Arsip untuk 'cerita mini'Kategori

Cermin #5

Mei 24, 2009

Nenek dan Daun Gugur

… Sahibul hikayat, ada seorang nenek yang kerjanya setiap menjelang magrib memunguti daun-daun sawo yang gugur di halaman musala dekat rumahnya. Bertahun-tahun sudah ia melakukannya. Sampai kemudian, seorang pemuda alim menjadi tetangganya. Demi melihat seorang nenek memungut daun-daun menjelang magrib, pemuda alim merasa tak tega dan membersihkan daun-daun itu sebelum sang nenek tiba. Namun alangkah sedihnya sang nenek ketika mendapati halaman musala telah bersih. Ia pun bertanya kepada jamaah musala, “Siapa yang membersihkan daun-daun ini? Tidak tahukah kalian, bahwa setiap helai daun yang saya pungut adalah amal pahala untuk bekal saya kelak? Biarkanlah, biarkanlah saya mendapatkan pahala dari daun gugur itu di ujung usia ini…” Air matanya pun melincir sehening senja menjelang magrib itu.[]

Segelas Air Putih

Aku tertegun menatap ujung jalan depan rumah, berharap melihat punggung sang musafir.

Enam menit sebelumnya.
“Berilah saya segelas air putih,” pintanya.
Saya tertegun di depan pintu. Pastilah dia seorang musafir, bila bukan malaikat yang menyamar menjadi manusia seperti prasangka saya kepada setiap peminta yang datang. Tapi lelaki setengah baya berpakaian kumal ini berbeda, ia hanya meminta segelas air putih.
“Tunggu sebentar,” saya bergegas ke dalam mengambil air. Istri saya dan si kecil kebetulan tak ada di rumah, sejak kemarin mereka menginap di tempat nenek si kecil, dan hari ini rencananya pulang.
Setelah meminum habis segelas besar air putih, musafir itu berucap, “Terima kasih. Bila setiap sedekah yang diberikan tanpa membicarakannya kepada orang lain dan membangga-banggakannya, ia akan dijauhkan dari kesedihan.”
Tit… tit…, bunyi SMS di sakuku mengagetkan. Entah bagaimana, tiba-tiba sang musafir pun menghilang dari hadapan. Tak sempat memikirkan bagaimana ia bisa lesap begitu cepat, aku membuka SMS yang ternyata dari istriku: Bang, tadi nyaris saja angkot kami tabrakan. Alhamdulillah, tak apa-apa. Sebentar lagi kami sampai. Love u.[]

Hujan dan Kodok

Suatu malam, hujan bertanya kepada kodok, “Mengapa kau selalu memanggilku dengan suaramu yang jelek itu?”
“Tidak tahukah kau bila suaraku adalah tasbih? Seperti halnya juga kamu hujan, yang kadang dibenci, padahal adalah rahmat?”
“Lantas, siapakah sebenarnya yang tidak pernah mengerti?”
Hujan dan kodok tertawa.
Sepanjang malam mereka berdialog, begitu akrab, begitu kerap, hingga menjelang subuh.[]

cermin #4

Mei 4, 2009

Pembunuhan
Kejadiannya begitu cepat. Setelah menghunjamkan pisaunya, lelaki itu berlari menerabas gelapnya lorong pasar. Sampai di gang kecil ujung pasar, diketuknya sebuah rumah dengan tergesa-gesa. Ketika pintu sedikit terbuka, “Aku telah membunuhnya,” ucap lelaki itu dengan sedikit gemetar. “Bagus. Tenang, sekarang cuci dulu pakaian dan tubuhmu yang penuh darah,” suara perempuan menyahut. Ketika pintu dibuka lebar, aku terperanjat, perempuan itu adalah kekasihku. Dengan perasaan terluka aku berlari kembali menuju lorong pasar yang gelap, di mana tubuhku tergeletak dengan sebuah luka tepat di jantungnya.[]

Cerita Buaya dan Kancil
Ketika ibu guru itu selesai menceritakan kisah buaya dan kancil di hadapan puluhan anak-anak TK, salah seorang anak bertanya, “Bu, bukankah buaya dan kancil tak bisa bicara bahasa manusia?”
“Dia tidak bicara bahasa manusia, tapi binatang,” jawab ibu guru.
“Kalau bicara bahasa binatang, lalu mengapa ibu tahu ceritanya?”
“Ya,kan itu cuma karangan, tidak benar-benar terjadi,” ibu guru tetap menjawab sabar sembari tersenyum.
“Kalau begitu, itu cerita bohong. Kata mama, bohong itu dosa.”
“…”[]

