..aku masih mengingat kampung kecil itu; angin yang datang dari tepi laut, musala dengan pohon sawo berdaun lebat – tempat waktu kecil menunggu bedug berbuka dan salat tarawih, pelita di depan rumah, dan tegur sapa ramah kerabat tetangga. Akhirnya, selalu, semuanya bermuara pada dua pasang batu kembar di tanah lapang….[]

September 2, 2009 pada 5:15 am
wah yg lagi kangen…ya pulanglah untuk mengobati kerinduan itu…
September 2, 2009 pada 9:02 am
Ramadhan dulu punya seribu kenangan,membaca tulisan abang mengingat masa kecil yg tak pernah terlupakan..
September 2, 2009 pada 3:14 pm
pada dua batu kembar itu, masa lalu dan masa depan berkejaran. semoga ramadhan memberikan pencerahan…
September 3, 2009 pada 2:24 am
kenangan masa lalu kadang membuat kita ingin mengulangnya ..
September 3, 2009 pada 5:44 am
@yulian: kenangan itu bukannya mengabur, tapi terus menebal. meski, kita juga telah meninggalkan jejak dan kenangan pada tanah yang lain.
@rizal:kukira, kenangan ramadan pada masa kecil adalah kegembiraan yg sangat alami.
@hajri: ya, ramadan seperti hujan sepanjang bulan untuk mensucikan tahun yang berdebu…
@nia: itulah kenangan, selalu menarik-narik ingatan kita, tapi dalam ketakberdayaan mewujudkannya seperti semula…
September 3, 2009 pada 2:50 pm
nostalgia ya bang…….
hi hi hi ,,saya jg pernah ngingat msa lalu..waktu saya masih kecil ..ngencengin baju ayah saya …..(lha malah cuap2 nic anak)\
tukeran link yaww
September 3, 2009 pada 4:09 pm
Akhirnya ….
September 5, 2009 pada 2:15 am
Salam persahabatan dari Blogger Borneo…
September 5, 2009 pada 5:21 am
ge kangen ya bang…
September 6, 2009 pada 9:46 am
pendar ramadhan memang tak akan redup,,, masa kanak-kanak yang luar biasa dengan letupan angan yang sederhana, tentunya akan selalu nikmat diingat pada tiap bulan suci ini berulang… tiba-tiba kita merasa ingin pulang…
September 6, 2009 pada 10:41 am
Salam Ramadhan Mas Sandy,
kenangan masa kecil saat ramadhan selalu terkenang.
Terimakasih kunjungannya dan ….
Jangan berhenti tuk berkarya.
September 10, 2009 pada 6:23 am
Flash back, itu perlu wal. Supaya kita bisa ngukur sampai dimana sudah kita ni. Tidak ada yang betul-betul menjadi milik kita wal. tidak ada.
Oktober 21, 2009 pada 8:58 am
catatan kamu bagus yah…