Surat Terbuka untuk Sastrawan Kalsel

Mei 10, 2009

Kepada semuanya…

Postingan “Untuk Sastrawan Kalsel” (di bawah) mungkin membingungkan bagi sebagian kawan-kawan. Tapi bila Anda pembaca setia Cakrawala (sastra dan budaya) Radar Banjarmasin pada hari Minggu, maka Anda akan mengerti.

Pada hari Minggu ini (10 Mei 2009), cukup banyak kawan sastrawan berkirim SMS mempertanyakan: “Mengapa? Mengapa?”. Setiap mendapat pertanyaan itu, saya hanya termangu (dalam waktu cukup lama) menatap layar hp– bagaimanakah saya harus menjawabnya? Bagaimanakah saya harus menjelaskannya? Maka, maafkanlah bila akhirnya SMS kawan-kawan itu tidak bisa saya jawab. Saya merasa terharu, terharu…

Sungguh, saya sedang berduka, saya seperti telah kehilangan “anak kandung”  yang dengan segala daya saya tumbuhkan dan saya didik selama hampir 9 tahun. Upaya keras saya untuk menyelamatkannya juga sia-sia, meski saya telah berusaha menjadi seseorang yang keras kepala… Karenanya, maafkanlah saya…

Saya bukan sedang sentimentil, kawan, tapi ini benar sebuah kehilangan. Sungguh…

Salam

15 Tanggapan ke “Surat Terbuka untuk Sastrawan Kalsel”

  1. syafwan Berkata

    Tidak adakah jalan lain untuk menyelamatkannya?

  2. randualamsyah Berkata

    jangan lebay, wal.
    Ini cuma cakrawala sastra.
    Cakrawala nang asli tuh di atas sana. “nunjuk ke langit”

  3. Pakacil Berkata

    rubah jadi media online?

  4. HE. Benyamine Berkata

    Ass.

    Cakrawala Tanpa Pelangi
    : tugu 10 Mei 2009

    Kemarau panjang
    lahan subur menghilang
    retakan tanah uapkan segala sumber
    tunas-tunas harapan mati bertahan
    pohon-pohon tua mengkerut jaga daun tersisa

    Pembunuhan tak berdarah
    demi memberi ruang keangkuhan
    yang bebal kreativitas lacur imajinasi
    tak ada pelangi asupan jiwa
    telah mulai kemarau ruang hidup

    Sungguh duka cakrawala jadi korban
    sungguh duka kemarau akan panjang
    air mata tak mampu hadirkan pelangi
    sungguh nestapa kehilangan ruang daya hidup
    sungguh duka cakrawala tinggal selembar

  5. hajriansyah Berkata

    innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
    turut berduka cita atas “kematian anak kandung” yang telah kau besarkan, dan kami banggakan selama ini.
    semoga ada solusi terbaik, sebagai kompensasi.


  6. Assalamu’alaikum w.w.

    Salam hangat ‘tuk semua rekan yang kusentuh dengan kata. Maaf, hanya dengan kata!

    Aku hendak bertanya.

    Sudahkah semua orang menolehkan jiwa masing-masing ke arah sastra? Ah, hanya menolehkah?
    Menoleh sastra saja tidak semua orang mau, benarkah? Apalagi memajukan, apa juga benar?. Jadi, wajarlah jika Cakrawala kehilangan separuh jiwanya.

    Ah, sekali lagi aku berkata “ah”

    Ah bukan mengeluh, tetapi hanya hendak menyamankan rongga udara dan pikiran.

    Salam.

  7. ewin Berkata

    aku gak baca, soalnya gak langganan koran, hehehe…

  8. amirstanishev Berkata

    mungkin bisa sedikit melupakan kesedihan anakmu, sekalian numpang promosi http://www.amirstanishev.wordpress.com Si Cantik Jannah thz

  9. arikaka Berkata

    saya termasuk yang bingung… lol

  10. Wawan Berkata

    Semoga saja cepat kembali

  11. baburinix! Berkata

    aku hanya bisa merenung

  12. ivan denisovitch Berkata

    Kalau satu pintu ditutup orang, kita akan buka seribu pintu lainnya. bumi dan langit sangat luas, demikian pula kreativitas.

  13. amirstanishev Berkata

    angin malam terus meniup layar menuju horizon
    setidaknya mesti menunggu fajar membawa kita kembali
    atau mendayunglah, tentu sampai kita ketepi

  14. Abdari Muzara Ibnu HM Berkata

    Ass. wr.wb.
    Maksudku mau protes sama Bung Sandi, kenapa satu halaman CSB tergusur, tak tahunya, di sini urang sudah tumbur. Yah, sungguh, betapa kuciwanya aku. Rubrik CSB Radar Banjarmasin yg kuanggap benteng pertahanan terakhir sastrawan kalsel utk tetap eksis ternyata telah tergusur oleh “kapitalis” (asal untung walau tdk diminati, asal ada sponsor, dsb, dsb). Hahhhh, sarik banar aku.
    Tapi jar kawan-kawan, sarik lawan siapa? Bujur jua. Yang kutahu pasti, Bung Sandi pasti sdh berjuang utk mempertahankan rubrik asuhannya itu, tapi itu tadi – kapitalis telah mengalahkan idealis(me). Seperti halnya rubrik asuhan Bung Djoen yg sdh lama tergusur.
    Tapi kakawanan sastrawan nang ada jangan apsrah haja. Kalo parlu, bubuhan kita batuturuk, barapa garang haraga dua halaman Rubrik CSB ngitu? Tapaksa anggap kaya urang mamasang iklan full halaman jua. Napang, amun kada kaya itu, busiah digusur urang pulang nang tatinggal sahalaman itu. Habis hudah wadah bubuhan sastrawan di Kalsel manampaiakan ulahan/karya, cangkurah (polemik) atau pun essai wan kritik.
    Tarang tarus, aku kada balangganan koran, tapi khusus hari minggu, pasti kutukar 3 koran nang ada manampilakan sastra dan budaya (Banjar) dan Radar Bjm yg kuanggap paling sip. Bah galisah banar aku imbah maliyat halamannya dikakat urang sabuting. Aku baharap mudahan jangan tatarusan.
    Bung Sandi, smoga tetap bersemangat tuk memperjuangkan kiprah sastrawan kalsel di Radar Bjm. Bravo. Dan yg merasa sastrawan, atau berisi kekuatan (dana, pengaruh, dsb) tolong lobiakan bosnya Radar Bjm. Atau bgm solusi terbaiknya.
    Uma, ni komentar atau esailah? Hudah ai tu.
    Wass. wr. wb.


Tinggalkan Balasan