Menulis Puisi
Semalam suntuk ia cemas. Kata demi kata yang hendak dirangkainya menjadi puisi tak pernah menjadi. Menjelang subuh, ia pergi ke luar, mampir di sebuah kafe. Di sana ia menemukan perempuan cantik duduk sendiri di pojok sedang menulis di sebuah kertas. “Ah, ternyata puisi itu ada di sini,” ucapnya.[]

cermin #3

Februari 20, 2009

Tukang Gigi
“Minggu depan datang lagi, ha,” ucap tukang gigi Ncek Ceng Ho kepadanya usai memasangkan satu gigi palsu. Seminggu kemudian ia datang. Tapi tempat praktik merangkap rumah kakek 65 tahun di kawasan pasar itu begitu ramai. “Kakek baru saja meninggal pagi tadi,” ucap seorang pria, cucu Ncek. Ia pun tertunduk, lalu menangis. Cucu Ncek mengucapkan terima kasih karena ia turut berduka. “Aku sedih bukan karena kakekmu meninggal. Aku sedih karena satu lagi gigi palsuku belum sempat terpasang,” ucapnya lirih.[]

Tukang Sulap
Pesulap keliling itu selalu menangis di kamar usai bermain sulap sekaligus menjual obat gatal di pasar. Sebab ia merasa bukanlah penonton yang ditipunya, melainkan dirinya sendiri. Kertas yang dibakarnya kemudian menjadi uang tak pernah membuatnya kaya. Sementara pantatnya yang kudisan tak sembuh-sembuh juga.[]

Tukang Lawak
Saat istrinya meminta cerai, tukang lawak itu malah tertawa keras-keras. “Mengapa kau tertawa?” tanya istrinya sengit. “Bagaimana aku tidak tertawa, bukankah perkawinan kita selama ini hanya lawakan saja?”[]

cermin (2)

Februari 9, 2009

Danau di Matamu

Kamu telah berdiri di hadapanku, lima tahun sudah sejak kamu meninggalkanku pada suatu malam kala kamu dapati aku mencumbu seorang perempuan di kamar hotel. Kamu tampak berubah, hanya kedua matamu tak benar-benar berubah, aku masih bisa melihat danau tenang itu. Tapi aku juga seperti melihat lingkaran-lingkaran air di sana. Siapakah yang melemparkan batu? Lalu kamu pun berucap, “Kamu siapa? Mohon jangan halangi jalanku,” sambil menggerak-gerakkan tongkat yang semula kukira payung itu di lantai kafe.

Penyair Meminta Mati di Atas Pentas

Penyair berpenyakitan TBC itu ingin mati di atas pentas saat membacakan puisi. Ia sudah meminta kepada tuhan. Agar lebih terasa dramatis, ia pun mulai sering membuat puisi tentang kematian. Namun, dari pentas ke pentas, Kematian yang dipinta tak datang-datang juga. Suatu malam ia pergi ke pantai, membacakan puisinya kepada laut, bulan, batu karang, dan ombak. Sejak itu, ia tak pulang-pulang.

Pelukis Telanjang

Seorang pelukis mencoba melukis perempuan telanjang di kamarnya. Satu jam lewat, kanvasnya masih putih. “Bagaimana aku bisa konsentrasi, bila posemu begitu?” katanya.

cerita-cerita mini

Februari 4, 2009

Ayah

Seseorang tiba-tiba mengetuk kamar kosku malam-malam. Dia membawa kabar, bahwa ayahku wafat. Tergesa-gesa aku berangkat menggunakan sepeda motor. Tiba di rumah orang tuaku, ibu dan sanak keluargaku terlihat sedih dan seolah-olah tak tahu kehadiranku. Sementara ayah masih bersandar di ranjangnya, wajahnya bersih dan terlihat baik-baik saja. “Kenapa baru datang? Tinggal kamu yang ayah tunggu sejak tadi,” kata ayah pelan, tersenyum. Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba seseorang masuk ke kamar dan mengabarkan kepada orang-orang bahwa aku mengalami kecelakaan di perjalanan.[]

Pertemuan

Perempuan yang pernah kupacari sepuluh tahun lalu, kini duduk di hadapanku di sebuah kafe di suatu senja. Rasanya berabad-abad kami tidak pernah bertemu. Dia telah bersuami dan aku beristri. Terlalu banyak cerita yang hendak kubagi, barangkali juga ia. Hingga senja melindap, kami hanya berbagi senyum dan saling tatap. Ketika suami dan anaknya menyeberang jalan menuju kafe, ia pamit. Dari balik kaca, kupandangi mereka bertiga yang tampak bahagia. []

Pelacur

Ketika pelacur itu masuk ke kamar hotelnya, dia masih melupakan istrinya. Ketika pelacur itu mulai membuka baju, ia masih melupakan istrinya. Ketika pelacur itu mulai mencumbunya, ia masih melupakan istrinya. Ketika mereka berdua terbaring kelelahan, baru ia ingat istrinya. Maafkan aku, bisiknya.[]

Surat

Suatu sore, tukang pos menyerahkan sebuah surat yang sangat lusuh kepadaku. Pengirim dan alamatnya sudah tak terbaca, barangkali terkena panas dan hujan.  Hanya namaku saja yang samar.  Di atas kertas surat itu tertulis:  Undangan dari Masa Depan, tahun 2500. Kupikir, pantas saja suratnya begini.[]