Arsip untuk September, 2008

Mudik (2)

September 27, 2008

(surat terbuka kepada sahabat, kawan, yang kenal, dan tak mengenal saya)– catatan ini diterbitkan di Cakrawala, Sastra Budaya Radar Banjarmasin, edisi Minggu 28 September 2008.

Ketika catatan ini kalian baca, barangkali saya tengah melaju dalam perjalanan menuju kampung halaman nan jauh di pesisir Kalimantan Tengah sana. Saya bersama istri dan anak kami yang baru berusia satu setengah tahun berangkat pagi-pagi sekali. Sehabis sahur dan salat subuh, seorang teman dengan mobilnya akan mengantarkan kami ke Palangka Raya – selanjutnya saya bersama istri dan si kecil akan melanjutkan lagi menuju Sampit – kota yang pernah mencatat amuk sejarah di tahun 2001 itu. Baca entri selengkapnya »

Mudik

September 21, 2008

Ada perjuangan yang keras kepala untuk bisa memenuhi panggilan pulang kampung halaman.

Bila Anda sama seperti saya, terserak dari puak, terpisah jauh dari keluarga dan tanah tumpah darah kelahiran, maka saya percaya di hari-hari terakhir Ramadan ini Anda sedang dideru rindu. Kampung nan jauh di mata itu seperti melambai-lambai memanggil pulang. Dan saya percaya, kerinduan keluarga dan teman-teman akan kehadiran Anda di tengah-tengah mereka di saat Lebaran menjadi satu kekuatan yang terus menarik-narik jiwa Anda agar menemui mereka. Baca entri selengkapnya »

Ensiklopedia (Sekadarnya) Sastra Kalsel

September 18, 2008

Ini adalah catatan kritis Ivan Denisovitch, sastrawan tinggal di Banjarbaru, e-mail: jipah_imaji@yahoo.com, terhadap buku Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (ESKS) terbitan Balai Bahasa Banjarmasin, 2008, yang dimuat di Cakrawala Radar Banjarmasin (Edisi Minggu 14 September). Judul aslinya: Ensiklopedi untuk Dokumentasi.

Alhamdulillah, telah terbit Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (ESKS), hasil jerih payah kawan-kawan di Balai Bahasa Banjarmasin (penyusun,  editor, penyunting) dan delapan sastrawan Kalsel (Tajuddin Noor Ganie, Micky Hidayat, Ali Syamsudin Arsi, R. Rangga, Jamal TS., Eko Suryadi WS, Burhanuddin Soebely, Fahmi Wahid dan Tajuddin Bacco)  sebagai koordinator (pengumpulan data) untuk daerahnya masing-masing.
Menurut Tim Penyusunnya, penerbitan ESKS berawal dari pengamatan terhadap sastra di Kalsel yang ternyata mempunyai tradisi sastra (sastra Banjar dan sastra Indonesia di Kalsel) yang berkembang dengan baik; tetapi, perkembangan itu belum terdokumentasi dengan baik. Untuk menunjukkan keberadaan, kekayaan, dan keberagaman sastra serta tradisi bersastra masyarakat Banjar, sepatutnya diperlukan sebuah ensiklopedia yang datanya lengkap.  Baca entri selengkapnya »

Sudah Bolong Berapa (Puasa)?

September 12, 2008

Dan tahukah Anda, kala apa yang paling tidak enak
dari tidak puasa di saat yang lainnya berpuasa?

Saat ini saya tulis, Ramadan telah memasuki hari ke-12. Nah, sejauh ini, sudah berapakah puasa (kita) yang bolong? (Yang puasanya tidak bolong, tak usah merasa tersinggung, dan silakan terus melanjutkan membaca tulisan ini).

Waktu kecil, puasa saya suka bolong (jadi, apakah jika sekarang puasa saya masih bolong, itu berarti saya masih seperti anak kecil?).

Tapi ada satu pikiran saya, mengapa puasa saya musti bolong. Ini terjadi ketika saya mulai beranjak remaja. Dalam satu bulan puasa, saya sering (waktu remaja dulu) menjatah bolong puasa satu hari. Ya, cuma satu hari. Mengapa cuma 1 hari? Tidak 2 atau 3 hari, atau satu minggu, atau satu bulan–kalau yang terakhir, itu kata bang haji Rhoma Irama: t.e.r.l.a.l.u–? Jawabnya tidak tahu. Pokoknya waktu itu pikiran saya cuma ingin minta “jatah” bolong puasa sama Tuhan satu hari (tentu saja tanpa minta persetujuan Tuhan, atau siapa pun). Baca entri selengkapnya »