<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>--Banjarmensis--</title>
	<atom:link href="http://sfirly.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sfirly.wordpress.com</link>
	<description>*..urang banjar bicara tentang banjar..*</description>
	<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 14:35:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menulis, Melawan Lupa</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2008/08/24/menulis-melawan-lupa/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2008/08/24/menulis-melawan-lupa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 14:35:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Yang terucap kembali sunyi, yang tercatat menjadi abadi
Saya (lebih) percaya, bahwa menulis itu seperti belajar bersepeda. Teori-teori tentang menulis tak lebih hanyalah seperti mengenal onderdil-onderdil dari sepeda dan bagaimana cara naik pertama yang baik di atas sepeda. Namun itu tak otomatis membuat kita langsung bisa bersepeda. Bagaimana bisa bersepeda dengan baik dan benar, ya kita harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:right;"><em>Yang terucap kembali sunyi, yang tercatat menjadi abadi</em></p>
<p>Saya (lebih) percaya, bahwa menulis itu seperti belajar bersepeda. Teori-teori tentang menulis tak lebih hanyalah seperti mengenal onderdil-onderdil dari sepeda dan bagaimana cara naik pertama yang baik di atas sepeda. Namun itu tak otomatis membuat kita langsung bisa bersepeda. Bagaimana bisa bersepeda dengan baik dan benar, ya kita harus menaikinya dan kemudian mencoba mengayuh pedalnya. Sudah tentu, awalnya akan jatuh bangun dan terkadang membuat terluka. Bila dengan luka itu membuat kita jera, maka kita takkan pernah bisa naik sepeda. Namun bila kita mencoba dan terus mencoba, meski berkali-kali terluka, pasti bisa juga. Mahir atau tak mahir, setidaknya sudah bisa melaju di jalanan.<span id="more-126"></span></p>
<p>Begitulah menulis. Tak ada cara lain untuk bisa menulis selain menulis itu sendiri. Buku-buku teori tentang menulis, atau bahwa menulis itu dianggap gampang, enteng, itu bisa-bisanya para motivator menulis saja untuk memicu semangat mereka yang ingin belajar atau bercita-cita jadi penulis. Karenanya jangan pernah berharap setiap selesai membaca buku tentang menulis, maka seketika bisa menulis. Tapi bahwa dari membaca itu kemudian membuat kita termotivasi untuk menulis secara baik, tentu itu sebuah keberhasilan tersendiri bagi buku yang dibaca dalam menumbuhkan inspirasi dan semangat menulis.</p>
<p>Karena sang penulis juga menyimpan hasrat pengakuan dari orang lain, maka sebuah karya tulis memerlukan pembaca. Nah, pada keterbacaan inilah sebuah tulisan akan mempertaruhkan isi dan kualitasnya. Seperti belajar naik sepeda tadi, tulisan-tulisan pemula biasanya tidak langsung diterima pembaca, atau dianggap seorang editor media baik, sehingga kerap tulisan itu tertolak. Di sinilah ujiannya, karena penolakan itu seringkali membuat penulis pemula akan terluka, sedih hatinya. Bagi yang mudah patah semangatnya, maka penolakan itu bisa mematikan keinginan menulis untuk selamanya. Namun bagi mereka yang mampu mengambil pelajaran dari penolakan itu, dirinya akan menjadi seperti seekor anak burung yang tak pernah kenal lelah untuk terus berusaha mengepakkan sayapnya agar bisa terbang dengan sempurna. Tak peduli berapakali mesti jatuh ke bumi.</p>
<p>Menulis pada akhirnya adalah sebentuk semangat manusia melawan lupa, dan meninggalkan jejak pikirannya agar tetap terjaga dan abadi. Kita hingga sekarang masih membaca kitab-kita suci yang ditulis pada zaman para Nabi. Bisa dibayangkan, bagaimana seandainya firman Tuhan dan sabda Nabi itu tak pernah tercatatkan? Begitu pula sejarah manusia sejak zaman Nabi Adam. Manusia akan gagap, tak pernah mengenal sejarah, dan tak akan pernah tahu riwayat penciptaan. Semua itu menjadi termungkinkan karena adanya kerja penulisan; di pelepah kurma, di batu-batu gua, di kulit-kulit binatang, di daun-daun, di tulang belulang dan kulit kayu.</p>
<p>Sejarah hanya akan menjadi dongengan bila tak tercatat, tak tertulis. Menjadi “konon”, menjadi cerita yang tak punya kepastian tanah pijaknya. Sebab itu pula, orang-orang yang ingin mencatatkan keberadaannya membuat buku-buku otobiografi agar ia benar-benar “ada” dan tetap bisa terbaca hingga melebihi usianya dan melampaui ruang di mana dirinya berada. Orang-orang menulis puisi, cerpen, novel, atau catatan lainnya juga adalah bagian dari otobiografi itu sendiri, yakni untuk menunjukkan keberadaan dirinya melalui karya tulis yang mencatatkan namanya. Bentuk-bentuk tulisan hanyalah wujud ekspresi.</p>
