Pekan tadi begitu banyak orang yang gembira lantaran lulus seleksi CPNS. Tapi jauh lebih banyak lagi yang kecewa karena namanya tak termuat dalam daftar.
Jika semua bidang pekerjaan di-ranking, kemudian ditanyakan kepada penduduk negeri ini; pekerjaan apakah yang paling diminati? Maka saya yakin Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah pekerjaan yang paling banyak dipilih. Mengapa? Bila kita buat lagi daftar pilihan “mengapa” PNS yang dipilih, misalnya:
a) Ingin mengabdi kepada masyarakat.
b) Gajinya cukup.
c) Pekerjaannya nyaman (ruang ber-ac)
d) Tak terlalu banyak yang dikerjakan.
e) Dapat gaji ke-13.
f) Tiap tahun gajinya bisa naik.
g) Tunjangannya banyak (besar).
h) Jauh dari kemungkinan dipecat dan PHK.
i) Jaminan kesejahteraan (kesimpulan dari beberapa pilihan di atas).
j) Semua jawaban benar.
Dari sekian banyak pilihan itu, maka – saya yakin — pilihannya adalah: i) Jaminan kesejahteraan. Mengapa saya yakin itu pilihannya? Karena sudah biasa kita dengar ketika orang berbicara tentang “mengapa” ingin bekerja sebagai PNS, pasti jawabannya karena adanya jaminan kesejahteraan. Bila memang begitu, maka kita pun bisa membuat kesimpulan: “Bila kesejahteraan hidup Anda ingin terjamin, maka jadilah PNS”. Bukan begitu? Atau ada yang hendak menjawab pilihan: j) Semua jawaban benar?
Bagaimana dengan jawaban pilihan: a) Ingin mengabdi kepada masyarakat? Jangan diragukan, percaya sajalah bahwa mereka yang (melamar) menjadi PNS itu sungguh-sungguh ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat — Andai pun Anda ingin memberikan argumen lain, terserah, tapi jangan paksa saya untuk menuliskan argumen itu di sini, meski saya pun bisa tahu persis apa yang hendak Anda katakan.
Kiranya itulah, sehingga tak mengherankan bila saat pendaftaran penerimaan CPNS, jumlah pelamarnya jauh melebihi kuota yang disediakan. Seperti pada seleksi CPNS formasi 2008, jumlah pelamar di tingkat provinsi dan kabupaten/kota se-Kalsel mencapai 23.451 orang. Padahal, kursi yang disediakan “hanya” 4.556 .
Dan begitu namanya tertera di daftar pengumuman hasil seleksi CPNS, luapan kegembiraan pun memancar kemana-mana. Lalu wartawan yang melihat ada sebuah momen kegembiraan yang dianggap layak berita, lantas memberikan pertanyaan “aneh” kepada peserta yang lulus, tentang apakah ada nazar yang akan dilakukan setelah lulus? Jawabannya pun beragam, dan barangkali juga ada nazar yang (bisa) dianggap “aneh”. Misalnya, ziarah ke makam orang tua. Coba kita andaikan, bila ternyata tidak lulus, lalu apakah ziarah ke makam orang tua menjadi batal?
Begitulah. Daya pikat PNS begitu luar biasa. Sehingga ketika tak lulus tes tahun ini, maka akan berencana ikut tes lagi tahun depan. Tidak lulus lagi, ikut lagi. Berkali-kali. Seolah-olah hanya dengan menjadi PNS sajalah hidup dan masa depan akan bisa terjamin. Barangkali itu pula mengapa Goenawan Mohamad dalam sebuah catatan pinggir-nya pernah menuliskan; Pemerintahan adalah sebuah lembaga fiksi. Sebuah ruang pekerjaan yang tak terlampau jelas lagi motif-nya; antara cita-cita, pengabdian, dan sebuah lembaga tempat bertahan hidup di tengah begitu sengkarutnya peluang untuk mencari makan.
***
Tapi jangan salah. Ternyata tak sedikit juga yang tidak hendak menjadi PNS, bahkan ada yang sampai tahap alergi. Nah, tipe yang seperti ini macam-macam alasannya. Mungkin sebaiknya kita buat juga daftar alasan “mengapa” tidak ingin menjadi PNS, misalnya:
a) Tidak suka karena harus berseragam (seragamnya tidak bagus).
b) Tidak bisa bangun pagi.
c) Pekerjaannya tidak menantang.
d) Tidak bisa berambut gondrong
e) Takut korupsi.
f) Semua jawaban benar.
