buku berbukaan bersicepat membolak-balik lembar halamannya sendiri di tengah lesatan bilah-bilah cahaya yang menyakitkan mata. Kamar pun banjir cahaya, menggigilkanku dalam sergapan ketakutan sekaligus ketakjuban. Gigilku dalam kecemasan melebihi kecemasanku atas kata-kata.
Seperti sepasang sayap yang saling bersedekap, perlahan cahaya menjadi lebih tenang. Gelombang udara pun membantun pelan. Dalam gentar yang teramat, kuberanikan membuka perih mata menangkap sesosok. Cahaya! Cahaya! Ahai! Tuankah malaikat itu? Tuankah? Baca entri selengkapnya »