<p>Pada setiap tulisan pasti akan selalu mengandung keinginan penulisnya untuk mendedahkan namanya agar tetap tercatat di jagad kepala-kepala manusia, saat ini hingga ke ruang waktu yang tak berbatas. Ada upaya dari penulisan untuk melawan lupa; bahwa meski dirinya hanyalah secuil debu di muka bumi ini, namun ia ingin menjadi debu yang meski terhapus oleh angin namun mampu menjadi bintang di langit yang terus memancarkan sinarnya. Sebab itu pula kita mengenal nama-nama para penulis yang mampu mencatatkan dirinya pada sejarah, yang hingga detik ini masih terus dibaca dan diingat. Dan itu termungkinkan karena adanya tulisan yang terus disalin, ditulis ulang, dan keyakinan bersama bahwa pada sebuah karya tulis tersimpan kekuatan yang nyata dalam membentuk sebuah kehidupan yang lebih indah.</p>
<p>Saya kira menulis juga adalah sebuah kerja untuk menjaga kehidupan itu sendiri. Menjaga agar kita tidak pernah lupa pada masa lalu, dan mampu membaca segala kemungkinan yang terjadi di masa depan. Berbahagialah mereka yang menulis, karena dia akan memberikan warna pada kehidupan, setidaknya pada kehidupannya sendiri, sekitarnya, bahkan dunia. Dan apa yang telah tertulis, selamanya akan tetap tercatat dan tidak akan pernah hilang ditiup angin segala musim. <em>Yang terucap kembali sunyi, yang tercatat menjadi abadi</em>.***</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sfirly.wordpress.com/126/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sfirly.wordpress.com/126/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=126&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2008/08/24/menulis-melawan-lupa/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sfirly-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kematian yang Terlalu Pagi</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2008/08/16/kematian-yang-terlalu-pagi/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2008/08/16/kematian-yang-terlalu-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 18:30:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[(ini cerpen saya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan, juga terdapat dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07)
BERSAMA harum kamboja, tiba-tiba saja cahaya berebutan menerobos kamar dari jendela. Udara berpusing, teraduk-aduk, kertas-kertas berterbangan, buku-buku berbukaan bersicepat membolak-balik lembar halamannya sendiri di tengah lesatan bilah-bilah cahaya yang menyakitkan mata. Kamar pun banjir cahaya, menggigilkanku dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:right;"><em><a href="http://sfirly.files.wordpress.com/2008/08/1buku-sandi2.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-122" src="http://sfirly.files.wordpress.com/2008/08/1buku-sandi2.jpeg?w=150&h=217" alt="" width="150" height="217" /></a>(ini cerpen saya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan, juga terdapat dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07)</em></p>
<p><strong>BERSAMA</strong> harum kamboja, tiba-tiba saja cahaya berebutan menerobos kamar dari jendela. Udara berpusing, teraduk-aduk, kertas-kertas berterbangan, buku-buku berbukaan bersicepat membolak-balik lembar halamannya sendiri di tengah lesatan bilah-bilah cahaya yang menyakitkan mata. Kamar pun banjir cahaya, menggigilkanku dalam sergapan ketakutan sekaligus ketakjuban. Gigilku dalam kecemasan melebihi kecemasanku atas kata-kata.<br />
Seperti sepasang sayap yang saling bersedekap, perlahan cahaya menjadi lebih tenang. Gelombang udara pun membantun pelan. Dalam gentar yang teramat, kuberanikan membuka perih mata menangkap sesosok. Cahaya! Cahaya! Ahai! Tuankah malaikat itu? Tuankah? <span id="more-119"></span></p>
<p>Tuankah yang datang sepagi ini memenuhi undanganku yang kukirimkan lewat pertanyaan kalut dalam leretan waktu? O, tak siap aku menyambut kedatangan Tuan, meski pertanyaan-pertanyaanku tentang kematian kekasihku sepagi itu pada Tuan masih memburu dan terus memburu. Seperti Tuan yang memburunya dalam dingin pagi di jalan depan rumahnya, menyergap dan membawa ruhnya dari batang tubuh kecil itu yang kemudian bak ranting patah terempas di aspal yang basah. Lalu darah. O, Samira!</p>
<p>“Sebuah pikap sayuran menabraknya!” Teriak orang-orang di pagi itu seperti melupakan kuasa Tuan! Padahal kaulah sosok sesungguhnya di balik kematian kekasihku pagi itu. Heh, tapi aku tidak! Aku takkan tertipu oleh pikap sayuran yang melaju dan menyambar tubuh kekasihku Samira sebagai akibat kematiannya. Tak akan. Kaulah Tuan. Kaulah tuju dari segala tuju atas sebuah sebab kematian. Kaulah! Dan kepada kaulah, Tuan, aku bebal untuk terus memburukan tanya atas kematian kekasihku Samira. Sebab kami telah menyaurkan hati. Semalam. Baru semalam dalam sebuah pinangan.</p>
<p><em>Assalamu’alaikum</em></p>
