<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>potret</title>
	<atom:link href="http://sfirly.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sfirly.wordpress.com</link>
	<description>*...sekumpulan catatan yang barangkali hanya omong kosong...*</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 15:39:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sfirly.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>potret</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sfirly.wordpress.com/osd.xml" title="potret" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sfirly.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tahun Baru</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2012/01/01/tahun-baru-2/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2012/01/01/tahun-baru-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 16:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[//Saya pernah membayangkan, bagaimana seandainya pada malam tahun baru malaikat Israfil tergoda meniup terompet sangkakala?// Tahun berganti. Kita pun segera membiasakan untuk mencatatkan angka tahun 2012; di buku-buku kerja, di surat-surat, di kwitansi, dan juga barangkali di salah satu sudut lembaran pertama buku novel yang baru dibeli. Awal-awal mungkin kita masih terlupa mencatat angka tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=325&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>//<a href="http://sfirly.files.wordpress.com/2011/06/vuvuzelas1.jpg"><img src="http://sfirly.files.wordpress.com/2011/06/vuvuzelas1.jpg?w=300&#038;h=230" alt="" title="vuvuzelas1" width="300" height="230" class="alignleft size-medium wp-image-332" /></a>Saya pernah membayangkan, bagaimana seandainya pada malam tahun baru malaikat Israfil tergoda meniup terompet sangkakala?//</p>
<p>Tahun berganti. Kita pun segera membiasakan untuk mencatatkan angka tahun 2012; di buku-buku kerja, di surat-surat, di kwitansi, dan juga barangkali di salah satu sudut lembaran pertama buku novel yang baru dibeli. Awal-awal mungkin kita masih terlupa mencatat angka tahun baru itu – karena serasa masih di tahun 2011, dan betapa itu akan menyadarkan kita bahwa tahun telah berganti, dan waktu terasa begitu cepatnya berlari.</p>
<p>Almanak di rumah, di kantor, juga akan segera berganti dengan yang baru, tahun 2012. Hanya jam dinding yang tidak berganti. Tetap jam yang itu-itu juga dari tahun ke tahun – kecuali baterainya yang sering diganti karena mati.</p>
<p>Seperti biasa, perpindahan tahun akan selalu disambut dengan gegap-gempita. Pesta-pesta dan arakan-arakan. Dari pesta jalanan hingga ruang-ruang rahasia. Kembang-kembang api selalu saja memiliki pesona yang tidak pernah bosan untuk dinikmati saat memancar di langit yang hitam di malam tahun baru. Dentaman petasan dari yang terkecil hingga yang mampu membuat jantung berdebar dan telinga berdengung seperti hendak mengguncang dunia agar tetap terjaga meski malam telah larut. Juga terompet-terompet yang tak henti ditiup seolah-olah dengan meniup terompet itu maka kita berhak atas malam pergantian tahun itu, berhak ikut gembira, berhak menjadi bagian dari orang-orang yang secara bersama-sama larut dalam euforia itu. </p>
<p>Namun saya pernah membayangkan, bagaimana seandainya pada malam tahun baru itu malaikat Israfil tergoda meniup sangkakala? Begitu banyaknya terompet yang ditiup pada malam tahun baru sehingga seolah-olah dunialah yang sedang berteriak, tidakkah itu akan mengundang kejengkelan dan kecemburuan Israfil? Barangkali merasa diejek oleh kesombongan manusia-manusia yang seakan dengan meniup terompet itu dia merasa telah memiliki dunia ini.</p>
<p>Sedangkan kita telah membaca, malaikat Israfil senantiasa meletakkan terompet sangkakala di mulutnya. Terompet itu di mulutnya sejak alam raya ini diciptakan. Nah, tidakkah itu berarti sangkakala senantiasa siap ditiupkan? Bayangkan pula, sebagai malaikat yang mendapat tugas satu-satunya sebagai peniup sangkakala, tidakkah Israfil ingin segera melaksanakan tugas itu agar tunai? Meniup terompet berupa tanduk raksaksa yang terdiri dari cahaya. Bercabang empat; ke barat, ke timur, ke bawah bumi, dan ke langit ketujuh. Besar tiap lingkaran dalam tanduk itu selebar langit dan bumi. Terompet itu akan ditiup sebanyak tiga kali. Tiupan pertama membuat makhluk takut, tiupan kedua makhluk mati, tiupan ketiga membangkitkan makhluk dari kubur.</p>
<p>Untunglah malaikat tidak punya selera humor. Misalnya Israfil merasa tergoda untuk meniup terompet itu sebelum ada perintah dari Tuhannya. Tidak juga akan iseng dua malaikat yang menemaninya, malaikat Jibril di sebelah kiri dan malaikat Mikail sebelah kanannya, misalnya dengan merebut terompet itu dari mulut Israfil. Namun, Israfil disebutkan selalu memasang telinga untuk mendengarkan perintah untuk meniup sangkakala itu! </p>
<p>Tapi dunia memang penuh senda gurau. Maka perenungan malam tahun baru adalah perenungan yang berdebam, lebam, bukan perenungan yang diam. Pergantian tahun disambut seperti sebuah ujian yang berhasil dilewati, dan kemudian menyosong tahun baru dengan gairah yang terlalu berlebihan pada malam hari awal tahun itu. Meski ketika keesokan harinya, di siang hari pertama tahun baru, kita terbangun dengan perasaan nelangsa menatap matahari siang yang telah meninggi karena baru tidur pagi hari. Dan itu adalah matahari yang itu-itu juga, meski tahun telah berganti. Lalu apakah bedanya tahun baru, selain hanya almanak-almanak yang berganti dan usia kita yang dikurangi?</p>
<p>Barangkali di siang hari pertama itu juga akan ada perasaan getir. Usia hidup terpotong, kita terus menua, jauh meninggalkan masa kanak-kanak atau usia muda sepuluh atau duapuluh tahun lalu. Tapi juga barangkali tetap akan ada perasaan gembira, karena berada di antara keluarga; istri dan anak-anak tercinta. Menghitung-hitung hidup, baik dan buruk selama tahun 2011 yang telah lewat. Lalu menatap hari-hari tahun 2012 dengan perasaan riang, dan syukur.[] </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sfirly.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sfirly.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sfirly.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sfirly.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/325/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=325&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2012/01/01/tahun-baru-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sfirly.files.wordpress.com/2011/06/vuvuzelas1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">vuvuzelas1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>15 Penulis Terpilih UWRF 2011</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2011/06/28/15-penulis-terpilih-uwrf-2011/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2011/06/28/15-penulis-terpilih-uwrf-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 17:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[TEMPO Interaktif, Denpasar &#8211; Sejumlah 15 penulis Indonesia terpilih untuk tampil di ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Mereka yang lolos dalam proses kurasi itu akan diundang untuk mengikuti UWRF 2011 pada 5-9 Oktober mendatang di Ubud, Bali. “Mereka berasal dari berbagai daerah di nusantara. Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, serta NTB. Semua terwakili [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=319&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sfirly.files.wordpress.com/2011/04/logo-uwrf-2011.jpg"><img src="http://sfirly.files.wordpress.com/2011/04/logo-uwrf-2011.jpg?w=104&#038;h=300" alt="" title="Logo UWRF 2011" width="104" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-323" /></a><br />