Terus terang saya tidak bisa memberikan alternatif jawaban apa yang paling banyak dipilih. Atau Anda hendak menambahkan? Silakan. Seorang kawan, yang meski mengaku tidak ingin jadi PNS, tapi ia tidak pernah gagal tes CPNS. Ya jelas saja tidak pernah gagal, karena ia sendiri tidak pernah ikut tes CPNS. Jadi, mana bisa dikatakan gagal?
Al-akhir, bukan saya hendak menghibur, bagi yang belum lulus seleksi PNS janganlah khawatir, sebab masa depan belum lagi tamat.[]
Edisi koran terbit Minggu, 25 Januari 2009 Radar Banjarmasin

Januari 25, 2009 pada 4:18 pm
Hm…memang..pns skrg banyak diminati…
Selamat utk yang dah lulus tesnya..dan jangan berkecil hati bagi mereka yang belum lulus..
Tetap semangat (my bro’)!
Januari 25, 2009 pada 4:41 pm
Ass.
Setuju … bagi yang belum lulus … jangan khawatir, sebab masa depan tidak ada yang tahu.
Yang lulus … sudah tersedia beberapa daftar yang mendukung sebagai PNS, masih bisa ditambahkan terserah saja jika mau …
Januari 25, 2009 pada 5:20 pm
Hua…. Essai yang menggiurkan. Mengingatkan saya pada orang tua yang maksa-maksa ikut Tes tahun kemarin. PNS atau Non/PNS sepertinya bukan masalah yang besar andai masyarakat mau memahaminya. Alasan pekerjaan tetap yang di umbar itu hanya phobia ditengah kemerosotan moral. Yang pasti PNS itu bukan Tuhan. Maksud saya yang gajih. Kemakmuran seseorang bukan hanya terpaku pada PNS bukan. Tapi bukan tidak mungkin pula saya akan menjadi PNS. Siapa tahu….Asal mau………
Januari 25, 2009 pada 9:25 pm
sekedar sharing jua broder. Berdasarkan pengalaman pribadi di masyarakat (yang ana rasakan nih lah…), banyak yang memandang PNS tu “membari muar sekaligus membari maras” ( comment hudan di http://sandyagustin.wordpress.com/2009/01/23/aku-pns-dan-seorang-dalang ) hehehehe.
Tapi ana kada berkecil hati jadi PNS, sebab warna seragamnya adalah wana favorit ana (membesarkan hati ja…hehehe).
kata bijak hari ini :
“Andai mereka tau apa yang mereka kejar dengan dengan antri berdesak-desakanan itu, pastilah mereka akan mundur satu-persatu”
salam hangat untukmu broder, sumpah! ana suka tulisannya…
Januari 26, 2009 pada 1:54 am
Yang jelas .. PNS atau bukan, jika mau bekerja dan mencari rejeki dengan jalan yang halal, tentu saja Allah selalu membukakan pintu rejeki itu. PNS itu tidak menjamin kesejahteraan seperti yg dibayangkan org kok, kalau ga bisa menggunakan uang gajinya dengan baik.
Sungguh sangat menyedihkan memang, image PNS itu terkadang membuat org bisa menghalalkan berbagai macam cara untuk bisa mencapainya.
Terlepas dari itu, saya dibesarkan dari keluarga PNS juga, untungnya Bapak saya adalah seorg guru yang bener² mengabdikan diri beliau untuk pendidikan sampe akhir hayat beliau…
Januari 26, 2009 pada 2:41 am
Jar abah dapat pensiun
Januari 26, 2009 pada 3:28 am
Menjadi PNS bukan tiket untuk menuju surga yang segalanya beres dengan mudah. Karenanya menjadi hikmah bagi yang beriman bahwa ikhtiar manusia selalunya harus berdasarkan ilmu, baik ilmu yang Al Qur’an ajarkan maupun ilmu yang berkembang didunia akdemik.
Selanjutnya jika sudah berikhtiar, maka wajib bertawakal kepada Allah sang penentu taqdir, sang decision maker apakah jadi atau tidak jadi PNS.
