: begitulah kita saling mencintai
meski tak pernah mengerti
berapa jarak rindu dan sunyi
*…sekumpulan catatan yang barangkali hanya omong kosong…*
: begitulah kita saling mencintai
meski tak pernah mengerti
berapa jarak rindu dan sunyi
Sebelum Kita Bertumbangan
kita selalu terlupa membaca cuaca
yang memakani pohon pohon usia
sampai nanti kita tersadar
ada lagi yang tumbang dalam diam
dan kita berada di deretan itu
menunggu
sementara sebelum saat itu datang
aku ingin membangun sebuah rumah sederhana
di dalamnya ada sebuah meja
dengan dua kursi di dekat jendela
tempat kita minum kopi saat pagi atau senja
dan malamnya kita bercinta
menggugurkan dosa dosa
Tentang Aku dan Sajak
semalam,
aku bercakap cakap dengan gerimis
tentang aku ingin menggores kata kata
tentang kata kata ingin menggores sajak
tentang sajak ingin menggores aku
kadang aku mencoret kata kata
kadang kata kata mencoret sajak
kadang sajak mencoret aku
semalam,
aku bercakap cakap dengan gerimis
bisakah aku berumah dalam kata kata?
Kau Jauh
dan gerimis terlambat pulang malam ini
dentingnya masih jatuh teduh
terasa jauh di ujung hatimu
hujan kali ini mengingatkan aku
pada basah rambutmu,
tanah yang menguap sehangat pipimu
juga kopi sore hari
senyummu, selalu seperti gerimis ini,
rinai dan kupetik menjadi kembang gula
kucari denting langkahmu pada aspal
yang mengkilap sehabis hujan
itu seperti baru saja terjadi
kaki kecilmu berlari jauh
memecahkan genangan air
di kolam hatiku
pandangi hujan kali ini
dan rasakan deru angin rindu
yang kukirim dari lembah tersunyi
tempat yang dulu pernah kita singgahi
*November, 2008
Menu Hari Ini: Puisi
di sebuah restoran
satu meja dua kursi
terhidang sepotong puisi
seperti makan pizza
kau perlu sedikit perjuangan
memotongmotong dengan
pisau tumpulmu agar
tak sampai berdarah
sebelum akhirnya puisi itu
kau kunyah resah
sialan! selalu saja
kau muntah
Juni 2005
Membaca Jarak
negeri manakah tujuanmu?
aku tak punya alamat
di layar tv pesawat
kubaca jarak
maut dan aku
hanya setombak
antara Jkt-Hk 2004
Nanjing Road
mengukur jarak
antara rindu dan sunyi
pada lampu-lampu neon
yang tak bisa kuterjemahkan
warna dan hurufnya
hanya
angin dan dingin
kudekap tubuhku berkakukaku
Sepoci Teh Amoi
angin berputar
dalam teh pociku
hangatkan aku, amoi
di luar begitu dingin
merah gaun
mendesir darah
tirah, tirah
aku hilang arah
negerimu kabut
yang mengelambui bulan
jangan kau pandang, bisikmu
wajahmu porselen
licin dan lesi
angin berputar
dalam teh pociku
di luar
pohonpohon putih beku
China – 2004
Sajak Sebatang Pohon Karet
Aku telah menyaksikan gajah-gajah besi
seperti pasukan Abrahah di tepi hutan ini
berderap, menerbangkan debu hitam batubara
dan tanah kering merah bata
Pepohonan sunyi burung
embun lesap sebelum mencium daun
angin kaku, kehilangan peta arah
pada subuh beraroma barah
Tanah terang, anak penakik getah datang
wajahnya pucat lesi bulan kesiangan
telah terbayang harga karet turun beribu-ribu
sebab getahku berserbuk, kesat kain belacu
Nadiku tercekat berlarat-larat
dalam bola mata anak penakik getah yang sekarat
tepi hutan, tepi kematian
suaranya kian menghilang
Kubayangkan arakan ababil datang dari samudra sunyi
menghujani gajah-gajah besi dengan batu api
langit terbakar, berkibar, menerbangkan lelatu
tepi hutan ini pun berubah menjadi abu
bulan awal tahun 2008
Yang Bertahan dan Melawan
: kepada Jhonson Maseri di pegunungan Meratus
Selalu ada yang bertahan dan melawan
di tanah ulayat dan hutan larangan
setiap jengkal tanah, sebatang pohon
adalah warisan hidup tujuh turunan
Chico Mendes
lelaki liat hutan Amazonia
meradang
menghadang deru gergaji siang malam
meski akhirnya tumbang ditembus peluru bayaran
di tanah basah ia rebah
…,
dan kita membaca
seorang teman mengenangnya, Luis Sepulveda
pada buku Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
bulan awal tahun 2008