TEMPO Interaktif, Denpasar &#8211; Sejumlah 15 penulis Indonesia terpilih untuk tampil di ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Mereka yang lolos dalam proses kurasi itu akan diundang untuk mengikuti UWRF 2011 pada 5-9 Oktober mendatang di Ubud, Bali.</p>
<p>“Mereka berasal dari berbagai daerah di nusantara. Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, serta NTB. Semua terwakili dalam jajaran para penulis terpilih ini,” ujar Manajer Pengembangan Komunitas UWRF Kadek Purnami, Jumat, 3 Juni 2011.</p>
<p>Para penulis itu adalah Alan Malingi (Bima/NTB), Arafat Nur (Aceh), Aulia Nurul Adzkia (Ciamis), Budy Utamy (Riau), Fitri Yani (Bandar Lampung), Ida Ahdiah (Tangerang), Irianto Ibrahim (Kendari), Pinto Anugrah (Padang), Ragdi F. Daye (Padang), Rida Fitria (Lumajang), Sandi Firly (Banjarmasin), Sanie B. Kuncoro (Solo), Saut Poltak Tambunan (Jakarta), Satmoko Budi Santoso (Yogyakarta), dan Wahyudin (Banten).</p>
<p>Para penulis ini dipilih dalam sidang Dewan Kurator UWRF 2011 yang berlangsung di Sanur akhir Mei lalu. Dewan Kurator beranggotakan empat penulis senior, yaitu Kurnia Effendi (Jakarta), Iyut Fitra (Payakumbuh), Dorothea Rosa Herliany (Magelang), dan Made Adnyana Ole (Bali).</p>
<p>“Para penulis terpilih ini telah mencerminkan prinsip kenusantaraan karena mereka berasal dari daerah serta latar budaya yang beragam. Karya-karya mereka pun beragam bentuknya, ada yang menulis puisi, ada yang menulis novel, esai, cerpen, dan juga naskah drama,” ujar Kurnia Effendi. </p>
<p>Beragam karya itu terinspirasi dari banyak hal, di antaranya kekayaan cerita daerah dari tanah kelahirannya, eksplorasi kehidupan dan tantangan yang dialami para buruh migran Indonesia di luar negeri.</p>
<p>Keragaman latar belakang penulis, bentuk karya dan tema ini, menurut Iyut Fitra, akan memungkinkan terjadinya diskusi dan tukar pikiran yang hangat saat para penulis terpilih ini berkumpul di Ubud. “Semoga pertukaran ide dan dialog yang terjadi selama UWRF 2011 akan saling menginspirasi para penulis dan tentunya makin meneguhkan jalinan kebangsaan kita,” ujarnya.</p>
<p>Dorothea Rosa Herliany meminta pihak panitia UWRF untuk lebih memberikan perhatian kepada wilayah timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, yang tidak terwakili dalam jajaran para penulis terpilih kali ini. Menurut dia, perlu dipikirkan langkah-langkah tambahan untuk memperkenalkan UWRF ke wilayah timur serta untuk mendorong partisipasi para penulis di wilayah tersebut..</p>
<p>Kadek Purnami mengungkapkan bahwa para penulis terpilih itu diseleksi dari sekitar 235 penulis yang telah mengajukan karya-karyanya ke panitia UWRF 2011. “Tahun ini jumlah penulis yang mengikuti seleksi memang meningkat luar biasa. Tahun lalu ada 105 penulis yang mengikuti proses seleksi,” ujarnya.</p>
<p>Para penulis yang mengirim karyanya untuk proses seleksi tahun ini berasal dari 60 kota di Indonesia. “Ini menunjukkan bahwa memasuki tahun kedelapan, UWRF telah berhasil menjadi salah satu ajang kesusastraan yang paling dikenal di Indonesia,” ujarnya.</p>
<p>Para penulis terpilih akan diterbangkan ke Ubud untuk menghadiri UWRF 2011. Selain itu, karya-karya terpilih mereka akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi bersama festival.</p>
<p>Sejak 2008, UWRF telah menerbitkan tiga antologi bilingual yang menghimpun karya-karya para penulis terpilih Indonesia. Antologi pertama berjudul Reasons for Harmony, kedua berjudul Compassion and Solidarity, dan ketiga berjudul Harmony in Diversity. Buku-buku ini telah dikirim ke berbagai universitas dan pusat penulisan di luar negeri untuk lebih memperkenalkan sastra Indonesia ke tataran global.</p>
<p>Seluruh proses seleksi dan partisipasi penulis Indonesia terpilih serta penerbitan antologi dibiayai bersama oleh UWRF dan Hivos, sebuah lembaga nirlaba asal Belanda yang memajukan upaya-upaya demokratisasi dan pembangunan masyarakat sipil di negara-negara berkembang.</p>
<p>UWRF diselenggarakan pertama kali pada 2004. Kini, telah berkembang menjadi salah satu festival sastra terbesar di dunia. Fatimah Bhutto, penyair yang juga cucu mendiang PM Pakistan Zulfikar Ali Bhutto, memuji UWRF sebagai festival sastra terbaik di dunia.</p>
<p>Tahun ini, UWRF akan mengangkat tema &#8220;Nandurin Karang Awak&#8221; / Cultivate The Land Within yang terinspirasi oleh puisi tradisional karya mendiang Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta-pujangga terbesar Bali di abad ke-20.[]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sfirly.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sfirly.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sfirly.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sfirly.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/319/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=319&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2011/06/28/15-penulis-terpilih-uwrf-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sfirly.files.wordpress.com/2011/04/logo-uwrf-2011.jpg?w=104" medium="image">
			<media:title type="html">Logo UWRF 2011</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Debu: Ketidakberdayaan dalam Segitiga Kekuasaan</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2011/04/22/rumah-debu-ketidakberdayaan-dalam-segitiga-kekuasaan/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2011/04/22/rumah-debu-ketidakberdayaan-dalam-segitiga-kekuasaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 19:27:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Aprinus Salam Dosen Pascasarjana Prodi Sastra FIB UGM. Pengantar: Perihal Tiga Kekuasaan Awalnya, ketika membaca Rumah Debu, ada dugaan cerita akan berkitar pada kehidupan religi para santri. Sebagian tokohnya merupakan orang-orang pesantren dan ada kehidupan pesantren yang diceritakan di dalamnya meskipun tidak banyak kosa kata dari lingkup santri. Namun kemudian, cerita juga sedikit bergulir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=316&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://sfirly.files.wordpress.com/2011/04/sampul-rumah-debu1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-320" title="sampul rumah debu" src="http://sfirly.files.wordpress.com/2011/04/sampul-rumah-debu1.jpg?w=202&#038;h=300" alt="" width="202" height="300" /></a></p>
