Pembunuhan
Kejadiannya begitu cepat. Setelah menghunjamkan pisaunya, lelaki itu berlari menerabas gelapnya lorong pasar. Sampai di gang kecil ujung pasar, diketuknya sebuah rumah dengan tergesa-gesa. Ketika pintu sedikit terbuka, “Aku telah membunuhnya,” ucap lelaki itu dengan sedikit gemetar. “Bagus. Tenang, sekarang cuci dulu pakaian dan tubuhmu yang penuh darah,” suara perempuan menyahut. Ketika pintu dibuka lebar, aku terperanjat, perempuan itu adalah kekasihku. Dengan perasaan terluka aku berlari kembali menuju lorong pasar yang gelap, di mana tubuhku tergeletak dengan sebuah luka tepat di jantungnya.[]
Cerita Buaya dan Kancil
Ketika ibu guru itu selesai menceritakan kisah buaya dan kancil di hadapan puluhan anak-anak TK, salah seorang anak bertanya, “Bu, bukankah buaya dan kancil tak bisa bicara bahasa manusia?”
“Dia tidak bicara bahasa manusia, tapi binatang,” jawab ibu guru.
“Kalau bicara bahasa binatang, lalu mengapa ibu tahu ceritanya?”
“Ya,kan itu cuma karangan, tidak benar-benar terjadi,” ibu guru tetap menjawab sabar sembari tersenyum.
“Kalau begitu, itu cerita bohong. Kata mama, bohong itu dosa.”
“…”[]
Menulis Puisi
Semalam suntuk ia cemas. Kata demi kata yang hendak dirangkainya menjadi puisi tak pernah menjadi. Menjelang subuh, ia pergi ke luar, mampir di sebuah kafe. Di sana ia menemukan perempuan cantik duduk sendiri di pojok sedang menulis di sebuah kertas. “Ah, ternyata puisi itu ada di sini,” ucapnya.[]

Mei 5, 2009 pada 1:51 am
Kunjungan siang.
Mei 5, 2009 pada 5:07 am
“Ah, ternyata puisi itu ada di sini,” ucapnya seakan pembunuhan hanya kebohongan
Mei 5, 2009 pada 6:52 am
kadang kenyataan itu lebih kejam dari suatu pembunuhan
Mei 5, 2009 pada 8:30 am
Pembunuhan atas nama pengkhianatan, spt pengkhianatan kancil pada buaya. Pengkianatan adalah tema puisi yg konsisten…
Mei 5, 2009 pada 8:56 am
aha, puisi itu ada di sini!
lanjut teruss…
Mei 5, 2009 pada 10:05 am
“Ah, ternyata puisi itu ada di sini,” dasar wanita!! gumamnya.
Mei 5, 2009 pada 10:09 am
“Ah, ternyata puisi itu ada di sini,” Lebih baik cerai saja
Mei 5, 2009 pada 11:17 am
bohong itu dosa kah?,
tapi tetap aja yg berdasi bohongi rakyat???
Mei 5, 2009 pada 2:25 pm
#mahmud:
ya, nanti balik lagi ya…
#benyamine:
puisi sebenarnya bisa ada di mana-mana
#hersant:
asal jangan kenyataan saja membunuh kita
#allay:
pengkhianatan lebih menyakitkan daripada pembunuhan
#hajri:
apanya yang lanjut, wal…
#syafwan:
…begitulah wanita…
#sasuke:
kok cerai?
#wawan:
kadang berbohong itu bagian dari pekerjaan..
Mei 6, 2009 pada 12:55 am
Bagus-bagus cerminnya lah, saingan wan cermin nangini http://blogsainulh.wordpress.com/2009/03/30/merancang-cerita-arahan-tugas/#more-754
Mei 6, 2009 pada 3:20 am
Kunjungan kedua, he he he he.
Mei 6, 2009 pada 5:52 am
Ah… Puisi itu ada di sini…
Mei 8, 2009 pada 4:36 am
keren
Mei 12, 2009 pada 1:46 pm
kagum bos,
mini, pendek namun memancing imajinasi
sehingga malah terasa panjang ceritanya.