<p>O, suara yang bercahaya! Suara yang teduh tanpa prasangka. Kau, kau Tuan? Malaikat kematian bersayap cahaya? Tapi mengapa suara dan tubuh cahaya Tuan seindah perempuan? Kelembutan yang mematikan. Bagaimana keindahan ini suntuk dengan yang bernama kematian? Bukankah kematian seperti memiliki kelamin pejantan? Sebuah kerja yang memerlukan renggutan kuat tangan lelaki pada jantung-jantung yang hidup. Menyemburatkan warna merah darah, meski dalam kematian yang sunyi bahkan seputih kapur. Atau bahkan kematian seayunan daun dalam embusan angin yang kering. Ternyata kau, Tuan, pemegang titah kematian itu.</p>
<p>Terperenyaklah semua mitos dalam pikiran manusia yang menyimpan nama kematian adalah sekepal tangan kasar lelaki. Lihatlah maha cahaya indah ini, yang meski itu pun tetap kupanggil dengan sebutan Tuan. Sebab dialah Tuan bagi penjemput kematian-kematian kita. Dan Tuan maha cahaya yang memenuhi ruang kamarku, yang berkuasa atas nama kematian, adalah sebuah tuju bagi pertanyaanku yang bertubi-tubi bagi kematian kekasihku sepagi waktu lalu itu.</p>
<p>Gentar. Tubuhku masih menggigil dalam gelombang cahayanya. Akankah dia merenggut ruhku juga dan mempertemukanku dengan kekasihku, juga sepagi ini? Ataukah memberi jawab bagi pertanyaan-pertanyaanku yang telah mendarah dalam hati; tentang kematian kekasihku yang terlalu pagi? </p>
<p><em>Rupanya kau tak pernah belajar tentang kematian. Tahukah kau, baru saja aku meraup lebih dua ribu nyawa ketika sehelai rambutmu meriap.</em><br />
 </p>
<p>Dua ribu nyawa! Sepagi ini? Sedang ia tak sedetik pun beranjak dari kamar ini, tapi telah mengitari semesta? Inikah yang disebut kecepatan maha cahaya dalam dimensi ruang dan waktu yang tak berukur? Aku terduduk lemas bertumpu pada dua lutut. Tubuhku masih terguncang dalam gigil. Cahayanya menembusi seluruh pori-poriku, menelanjangi jasadku yang kini hanya serupa irisan-irisan daging. Aku tak lagi berbentuk.</p>
<p>Tapi aku masih menyimpan pengkhianatan atas kematian kekasihku, yang dalam genangan waktu selalu dilulur tanya. Meski aku sadar, kematian memang tak pantas untuk dipertanyakan. Hanya tersebab aku berlebih mencintai kekasihku itulah tanya terus memburu. Pada apa-apa telah kucoba cari jawab. Kata-kata sudah habis rangkai dalam kertas-kertas ceritaku. Aku telah terkepung tanya; sebuah kematian kekasih yang terlalu pagi.</p>
<p>Akankah pada maha cahaya ini tanyaku akan berbilas? Sebab rahasia kematian kekasihku ada padanya. O, Tuan, kelembutan yang mematikan. Cahaya yang tenang layaknya sayap yang disedekapkan, dan berubah bilah-bilah pisau siap melukai kala sayap cahaya direntangkan. O, Tuan, berilah aku jawaban.</p>
<p><em>Tidak kau hitungkah, berapa kehidupan di dekatmu yang terenggut sudah? Pun, kekasihmu dalam kematian yang dingin sepagi waktu lalu itu. Tidakkah kau berpikir?</em></p>
<p><em>Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.1</em></p>
<p>O, maha cahaya! Tahulah Tuan telah banyak kematian yang mengepung ingatanku. Juga cinta, bukan? Tak diragukan lagi. Seberapa aku memuja kekasihku, serupa perempuan-perempuan memuja ketampanan paras Yusuf. Kekasihku adalah perempuan biasa, tapi cinta tak perlu penjelasan. Tahulah Tuan itu. Benar, aku bukanlah Adam yang hanya bisa memilih seorang perempuan. Hanya saja hatiku, Tuan. Tahulah pasti Tuan, betapa rapuhnya hati anak manusia. Cinta, inilah yang menjadi kisah-kisah dalam perjalanan abad-abad. Menjadi artifak. Tahulah Tuan itu. Begitulah aku mencintainya, Tuan - akh, pengakuan yang tak diragukan dalam pengetahuan Tuan.</p>
<p>Ketakberdayaanku, pun tahulah Tuan. Dan maafkanlah, karena aku menyimpan pengkhianatan atas kematian kekasihku. Mungkin sampai nanti, sampai satu-satu penanda kehidupan luruh dan menyadarkanku. Tahulah Tuan, bila aku juga sudah mencoba belajar pada guru kehidupan bernama kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kematian. Dalam senyum yang ringan, dalam mata yang tenang, sudah pula aku berbenam. Namun berkali-kali juga aku remuk, untuk kemudian bangkit lagi menyusun batu-batu pijak. Pada laut yang gemilang, aku pun pernah tenggelamkan diri mencari seserpih mutiara hikmah atas kematian. Lalu gunung dan hutan-hutan telah pula menjadi ladang penjelajahan diri yang tak habis-habis. Tapi selalu saja, setelahnya kubawa pulang lagi tubuh kembaraku yang tercabik menjadi lelatu. Dan tahulah Tuan, itulah yang berulang-ulang. Berulang-ulang. Maka tahulah lagi Tuan, bila aku kembali mengetuk-ngetuk pintu jawab bagi sebuah kematian kekasihku. Sebab aku masih tak berterima, Tuan. Jangan tanya soal alasan, tahulah Tuan apa yang menjadi sebab.</p>
<p><em>Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.2</em></p>
<p>O, Tuan sang maha cahaya! Aku tak pernah berusaha lari dari kematian. Pun, kekasihku tak bisa berlari dari kematian yang menjemputnya sepagi waktu itu. Yang kutahu, itulah kematian yang terlalu pagi. Siapa yang bisa meramal, pada pagi tiga puluh hari lalu itu adalah pagi terakhir kekasihku yang pada malam hari sebelumnya aku masih bersamanya, berdua di kursi beranda rumahnya. Dan pada malam itu, sungguh aku telah menyerahkan separuh hidup dan pengharapanku atas hidupnya, aku meminangnya.</p>
