Dan tahukah Anda, kala apa yang paling tidak enak
dari tidak puasa di saat yang lainnya berpuasa?

Saat ini saya tulis, Ramadan telah memasuki hari ke-12. Nah, sejauh ini, sudah berapakah puasa (kita) yang bolong? (Yang puasanya tidak bolong, tak usah merasa tersinggung, dan silakan terus melanjutkan membaca tulisan ini).
Waktu kecil, puasa saya suka bolong (jadi, apakah jika sekarang puasa saya masih bolong, itu berarti saya masih seperti anak kecil?).
Tapi ada satu pikiran saya, mengapa puasa saya musti bolong. Ini terjadi ketika saya mulai beranjak remaja. Dalam satu bulan puasa, saya sering (waktu remaja dulu) menjatah bolong puasa satu hari. Ya, cuma satu hari. Mengapa cuma 1 hari? Tidak 2 atau 3 hari, atau satu minggu, atau satu bulan–kalau yang terakhir, itu kata bang haji Rhoma Irama: t.e.r.l.a.l.u–? Jawabnya tidak tahu. Pokoknya waktu itu pikiran saya cuma ingin minta “jatah” bolong puasa sama Tuhan satu hari (tentu saja tanpa minta persetujuan Tuhan, atau siapa pun).
Dengan “jatah” bolong puasa satu hari itu, saya ingin merasakan bagaimana rasanya tidak berpuasa di saat orang-orang sedang berpuasa; makan di saat orang-orang tak makan, merokok di saat orang-orang tidak merokok. Nah, bagaimanakah rasanya?
Sumpah, ternyata tidak enak. Mengapa? Ya, karena tetap saja tidak bisa bebas makan atau merokok. Tidak mungkin makan atau merokok di sembarang tempat, apalagi tempat terbuka secara umum. Di rumah? Apalagi, takut ketahuan orangtua atau kakak. Jadilah makannya sembunyi-sembunyi – seperti tempat sakadup. Kalau merokok, asapnya dikibas-kibas agar cepat hilang disapu angin, itu pun di dalam kamar atau di tempat tersembunyi (hanya berteman iblis, barangkali, hehee…)
Dan tahukah Anda, kala apa yang paling tidak enak dari tidak puasa di saat yang lainnya berpuasa? Itu adalah “kala waktu berbuka tiba”. Saat berbuka ini, kita (yang tidak puasa) dengan seolah-olah berpuasa menahan lapar dan haus seharian, ikut duduk di meja makan bersama keluarga yang berpuasa – barangkali dengan rasa tidak sabar yang lebih besar untuk segera melahap makanan. Atau, duduk di warung (sekarang di Banjarbaru ada angkringan) dengan juga seolah-olah berpuasa, ikut memesan nasi dan minuman untuk berbuka. Lantas kita (yang tidak puasa) tetap dengan seolah-olah berpuasa ikut juga berbuka ketika sirene berbuka telah berbunyi. Dan barangkali, kita (yang tidak berpuasa) lebih lahap makannya dari mereka yang berpuasa.
Lalu, di manakah rasa tidak enaknya itu? Rasa tidak enak itu bukan pada makanannya. Tapi pada kebohongan yang diam-diam kita sembunyikan di dalam hati. Bohong kepada diri sendiri, bohong kepada orang lain, dan bohong kepada Tuhan. Tapi kita tidak akan pernah bisa berbohong kepada kebohongan kita sendiri.
Nah, sudah bolong berapa? Yang begitu selesai baca ini langsung kabur, pasti bolongnya banyak, hehehee…. Mohon maaf, bercanda, dan ini juga bukan kultum. Semoga puasa kita tunai. Met puasa…
Tags: Esai

September 12, 2008 pada 6:43 am
He..he..he.. Baru kali ini dunia komentar Sandy Firly sepi, sampai sampai aku menjadi yang pertama berkomentar. Atau hanya sebuah kebetulan. Baru posting beberapa menit yang lalu, dan aku menjadi pengunjung yang pertama. Alhamdulillah bang, ramadhan kali ini sedikit lenggang bagiku. Tapi naasnya aku sempat keteteran juga “5 laps” berturut turut, salah satu alasannya karena anjuran pak Dokter. Tapi tidak menutup kemungkinan, adanya indikasi lain. Bagaimana dengan kau kawanku, yang sedang membaca tulisan ini? (Duh… Supan jua nah… Maraha…)
September 12, 2008 pada 12:35 pm
Alhamdulillah…
Sampai saat ini lancar, paling tidak gugur kewajiban dulu
September 12, 2008 pada 3:03 pm
Tidak makan tidak minumnya sejauh ini lancar.. cuma nafsu yang lain masih suka main selonong, apalgi kalo jalan ke duta mall liat ABG pake rok mini,… Halah…
September 14, 2008 pada 4:14 am
Tidak makan tidak minumnya sejauh ini lancar.. cuma nafsu yang lain masih suka main selonong, apalgi kalo jalan ke duta mall liat ABG pake rok mini,… Halah…
(Koler comment, sama aja dgn yang dimaksud ManSup
September 15, 2008 pada 6:34 am
masalah puasa sampai detik dimana koment ini ditulis saya masih penuh, horeeeee
September 16, 2008 pada 4:06 am
nah..kalo komen yang ini..koler baungap…lain lage kesahnya… hihihihi
September 17, 2008 pada 3:36 am
hai teman,apa kabar?semoga taon ini kau tak ada niatan buat bolong puasa, hehe. karena suerr, nggak enak banget nggak puasa di bulan puasa! met menjalankan ibadah ramadhan ya…
September 21, 2008 pada 1:58 pm
Bos Sandi, kalau menahan lapar dan dahaga serta hal-hal fisik itu sepertinya tidak sulit. Paling repot adalah menahan panca indera ini, apalagi mata ini. Maklum, terkadang mata ini selalu mencari-cari keindahan ciptaan Tuhan hehehee…
Selamat meneguk nikmat Ramadan, semoga kita menjadi lebih baik tahun ini dan tahun depan, diberi kesempatan untuk menjumpainya lagi.
September 28, 2008 pada 9:22 am
Assalamu’alaikum
Saya Ila, salam kenal
saya lihat tulisan Anda bagus sekali, simple tapi menyampaikan pesan… dan jujur sekali.
Terus terang saya ingin belajar menulis seperti Anda. Karena seorang teman memberi tahu kepadaku jika saya ingin belajar menulis agar mengunjungi blog Anda. May you teach me? And I’ll learn to you, to be a good writer like you…
Salam kenal
Ila