<p>Oleh: Aprinus Salam<br />
Dosen Pascasarjana Prodi Sastra FIB UGM.</p>
<p>Pengantar: Perihal Tiga Kekuasaan<br />
Awalnya, ketika membaca Rumah Debu, ada dugaan cerita akan berkitar pada kehidupan religi para santri. Sebagian tokohnya merupakan orang-orang pesantren dan ada kehidupan pesantren yang diceritakan di dalamnya meskipun tidak banyak kosa kata dari lingkup santri. Namun kemudian, cerita juga sedikit bergulir mengenai persaingan para preman dalam memperebutkan kekuasaannya menarik uang dari sopir-sopir truk pengangkut batu bara. Selain itu, ada pula penceritaan mengenai kehidupan keluarga seorang pengusaha pertambangan batu bara. Dari cerita-cerita itu, penulis novel ini seperti ingin menunjukkan kesalinghubungan ketiganya dalam membentuk suatu alur kisah kehidupan masyarakat di dalam novel.<br />
Dalam pandangan Langland (1989: 4), masyarakat dalam karya sastra berbeda dengan masyarakat yang ada di dalam realitas. Menurutnya, masyarakat yang ada di dalam karya sastra memiliki fungsi sebagai bagian dari elemen pembentuk novel. Di sini, kehadiran masyarakat ditujukan oleh pengarang untuk mengungkap suatu maksud yang dengannya pengarang akan memosisikan tokoh-tokohnya pada peristiwa-peristiwa yang nanti akan mengembangkan karakter mereka. Melalui kehidupan pesantren, persaingan antarpreman, dan permasalahan keluarga pengusaha pertambangan batu bara, novel ini membangun masyarakat dalam suatu struktur kekuasaan. Tulisan ini akan memfokuskan bahasan pada masalah tersebut.<br />
Secara garis besar, Rumah Debu mendedahkan tiga kekuasaan. Pertama, kekuasaan agama yang diwakili Guru Zaman. Kedua, kekuasaan uang yang direpresentasikan melalui tokoh Pak Ismail dan Ibu Diyang. Ketiga, kekuasaan fisik yang diwakili kelompok Pak Sawang dan Udin Tungkih. Pada akhirnya, tulisan ini akan menyoroti posisi Rozan, tokoh utama dalam novel ini, yang tidak masuk secara tegas ke dalam tiga struktur kekuasaan tersebut. Di sini, Rozan seakan ingin lepas dari ketiga kekuasaan itu dan membangun kekuasaan baru. Apakah Rozan berhasil membangun kekuasaan yang baru itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, akan diuraikan dulu ketiga kekuasaan yang ada dalam novel ini.<span id="more-316"></span></p>
<p>Pesantren dan Guru Agama<br />
Kekuasaan agama dalam novel ini terlihat pada keberadaan Guru Zaman yang mampu meredam beberapa perselisihan antara para preman (Firly, 2010: 19—20 dan 39&#8211;40) dan penghakiman massa terhadap sopir truk pengangkut batu bara yang menabrak seorang warga (Firly, 2010: 24). Status Guru Zaman sebagai seorang ustadz amat dihormati orang-orang di sekitarnya, termasuk para preman. Hal yang sama juga ditemui pada keluarga Pak Ismail yang memanggil Guru Zaman untuk mengajar ngaji anaknya<br />
Kekuasaan agama milik Guru Zaman ini seperti menjadi semacam common sense bagi masyarakat. Hal ini ditunjukkan ketika Pak Ismail mengirim surat kepada Guru Zaman untuk meredam emosi warga setelah peristiwa tertabraknya seorang warga oleh salah seorang sopir truknya. Tentu, Pak Ismail berkata demikian karena tidak ingin usahanya bangkrut lantaran warga tak mengizinkan truknya lewat di jalan yang melintasi permukiman warga. Jadinya, agama di satu sisi dianggap sebagai jalan menuju kedamaian, agama melalui pemukanya, menjadi alat kendali para pemeluknya. Di sisi lain, Pak Ismail memanfaatkan agama menjadi jalan untuk kepentingan bisnisnya.<br />
Akan tetapi, Guru Zaman yang dijadikan sandaran untuk penyelesaian masalah justru mengafirmasi langkah Pak Ismail yang sudah memberikan santunan kepada keluarga korban. Di sini, ada pertukaran kepercayaan kekuasaan yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Guru Zaman justru mengamini bahwa penyelesaian masalah dengan uang sudah dapat meredam emosi warga yang menjadi korban tertabrak truk berikut orang-orang yang ditinggalkan korban tersebut. Padahal, Pak Ismail mempercayakan kekuasaan agama yang dimiliki Guru Zaman-lah yang akan mampu membuat suasana menjadi damai lagi setelah kasus kecelakaan terjadi.<br />
Guru Zaman sebagai pemuka agama, di Rantau, yang menjadi sandaran warga ternyata tidak mampu berbuat banyak kepada masyarakatnya. Di sini fungsi agama dipertanyakan, dipertentangkan dengan motif ekonomi truk-truk batu bara yang melintasi jalan di dekat mushola. Sebagai perbandingan, Guru Zaman justru menyebut Kota Martapura sebagai kota santri yang mampu membuat truk-truk pengangkut batu bara di sana lebih ramah dalam berjalan sehingga tak membahayakan warga. Guru Zaman menyebut bahwa salah satu penyebab ramahnya truk-truk batu bara di Martapura karena banyaknya pengajian yang ada di sana. Solusi yang ditemukan ini ternyata tidak dicoba diterapkan oleh Guru Zaman di wilayahnya. Lebih parah lagi, Guru Zaman seakan pasrah dengan keadaan lingkungannya yang selalu terancam musibah:</p>
<p>….peristiwa tabrakan truk batu bara ini setiap saat bisa saja terjadi lagi, selama truk itu masih melintas di jalanan umum. Kamu pasti tahu, betapa seringnya truk batu bara menewaskan orang di jalanan. Mungkin lebih banyak dari yang pernah kita dengar, atau juga lebih banyak dari kucing dan anjing yang nyawanya juga berakhir di jalanan,” Guru Zaman setengah tersenyum, hambar. “Meski koran-koran tak henti memberitakan setiap peristiwa itu, tapi tetap saja tak ada solusi. Rencana pembangunan jalan khusus truk batu bara, hingga sekarang masih sebatas rencana-rencana, tak jelas kapan akan diwujudkan. Masyarakat sebenarnya sudah letih menghadapi hal ini. Tapi begitulah, seiring waktu setiap permasalahan akan terlupakan, sebab manusia sendiri mempunyai kesibukannya masing-masing sehingga ia tak melulu memikirkan hal itu. (Firly, 2010: 31)</p>
<p>Selain menunjukkan keputusasaan—yang sesungguhnya tidak diperkenankan dalam agama yang dipeluk Guru Zaman—kutipan di atas juga memperlihatkan gugatan. Gugatan itu tertuju pada para pemuka agama yang dipertanyakan kesibukannya. Apakah kesibukan mereka, yang selalu mengatasnamakan Tuhan dan kepentingan umat, hingga melupakan permasalahan besar di lingkungannya? Pula gugatan itu tertuju pada pemerintah yang sepertinya tidak memiliki kesibukan untuk mengatur masyarakatnya. Tentu, dalam hal ini yang disinggung adalah prosedur pertambangan batu bara yang harus mengindahkan lingkungan dan melibatkan warga sekitar dalam perundingan tanah mana yang layak jadi pertambangan. Selama ini, pemerintahlah yang dengan bebas mengizinkan tanah-tanah mana yang boleh dikeruk dan dikeduk untuk keuntungan pengusaha dengan keterlibatan warga yang minim hingga sering terjadi bentrok antara warga dan pekerja atau pemilik pertambangan.<br />