<p>“Samira, aku ingin menggenapkan hidup sebelum mati. Maukah kau kujadikan istri?” Sebuah kata sakral kuucapkan, yang dengannya telah pula siap kurelakan sebagian hidupku untuk dimilikinya, dan siap kuterima pula sebagian hidupnya. Sebuah kata yang sering kurapalkan pada malam-malam yang sunyi dan suntuk, dan dengan keberanian yang berlipat-lipat untuk bisa terucap. “Perjalanan kita sudah panjang, Samira, sudah hampir setahun, sudah waktunyalah kita untuk saling menyaurkan cincin.”</p>
<p>“Menikah untuk menggenapkan hidup sebelum mati?”</p>
<p>“Ya. Pernikahan itu seperti menggenapkan hidup sebelum mati, Samira. Kita sudah mengalami masa kelahiran, anak-anak, remaja, dewasa, dan tentu pernikahanlah selanjutnya. Dan aku memilihmu untuk menjadi tautan hidupku, melahirkan dan membesarkan anak-anakku yang juga tentu anakmu. Kelak.”</p>
<p>Samira terpagut diam—sebuah bicara dalam bentuk yang berbeda kukira. Namun aku bisa membaca kata-kata dari wajahnya, juga rona dalam mata dan senyumnya yang memberi isyarat. Seperti bayang, aku melihat anggukan kepalanya meski tak dalam. Pelan. “Terima kasih, Bang. Nanti Samira bicarakan sama keluarga.”</p>
<p>Ah.., tunailah sudah sebuah pengharapan. Kugenggam tangannya, kukecup, dan kuucapkan terima kasih. Selanjutnya kami pun sama-sama merangkai dan membayangkan sebuah kehidupan rumah tangga yang bahagia – lazimnya impian setiap manusia dewasa.</p>
<p>Namun tak sesiapa pun tahu, bagaimana maut mengincar dan datang menjemput, begitu pun lonceng kematian tak ada yang bisa menerka kapan berdentang. Diam-diam, rupanya sang maut telah menghitung waktu bagi kematian kekasihku malam itu. Ya,  kau Tuan, malaikatulmaut itu. Kenapa sepagi itu Tuan datang menjemputnya? Kenapa, Tuan? Tuan pasti masih sempat melihat senyum manisnya di pagi itu sisa kebahagiaan yang kami ciptakan semalam, juga matanya yang terbuka pertama kali dari tidurnya. Atau, jangan-jangan Tuan sudah mengintai nyawanya sesaat sebelum dia terbangun – atu malah sejak malam kami duduk berdua di kursi beranda rumahnya? Tuan berdiri di sudut kamarnya, mungkin di dekat jendela kaca kamarnya yang masih tertutup gorden. Dan sebelum dia membuka mata, Tuan tatap wajah mungilnya yang tanpa dosa itu, namun Tuan cepat-cepat memalingkan wajah karena tak ingin tergoda oleh perasaan iba –meski aku sangsikan ini, karena aku tahu Tuan tak pernah pilih nyawa bila ajal seseorang itu harus Tuan jemput sesuai janjinya, tak peduli dia bayi merah atau orang tua yang lemah. Lalu Tuan alihkan pandangan ke luar jendela kaca kamarnya, memandang pagi yang masih bening embun. Mungkin waktu itu Tuan dengan perasaan muram, atau jangan-jangan riang?</p>
<p>O, Tuan! Sungguh jeli kematian atas kekasihku diatur pagi itu. Sebuah kematian yang tak terduga, namun itulah bukti nyata bahwa kematian bisa datang tiba-tiba. Meski sesaat sebelumnya masih sempat dihadirkan kegembiraan, kekasihku Samira penuh canda di meja makan keluarga, yang mengundang keheranan dan tanya ayah bunda dan seorang adiknya. Kita memang sering terlupa akan isyarat, bahwa di antara suka cita bisa saja terselip kabar duka.</p>
<p>Tawa pagi kekasihku yang sempat pecah di tengah ruang makan, tinggal gema tertahan ketika sesaat dia berangkat menuju jalan di depan rumah entah untuk keperluan apa –barangkali ini hanyalah cara kematian menjemputnya tanpa harus dijelaskan apa yang menjadi sebab dia menyeberang jalan, yang lalu Tuan memburunya, dan dengan sekali sergapan telah Tuan bawa nyawanya dari jasadnya yang terkulai layu di aspal yang dingin bersimbah darah. Apa itu tadi yang menyambar tubuhnya? Sebuah pikap sayuran? Tapi sungguh tak terlalu penting apapun yang menjadi sebab kematiannya, hanya ceracau hatiku mempertanyakan mengapa dia mati sepagi itu, tepat saat semalam kami memintal janji untuk sama-sama menggenapkan hidup sebelum mati, menyaurkan hati. O, Tuan, mengapa Tuan? </p>
<p>Sungguh, Tuan, kematian kekasih di pagi itu seperti bukan waktu yang tepat, terlebih di tengah kegembiraan kami. Meski benar kematian tak mengenal waktu dan tempat; di dalam sebuah pesawat yang celaka karena kalut dihantam cuaca, di atas kapal yang karam dipulun gelombang, di dalam kereta yang relnya terlepas, tertimbun longsoran tanah, diamuk gempa, atau kematian yang sunyi di hadapan regu tembak atau pada seutas tali yang dikalungkan pada batang leher. Begitulah, tiap kematian memiliki misterinya sendiri. Dan bila kebahagiaan sering memiliki wajah yang sama, tak halnya kesedihan. Bisakah kita samakan kesedihan mereka yang sama-sama kehilangan keluarganya yang tewas dalam kecelakaan pesawat atau kapal yang karam? Samakah sakitnya kehilangan si kecil buah hati tercinta dengan orangtua yang teregut dari hidup selamanya? Atau antara kekasih dan saudara yang sama-sama lenyap senyap tak berbekas? Bagaimanakah kita bisa meraba lukanya, sedihnya, pahit getirnya? Air mata mungkin sama-sama menggabak, tapi adakah kata yang bisa mengungkap sebuah kedukaan dengan kadar yang sama? Kegembiraan seringkali usai sekali reguk dalam satu perayaan semalam, tapi kesedihan bisa serupa duri di dalam hati, bernanah, berdarah, dan akan terus terbawa bahkan hingga mati. Begitulah aku, Tuan.</p>
<p>Dan maafkanlah bila aku bebal memaksakan tanya tentang kematian kekasih di pagi itu, yang barangkali tak penting benar dalam keluasan semesta. Sebab menantang cahaya Tuan saja aku tak bisa. Sungguh hina dan tak sopannya aku menanyakan tugas Tuan. Ketahuilah, sesungguhnya tak ada keraguan padaku atas kerja Tuan menjalankan titah dan perjanjian dari Yang Maha Agung, bahwa nyawa kekasihku harus Tuan renggut. Hanya aku saja, Tuan, yang kemudian selalu mengingatnya sebagai sebuah kematian yang terlalu pagi. Ya, terlalu pagi. Pagi Minggu yang di ruang kamarku masih hangat aroma kopi. Sepotong roti, asap rokok pertama, dan sebuah koran dengan cerita pendekku di dalamnya. Sedemikianlah kabar yang meruntuhkan ketenteraman pagi itu datang. Sebuah kematian kekasih. Tidakkah kematian yang terlalu pagi, saat dentang jam kehidupan baru dimulai, hanyalah sebuah kabar yang terlalu mengada-ada? Jendela yang baru kubuka pun masih tampak dingin basah embun. Udara di luar sewarna susu. Bagaimana bisa kemurnian pagi seperti itu diusik oleh sebuah kematian? Pagi yang tidak tepat untuk sebuah kematian. Tidak sesiapa pun! Terlebih untuk seseorang bernama kekasih!</p>
<p>“Aku ingin menggenapkan hidup sebelum mati. Kata itulah yang berulangkali diucapkannya seperti membaca puisi kepada kami pagi itu di meja makan. Samira mengucapkannya sambil tertawa, makanya kami kira bercanda. Ah.., ternyata itu pertanda,” lirih suara ibunya mengabarkan.</p>
<p>Dan kabar itu tak bisa ditolak. Kematian tak bisa ditawar. Maka pagi yang murni itu pun menjadi sewarna api.</p>
<p>Demikianlah awal tumbuhnya pengkhianatanku kepada sebuah kematian. Demi waktu, lalu kuundang jawab bagi kematian kekasih yang terlalu pagi. Hanya tanyalah yang terus kugugatkan kepada yang merenggut napas kekasihku, yang padanya ikut pula tercerabut hidupku. Aku tak pernah lelah menunggu jawab. Meski mungkin tetap takkan ada jawab yang dapat membuatku lebih lapang menerima kematian sang kekasih yang terlalu pagi. Sebab aku bersikeras, kematian yang terlalu pagi hanyalah kabar yang mengada-ada. Bukankah merenggut nyawa pagi-pagi adalah kerja yang tergesa-gesa bagi keberartian sebuah kehilangan?<br />
 <br />
<em>Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.3</em></p>
<p>O, Tuan! Sungguh aku tak mendustakan kebenaran ayat itu. Hati inilah, Tuan. O, betapa rapuhnya. Kenapa tidak Tuan biarkanlah kami mengecap kesenangan walau sebentar saja. Sebentar saja. Cukup menggenapkan hidup sebelum mati, menjadikan kami sepasang suami istri. Kenapa Tuan, tidak ditunda kematian atasnya?</p>
<p><em>Wahai keturunan Adam, aku pun sebenarnya sedih diberi tugas mencabut roh makhluk-makhluk bernyawa karena di antaranya itu termasuk manusia yang terdiri dari kekasih-kekasih Allah, para rasul, para nabi, para wali dan orang-orang solihin. Betapa aku tidak disenangi oleh keturunan Adam, mungkin aku akan dicemooh karena ditugaskan mencabut roh manusia yang menyebabkan orang berdukacita kehilangan sanak keluarga dan orang-orang yang tersayang di kalangan mereka.</p>
<p>Namun Allah berjanji akan menjadikan berbagai sebab kepada kematian yang akan dilalui oleh keturunan Adam. Sehingga keturunan Adam itu akan memikirkan dan mengaitkan kematian itu dengan sebab-sebab yang dialami oleh mereka. Apabila berlaku kematian, mereka akan berkata bahwa si anu itu mati karena mengidap sakit, ataupun karena mendapat kemalangan, mereka akan terlupa mengaitkan aku dengan kematian itu.</p>
<p>Pada hakikatnya ajal itu adalah ketetapan Allah, yang telah termaktub sejak azali. Semuanya telah nyata di dalam takdir Allah, bahwa kematian pasti tiba pada saat yang ditetapkan. Aku hanyalah tentara-tentara Allah yang menjalankan tugas seperti yang telah diamanahkan.4</em></p>
<p><em>Tapi rupanya kau tetap mengaitkan kematian kekasihmu itu kepadaku. Sungguh aku merasa sedih dan malu, dan karenanya aku akan terus menemuimu. Namun setidaknya kau harus ingat:<br />
Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mencepatkannya.5<br />
Wassalam</em></p>
<p><strong>UDARA</strong> di ruang kamar mendadak berkibar-kibar. Sang maha cahaya merentangkan sayapnya. Bilah-bilah cahayanya berlesatan dan menusuk. Aku terpuruk, tersungkur di lantai dengan kertas-kertas yang berterbangan dan buku-buku yang berbukaan. Lalu, sekali lagi aku mencium harum kamboja seperti ketika maha cahaya datang. Aroma kematian saat datang dan saat pulang. O, pergikah, Tuan? Tuan? Bilah-bilah cahaya tersedot ke luar jendela. Perlahan suasana dalam kamar menjadi tenang. Hening. Tinggal aku yang dalam keterpurukan menggapai-gapai ke arah jendela yang terbuka. Selalu saja dia pergi seperti pagi-pagi yang lalu, dan pasti datang lagi pada pagi-pagi yang akan. Namun yang aneh, setiap dia datang, aku merasa itu adalah kedatangannya yang pertama.</p>
