Arsip untuk 'Esai'Kelompok

Menulis, Melawan Lupa

Agustus 24, 2008

Yang terucap kembali sunyi, yang tercatat menjadi abadi

Saya (lebih) percaya, bahwa menulis itu seperti belajar bersepeda. Teori-teori tentang menulis tak lebih hanyalah seperti mengenal onderdil-onderdil dari sepeda dan bagaimana cara naik pertama yang baik di atas sepeda. Namun itu tak otomatis membuat kita langsung bisa bersepeda. Bagaimana bisa bersepeda dengan baik dan benar, ya kita harus menaikinya dan kemudian mencoba mengayuh pedalnya. Sudah tentu, awalnya akan jatuh bangun dan terkadang membuat terluka. Bila dengan luka itu membuat kita jera, maka kita takkan pernah bisa naik sepeda. Namun bila kita mencoba dan terus mencoba, meski berkali-kali terluka, pasti bisa juga. Mahir atau tak mahir, setidaknya sudah bisa melaju di jalanan. Baca entri selengkapnya »

Hudan III

Juli 13, 2008

Dia terlihat baik-baik saja, tapi siapa tahu dalam hatinya…?

Hudan Nur kembali hadir di Book Café, Sabtu (12/7) malam. Kali ini dia bersama Isuur Loeweng membacakan cerpen saya, Tubuh dan Kepala Mencari Rupa. Ia sudah terlihat lebih baik. Canda tawanya kembali berderai, seakan peristiwa kecelakaan tiga bulan lewat telah menjadi bagian masa lalunya – meski dia masih harus menjalani beberapa perawatan termasuk rencana operasi cairan darah beku di dalam kepalanya akibat benturan saat tabrakan di wilayah Pelaihari itu. Berikut ini adalah sambungan catatannya saat dirawat di RS Ulin, Banjarmasin, yang dibacakan pada malam Minggu (7/7), pekan lalu: Baca entri selengkapnya »

Hudan II

Juli 7, 2008

Dia datang dengan *segunung api…*
(*Iwan Fals, Air Mata Api, album Mata Dewa, 1989)

SABTU malam (5/7) Minggu, Hudan Nor datang di Book Cafe, samping Museum, Banjarbaru. Sastrawan muda Kalsel yang tiga bulan lewat mengalami kecelakaan parah, yang meremukkan beberapa tulang paha, rahim dan rusuknya ini mengaku kangen dengan kawan-kawan sastrawan. Ia pun lalu membacakan sebuah catatan (barangkali puisi), yang ditulisnya di saat-saat masa terberatnya di rumah sakit. Dengan disaksikan beberapa sastrawan, seperti Rifani Djamhari, Fitran Salam, Sirajul Huda, Harie Insani Putra, Nina Indhiana, mahasiswa STIKP PGRI Banjarmasin Wawan dan Umai, kelompok Sanggar Matahari, serta beberapa pengunjung lainnya, Hudan dengan bibir bergetar membacakan catatan yang masih ditulis tangan itu. Berikut ini catatan Hudan, yang akan ditampilkan bersambung….

Banjarmasin Menangis, 23 Juni 2008
Yth. Segenap Dedah
Di
Samudra Mimpiku

Selamat Datang,

Hari ini aku berjumpa lagi dengan matahari. Sudah lama nampaknya, aku tidak merasakan kegarangannya setelah aku kalah dengan keluhku, dengan rasa sakitku. Hari ini aku mencoba menulis lagi, sekadar menuliskan segenap apa-apa yang pernah aku rasai. Memang, tidak semua rasa bisa ku patrikan di sini. Sebab lembah khayal dan keterbatasan apa yang kupunya. Aku ada karena ada. Itu saja alasanku untuk menulis. Selebihnya, berapa nilai dari sebuah air mata!? Bukankah cukup ternilai namun tidak setiap dari kita paham akan itu! Baca entri selengkapnya »

Saigo

Juni 29, 2008


Percayakah, hasrat manusia akan damai sama besarnya dengan hasrat membuat senjata pemusnah yang paling mematikan?

Ketika sekelompok kecil prajurit Jepang di gua pulau Iwo Jima terdesak oleh pasukan Amerika, sang pimpinan memutuskan agar para prajurit Jepang itu bunuh diri, suatu tindakan yang diyakini sebagai sikap ksatria.

“Saudara-saudara, kita adalah pasukan kehormatan Kaisar. Satu-satunya bagi kita adalah gugur secara hormat. Inilah takdir kita… untuk menemukan tempat kita di Kuil Suci Yasukuni. Kita akan bertemu di sana,” khotbah sang pimpinan dengan hikmat sekaligus heroik. “Banzaaaiiii….!” Maka satu per satu prajurit jepang itupun meledakkan diri mereka sendiri dengan granat tangan. Hancur tercerai-berai.

Baca entri selengkapnya »