Dapat dikatakan, Guru zaman dalam novel ini mewakili kalangan agamawan Islam (ulama) dalam masyarakat Indonesia. Di Indonesia, ulama cenderung diposisikan sebagai pemimpin nonformal. Dalil bahwa ulama dan umara (pemimpin) harus bersatu demi kesejahteraan rakyat menjadi legitimasi atas kesederajatan posisi ulama dengan umara. Bahkan, posisinya terkadang lebih tinggi dari pemimpin nasional ketika ada presiden yang mencium tangan seorang kiai. Meskipun demikian, peran ulama tetaplah terbatas dalam urusan agama. Ulama tidak bisa berbuat apa-apa ketika dipandangnya umara bersalah melanggar hukum agama. Sebaliknya, umara bisa menghukum seorang ulama apabila dipandangnya melanggar hukum negara.<br />
Ulama berada dalam ambivalensi sikap. Jika mereka memasuki dunia politik praktis, mereka secara tidak langsung akan melepaskan kekuasaan nonformal yang telah dimilikinya. Kredibilitas mereka sebagai pemimpin akan turun di mata umat karena politik praktis dianggap sesuatu yang duniawi dan sekuler. Namun, ketika mereka memilih jalan untuk tidak berbarengan atau tidak selalu patuh pada pemimpin negara, mereka akan dituduh sebagai orang-orang yang tak tahu diri karena tidak memelihara hubungan baik antara ulama dan pemimpin sebagaimana yang dianjurkan oleh agama.<br />
Dalam posisi ulama yang demikian, sikap putus asa Guru Zaman dapat dianggap wajar. Apalagi, selama ini pemerintah banyak mengamalkan dalil Machiavelli (1996: 72) bahwa agama hanyalah alat untuk melunakkan masyarakat agar tunduk kepada pemerintah. Sikap Guru Zaman yang putus asa dan tidak mau menerapkan solusi yang telah diketahuinya dari keadaan Kota Martapura dapat dikatakan adalah suatu perlawanan terselubung bahwa ia tidak mau menjadi alat negara untuk menundukkan masyarakat.</p>
<p>Pengusaha Batu Bara dan Istri Baru<br />
Untuk melihat kekuasaan yang dimiliki oleh pengusaha batu bara dalam novel ini, ada baiknya merujuk rumusan Galtung mengenai kekuasaan, terutama kekuasaan materi. Seperti diterangkan Windhu (1996: 34) Galtung mengatakan bahwa kekuasaan dengan sumber materi atau uang merupakan kekuasaan yang bersifat renumeratif. Artinya, kekuasaan ini ada karena memiliki sesuatu yang ditawarkan. Dengan demikian, kekuasaan ini mengandalkan proses perundingan. Orang-orang diajak berunding dengan tawaran keuntungan materi yang akan diraih.<br />
Apa yang dimiliki oleh Pak Ismail adalah uang yang berlimpah. Dalam kasus Pak Ismail, uang tidak hanya bermakna sebagai alat tukar. Fungsi konvensional uang sudah lebih dari itu hingga muncul fungsi politis. Dengan demikian, terjadi proses monetesi di mana apa-apa diukur uang. Dengan uang yang dimilikinya, Pak Ismail berkuasa atas seluruh pertambangan batu bara berikut jalan sepanjang jalur yang dilalui oleh para sopir truknya dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Arti simbolis uang kemudian lebih penting daripada arti pentingnya yang nyata, lantaran makna simbolisnya adalah penyebab timbulnya uang itu sendiri (Duncan, 1997: 17). Penyebab timbulnya uang itulah yang kemudian menjelma menjadi terma lain, yakni pekerjaan. Pekerjaan menjadi tawaran untuk berkuasa bagi Pak Ismail. Lalu datanglah para pekerja dari para ahli, buruh, sopir truk, hingga mungkin warung-warung pinggir jalan. Pembukaan pertambangan batu bara menjadi lahan pekerjaan sekaligus lahan kekuasaan baru bagi Pak Ismail.<br />
Tidak dijelaskan dengan rinci apakah Pak Ismail putra daerah atau bukan. Dilihat dari wataknya yang tidak mau berhubungan dengan masyarakat sekitarnya serta adanya permusuhan diam-diam masyarakat dengan pengusaha itu menujukkan bahwa ia secara emosional tidak cukup berakar di daerah itu karena ketidakpeduliannya terhadap daerahnya. Hal ini mungkin akan lain jika ia memiliki memori kolektif sebagai putra daerah yang sama dengan masyarakat sekitarnya sehingga kemungkinan adanya permusuhan sangat kecil. Di novel juga tidak ditemukan warga-warga yang mendapatkan pekerjaan setelah ada pertambangan batu bara. Kalaupun ada, hanya para preman, bukan tenaga lainnya.<br />
Sebagai seorang pengusaha, terlihat jelas betapa Pak Ismail menjaga jarak dengan masyarakat di sekitarnya. Komunikasinya dengan para warga hanya diperantarai oleh kelompok preman yang dimilikinya. Jenis komunikasi ini memperlihatkan betapa ia tidak ingin dekat atau sekadar berurusan dengan para warga di sekitarnya. Pak Ismail hanya berinteraksi dengan Guru Zaman dan Rozan serta para premannya. Interaksinya ini pun dilandasai atas dasar perannya sebagai tuan, sebagai orang yang mampu menundukkan Guru Zaman dan Rozan serta preman-preman anak buahnya di bawah kekuasaan uang yang dimilikinya.<br />
Selain itu, novel ini juga menyinggung kebiasaan para pengusaha batu bara yang memanfaatkan kekayaannya untuk memiliki istri muda. Termasuk disebut secara eksplisit seorang pengusaha asal Banjar yang berhasil menikahi seorang penyanyi dangdut di Jakarta. Bagi masyarakat Banjar, memiliki istri lebih dari satu adalah suatu prestasi. Apabila seorang pengusaha menyunting istri kedua atau ketiga, mereka tak canggung mengabadikan diri dengan memanggil wartawan. Memiliki istri banyak adalah suatu kebanggaan yang sudah dikekalkan lewat sebuah ungkapan: “Biar susah harta, asal sugih bini.” (Biar miskin harta, asal kaya istri) (Firly, 2010: 38)<br />
Melalui ungkapan tersebut, dapat diketahui bahwa ada persaingan diam-diam antarlelaki Banjar dalam mempersitri seorang perempuan. Pengusaha, yang memiliki banyak kekayaan tentu tidak ingin tersindir dengan ungkapan itu. Masakah mereka yang miskin mampu memiliki banyak istri sedangkan ia yang kaya tidak. Kekayaan kemudian menjadi suatu alat untuk meningkatkan kehormatan dengan cara mempersunting banyak istri. Dalam hal beristri ini, secara eksplisit novel ini mengatakan bahwa saingan terdekat para pengusaha batu bara adalah para ulama. Di Banjar, para ulama juga dikenal memiliki banyak istri, tetapi jarang diekspose media massa (Firly, 2010: 68—69)<br />
Pengusaha menjadikan media massa sebagai alat untuk meningkatkan kehormatan, tetapi ulama enggan berhubungan dengan media massa. Memang, bukan ulama yang melarang media massa untuk meliput pernikahan mereka, melainkan umat mereka. Kasus ini menunjukkan bahwa kekuasaan dua golongan ini mencapai taraf kehormatan yang berbeda di mata masyarakat dalam hal beristri. Pengusaha memiliki istri banyak demi kebutuhannya untuk meninggikan kehormatannya di mata masyarakat, tetapi ulama sudah tidak membutuhkan prestise itu lagi. Siapa pun yang sudah dicap ulama, bahkan baru sekadar disebut ustadz pun sudah memiliki kehormatan yang tinggi sehingga “sudah jamak, orang tua mendatangi ustadz atau ulama menawarkan anak gadisnya untuk dijadikan istri; entah dijadikan istri kedua atau ketiga”(Firly, 2010: 31).<br />
Dari uraian di atas diketahui bahwa kekayaan yang dimiliki oleh Pak Ismail dimanfaatkan dengan dua cara. Pertama, menyewa jasa preman untuk mengukuhkan kekuasaannya atas pertambangan batu bara dan lingkungannya (akan dijelaskan pada uraian berikutnya). Akibatnya, kekuasaan fisik para preman terkooptasi oleh modal uang yang dimiliki Pak Ismail. Kedua, untuk turut pula bersaing (kekuasaan) dengan para ulama, Pak Ismail menambah istri dengan menyunting seorang wanita muda. Pak Ismail menikahi Sarah Hidayati, tetapi tidak tinggal serumah dengan Ibu Diyang, istri tuanya. Kemudian timbul konflik antara Ibu Diyang dengan Pak Ismail. Konflik ini berujung pada perbuatan kriminal Ibu Diyang yang menculik Rozan karena merupakan anak dari Sarah Hidayati, tetapi bukan darah daging Pak Ismail. Dalam melakukan perbuatan tersebut, Ibu Diyang meminta bantuan para preman dengan membayar mereka.</p>
<p>Tacut dan Mitos-Mitos Kontemporer<br />
Barangkali hanya kata tacut yang mampu mewakili lokalitas novel ini. Tacut merupakan sebutan untuk para preman di Banjar. Keberadaan mereka erat kaitannya dengan pertambangan batu bara, yakni mereka yang mengamankan lingkungan pertambangan dan melindungi truk-truk batu bara dari gangguan. Pertambangan batu bara, ternyata membuka lapangan pekerjaan baru berupa jasa keamanan dari para preman. Menariknya, novel ini justru menunjukkan permusuhan diam-diam antara warga di sekitar pertambangan dengan pihak-pihak yang bekerja di pertambangan.</p>
<p>Jalanan lantas menjadi macet, truk-truk dan mobil-mobil bergerak bagai merayap. Namun, tak ada sumpah serapah yang diteriakkan–hanya bergema di dalam rongga-rongga jiwa terdalam (Firly, 2010 : 5)</p>
<p>Novel ini menunjukkan banyaknya kerugian yang diterima warga karena adanya pertambangan batu bara. Alih-alih mendapatkan lahan pekerjaan, mereka justru mendapat polusi lingkungan dari asap-asap knalpot truk, debu-debunya, suara bisingnya, kemacetan yang ditimbulkannya, hingga terkadang korban jiwa karena tertabrak. Secara implisit, novel ini ingin menunjukkan kesenjangan antara pengusaha batu bara dengan masyarakat sekitarnya. Keuntungan besar dari batu bara yang terjual setiap harinya seakan tidak sampai di tangan masyarakat. Di sinilah peran preman dibutuhkan oleh pengusaha karena ada saja warga yang tidak terima dengan keadaan—atau lebih tepat kesenjangan—ekonomi mereka lalu mengompasi sopir truk atau sengaja memblokir jalan agar truk tak bisa lewat ketika terjadi insiden kecalakaan.<br />
Yang menarik, kekuasaan fisik yang dimiliki para preman bukan terletak pada kekuatan fisik bilogisnya, melainkan dari mitos yang bercerita mengenai kekuatan mereka. Mitos ini diceritakan lengkap dengan nama-nama unik yang berkaitan dengan keistimewaan yang dimiliki para preman. Tentu, hal ini merupakan alat untuk menaikkan harga sewa jasa para pengusaha pertambangan dan juga membuat lawan mereka berpikir dulu sebelum berperkara. Misalnya, Udin Tungkih, yang merupakan tokoh preman yang menariki uang dari sopir-sopir truk milik Pak Ismail. Ia mendapat julukan Tungkih setelah tidak kebal dibacok senjata tajam (Firly, 2010: 37). Begitupun dengan Pak Sawang yang kesaktiannya tersebar karena mampu membunuh empat perampok berilmu tinggi sekaligus ketika masih muda.<br />
Dalam novel ini, Pak Sawang menjadi representasi kekuasaan fisik paling baik yang bekerja melalui mitos. Melalui tokoh ini, jasa keamanan ditunjukkan hanya dengan sekadar menyebut namanya saja. Dalam kisah itu, yang bekerja bahkan bukan lagi tenaga fisik Pak Sawang, tetapi mitos mengenainya yang bekerja:</p>
<p>Karena Sawang merasa dengan hanya menyebutkan namanya saja orang sudah bisa disebut bekerja, ia pun tidak keberatan. Seperti itulah, apabila ada orang lain yang mencoba mengganggu bisnis batu bara Pak Ismail, maka cukup diucapkan kalimat; “Anda tahu, siapa kepala keamanan di sini? Kenal Pak Sawang?” maka niscaya siapa pun akan gentar mendengarnya, karena ada mitos yang lebih dulu hidup di sekitar diri Sawang (Firly, 2010: 38).</p>
<p>Sebagaimana diterangkan Barthes (2010: 296) apa pun dapat menjadi mitos jika hal itu disampaikan lewat wacana. Cerita mengenai keampuhan para pimpinan preman adalah wacana yang sengaja dibangun guna mencapai kekuasaan. Bagaimanapun, tegas Barthes, mitos itu suatu pesan. Lalu pesan apa yang ingin disampaikan oleh wacana mengenai preman di atas? Pesan itu tak jauh dari motif kekuasaan yang ingin dicapai pihak-pihak tertentu. Wacana itu mengandung suatu pesan bahwa siapa pun harus tunduk kepada orang yang diceritakan dalam mitos karena apabila tidak menurut, akan menjadi mitos baru bagaimana kesaktian pemimpin preman itu bekerja dalam membasami musuhnya atau orang-orang yang tak percaya. Menariknya, yang menyebarkan wacana kesaktian pemimpin preman itu bukanlah ia sendiri, tetapi anak buahnya.<br />
Melalui para anak buahnya, mitos mengenai kesaktian para pemimpin menyebar, menjadi realitas yang dipercayai oleh masyarakat yang mendengarnya. Yang terjadi kemudian, tidak seperti tawar-menawar dalam perundingan kekuasaan yang renumeratif, adalah kekuasaan dengan model menyebar ketakuan melalui ancaman. Selama ketakutan tetap dipelihara, melalui mitos yang dikembangkan atau selalu diperbaharui, selama itu pula para preman akan terus berkuasa.<br />
Kekuasaan yang dimiliki oleh para preman ini kemudian bekerja berdasarkan asas ketakutan. Kekerasan fisik yang mereka miliki kemudian hanya menjadi ancaman, tanpa tindakan sama sekali. Artinya, bukan kekerasan fisik yang dijalankan mereka, tetapi ancaman tentang kekerasan yang akan diterima orang apabila melawan mereka. Terlebih, tidak ada celah untuk melawan karena mitos kesaktian pimpinan preman telah mengukuhkan kekuatan itu.<br />
Begitu besarnya kekuasaan mitos mengenai kekuatan fisik para pemimpin preman tidak dapat lepas dari perannya sebagai runtutan wacana. Menurut Althusser, wacana cenderung dipahami sebagai ideologi dalam praktik. Ideologi sendiri menurut Althusser adalah sesuatu yang bersifat imajiner (dalam (Belsey, 1980: 58), atau dalam bahasa Marx, ideologi adalah sebuah kepalsuan. Cerita mengenai Udin Tungkih yang tak mempan dibacok parang dan Pak Sawang yang mampu membantai empat perampok yang menyambangi rumahnya bukanlah suatu kenyataan yang hadir di hadapan para pendengarnya. Cerita itu sudah dikonstruksi ulang oleh para anak buah pimpinan preman guna kepentingan kekuasaan. Cerita itu juga merupakan perlawanan dari cerita-cerita lain mengenai tacut lain seperti Amat Senso yang tak mempan dipotong gergaji mesin, Jalu Dayak yang mengandalkan kesaktian suku dayak, dan Usuf Beruang yang mampu memenangkan perkelahian melawan seekor beruang dengan membunuhnya lalu memanggulnya keluar dari hutan (Firly, 2010: 37).<br />