<p>Seketika kudengar pintu kamar dibuka dengan tegesa-gesa.</p>
<p>“Duh…, kenapa? Dia datang lagi, ya?” suara ibu di pintu selalu saja bernada cemas dan sedih.</p>
<p>“Ya, dia datang lagi, bu. Datang lagi.”</p>
<p>Ibu menghambur memeluk tubuhku di lantai. Aku merasa payah sekali. Lalu dibimbingnya aku menuju ranjang. Usai merebahkanku dan memberi selimut, ibu mulai merapikan kamarku, terutama kertas-kertas yang berhamburan dan buku-buku.</p>
<p>“Kamu harusnya mulai belajar, tiap usai menulis dan membaca, kertas-kertas catatan dan buku-bukunya musti dirapiin lagi. Masa ibu terus yang merapikan. Jadi penulis itu tak mesti awut-awutan.”</p>
<p>Ah.. ibu. Selalu saja kalimat itu yang diucapkan setiap membereskan catatan-catatan dan buku-bukuku.</p>
<p>“Cerpen apa lagi yang kamu tulis? Harus ibu bacakan lagi?” ucap ibu sambil memeriksa lembar-lembar kertas catatanku.</p>
<p>Aku cukup tersenyum kecil, tahulah sudah ibu.</p>
<p>“Baiklah, ibu akan bacakan. Tapi, sebelumnya kamu harus makan bubur yang sudah ibu siapkan dan juga obatnya ya?”</p>
<p>Dan aku tak perlu menjawab dengan kata atau isyarat apapun. Sebab seperti biasa ibu akan selalu menempelkan pipinya di pipiku. Kemudian aku pun merasakan ada air yang membulir dari ujung mata ibu membasahi pipiku. Hangat. Selalu, seperti pagi-pagi yang lewat, semejak kematian kekasihku yang terlalu pagi waktu itu.***</p>
<p>Banjarbaru, 2006-2007</p>
<p><a href="http://sfirly.files.wordpress.com/2008/08/1buku-sandi1.jpeg"></a>Keterangan:<br />
<em>1. (QS. 29 : 57)<br />
2. (QS. 62:8)<br />
3. (QS. 33:16)<br />
4. (Sebab-sebab kematian bagi memenuhi janji Allah kepada malaikat maut, sebagaimana diriwayatkan oleh Saidina Abbas r.a dalam sebuah hadis Nabi. Terdapat dalam Kitab Syarh Tadzkrtul Qurthubi, halaman 24)<br />
5. (Surah Al-A&#8217;raf: ayat 34)</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sfirly.wordpress.com/119/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sfirly.wordpress.com/119/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=119&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2008/08/16/kematian-yang-terlalu-pagi/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sfirly-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sfirly.files.wordpress.com/2008/08/1buku-sandi2.jpeg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Lelaki dan Pelacur</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2008/07/20/lelaki-dan-pelacur/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2008/07/20/lelaki-dan-pelacur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 17:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[(Ini cerpen lama, yang saya tulis tahun 1998. Yeah, sekadar iseng, saya coba tampilkan di sini. Barangkali ada yang baca&#8230; )
 
BEGITULAH. Abidin seolah-olah baru tersadar. Dan mendapatkan dirinya sudah berada di sebuah lokalisasi, dalam kamar bersama seorang pelacur. Ketika pelacur itu hendak melucuti pakaiannya sendiri, kontan Abidin tersentak. Kaget.
&#8220;Tunggu&#8230;tunggu. Apa-apaan ini,&#8221; katanya bingung.
&#8220;Lho, bukankah mas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:right;"><em>(Ini cerpen lama, yang saya tulis tahun 1998. Yeah, sekadar iseng, saya coba tampilkan di sini. Barangkali ada yang baca&#8230; )</em></p>
<p> </p>
<p>BEGITULAH. Abidin seolah-olah baru tersadar. Dan mendapatkan dirinya sudah berada di sebuah lokalisasi, dalam kamar bersama seorang pelacur. Ketika pelacur itu hendak melucuti pakaiannya sendiri, kontan Abidin tersentak. Kaget.</p>
<p>&#8220;Tunggu&#8230;tunggu. Apa-apaan ini,&#8221; katanya bingung.</p>
<p>&#8220;Lho, bukankah mas berada di sini untuk ini?&#8221; jawab pelacur itu tak kalah bingung.<span id="more-116"></span></p>
<p>Sialan, maki Abidin dalam hati. Dia menyalahkan diri sendiri.<br />
&#8220;Begini mbak, sebenarnya keberadaan saya di sini tanpa saya sadari. Saya tidak mengerti, kenapa tahu-tahu saya sudah berada di tempat ini,&#8221;<br />
katanya mencoba menjelaskan keberadaan dirinya.<br />
&#8220;Ha..ha&#8230;ha mas jangan bersandiwara. Emangnya mas dibawa hantu, lantas diletakkan di kamar ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sunguh, saya benar-benar tak menyadarinya.&#8221; Abidin tetap mencoba meyakinkan pelacur di depannya.</p>
<p>&#8220;Baiklah, jika mas benar-benar tak menyadarinya. Tapi mas mau kan?&#8221; Pelacur itu lantas mulai membuka kancing bajunya sembari melirik genit.</p>
<p>&#8220;Hai&#8230;hai, saya bukan tipe lelaki begituan,&#8221; cegahnya setengah berteriak.</p>
<p>&#8220;Mas, gimana sih?&#8221; pelacur itu mulai gusar. &#8220;Kalau memang nggak mau, ya cepat ke luar sana. Buang-buang waktu saya saja.&#8221;</p>