Ladang amal masih terbuka luaaaass di bumi Allah. Surga pun disediakan tanpa memandang ia PNS atau bukan. Ya ga seeeh??!!
Januari 26, 2009 pada 7:21 am
pilihan hidup..
dan memang selalu masih ada hari esok
Januari 26, 2009 pada 11:22 am
Situ kada Umpat mendaftarkah ?
Atau mau mendaftar tapi takitan kada lulus ?
He..he..he..
Januari 27, 2009 pada 1:50 am
apapun alasannya saya juga pengen jd PNS..
SP CPNS tunggu saya 1 tahun lagi….
Januari 28, 2009 pada 4:59 am
Lam kenal….di link ya!!!!! ieduduet.wordpress.com
Januari 28, 2009 pada 6:01 am
sebelum bergelar cpns, aku juga alergi ma pns. s4 melalang buana di sejumlah kantor swasta sebelum akhirnya jatuh cinta dg pekerjaan yg sekarang:). susah cari n jadi pns ‘yg baek’ memang, tapi insyaallah, aku beda he..he..
btw, lam kenal ya san;;)
Januari 30, 2009 pada 3:41 pm
Masih enak jadi wartawan. Bisa jalan-jalan
Januari 31, 2009 pada 5:23 pm
Nah, benar tuh kata atta…
PNS, andai aku suka memakai seragam, barangkali akan aku pilih, heheee…
Februari 1, 2009 pada 12:16 am
kaina bila penjaringan tahun depan, ulun daftarkan pian…
Februari 1, 2009 pada 4:59 am
bang, lawas banar kada tadapat pian, hehehe
Februari 1, 2009 pada 1:08 pm
@randu:
satu lagi randu, alasanku mengapa tidak ingin kerja sebagai PNS itu adalah karena pilihan e)…………….. (lihat di catatan)
@awym:
kangen ya, hahaa…
Februari 2, 2009 pada 1:34 am
Haraw bujur..alasanya liat di pilihan F…
Februari 2, 2009 pada 4:19 pm
hu`uh niy… pengen bgt jd PNS!
Februari 2, 2009 pada 9:18 pm
Tahun ini gaji naik lagi-naik lagi…rapelan lagi-rapelan lagi…
tapi masih korupsi lagi-korupsi lagi (…ups!!!), minimal korupsi waktu, dengan bangun melandau misalnya, tidak ikut apel pagi contohnya, nongkrong di warung kopi saat jam kerja biasanya… memang enak lho jadi PNS…
Februari 2, 2009 pada 11:44 pm
Aduuuuuuuuh…….
Pengen banget jadi PNS
Februari 3, 2009 pada 11:41 pm
Yang pasti aku PNS he he … Lama kali postingannya Mas. Pingin yang baru ah …
Februari 4, 2009 pada 3:19 pm
@pak ersis:
nunggu pian komen, bos ai, hanyar posting pulang, hehee…
Februari 6, 2009 pada 1:33 pm
Sekadar info: di Tasikmalaya, Jabar, ada lowongn PNS. Penanggungjawabnya penyair dan pelukis Acep Zamzam Noor yg putra KH Ilyas Ruchyat (mantan petinggi NU). Mau daftar? Syaratnya cukup mnulis sebaris puisi cinta, atau mnyumbang spanduk ttg antikorupsi (bukan antiselingkuh). Kmungknan besar pelamar akn diterima. Tp sblmnya anda mngkin perlu tahu PNS ala Tasik ini, yakni: Partai Nurul Sembako!
Februari 7, 2009 pada 7:47 am
Ayo, mendaftar PNS !
nyaman kawa nukar jenset, supaya kada bematian listrik !
Februari 13, 2009 pada 11:19 pm
tanpa bermaksud mengecilkan arti pns, bagi saya pns adalah candu yg membuat orang berfikir statis, monoton hingga terjebak dlm ruang rutinitas di zona aman kehidupan yg melahirkan mental2 pecundang. So gw salut dgn segelintir rekan pns yg bisa keluar dari zona kenyamanan, mencari tantangan hingga layak kita sebut pahlawan kehidupan. Menjadikan pns bukan sekedar tameng nafkah kehidupan, melainkan sebagai sarana perjuangan. Salut untuk tulisannya, menarik………