Dengan demikian, terjadi peperangan kekuasaan di antara para preman melalui mitos-mitos yang dibuatnya. Ironinya, yang menang dalam peperangan itu akan ditundukkan oleh kekuasaan uang yang dimiliki pengusaha. Persis seperti tunduknya Udin Tungkih kepada Ibu Diyang dan tunduknya Pak Sawang kepada Pak Ismail karena kebergantungan dana ketergantungan mereka terhadap uang. Meskipun demikian, yang patut menjadi perhatian adalah bahwa ketika terjadi peperangan kekuasaan melalui mitos, kekuatan fisik ternyata tidak digunakan sama sekali oleh orang-orang yang memilikinya sehingga di masyarakat tidak terjadi tindak kriminal dengan kekerasan. Maka wajar ketika suatu waktu polisi mengadakan razia preman di sekitar wilayah pertambangan, sejumlah preman ditangkapi tetapi tidak lama langsung dibebaskan begitu saja karena terbukti tidak melakukan kekerasan kepada masyarakat (Firly, 2010: 45).</p>
<p>Ketidakberdayaan Rozan<br />
Seperti diuraikan di atas, kekuasaan agama yang dimiliki Guru Zaman tidak dapat berbuat banyak dalam mengubah keadaan lingkungannya. Kekuasaannya hanya ada dalam tataran untuk ibadah, tidak lebih dari itu. Sementara kekuasaan fisik milik para preman hanya dapat diandalkan untuk menakut-nakuti orang-orang yang ada di sekitarnya. Kekuasaan fisik tidak dapat memberikan kesejahteraan kecuali ancaman ketakutan imajiner yang semakin menjadi nyata. Sementara itu, kekayaan materi yang dimiliki Pak Ismail tidak dapat membawa kesejahteraan untuk objek-objek yang ada di sekitarnya. Apalagi, kekuasaan materi ini selalu mengandalkan aspek ketergantungan yang harus terus dipelihara pada objek yang menjadi sasaran kekuasaannya.<br />
Dalam menanggapi taksonomi ketiga kekuasaan di atas itulah sejatinya Rozan dapat memberikan peran penting dengan pengetahuan yang dimilikinya. Sebagaimana pandangan Toffler (1992: 17) pengetahuan seringkali dapat digunakan untuk membuat pihak lain menyukai agenda kita untuk bertindak dan bahkan membujuk orang supaya membuat kekuasaan bagi kita. Bahkan menurut Toffler, dengan pengetahuan yang besar, seseorang dapat memotong situasi yang buruk sehingga bisa menghindari kekerasan (yang dilakukan para tacut) atau kekayaan (yang dimiliki Pak Ismail) yang sia-sia sekaligus. Rozan memiliki pengetahuan bukan saja dalam bidang agama seperti yang dimiliki Guru Zaman, melainkan juga pengetahuan umum dan teknologi. Apakah pengetahuan yang dimilikinya itu dapat dimaksimalkan oleh Rozan untuk menyusun kekuasaannya?<br />
Dalam lembaga pesantren, Rozan hadir sebagai anak seorang santri yang dihamili seorang warga. Ibunya meninggalkan Rozan yang masih bayi di rumah pengasuh pesantren. Ia lantas menjadi guru ngaji di Langgar Ar-rahim dan madrasah pimpinan Guru Zaman. Ayah kandungnya adalah Jantra, salah seorang anak buah Pak Sawang yang merupakan preman bayaran Pak Ismail, orang yang kemudian menikahi ibunya. Berada dalam segi tiga kekuasaan itu, posisi Rozan tidak menentu memihak ke mana. Kehadirannya di dalam cerita jarang mandiri. Ia lebih sering dihadirkan sebagai pelengkap kehadiran Guru Zaman. Meskipun ia tokoh utama yang menjadi saksi hidup dari kompleksitas lingkungannya, Rozan lebih banyak diceritakan melamun daripada bertindak. Bahkan, narasi tentang ketidakmanfaatan pertambangan batu bara justru banyak diceritakan melalui tokoh Guru Zaman.<br />
Posisi Rozan yang demikian lemah dalam kekuasaan ini tidak lepas dari sifat berdiam dirinya yang cenderung berlebihan. Ia lebih memilih melamun sembari memandang senja daripada berinteraksi dengan masyarakat di sekitar tempat mengajarnya. Ia tahu mengenai dampak buruk pertambangan batu bara melalui internet, padahal lingkungan tempat tinggalnya mampu menyuguhkan fakta yang lebih nyata. Jika pun ada tindakan nyata, ia hanya mengajar ngaji di mushala dan mengajar di madrasah. Atau, paling banter, ia menuliskan isi hatinya dalam sebuah laman di internet.<br />
Sikapnya ini merupakan akumulasi dari perasaannya yang merasa tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Ia merasa terasing dan tak mendapatkan hak kasih sayang dari kedua orang tuanya (Firly, 2010: 7). Sejak kecil, ia sudah sering disuguhi cerita-cerita pengembaraan oleh orang tua angkatnya. Cerita-cerita tersebut membuat dirinya berpikiran bahwa kehadirannya seperti tidak diharapkan dalam keluarganya. Di rumah, dengan izin ayah angkatnya, Guru Aran, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk browsing internet. Secara konotatif, hal ini merupakan salah satu jenis pengembaraan yang secara tidak sadar sudah dimulai oleh Rozan. Kebiasaan ini pula yang akhirnya dibawa sampai ke Kota Rantau ketika ia menjadi guru di madrasah.<br />
Pengembaraan yang bermula dari perasaan kurang kasih sayang ini toh pada akhirnya menjadi sebuah pelampiasan, bukan penjelajahan. Hal ini dapat dilihat dari niat batin Rozan membuat sebuah blog bernama “Ruang Sunyi”:</p>
<p>Dalam “Ruang Sunyi” Rozan menampilkan tulisan-tulisannya, perenungannya, atau hanya sekadar epigram, puisi-puisi pendeknya. Rozan merasa lebih nyaman menulis, tentang apa saja, ke dalam blog karena selain ia tetap bisa menyembunyikan identitasnya, juga ia merasakan sedikit keriangan apabila puisi-puisi atau tulisannya mendapat komentar dari sesama blogger atau siapa saja yang berkunjung di blognya. Seakan ia adalah seseorang yang hanya Nampak bayangannya saja; terlihat tapi tak jelas (Firly, 2010: 14)</p>
<p>Petikan di atas memperlihatkan betapa Rozan menginginkan perhatian yang lebih besar dari lingkungannya dari apa yang selama ini telah diterimanya. Bahkan, dalam waktu-waktu tertentu Rozan membayangkan dirinya sebagai orang lain dari menjadi penulis novel, pendemo, hingga pernah membayangkan dirinya menjadi seorang perempuan. Itu semua merupakan ekspresi pelariannya atas kenyataan yang dijalaninya. Di sini terlihat jelas, ketidakberdayaan Rozan dalam menghadapi kenyataan hidupnya. Sebelum ia matang menjadi seorang pribadi, tiba-tiba ia diharuskan ayah angkatnya, Guru Aran, untuk merantau. Dalam perantauan itu, ia menemukan kenyataan yang lebih pahit dari apa yang pernah dirasakannya selama tinggal di pesantren. Kejadian-kejadian yang ditemuinya di sekitar pertambangan batu bara menyadarkan dirinya bahwa di hadapannya membentang kehidupan yang keras dan kasar (Firly, 2010: 45).<br />
Kesadaran yang dimiliki Rozan itu ternyata tidak membuatnya menjadi manusia yang peduli terhadap lingkungannya. Ia tidak meleburkan masalah pribadinya dengan melakukan serangkaian strategi untuk mengubah keadaan lingkunganya. Dengan posisinya sebagai anak biologis seorang preman (Jantra), anak tiri pengusaha batu bara (Pak Ismail), dan anak angkat pemilik pesantren (Guru Aran), sepatutnya ia bisa berbuat banyak kepada masyarakatnya. Ia masuk dalam ketiga golongan yang selama ini diam-diam memendam permusuhan.<br />
Dengan pengetahuan agama yang dimilikinya sejatinya ia dapat saja menyebarkan arti penting kebersamaan dan persatuan warga lewat serangkaian dalil agama. Pun dengan pengetahuannya ia bisa mengubah cara pandang para preman bahwa hidup tidak hanya bergantung pada materi para pengusaha. Seorang preman, dengan kekuatan fisiknya dapat menjalani pekerjaan yang lebih baik daripada yang selama ini dijalani dengan terus memelihara ketakutan warga di sekitaranya. Sebagai bukti, dirinya yang anak seorang preman toh tidak menjadi preman juga. Dan tentu, dengan pengetahuan teknologi yang dimilikinya, ia dapat mengabarkan ke seluruh dunia mengenai kehidupan kelam di sekitar pertambangan di Rantau untuk sekadar mendapatkan perhatian dunia agar ada yang peduli dan ikut mengubah keadaan di sana.<br />