<p>Bagaimana pelacur itu tidak marah, sudah hampir seminggu dia tidak mendapat tamu. Sedang ada lelaki di depannya malah main-main.</p>
<p>&#8220;Sungguh mbak, saya benar-benar tidak mengerti mengapa bisa sampai berada di sini.&#8221; Abidin mencoba meyakinkan perempuan itu. &#8220;Tapi karena saya sudah terlanjur membuang-buang waktu mbak, dan saya juga sudah kepalang basah masuk ke kamar mbak, bagaimana bila mbak menemani saya bicara saja? Dan saya tetap akan membayar.&#8221;</p>
<p>Sebenarnya janji Abidin untuk membayar hanyalah akal-akalan saja. Bagaimana mau bayar, di kantongnya cuma ada dua lembar ribuan yang hanya cukup untuk ongkos pulang.</p>
<p>Didorong rasa ingin tahu dan untuk menumpahkan kekesalan yang menyesak, juga karena pengaruh minuman keras masih menguasai dirinya, dia terpaksa berbohong.</p>
<p>&#8220;Ha&#8230; ha&#8230; ha&#8230; mas ini lucu. Mana ada orang ke tempat seperti ini hanya untuk bicara saja. Ha&#8230; ha&#8230; ha&#8230;&#8221; tawa pelacur itu sinis.</p>
<p>&#8220;Jika mbak tidak mau diajak bicara, jadi pendengar saja juga boleh. Saya juga tetap akan bayar.&#8221;</p>
<p>Pelacur itu kembali tertawa, hingga dadanya terguncang-guncang. Guncangan ini terlihat jelas dari celah baju, yang dua kancingnya atasnya terlepas.</p>
<p>Meski kelelakian Abidin sempat tersentuh juga, namun ia berusaha meredamnya. Sejak pertama dia menyadari, begitu berada di tempat mesum itu, hatinya sudah bersikukuh agar tak terpikat pelacur di depannya. Walaupun dalam hati kecilnya, Abidin mengakui pelacur yang bertubuh montok ini, cukup menggairahkan.</p>
<p>&#8220;Mas sudah beristri atau belum?&#8221; selidik pelacur itu, setelah tawanya reda.</p>
<p>&#8220;Su&#8230;sudah,&#8221; jawab Abidin ragu.</p>
<p>&#8220;Nah, kalau begitu mengapa tidak mengajak istri mas saja bicara?&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru itu&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru apanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru masalah istri saya itulah, yang ingin saya bicarakan sama mbak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho mengapa mesti dengan saya? Mengapa tidak dengan yang lainnya saja?&#8221; tanya pelacur itu tambah tak mengerti.</p>
<p>&#8220;Bukankah dari semula tadi sudah saya katakan, saya terlanjur masuk ke kamar mbak dan membuang-buang waktu mbak? Jadi, untuk menebusnya saya minta mbak mendengarkan cerita saya. Dan jangan khawatir, saya pasti bayar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya ada apa dengan istri mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi mbak setuju?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah. Sekarang mas cerita saja,&#8221; jawab pelacur itu sambil meletakkan rokok putih di bibirnya yang merah menyala. Cepat-cepat Abidin merogoh korek api dan menyalakan untuk si pelacur. Kemudian Abidin menyalakan rokoknya sendiri.</p>
<p>Ia mulai bercerita. Pertama dia menceritakan bagaimana sampai berada di kamar si pelacur. Setelah menenggak habis minuman sebotol minuman keras di kedai pinggir jalan bersama-sama temannya, Abidin mulai kehilangan kesadaran.  Dia tidak dapat mengontrol dirinya lagi. Langkah kakinya menghempaskan kesadarannya di tempat di mana sekarang dia berada.<br />
&#8220;Sebenarnya saya bukan laki-laki pemabuk,&#8221; tegas Abidin.</p>
<p>&#8220;Lalu kenapa kamu tenggak minuman itu?&#8221;</p>
<p>Abidin terdiam. Pelacur menunggu. Dia juga terdiam duduk di kursi meja rias sambil menikmati rokok putihnya. Dalam hati si pelacur memuji ketampanan laki-laki di hadapannya.</p>
<p>Merasa tidak enak diperhatikan, Abidin meneruskan ceritanya. Bahwa dia bertengkar dengan istrinya. Hampir sebulan ini, rumah tangga Abidin memang sering diwarnai pertengkaran. Dan pertengkaran malam ini merupakan klimaks dari ketidaktahanan Abidin mendengar omelan istrinya.<br />
Semenjak terkena PHK dari tempatnya bekerja, pertengkaran-pertengkaran kecil mulai sering terjadi dengan istrinya. Pokok persoalan sebenarnya berawal dari masalah perut.</p>
<p>Setelah uang pesangon menipis dan pekerjaan belum juga didapat, istrinya mulai sering ngomel, karena pemenuhan keperluan dapur menjadi tersendat-sendat. Ditambah lagi persoalan dua anaknya. Si Junai yang duduk di bangku kelas tiga SD, sudah dua bulan SPP-nya tertunggak. Si Jufri yang berumur 2 tahun, hampir dua minggu ini sering menangis terus karena susunya tak terbeli lagi.</p>
<p>&#8220;Saya bingung. Benar-benar bingung,&#8221; sungut Abidin sambil mengucek-ucek rambutnya. Lelaki ini salah satu korban keadaan, batin pelacur itu.</p>
<p>Tiba-tiba wanita ini tertawa keras. Abidin tersentak kaget.<br />
&#8220;Ha.. ha.. ha.., kamu salah alamat. Salah alamat,&#8221; kata pelacur itu masih dalam sisa tawanya.</p>
<p>&#8220;Aaa&#8230;aaapanya yang salah alamat?&#8221; tanya Abidin bingung.</p>
