Arsip untuk 'cerpen'Kategori

Ziarah

Januari 20, 2009

oke-ziarah21
PADA sisa seperempat malam itu ia terbangun. Ditengoknya istrinya yang tertidur membelakanginya. Suara ngorok istrinya seperti peluit kapal di malam tanpa angin dan gelombang. Disibaknya selimut, diraihnya jaket yang tergantung di dinding pintu kamar, dan sebuah senter di atas meja. Dia bertekad tetap ke luar rumah menuju pekuburan di belakang surau, sekitar 500 meter dari rumahnya ke arah barat. “Aku mesti ke kubur, ke kubur.” Hatinya begitu gelisah. Di luar bulan terang, langit luas membentang, awan-awan tipis menepi. “Pekuburan itu pasti terang cahaya bulan. Aku mesti ke kubur, ke kubur.” Baca entri selengkapnya »

Kematian yang Terlalu Pagi

Agustus 16, 2008

(ini cerpen saya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan, juga terdapat dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07)

BERSAMA harum kamboja, tiba-tiba saja cahaya berebutan menerobos kamar dari jendela. Udara berpusing, teraduk-aduk, kertas-kertas berterbangan, buku-buku berbukaan bersicepat membolak-balik lembar halamannya sendiri di tengah lesatan bilah-bilah cahaya yang menyakitkan mata. Kamar pun banjir cahaya, menggigilkanku dalam sergapan ketakutan sekaligus ketakjuban. Gigilku dalam kecemasan melebihi kecemasanku atas kata-kata.
Seperti sepasang sayap yang saling bersedekap, perlahan cahaya menjadi lebih tenang. Gelombang udara pun membantun pelan. Dalam gentar yang teramat, kuberanikan membuka perih mata menangkap sesosok. Cahaya! Cahaya! Ahai! Tuankah malaikat itu? Tuankah? Baca entri selengkapnya »

Lelaki dan Pelacur

Juli 20, 2008

(Ini cerpen lama, yang saya tulis tahun 1998. Yeah, sekadar iseng, saya coba tampilkan di sini. Barangkali ada yang baca… )

 

BEGITULAH. Abidin seolah-olah baru tersadar. Dan mendapatkan dirinya sudah berada di sebuah lokalisasi, dalam kamar bersama seorang pelacur. Ketika pelacur itu hendak melucuti pakaiannya sendiri, kontan Abidin tersentak. Kaget.

“Tunggu…tunggu. Apa-apaan ini,” katanya bingung.

“Lho, bukankah mas berada di sini untuk ini?” jawab pelacur itu tak kalah bingung. Baca entri selengkapnya »

Senja Kuning Sungai Martapura

Maret 6, 2008

buku-sandi.jpeg

 Bamula angin manyapu banyu/ maniup di batang banyu/ maantar alang tarabang/ handak bulik ka sarangnya 

(Bermula angin menyapu air

meniup di batang air

mengantar elang terbang

hendak pulang ke sarangnya)

  

Senja kuning luruh. Kuning, sewarna kuning kunyit. Seperti biasa kau duduk di situ, di batang banyu rumah lantingmu1, dengan rambut panjang tergerai masai, kaki tercelup sungai. Matamu berkabut air mata, meriak, sebelum akhirnya satu-satu bulir bening itu jatuh melincir di pipimu. Hening dalam senja kuning. Baca entri selengkapnya »