Akan tetapi, pengetahuan yang dimiliki Rozan tidak mampu digunakan dengan baik. Rozan, sejak kecil tidak mau membayangkan dirinya sebagai ustadz. Profesi sebagai ustadz dianggapnya akan dapat menyebabkan dirinya menjadi seorang yang melankolis, yang ruang geraknya terkungkung pada wilayah pesantren. Jadi, sebetulnya Rozan merasa—meminjam istilah Marx—teralienasi ketika mengajar ngaji dan menjadi guru di madrasah yang diasuh Guru Zaman. Bahkan, dilihat dari gaya berpakaiannya ketika mengajar ngaji, Rozan sudah menunjukkan ketidakinginannya menjadi seorang ustadz:</p>
<p>Penampilan Rozan bukanlah seperti ustadz-ustadz yang mereka kenal selama ini dengan pakaian gamis, berpeci dan bersarung. Ustadz yang dikenalkan Guru Zaman ini adalah seorang anak muda bercelana jeans dengan peci hitam—tapi lebih mirip dengan penutup kepala yang digunakan orang-orang timur tengah; tutup atas lebar seperti kue lempeng, –serta berkemeja kota-kotak lengan panjang tergulung yang kancing bajunya dibuka semua sehingga memperlihatkan gambar tokoh Kuba, Che Guevara, pada kaos hitam di dalamnya (Firly, 2010: 11)</p>
<p>Rozan lebih menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap lingkungan sekitarnya ketika telah mengetahui bahwa ayah kandungnya adalah seorang preman, Rozan memilih pergi dari Kota Rantau. Ia memilih mengembara, untuk menjelajahi dunia. Apologi Rozan menarik untuk disimak:</p>
<p>….seorang anak lelaki yang telah beranjak dewasa sudah seharusnya menziarahi setiap jengkal bumi ini, mengunjungi kota-kota jauh, negeri-negeri jauh, agar kelak keinginan itu tidak hanya mendekam di dalam dada menjadi sesuatu yang tak terperi, sesuatu yang takkan pernah bisa terwujudkan karena termakan usia (Firly, 2010: 91).</p>
<p>Dari petikan tersebut, terlihat jelas pengalihan perasaan Rozan atas ketidakberdayaannya dalam menghadapi kenyataan. Keputusan Rozan untuk mengembara merupakan sebuah pertanda bahwa ia tidak dapat melawan kekuasaan yang ada di sekelilingnya. Tiga kekuasaan yang ada di sekitarnya mengungkungnya untuk bertindak diam dan patuh. Padahal, sebuah kekuasaan menurut Foucault (2002: 111) harus diwujudkan dalam sebuah tindakan karena kekuasaan itu tidak diberikan (dari Jantra dan Guru Aran ke Rozan), tidak ditukar (antara Pak Ismail dan Guru Zaman), dan tidak dicari (Rozan dalam ruang-ruang maya internet). Namun, bukankah keputusan Rozan untuk mengembara adalah suatu tindakan? Dapat dikatakan, tindakan Rozan untuk mengembara bukanlah suatu tindakan dalam rangka penguasaan. Terlihat jelas, bahwa pengembarannya justru menjadi objek kekuasaan dari petuah ayah angkatnya yang sedari kecil telah menngisahkan cerita-cerita mengenai pengembaraan. Semenjak kecil, telah ditanamkan pada diri Rozan bahwa pengembaraan merupakan jalan bagi seorang lelaki dewasa.<br />
Dari uraian di atas dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa Rumah Debu, menyajikan tiga kekuasaan yang berhasil dibangun dengan menarik melalui tokoh-tokoh seperti Guru Zaman, Pak Ismail, dan Pak Sawang serta Udin Tungkih. Meskipun demikian, kekuasaan mereka tidak menjadikan keberartian bagi lingkungan yang ada di sekitarnya. Kekuasaan mereka adalah kekuasaan yang saling ingin mengungguli satu sama lain tanpa ada kemauan untuk menyatukan kepentingan bersama. Kekuasaan mereka adalah kumpulan ketidakberdayaan. Harapan penyatuan sepertinya ada dalam tokoh Rozan, tetapi tidak mampu diwujudkan dengan baik. Rozan pun ternyata mengalami ketidakberdayaan. Hal ini seperti mengandung pesan bahwa modal kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang belum tentu menjadikannya sebagai penguasa apabila modal itu justru mengungkungnya. Hal ini semakin jelas terlihat dari akhir cerita yang menyuguhkan keputusan Rozan untuk mengembara, baik dalam alam maya melalui &#8220;Ruang Sunyi&#8221; maupun alam nyata.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Barthes, Roland. 2010. Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa. Yogyakarta: Jalasutra.<br />
Belsey, Chaterine. 1980. Critical Practice. London and New York: Methuen<br />
Duncan, Hugh Dalziel. 1997. Sosiologi Uang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.<br />
Foucault, Michel. 2002. Power/Knowledge, Wacana Kuasa/Pengetahuan. Yogyakarta: Bentang Budaya<br />
Firly, Sandi. 2010. Rumah Debu. Banjarmasin: Tahura Media. Format PDF.<br />
Langland, Elizabeth. 1984. Society in the Novel. Chapel Hill and London: The University of North Carolina Press.<br />
Machiavelli, Niccolo.1996. Politik Kerakyatan (Discorsi). Jakarta: KPG.<br />
Toffler, Alvin. 1992. Pergeseran Kekuasaan. Jakarta: Pantja Simpati<br />
Windhu, I Marsana.1992. Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan Galtung. Yogyakarta: Kanisius.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sfirly.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sfirly.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sfirly.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sfirly.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/316/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=316&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2011/04/22/rumah-debu-ketidakberdayaan-dalam-segitiga-kekuasaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sfirly.files.wordpress.com/2011/04/sampul-rumah-debu1.jpg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">sampul rumah debu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>2010 in review</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2011/01/02/2010-in-review/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2011/01/02/2010-in-review/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 07:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here&#8217;s a high level summary of its overall blog health: The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow. Crunchy numbers A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 5,700 times in 2010. That&#8217;s about 14 full 747s. &#160; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=314&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here&#8217;s a high level summary of its overall blog health:</p>
<p><img style="border:1px solid #ddd;background:#f5f5f5;padding:20px;" src="http://s0.wp.com/i/annual-recap/meter-healthy5.gif" alt="Healthy blog!" width="250" height="183" /></p>
<p>The <em>Blog-Health-o-Meter™</em> reads Wow.</p>
<h2>Crunchy numbers</h2>
<p><a href="http://sfirly.files.wordpress.com/2007/08/pinggul6.jpg"><img style="max-height:230px;float:right;border:1px solid #ddd;background:#fff;margin:0 0 1em 1em;padding:6px;" src="http://sfirly.files.wordpress.com/2007/08/pinggul6.jpg?w=288" alt="Featured image" /></a></p>
<p>A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers.  This blog was viewed about <strong>5,700</strong> times in 2010.  That&#8217;s about 14 full 747s.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>In 2010, there were <strong>5</strong> new posts, growing the total archive of this blog to 71 posts.</p>
<p>The busiest day of the year was January 16th with <strong>107</strong> views. The most popular post that day was <a style="color:#08c;" href="http://sfirly.wordpress.com/2010/01/16/bab-terakhir-novel-rumah-debu/">Bab Terakhir Novel Rumah Debu</a>.</p>
<h2>Where did they come from?</h2>
<p>The top referring sites in 2010 were <strong>hajriansyah.wordpress.com</strong>, <strong>search.conduit.com</strong>, <strong>facebook.com</strong>, <strong>kayuhbaimbai.org</strong>, and <strong>manusiasuper.wordpress.com</strong>.</p>
<p>Some visitors came searching, mostly for <strong>makkah</strong>, <strong>cerita mini</strong>, <strong>hujan</strong>, <strong>pinggul wanita</strong>, and <strong>warung makan</strong>.</p>
<h2>Attractions in 2010</h2>
<p>These are the posts and pages that got the most views in 2010.</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">1</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://sfirly.wordpress.com/2010/01/16/bab-terakhir-novel-rumah-debu/">Bab Terakhir Novel Rumah Debu</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">January 2010</span><br />
24 comments</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">2</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://sfirly.wordpress.com/2010/07/17/salat-jumat-di-makkah/">Salat Jumat di Makkah</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">July 2010</span><br />
23 comments and 2 Likes on WordPress.com</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">3</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://sfirly.wordpress.com/2009/02/04/cerita-cerita-mini/">cerita-cerita mini</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">February 2009</span><br />
30 comments and 1 Like on WordPress.com,</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">4</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://sfirly.wordpress.com/2007/08/10/pinggul-yang-berkilauan/">Pinggul yang Berkilauan</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">August 2007</span><br />
16 comments</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">5</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://sfirly.wordpress.com/2008/09/18/ensiklopedia-sekadarnya-sastra-kalimantan-selatan/">Ensiklopedia (Sekadarnya) Sastra Kalsel</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">September 2008</span><br />
83 comments</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sfirly.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sfirly.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sfirly.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sfirly.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/314/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=314&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2011/01/02/2010-in-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/i/annual-recap/meter-healthy5.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Healthy blog!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sfirly.files.wordpress.com/2007/08/pinggul6.jpg?w=288" medium="image">
			<media:title type="html">Featured image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menunggukah, Kau&#8230;?</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2010/12/11/menunggukah-kau/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2010/12/11/menunggukah-kau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 16:06:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[&#8230;. Ya, cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Terakhir Ramadan lalu, sudah sekian bulan berlalu. Tetapi, apakah memang ada yang benar-benar merindui tulisan saya di blog sederhana ini? Apakah, misalnya, ketika seorang teman bertanya “Mana tulisan barunya?” itu berarti dia sungguh-sungguh menunggu tulisan saya? – meski harus saya akui, pertanyaan semacam itu kadang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=312&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8230;.</p>
<p>Ya, cukup lama saya tidak menulis di blog ini.<br />
Terakhir Ramadan lalu, sudah sekian bulan berlalu.<br />
Tetapi, apakah memang ada yang benar-benar merindui tulisan saya di blog sederhana ini?<br />
Apakah, misalnya, ketika seorang teman bertanya “Mana tulisan barunya?” itu berarti dia sungguh-sungguh menunggu tulisan saya? – meski harus saya akui, pertanyaan semacam itu kadang membuat saya “malu” – ya, malu karena lama tidak menulis lagi, dan malu apakah memang pantas tulisan saya ditunggu sedemikian rupa.</p>
<p>Saya juga kadang bertanya, mengapa lama sekali tidak menulis lagi.<br />
Apakah saya kehilangan “daya” untuk menuliskan sesuatu?<br />
Memang, perjalanan hidup telah membawa saya melewati pelbagai macam peristiwa – tapi bukankah memang begitulah hidup?<br />
<em>Nasib adalah kesunyian masing-masing</em>, kata Chairil Anwar.</p>
<p>Tetapi, apakah memang ada yang benar-benar merindui tulisan saya di blog sederhana ini?<br />
Yang kadang saya pikir barangkali hanyalah omong kosong – dan kalian tentu takkan mendapat apa-apa setelah membacanya. Dan andaipun kalian merasa mendapatkan sesuatu, itu bukanlah semata karena tulisan saya, tapi telah bercampur layaknya dua unsur kimia dengan pengalaman Anda.<br />
Walau, sering juga saya terkesima ketika membaca kata-kata dari sebuah puisi atau novel, atau catatan apa pun (dan mungkin itu di antaranya adalah tulisan Anda), dan saya takjub. Kendatipun saya tak harus mengerti kata-kata itu, seumpama puisi gelap.</p>
<p>Saya tahu,<br />
Saya masih tak tahu harus menulis apa setelah lama tak menulis.<br />
Tapi setidaknya ini juga adalah sebuah tulisan, bukan?<br />
Anggap saja, kita adalah dua kawan lama yang lama tak berjumpa. Dan saya masih merasa kikuk di depan Anda, dan tak tahu berkata apa&#8230;<br />
Semoga nanti kita, tentu saja saya, bisa lebih banyak bercerita, sebelum blog ini yang saya andaikan sebuah taman benar-benar ditinggalkan karena tak terawat penuh rumput-rumput liar dan bangku-bangku yang semula berwarna putih menghitam berkarat layaknya sebuah hutan tak bertuan.</p>
<p>Menunggukah, kau&#8230;?[]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sfirly.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sfirly.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sfirly.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sfirly.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&amp;blog=1500084&amp;post=312&amp;subd=sfirly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2010/12/11/menunggukah-kau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
