Mudik
Ada perjuangan yang keras kepala untuk bisa memenuhi panggilan pulang kampung halaman.
Bila Anda sama seperti saya, terserak dari puak, terpisah jauh dari keluarga dan tanah tumpah darah kelahiran, maka saya percaya di hari-hari terakhir Ramadan ini Anda sedang dideru rindu. Kampung nan jauh di mata itu seperti melambai-lambai memanggil pulang. Dan saya percaya, kerinduan keluarga dan teman-teman akan kehadiran Anda di tengah-tengah mereka di saat Lebaran menjadi satu kekuatan yang terus menarik-narik jiwa Anda agar menemui mereka.
Mudik. Kembali ke udik. Fenomena inilah yang akan kita saksikan mendekati pekan terakhir Ramadan ini. Orang-orang berjejal-jejalan di kapal laut, di kereta, di terminal, di bandar udara. Tak peduli seberapa panjang antreannya, tak peduli betapa terhimpit di antara tubuh-tubuh dan barang, tak peduli seberapa besar ongkos yang harus dikeluarkan. Tak peduli. Ini adalah sebuah perayaan tahunan. Tak bisa ditukar, tak bisa ditunda keberangkatan. Mudik. Kembali ke udik. Kembali ke kampung halaman yang telah membayang-bayang sepanjangan. Kembali kepada kehangatan keluarga dan teman-teman yang sekian lama tak bersua, berjabat tangan, berpelukan, berbagi cerita.
Yang tak mudik ke mana-mana menjelang Lebaran ini, mungkin karena di kota inilah ia dilahirkan, barangkali ia akan merasa heran mengapa para pemudik itu rela berjejal-jejalan di kapal yang sarat, di kereta yang penumpangnya hingga ke atap dan wc, atau satu sepeda motor diisi penuh satu keluarga – suami istri dengan dua anak—plus buntalan-buntalan. Justru di situlah, di saat berjejal-jejalan itulah – meski di antaranya terdapat pencopet—suasana mudik itu begitu terasa. Ada perjuangan yang keras kepala untuk bisa memenuhi panggilan kampung halaman.
Semakin panjang antrean tiket, semakin ketat himpitan di antara penumpang, semakin besarlah nilai perjuangan dan rasa rindu dan cinta kepada kampung, keluarga dan teman yang hendak disua. Dan semua perjuangan itu akan terbalas di saat kaki pertama menginjak tanah kelahiran, udaranya, langitnya, dan atmosfer yang tercipta di jagat kepala begitu kampung halaman telah di depan mata. Lalu, ada senyum cerah di halaman rumah menyambutmu, tangan-tangan yang terbentang untuk merengkuh tubuhmu, barangkali ibumu, ayahmu, sanak saudaramu, atau juga sebuah pohon di halaman rumah yang dulu waktu kanak-kanak begitu kau akrabi. Maka sirnalah semua keletihan selama perjalanan panjang itu. Berganti rasa hangat dan damai di antara orang-orang yang mencintai dan merindukanmu selama ini, yang dengan jiwa dan rindunya memanggilmu pulang.
Mudik. Inilah sebuah ritual yang unik menjelang Lebaran, yang konon hanya terdapat di negeri yang penduduk muslimnya terbanyak di dunia ini. Rombongan manusia dari suatu kota berbondong-bondong kembali ke asal, ke tempat ia berasal. Tempat ia dilahirkan, tempat sebagian besar masa kecilnya dihabiskan.
Ketika mudik, ambisi dan ketergesaan hidup di kota yang keras, sejenak dilupakan sembari menikmati senyum dan sapa ramah orang-orang sekampung yang dulu pernah dikenal. Barangkali juga ada pematang sawah, sungai, surau, sekolah, masjid, pohon jambu, mangga, sawo, atau jalanan yang dulu begitu diakrabi. Kembali menyusuri jejak-jejak langkah dan ingatan di waktu dulu itu akan memberikan kelembutan pada jiwa. Seperti mengistirahatkan sejenak kepenatan-kepenatan rutinitas kehidupan kota yang kadang tak mengenal jeda.
Begitu dahsyatnya panggilan mudik ini, hingga sanggup membuat airmatamu menggabak dan memeluk keseluruhanmu dalam kerinduan yang sangat.
A Mustofa Bisry, kyai yang juga penyair sangat bagus menggambarkan tentang kepulangan ke “sarang”, ke udik, ke tempat asal, ke tanah tumpah darah kelahiran dalam puisinya Aku Burung:
Aku burung yang pulang ke sarang
Bukan karena lelah terbang
Tapi sekedar menghibur rindu
Pada damai yang selalu
Mengusik mimpi
Dalam perjalanan
Selama ini.
