Kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis.
Bila Anda asli urang Sunda (baca: Bandung), pernahkah menanyakan kepada orang lain apa kira-kira yang terlintas di benaknya ketika pertama kali disebutkan nama Kota Bandung? Mungkin jawabnya adalah Kota Kembang—sesuai dengan julukan kota ini, seperti halnya Bogor disebut Kota Hujan.
Atau, ketika disebutkan Kota Bandung maka yang langsung terbayang adalah kesejarahannya (Bandung lautan api), gedung sate, kulinernya, atau justru neng geulis-nya? Ya, orang bisa menyebut apa saja sesuai dengan apa yang diketahui dan dipahaminya.
Dari sekian julukan dan identifikasi itu, apakah semuanya (masih) relevan? Siapakah yang tahu mengapa (dulunya) Kota Bandung disebut sebagai Kota Kembang? Apakah karena di kota ini banyak terdapat kembang? Atau kembang itu hanya metafora dari neng geulis? Hmm…, saya kira yang terakhir itu yang lebih tepat. Sebab, kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis. Baca entri selengkapnya »

