puisi-puisi

Sebelum Kita Bertumbangan

 

kita selalu terlupa membaca cuaca

yang memakani pohon pohon usia

sampai nanti kita tersadar

ada lagi yang tumbang dalam diam

dan kita berada di deretan itu

menunggu

 

sementara sebelum saat itu datang

aku ingin membangun sebuah rumah sederhana

di dalamnya ada sebuah meja

dengan dua kursi di dekat jendela

tempat kita minum kopi saat pagi atau senja

dan malamnya kita bercinta

menggugurkan dosa dosa

 

 

Tentang Aku dan Sajak

 

semalam,

aku bercakap cakap dengan gerimis

tentang aku ingin menggores kata kata

tentang kata kata ingin menggores sajak

tentang sajak ingin menggores aku

 

kadang aku mencoret kata kata

kadang kata kata mencoret sajak

kadang sajak mencoret aku

 

semalam,

aku bercakap cakap dengan gerimis

bisakah aku berumah dalam kata kata?

 

 

Kau Jauh

 

dan gerimis terlambat pulang malam ini

dentingnya masih jatuh teduh

terasa jauh di ujung hatimu

Explore posts in the same categories: puisi

31 Comments on “puisi-puisi”


  1. menuju deretan yang tumbang untuk menggugurkan dosa-dosa, diam dengan secangkir kopi (hitam yang terkadang manis terkadang pahit), menunggu, dalam angan cinta.

    Kata-kata berumah dalam aku, yang mencoret dinding keakuan dengan kadang-kadang.

    Gerimis terlambat pulang, hujan badai sudah lebih dulu.

  2. Apria Says:

    Puisi anda sungguh renyah untuk dinikmati.
    Tak salah jika ia menemani minum kopi.
    Terutama Tentang aku dan sajak, sepertinya dari judul terlihat biasa, akan tetapi begitu melihat permainan antara gerimis, sajak aku dan kata seperti sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.
    Salam Kenal
    kunjungi juga puisiku terimakasih.
    http://apriakristiawan.wordpress.com/2009/03/05/beberapa-kata-untuk-citra

  3. Ayah Says:

    Suatu untaian kata-kata yang indah…
    ok dech..selamat minum secangkir kopi panas end duduk manis dgn sang kekasih memandang gerimis tak kunjung reda…hmmmm…dingin…
    Salam hangat dari Ayah…

  4. hajriansyah Says:

    “tentang aku dan sajak” ni pinanya puisi andalan. asa rancak banar melihatnya ente muat di mana2. hehe

  5. sandi Says:

    @HE,BEnyamine
    gerimis terlambat pulang, masih mendekapku seluruh dingin.

    @Apria
    menikmati puisi renyah dengan secangkir kopi, pasti terasa lebih nikmat

    @ayah
    untaian gerimis membentuk kata-kata

    @hajri
    “tentang aku dan sajak”, entah kenapa tak pernah beranjak.

  6. Novianto Says:

    Salam Kenal, Puisinya bagus benar…

  7. andreas Says:

    sambung rasa untuk tentang aku dan sajak

    hikayat bulan dengan cahaya menyemut
    hikayat kertas dengan aksara menyemut
    hikayat doa dengan pasrah menyemut
    hikayat hati dengan rasa menyemut

  8. taufik79 Says:

    Di ujung musim
    dinding batas bertumbangan
    dan kematian makin akrab

  9. hajriansyah Says:

    mana lagi puisinya


  10. habiskah stok puisinya wal?

  11. hajriansyah Says:

    sedih banar kisahnya wal, ai

  12. Hadya Says:

    Alow Mas…

    Salam Kenal…

    saya peserta Aruh Blogger 2009

  13. suhadinet Says:

    Dan kemarin,
    aku berteriak lantang kepada hujan.
    Kembalikan sayapku yang telah kau patahkan!

  14. anas Says:

    salam kenal mas.
    tau blog ini pas acara aruh blogger.
    presentasi mas soal tulis menulis kemarin sangat membantu bgt.penyampaiannya singkat n mengena.meskipun ada blogger yg kurang setuju ama tata bahasa sesuai EYD.itulah perbedaan yg harus kita maklumi.

    saya dulu pernah juga jadi jurnalis di Barito Post.pekerjaan yg menantang, seru, tiap saat ketemu orang baru, hal baru, tempat baru dll.

    saya kenal sebagian ama temen2 di Radar Bjm.kayak Faisal (iklan), bang Yusni (wartawan kota).

    maju terus blogger kalsel.:-)

  15. sandi Says:

    @novianto
    bagus benar atau bagus banar? hehe…
    salam kenal

    @andreas
    sambung rasa juga dengan bung andreas

    @taufik
    “..kematian makin akrab”,
    hmm… itu kata-kata sapardi atau abdul hadi wm ya? hehe…atau bung taufik sendiri :)

    @hajri
    tunggu puisi-puisi (sedih) lainnya :)

    @hadya
    salam kenal balik. blogmu bagus juga.

    @suhadinet
    hujan bisa mematahkan sayap, mas? hehe…

    @anas
    ok, sip. semoga kapan2 batamuan lagi.

  16. Rindu Says:

    Hujan selalu menyisakan embun ya mas …

  17. reallylife Says:

    dan aku tumbang menyaksikan duri itu menusuk jantungku

  18. hajriansyah Says:

    mana lagi tulisannya, wal?
    boring nah, ini2 ja. hehe


  19. nah…dasar bujur keranjingan fesbuk nih…

  20. khai_ril Says:

    salut, mantab, dahsyat, luar biasa…


  21. mana lagi tulisannya, wal?
    boring nah, ini2 ja. hehe


  22. sudah banyak yang nunggu tulisannya nah…


  23. diantaranya si rindu tuh…

  24. madzz Says:

    tukeran link yukk


  25. bintang berkedip
    hati terselip
    jiwa nemekik
    nafas terceket

    senyum di bibir
    raga sperti di sambar petir
    ceria di wajah
    badan bagai di bedah

    ku haturkan sejadah
    ku smbah allah
    tak terasa gerimis bermain di pipi
    ketika teringat orang yg di cintai
    saat ia pergi tuk tak kmbali

    PUISI KAMU BAGUS BANGET SAYA SUKA PUNYA SAHABAT YANG HOBI BERPUSI…..WASSALAM..


Comment: