Bab Terakhir Novel Rumah Debu

Januari 16, 2010

Hanya Sebutir Debu

Di saat kamu membaca catatan ini, aku mungkin sedang berlayar entah di laut mana, entah ke negeri mana, atau di jalanan yang aku sendiri tak tahu namanya di sebuah kota yang mungkin aku juga tak tahu di mana; hanya orang-orang asing dan bangunan-bangunan asing, selebihnya juga keriuhan yang asing, atau mungkin aku sedang berada di sebuah tepian hutan, gunung atau pantai.

Aku tak beralamat. Aku tak memiliki sesuatu dan tak ada yang memiliki. Aku hanyalah seorang pejalan yang ingin melintasi seluas mungkin hamparan bumi Allah ini, dan karenanya terkadang aku akan terpuruk, bersujud, di tepi jalan, di tepi danau, atau di sebuah musala kecil di sudut bumi yang terpencil.

Aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin…

***

Sejak pertemuan dengan ibu dan ayah kandungnya di malam di rumah berdebu saat ia disekap, Rozan telah memutuskan untuk pergi sejauh kakinya mampu melangkah, selayaknya pesan guru yang juga ayah angkatnya Guru Aran, bahwa seorang anak lelaki yang telah beranjak dewasa sudah seharusnya menziarahi setiap jengkal bumi ini, mengunjungi kota-kota jauh, negeri-negeri jauh, agar kelak keinginan itu tidak hanya mendekam di dalam dada menjadi sesuatu yang tak terperi, sesuatu yang takkan pernah bisa terwujudkan karena termakan usia.

Di beberapa kota dan negeri yang pernah disinggahinya, sesekali Rozan menyempatkan membuat catatan di dalam blognya; “Ruang Sunyi”. Karena itu, mungkin kamu pernah membacanya..?[]

: Ya, itulah bab terakhir dari novel Rumah Debu yang baru saja saya selesaikan (15/1/2010). Selanjutnya, semoga beruntung ada penerbit yang mau mencetaknya… (Terima kasih buat semua kawan yang terus “mempertanyakan” kapan novel ini bisa diselesaikan..)

26 Tanggapan to “Bab Terakhir Novel Rumah Debu”

  1. hajriansyah Berkata

    bab terakhir? mana bab-bab awal/ sebelumnya? singkatnya pang bab trakhir ni..

  2. iezul Berkata

    Mga sukses mas, , ,pgen jga bkin kya gtu. . .

  3. sandi Berkata

    hajri: ya, bab-bab awalnya sengaja nggak ditampilkan wal.. Bab terakhir memang dibikin pendek seperti itu. (aku lagi nyiapin buat dibawa ke penerbit).

    iezul: trims.. mg suatu saat jg tecipta..

  4. benkyongeblog Berkata

    tu novel yg dl pernah wid tau awal na itu ya bang… jd judul na rumah debu… wid ingat guru aran na…..
    ditunggu novel na ya bang… ^_^

  5. syafwan Berkata

    Wieh…… Lanjutannya pasti seru

  6. HE. Benyamine Berkata

    “Aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin …”

    cukup bab terakhir ini yang menjadi catatanku karena

    “Aku tak memiliki sesuatu dan tak ada yang memiliki”

    Selebihnya … siapa yang sanggup menghindar bila saatnya tiba menjadi debu, yang mungkin saja kembali ke rumah debu.

    Aku tidak lagi bertanya bab-bab sebelum bab terakhir ini, yang mungkin saja telah menjadi debu yang berada entah di mana.

  7. anto88 Berkata

    semoga dapat membeli novel dengan lengkap tanda tangan penulis…wuihhh….

  8. dian Berkata

    Debu tidak menulis… Kutunggu novel yang kedua, ketiga, keempat, dst. Wal ai… Hehe

  9. alief Berkata

    wah…., abru baca dah bab terakir….,

    salam kenal dari blooger baru di tabalong

  10. Zian X-Fly Berkata

    Kenapa kada wadah Hajriansyah ja menerbitkan. Ruang sunyi, pengembara, pasti Randu Alamsyah. Sip, ditunggu novelnya.

  11. sandi Berkata

    >>wid: ya, br selesai..
    >>syafwan: klo novel ini dicetak dan best seller, pasti ada lanjutannya, hehee..
    >>benyamine: bab-bab sebelumnya belum jadi debu, dicetak aja belom.. :)
    >>anto: mestinya di-doain dulu supaya bisa dicetak penerbit, nto,,,
    >>dian: ya, mudah-mudahan…
    >>alief: ya, jelas aja, karena aku tak pernah nampilin bab-bab sebelumnya, hehe..
    >>zian: belom ada tawaran dari hajri, hehe…

  12. hajriansyah Berkata

    KADADA TULISAN HANYAR LAGIKAH?

  13. dian Berkata

    (menambahi, tanpa perasaan berdosa…) HAAH…KADADA TULISAN HANYAR LAGI KAH, WAL?


  14. keren keren sangat
    nice
    salam hangat dari blue

  15. sandi Berkata

    #hajri & dian: aku menyelesaikan novel itu seperti ibu yang melahirkan anak kembar (hehe..), penuh perjuangan dan menguras tenaga. jadi, istirahatlah sejenak dulu…
    #blue: trims. moga kelak kau bisa baca edisi buku (novel)nya… :)

  16. adelays Berkata

    Kalau udah dicetak..
    kasih pemberitahuan ya…
    Siapa tau mas sandy bersedia membubuhkan tandatangannya langsung di buku itu buat saya.
    :)

  17. suhadinet Berkata

    Semoga bisa diterbitkan! Selamat, mengerjakan sebuah novel pasti bukan hal mudah.

  18. fajar happis Berkata

    keren bang sandy moga jd inspirasi bg yg lain he he..bang Sandy main gtr smbl nyannyi kmbang pete lah kena kena he he..Oi


  19. di tunggu tulisan2 selanjutnya mas, heheh

  20. hajriansyah Berkata

    INIKAH TULISAN TERAKHIR DI BLOG INI?

  21. sandi Berkata

    hajri: hehe… beh, ente pas sudah posting baru, lalu ai…

  22. hajriansyah Berkata

    hehe… napa nih, selawas jadi pemred ni pina kada tapi menulis lagi, wal? kadada kawankah di sana?

  23. Mahmud Berkata

    sudah terbit kah, Bang?

  24. aisya cute Berkata

    salam kenal, kunjungi juga blog saya


  25. alhamdulillah, sekarang sudah terbit ya…
    ah, sayang sekali, kondisiku tak memungkinkan untuk bisa segera membaca novel itu.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.