Rindu damai Mustofa Bisry bisa saja kepada kampung halaman, kepada pangkuan ibu atau istri tercinta, atau juga kepada Yang di Atas Sana. Menjelang lebaran ini, barangkali – seperti yang dipuisikan Mustofa Bisry – mereka yang sudah mulai berangkat mudik adalah burung-burung yang ingin pulang ke sarang, tempat di mana damai selalu mengusik mimpi selama perjalanan ini.
“Wahai kampungku, jiwa kembara ini pulang…, sambutlah…,” barangkali begitulah bisik hati para pemudik yang kini sedang berlayar di kapal, melesat di kereta, melayang di kapal terbang. Selamat jalan menuju pulang, sahabatku.[]
: untuk Sainul Hermawan yang telah mudik, dan sesiapa saja yang juga mudik.
Tags: Esai
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
September 21, 2008 at 10:00 pm
Suatu waktu pernah mencoba tak mudik dan tetap berada di tanah jawa saat Idul Fithri.

Kesimpulannya = menyesal, memang harus mudik !
September 22, 2008 at 3:05 am
ah, saya bingung, mau mudik kemana yah… kota kelahiran martapura, paling jauh ke mandiangin, tapi aku rindu dengan desa kecil bernama mandiangi, tidak banyak memang kenangan yang kutorehkan, namun udara dingin dan dekapan angin malam selalu memanggilku untuk kembali kesana…
September 22, 2008 at 5:59 am
mudik sejalan dengan menggapai rindu,
mahal memang, tapi sesuai dengan lega yang didapat
September 22, 2008 at 12:26 pm
duh.. jadi inget waktu masih kuliah di djokja, saking pengennya mudik sampe bela2in tidur di atap kapal bertemankan angin laut dan air hujan *hiks..*
September 22, 2008 at 12:32 pm
Tidak terasa sudah hampir lebaran, sebelum keduluan orang lain. “Met Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin”. Mohon maaf juga karena Buku “Stephen King on writing-nya,” belum selesai saya baca. Insya Allah satu minggu lagi saya kembalikan. Sedikit ikut membuka wacana tentang Mudik dan apa yang telah dideskripsikan di atas. Menurut saya dewasa ini terjadi pergeseran makna dalam Mudik. Mungkin bukan suatu hal yang besar, tapi entah kenapa muncul begitu saja dalam ruang pikir saya. Mudik adalah suatu tradisi unik, sebuah penumpahan rasa rindu. Alasan rindu itu pun bermacam-macam; rindu pada kampung halaman, tanah kelahiran, sanak keluarga, serta kenangan. Tapi kenapa ya bang, rindu itu datangnya cuma satu tahun sekali, dan itu pun menjelang hari lebaran. Tidak adakah rindu sebelum bulan Ramadhan, ataukah hanya sebuah alasan sosial kemasyarakat, mencoba berkelit untuk mengakui isi hatinya, bahwasanya mereka rindu Mudik dan tak bisa jauh dari kenangan.
***
Wew, kali ini komentar ulun aneh banar. Hee.he..he…
September 23, 2008 at 12:23 pm
Mudiknya ke mana? Selamat Idul Fitri 1429H, Mas Sandi. Mohon maaf lahir dan batin.
September 24, 2008 at 2:26 am
Assalamu’alaikum w.w.
Membaca tulisan “Mudik”, jadi ingat kisah perjalanan bahari nah. Amun parak Idul Fitri, hati sanang banar oleh handak mudik pang, ha ha ha ha…! Dangsanak mudik ka Kuala Pambuang kah tahun ni?
Salam gasan kakawalan di mana pun Dangsanak berada, ha ha ha ha ha…! Baarti di jamban mun ada kawan, misalnya jin, sampaiakan salam jua to lah he he he he he…! Jangan sarik, ulun bagayaan ja, he he he he…!
Amun ada waktu, silakan Dangsanak bakunjangan di lawan ulun…! Monggo Mas!
September 24, 2008 at 7:19 pm
rumah penyair itu ada di atas angin. berarti kamu mudiknya ke langit biru dong?
September 26, 2008 at 4:37 pm
SAYA DAN SUAMI (ELANG DEWANGGA) MENGUAPKAN MINAL AIDIN WAL FAIDZIN. MOHON MAAF LAHIR BATHIN…
September 27, 2008 at 11:03 am
Mudik…enaknya yang bisa
Walaupun aku punya rumah di kandangan tapi ga pernah pulang kampung karena biasanya pulang kota.
Lebarannya di banjarmasin
Mumpung lagi koment
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR BATIN
September 28, 2008 at 1:27 pm
aku ne kada beisi kampung, jadi ditakuni urang mudik kemana bingung……………
Oktober 4, 2008 at 11:26 am
bersyukurlah memiliki tradisi mudik…tidak semua orang bisa merasakannya.
Happy ied mubarak 1429 H. minal adin wal faidzin