puisi-puisi
Sebelum Kita Bertumbangan
kita selalu terlupa membaca cuaca
yang memakani pohon pohon usia
sampai nanti kita tersadar
ada lagi yang tumbang dalam diam
dan kita berada di deretan itu
menunggu
sementara sebelum saat itu datang
aku ingin membangun sebuah rumah sederhana
di dalamnya ada sebuah meja
dengan dua kursi di dekat jendela
tempat kita minum kopi saat pagi atau senja
dan malamnya kita bercinta
menggugurkan dosa dosa
Tentang Aku dan Sajak
semalam,
aku bercakap cakap dengan gerimis
tentang aku ingin menggores kata kata
tentang kata kata ingin menggores sajak
tentang sajak ingin menggores aku
kadang aku mencoret kata kata
kadang kata kata mencoret sajak
kadang sajak mencoret aku
semalam,
aku bercakap cakap dengan gerimis
bisakah aku berumah dalam kata kata?
Kau Jauh
dan gerimis terlambat pulang malam ini
dentingnya masih jatuh teduh
terasa jauh di ujung hatimu
Maret 6, 2009 at 3:48 pm
menuju deretan yang tumbang untuk menggugurkan dosa-dosa, diam dengan secangkir kopi (hitam yang terkadang manis terkadang pahit), menunggu, dalam angan cinta.
Kata-kata berumah dalam aku, yang mencoret dinding keakuan dengan kadang-kadang.
Gerimis terlambat pulang, hujan badai sudah lebih dulu.
Maret 6, 2009 at 5:44 pm
Puisi anda sungguh renyah untuk dinikmati.
Tak salah jika ia menemani minum kopi.
Terutama Tentang aku dan sajak, sepertinya dari judul terlihat biasa, akan tetapi begitu melihat permainan antara gerimis, sajak aku dan kata seperti sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.
Salam Kenal
kunjungi juga puisiku terimakasih.
http://apriakristiawan.wordpress.com/2009/03/05/beberapa-kata-untuk-citra
Maret 6, 2009 at 11:54 pm
Suatu untaian kata-kata yang indah…
ok dech..selamat minum secangkir kopi panas end duduk manis dgn sang kekasih memandang gerimis tak kunjung reda…hmmmm…dingin…
Salam hangat dari Ayah…
Maret 8, 2009 at 12:51 am
“tentang aku dan sajak” ni pinanya puisi andalan. asa rancak banar melihatnya ente muat di mana2. hehe
Maret 8, 2009 at 1:17 pm
@HE,BEnyamine
gerimis terlambat pulang, masih mendekapku seluruh dingin.
@Apria
menikmati puisi renyah dengan secangkir kopi, pasti terasa lebih nikmat
@ayah
untaian gerimis membentuk kata-kata
@hajri
“tentang aku dan sajak”, entah kenapa tak pernah beranjak.
Maret 8, 2009 at 7:29 pm
Salam Kenal, Puisinya bagus benar…
Maret 10, 2009 at 2:09 am
sambung rasa untuk tentang aku dan sajak
hikayat bulan dengan cahaya menyemut
hikayat kertas dengan aksara menyemut
hikayat doa dengan pasrah menyemut
hikayat hati dengan rasa menyemut
Maret 11, 2009 at 10:50 am
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan kematian makin akrab
Maret 17, 2009 at 5:24 am
mana lagi puisinya
Maret 19, 2009 at 12:45 am
habiskah stok puisinya wal?
Maret 21, 2009 at 1:35 pm
sedih banar kisahnya wal, ai
Maret 22, 2009 at 1:22 am
post baru wal
Maret 22, 2009 at 12:43 pm
Alow Mas…
Salam Kenal…
saya peserta Aruh Blogger 2009
Maret 23, 2009 at 3:39 am
Dan kemarin,
aku berteriak lantang kepada hujan.
Kembalikan sayapku yang telah kau patahkan!
Maret 23, 2009 at 10:33 am
salam kenal mas.
tau blog ini pas acara aruh blogger.
presentasi mas soal tulis menulis kemarin sangat membantu bgt.penyampaiannya singkat n mengena.meskipun ada blogger yg kurang setuju ama tata bahasa sesuai EYD.itulah perbedaan yg harus kita maklumi.
saya dulu pernah juga jadi jurnalis di Barito Post.pekerjaan yg menantang, seru, tiap saat ketemu orang baru, hal baru, tempat baru dll.
saya kenal sebagian ama temen2 di Radar Bjm.kayak Faisal (iklan), bang Yusni (wartawan kota).
maju terus blogger kalsel.:-)
Maret 23, 2009 at 3:23 pm
@novianto
bagus benar atau bagus banar? hehe…
salam kenal
@andreas
sambung rasa juga dengan bung andreas
@taufik
“..kematian makin akrab”,
hmm… itu kata-kata sapardi atau abdul hadi wm ya? hehe…atau bung taufik sendiri
@hajri
tunggu puisi-puisi (sedih) lainnya
@hadya
salam kenal balik. blogmu bagus juga.
@suhadinet
hujan bisa mematahkan sayap, mas? hehe…
@anas
ok, sip. semoga kapan2 batamuan lagi.
Maret 25, 2009 at 3:07 pm
Hujan selalu menyisakan embun ya mas …
Maret 26, 2009 at 12:56 am
iya rindu !
Maret 26, 2009 at 4:18 pm
dan aku tumbang menyaksikan duri itu menusuk jantungku
Maret 28, 2009 at 12:51 pm
mana lagi tulisannya, wal?
boring nah, ini2 ja. hehe
Maret 29, 2009 at 3:05 am
habis stok
Maret 29, 2009 at 3:06 am
stok habis
Maret 30, 2009 at 1:08 am
nah…dasar bujur keranjingan fesbuk nih…
Maret 30, 2009 at 5:03 pm
salut, mantab, dahsyat, luar biasa…
Maret 31, 2009 at 12:35 am
mana lagi tulisannya, wal?
boring nah, ini2 ja. hehe
Maret 31, 2009 at 12:53 am
sudah banyak yang nunggu tulisannya nah…
Maret 31, 2009 at 12:54 am
diantaranya si rindu tuh…
Maret 31, 2009 at 12:55 am
he..he..he..
Maret 31, 2009 at 1:38 am
kayaknya ente perlu jalan – jalan nih…
http://webersis.com/2009/03/30/istana-bogor/#comment-38829
April 6, 2009 at 7:11 pm
tukeran link yukk
November 6, 2009 at 6:22 am
bintang berkedip
hati terselip
jiwa nemekik
nafas terceket
senyum di bibir
raga sperti di sambar petir
ceria di wajah
badan bagai di bedah
ku haturkan sejadah
ku smbah allah
tak terasa gerimis bermain di pipi
ketika teringat orang yg di cintai
saat ia pergi tuk tak kmbali
PUISI KAMU BAGUS BANGET SAYA SUKA PUNYA SAHABAT YANG HOBI BERPUSI…..WASSALAM..