cermin (2)
Danau di Matamu
Kamu telah berdiri di hadapanku, lima tahun sudah sejak kamu meninggalkanku pada suatu malam kala kamu dapati aku mencumbu seorang perempuan di kamar hotel. Kamu tampak berubah, hanya kedua matamu tak benar-benar berubah, aku masih bisa melihat danau tenang itu. Tapi aku juga seperti melihat lingkaran-lingkaran air di sana. Siapakah yang melemparkan batu? Lalu kamu pun berucap, “Kamu siapa? Mohon jangan halangi jalanku,” sambil menggerak-gerakkan tongkat yang semula kukira payung itu di lantai kafe.
Penyair Meminta Mati di Atas Pentas
Penyair berpenyakitan TBC itu ingin mati di atas pentas saat membacakan puisi. Ia sudah meminta kepada tuhan. Agar lebih terasa dramatis, ia pun mulai sering membuat puisi tentang kematian. Namun, dari pentas ke pentas, Kematian yang dipinta tak datang-datang juga. Suatu malam ia pergi ke pantai, membacakan puisinya kepada laut, bulan, batu karang, dan ombak. Sejak itu, ia tak pulang-pulang.
Pelukis Telanjang
Seorang pelukis mencoba melukis perempuan telanjang di kamarnya. Satu jam lewat, kanvasnya masih putih. “Bagaimana aku bisa konsentrasi, bila posemu begitu?” katanya.
Februari 9, 2009 at 8:12 pm
cerita yang terakhir; pasti pelukisnya laki-laki. Sebuah keberuntungan atau ujian?
Februari 10, 2009 at 12:07 am
Ass.
Siapa yang melempar batu di matamu, hai penyair? Hingga engkau tak pulang-pulang. Pelukis telanjang pun tinggalkan kanvas ikut mencarimu.
Februari 10, 2009 at 4:49 am
“siapa.. “:hahaha, loco..
“penyair..”: seperti cerita tentang sowarno pragolapati, atau hamid jabbar, atau..
“pelukis..”: pasti pelukisnya ente. pengalamanku di isi, kami (mahasiswa isi yg waktu itu dpt mata kuliah gambar anatomi) tidak seperti itu tuh..hehe
Februari 10, 2009 at 5:59 am
pelukis tuh kisahnya si anu tuh kah ?
yang bila anu, anunya anu….
Februari 10, 2009 at 6:51 am
ketiganya cermin itu mengingatkanku pada satu orang saja broder…. (siapa ya? saya ingat-ingat lupa)
Februari 10, 2009 at 2:32 pm
@syafwan
kalau pelukisnya cewek, lalu yang dilukis…?
@HE Benyamine
tak ikut nyari, pak?
@hajri
wal, kalau diurut-urut, kayaknya semua cerita itu mirip-mirip lawan ente, hehe…
@randu
tahulah siapa yang pelukis itu… (nang di atas ente, hehe..)
@agus
pasti ente ingat lawan hajri, iya klo?
Februari 10, 2009 at 9:43 pm
emang soulmate nih, ko pikiran kita sama lah? :-p
Februari 11, 2009 at 12:39 am
Izinkan aku tuk bercermin, Kawan!?!
BERCERMIN dan MEMBANGUN KEGELISAHAN POSITIVE untuk kemajuan kita.
Februari 11, 2009 at 4:20 am
hhmmm seorang pelukis yang jujur
Februari 12, 2009 at 4:48 am
Salam kenal ya…by princezt.wordpress.com
Februari 12, 2009 at 10:00 am
Halo Princezt…!!!
kenalan ya…
Februari 12, 2009 at 10:04 am
Nama saya Sandi Firly…
Kamu siapa ?
Princezt itu apa ?
Februari 12, 2009 at 10:15 am
gasan randu:
nah, handak jadi makcomblangkah..
Februari 12, 2009 at 3:08 pm
Seseorang memelotoki sebuah lukisan. Temannya bertanya: Serius amat menikmatinya. Memang lukisana bagus,tu.
“Saya lagi mencar-vari pemahaman pada lukisan ini. Kog ngak ada ya? Diman diletakkan pelukisnya?.
Februari 13, 2009 at 1:59 am
tak punya komentar aku lai!
Februari 13, 2009 at 8:11 am
Mas Sandi, selain Cermin ada Cermat (Cerita Hemat atau Cerita Camat): ceritanya tentang Camat menghemat listrik, menghemat kenangan bersama pacarnya dulu, meski sudah punya istri, menghemat shampoo dengan menggundul kepalanya, dll hahaha asyik juga baca cermin atau cermat (apa ada yang nggak seksis?) hahaha
Februari 13, 2009 at 9:30 am
@agus
ya, begitulah… teman kita itu kan layaknya cermin.
@taufik
silakan, pak. sebelum cerminnya retak
@omiyan
memangnya ada pelukis tak jujur?, hehe…
@princezt
ya, perkenalannya diterima…
@randu
ssttt…, ada hajri, haha…
@hajri
kalo sorang ne kada usah dimakcomblangi, wal ai, hehe…
@pak ersis
itu artinya, filsafat lukisannya tinggi bos, kayak lukisannya hajri…
@awym
memang terlalu bagus cerminnya wym, jadi susah kasih komen, hehe
@sainul
ya pak sainul, sekarang lagi yang seksis-seksis dulu…
Februari 13, 2009 at 4:18 pm
mmmm,,,,
Februari 14, 2009 at 3:21 am
mantap Bang Sandi..
alur ceritanya bagus..
minta izin ngopy beberapa postingan pian..
Februari 15, 2009 at 12:35 pm
rasanya disebut cermin (ceritanya terlalu mini jadinya kaya puisi selebihnya mirip anekdot (pelukis telanjang), tapi idenya boleh juga…..
Februari 17, 2009 at 10:17 am
sebenarnya klo anda sering/ banyak membaca, bentuk seperti ini sudah umum ditulis beberapa sastrawan/ penulis kita, hanya popularitasnya kalah sama cerpen, novel, puisi, esei, dan karya sastra lainnya. kekuatannya lebih kepada gumpalan kalimat yang tersublimasi dalam beberapa kata yang efektif. dan sandi cukup berhasil untuk itu, saya pikir.
wal, kanapa temandak berataan, nih?
Februari 17, 2009 at 2:50 pm
Lanjuuuuuuuuuut
Februari 18, 2009 at 1:45 am
Umm…. mampir.. terdiam.. mikir..
Februari 18, 2009 at 3:45 am
numpang lewat.. he,,, aku suka cerita mu ka..
Februari 19, 2009 at 2:43 am
macam-macam aja sampeyan itu, padahakan lawan pelukisnya ulun menggantikan, kasiahan deh dia masa mata ada danaunya wseberapa ya besarnya.
gamana kabarnya bosss
wah mudahan ane kena amun mati pas baca al-quran aja deh, jadi beritanya “Isuur Loeweng penyair yang mati saat baca Al-quran. he he he
Februari 19, 2009 at 12:05 pm
sunyi bsnsr, lsh…
Februari 19, 2009 at 2:05 pm
@suzan:
hhhmmm… (aku selalu terkenang bibirmu). stop! yg lain jangan berpikir macam2!
@doktermuda:
copy aja, mumpung masih belum ditarik bayaran, hehe..
@jhonpane:
betul, beberapa cerita tidak terlalu “utuh”. yang jelas, saya tak bermaksud menulis puisi.
@hajri:
kali ini ente bertindak sebagai pengamat kayaknya, hehe..
@pa ersis:
ok, bos…
@sarah luna:
jangan terlalu dipikirkan, sarah..
@kura-kura:
numpang lewat, tapi kok masih ada di sini? lamban sekali kau..!
@isuur:
ya, semoga saja sur…
Februari 21, 2009 at 2:10 am
Dananu di matamu…
Itu, ah buta.. meskipun hanya cerita, tetap saja itu cerita yang tragis
Maret 12, 2009 at 3:28 am
Pak Sandi, mohon izin mengutip cermin tentang penyair untuk buku saya yang ke-5 tentang penulisan cerpen. Terima kasih.
Maret 12, 2009 at 3:43 am
Pak Sandi
Maret 12, 2009 at 3:44 am
kenapa aku tak bisa kirim komen ya?
Maret 12, 2009 at 3:48 am
Izinkanlah saya mengutip cermin tentang penyair itu untuk buku saya yang ke-5. terima kasih.