Nenek dan Daun Gugur
… Sahibul hikayat, ada seorang nenek yang kerjanya setiap menjelang magrib memunguti daun-daun sawo yang gugur di halaman musala dekat rumahnya. Bertahun-tahun sudah ia melakukannya. Sampai kemudian, seorang pemuda alim menjadi tetangganya. Demi melihat seorang nenek memungut daun-daun menjelang magrib, pemuda alim merasa tak tega dan membersihkan daun-daun itu sebelum sang nenek tiba. Namun alangkah sedihnya sang nenek ketika mendapati halaman musala telah bersih. Ia pun bertanya kepada jamaah musala, “Siapa yang membersihkan daun-daun ini? Tidak tahukah kalian, bahwa setiap helai daun yang saya pungut adalah amal pahala untuk bekal saya kelak? Biarkanlah, biarkanlah saya mendapatkan pahala dari daun gugur itu di ujung usia ini…” Air matanya pun melincir sehening senja menjelang magrib itu.[]
Segelas Air Putih
Aku tertegun menatap ujung jalan depan rumah, berharap melihat punggung sang musafir.
Enam menit sebelumnya.
“Berilah saya segelas air putih,” pintanya.
Saya tertegun di depan pintu. Pastilah dia seorang musafir, bila bukan malaikat yang menyamar menjadi manusia seperti prasangka saya kepada setiap peminta yang datang. Tapi lelaki setengah baya berpakaian kumal ini berbeda, ia hanya meminta segelas air putih.
“Tunggu sebentar,” saya bergegas ke dalam mengambil air. Istri saya dan si kecil kebetulan tak ada di rumah, sejak kemarin mereka menginap di tempat nenek si kecil, dan hari ini rencananya pulang.
Setelah meminum habis segelas besar air putih, musafir itu berucap, “Terima kasih. Bila setiap sedekah yang diberikan tanpa membicarakannya kepada orang lain dan membangga-banggakannya, ia akan dijauhkan dari kesedihan.”
Tit… tit…, bunyi SMS di sakuku mengagetkan. Entah bagaimana, tiba-tiba sang musafir pun menghilang dari hadapan. Tak sempat memikirkan bagaimana ia bisa lesap begitu cepat, aku membuka SMS yang ternyata dari istriku: Bang, tadi nyaris saja angkot kami tabrakan. Alhamdulillah, tak apa-apa. Sebentar lagi kami sampai. Love u.[]
Hujan dan Kodok
Suatu malam, hujan bertanya kepada kodok, “Mengapa kau selalu memanggilku dengan suaramu yang jelek itu?”
“Tidak tahukah kau bila suaraku adalah tasbih? Seperti halnya juga kamu hujan, yang kadang dibenci, padahal adalah rahmat?”
“Lantas, siapakah sebenarnya yang tidak pernah mengerti?”
Hujan dan kodok tertawa.
Sepanjang malam mereka berdialog, begitu akrab, begitu kerap, hingga menjelang subuh.[]
