Hanya Sebutir Debu
Di saat kamu membaca catatan ini, aku mungkin sedang berlayar entah di laut mana, entah ke negeri mana, atau di jalanan yang aku sendiri tak tahu namanya di sebuah kota yang mungkin aku juga tak tahu di mana; hanya orang-orang asing dan bangunan-bangunan asing, selebihnya juga keriuhan yang asing, atau mungkin aku sedang berada di sebuah tepian hutan, gunung atau pantai.
Aku tak beralamat. Aku tak memiliki sesuatu dan tak ada yang memiliki. Aku hanyalah seorang pejalan yang ingin melintasi seluas mungkin hamparan bumi Allah ini, dan karenanya terkadang aku akan terpuruk, bersujud, di tepi jalan, di tepi danau, atau di sebuah musala kecil di sudut bumi yang terpencil.
Aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin…
***
Sejak pertemuan dengan ibu dan ayah kandungnya di malam di rumah berdebu saat ia disekap, Rozan telah memutuskan untuk pergi sejauh kakinya mampu melangkah, selayaknya pesan guru yang juga ayah angkatnya Guru Aran, bahwa seorang anak lelaki yang telah beranjak dewasa sudah seharusnya menziarahi setiap jengkal bumi ini, mengunjungi kota-kota jauh, negeri-negeri jauh, agar kelak keinginan itu tidak hanya mendekam di dalam dada menjadi sesuatu yang tak terperi, sesuatu yang takkan pernah bisa terwujudkan karena termakan usia.
Di beberapa kota dan negeri yang pernah disinggahinya, sesekali Rozan menyempatkan membuat catatan di dalam blognya; “Ruang Sunyi”. Karena itu, mungkin kamu pernah membacanya..?[]
: Ya, itulah bab terakhir dari novel Rumah Debu yang baru saja saya selesaikan (15/1/2010). Selanjutnya, semoga beruntung ada penerbit yang mau mencetaknya… (Terima kasih buat semua kawan yang terus “mempertanyakan” kapan novel ini bisa diselesaikan..)

Januari 16, 2010 pada 4:44 am
bab terakhir? mana bab-bab awal/ sebelumnya? singkatnya pang bab trakhir ni..
Januari 16, 2010 pada 5:54 am
Mga sukses mas, , ,pgen jga bkin kya gtu. . .
Januari 16, 2010 pada 6:20 am
hajri: ya, bab-bab awalnya sengaja nggak ditampilkan wal.. Bab terakhir memang dibikin pendek seperti itu. (aku lagi nyiapin buat dibawa ke penerbit).
iezul: trims.. mg suatu saat jg tecipta..
Januari 16, 2010 pada 6:58 am
tu novel yg dl pernah wid tau awal na itu ya bang… jd judul na rumah debu… wid ingat guru aran na…..
ditunggu novel na ya bang… ^_^
Januari 16, 2010 pada 12:11 pm
Wieh…… Lanjutannya pasti seru
Januari 16, 2010 pada 3:16 pm
“Aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin …”
cukup bab terakhir ini yang menjadi catatanku karena
“Aku tak memiliki sesuatu dan tak ada yang memiliki”
Selebihnya … siapa yang sanggup menghindar bila saatnya tiba menjadi debu, yang mungkin saja kembali ke rumah debu.
Aku tidak lagi bertanya bab-bab sebelum bab terakhir ini, yang mungkin saja telah menjadi debu yang berada entah di mana.
Januari 22, 2010 pada 12:46 pm
semoga dapat membeli novel dengan lengkap tanda tangan penulis…wuihhh….
Januari 23, 2010 pada 6:07 am
Debu tidak menulis… Kutunggu novel yang kedua, ketiga, keempat, dst. Wal ai… Hehe
Januari 24, 2010 pada 6:48 am
wah…., abru baca dah bab terakir….,
salam kenal dari blooger baru di tabalong
Januari 24, 2010 pada 10:19 am
Kenapa kada wadah Hajriansyah ja menerbitkan. Ruang sunyi, pengembara, pasti Randu Alamsyah. Sip, ditunggu novelnya.
Januari 24, 2010 pada 4:59 pm
>>wid: ya, br selesai..
>>syafwan: klo novel ini dicetak dan best seller, pasti ada lanjutannya, hehee..
>>benyamine: bab-bab sebelumnya belum jadi debu, dicetak aja belom..
>>anto: mestinya di-doain dulu supaya bisa dicetak penerbit, nto,,,
>>dian: ya, mudah-mudahan…
>>alief: ya, jelas aja, karena aku tak pernah nampilin bab-bab sebelumnya, hehe..
>>zian: belom ada tawaran dari hajri, hehe…
Januari 28, 2010 pada 5:47 am
KADADA TULISAN HANYAR LAGIKAH?
Februari 4, 2010 pada 4:57 am
(menambahi, tanpa perasaan berdosa…) HAAH…KADADA TULISAN HANYAR LAGI KAH, WAL?
Februari 7, 2010 pada 4:12 am
keren keren sangat
nice
salam hangat dari blue
Februari 7, 2010 pada 1:39 pm
#hajri & dian: aku menyelesaikan novel itu seperti ibu yang melahirkan anak kembar (hehe..), penuh perjuangan dan menguras tenaga. jadi, istirahatlah sejenak dulu…
#blue: trims. moga kelak kau bisa baca edisi buku (novel)nya…
Februari 9, 2010 pada 4:25 am
Kalau udah dicetak..
kasih pemberitahuan ya…
Siapa tau mas sandy bersedia membubuhkan tandatangannya langsung di buku itu buat saya.
Februari 10, 2010 pada 3:36 am
Semoga bisa diterbitkan! Selamat, mengerjakan sebuah novel pasti bukan hal mudah.
Februari 21, 2010 pada 2:44 pm
keren bang sandy moga jd inspirasi bg yg lain he he..bang Sandy main gtr smbl nyannyi kmbang pete lah kena kena he he..Oi
Maret 3, 2010 pada 4:23 am
di tunggu tulisan2 selanjutnya mas, heheh
Maret 15, 2010 pada 12:48 am
http://coretanku103.blogspot.com/2010/02/wisata-air-merambat-roro-kuning.html
tukeran liks donk..salam kenal
Maret 21, 2010 pada 3:22 pm
INIKAH TULISAN TERAKHIR DI BLOG INI?
Maret 21, 2010 pada 4:32 pm
hajri: hehe… beh, ente pas sudah posting baru, lalu ai…
Maret 23, 2010 pada 5:09 am
hehe… napa nih, selawas jadi pemred ni pina kada tapi menulis lagi, wal? kadada kawankah di sana?
Juni 5, 2010 pada 1:37 am
sudah terbit kah, Bang?
Maret 30, 2011 pada 10:33 am
salam kenal, kunjungi juga blog saya
Juni 15, 2011 pada 4:25 pm
alhamdulillah, sekarang sudah terbit ya…
ah, sayang sekali, kondisiku tak memungkinkan untuk bisa segera membaca novel itu.