<p>&#8220;Kau salah. Kau salah menumpahkan keluh kesahnya padaku. Kupikir, hidupku lebih susah dari kamu. Kamu hanya terlalu lemah. Sebagai seorang lelaki, apalagi seorang bapak, kepala rumah tangga, kamu harus mampu mempertahankan kehidupan keluargamu. Sekarang keadaan memang lagi susah. Tapi jangan sampai keadaan itu, menghancurkan kehidupan rumah tanggamu. Kita jangan begitu saja menyerah dengan keadaan. Kita harus mampu menyiasati kehidupan, jika tetap ingin bertahan hidup.&#8221;</p>
<p>Perlahan pelacur itu bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu.<br />
&#8220;Sekarang kau pulanglah kepada istri dan anak-anakmu. Jangan sampai mereka tambah menderita lagi karena kau tidak ada di antara mereka. Simpan saja uang yang kau janjikan kepadaku.&#8221; Pelacur itu mempersilakan tamu lelakinya keluar.</p>
<p>Abidin cepat bangkit dari duduknya. Dalam benaknya hanya ada satu keinginan, memeluk istri dan anak-anaknya.***</p>
<p>updated: 08/22/98 09:42:18 PM</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sfirly.wordpress.com/116/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sfirly.wordpress.com/116/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=116&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2008/07/20/lelaki-dan-pelacur/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sfirly-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hudan III</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2008/07/13/catatan-hudan-ii/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2008/07/13/catatan-hudan-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 14:20:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Dia terlihat baik-baik saja, tapi siapa tahu dalam hatinya&#8230;?
Hudan Nur kembali hadir di Book Café, Sabtu (12/7) malam. Kali ini dia bersama Isuur Loeweng membacakan cerpen saya, Tubuh dan Kepala Mencari Rupa. Ia sudah terlihat lebih baik. Canda tawanya kembali berderai, seakan peristiwa kecelakaan tiga bulan lewat telah menjadi bagian masa lalunya – meski dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:right;"><em>Dia terlihat baik-baik saja, tapi siapa tahu dalam hatinya&#8230;?</em></p>
<p style="text-align:right;">Hudan Nur kembali hadir di Book Café, Sabtu (12/7) malam. Kali ini dia bersama Isuur Loeweng membacakan cerpen saya, Tubuh dan Kepala Mencari Rupa. Ia sudah terlihat lebih baik. Canda tawanya kembali berderai, seakan peristiwa kecelakaan tiga bulan lewat telah menjadi bagian masa lalunya – meski dia masih harus menjalani beberapa perawatan termasuk rencana operasi cairan darah beku di dalam kepalanya akibat benturan saat tabrakan di wilayah Pelaihari itu. Berikut ini adalah sambungan catatannya saat dirawat di RS Ulin, Banjarmasin, yang dibacakan pada malam Minggu (7/7), pekan lalu:<span id="more-115"></span></p>
<p><em>MENJELANG kebangkitanku kembali. Keluar dari tempat nista itu. Aku merencanakan beberapa perjalanan melepas kepulanganku dari perjamuan dengan dewa mabuk kemarin sore. Ketika aku mulai menatih hari, melangkah melewati hari yang kusiangi dengan keringatku. Untung saja, masih ada tersisa seberkas harapan di saku bajuku. Hingga sekarang aku bisa menebarkan beberapa langkah dengan kepastian. Ketika aku mencoba memahami satu persatu makna dari langkah yang kupijakkan. Maka, aku merasakan bahwa aku tidak sendiri begini. Masih banyak di langit sana, lapisan yang juga menyimpan kenangan masa lalu yang serupa dengan apa yang pernah aku alami. Satu hal yang hari ini membuatku tersenyum. Kesadaran bahwa kita adalah pengembara. Mengembara dari daerah satu ke daerah lain, dari cinta satu ke cinta lain bahkan dari luka yang satu ke luka yang lain. Yah, begitulah.</em></p>
<p><em>Kepemahaman dariku seputar hidup. Ternyata hidup itu-itu saja. Tak ada yang berbeda, sama halnya dengan pagi selalu ditemani mentari atau malam dengan sinar rembulan dengan bintang-bintang. Begitu-begitu saja bukan? Hidup adalah sesaat. Selebihnya, aku terkwatrin. Tak ada yang bisa kau temukan di sini, selain menghadapi kesementaraan itu. Memahami sejengkal demi jengkal makna kesentausaan. Segenap hal di balik kejadian. Lalu, ada angin berhembus. Menyentuh helain rambutku. Mungkin ini pertanda bahwa alam mulai mengajakku berkawan. Bersama menapaki hidup, bersama membangun dinding harapan, dan berjanji bersama untuk tidak saling terpisahkan. Sampai mati kita berurai.</em></p>
<p><em>Aku sudah tidak mampu mengingat, berapa banyak aku menghabiskan waktu dengan kemalasanku. Kadang, sifatku yang uring-uringan membuatku terpaksa keluar dari hijab yang kubuang di balik mimpi. Adakah yang mampu aku jelaskan dengan semua kecengenganku dalam menyelami labirin hidup ini? Ternyata semuanya kembali ke nilai stagnan. Bahwa segala apa yang dibuat sekarang, adalah tak bermakna. Tak ada yang dapat menjelaskan mengapa bunga diciptakan dengan berbagai warna serta aroma selain keanekaragaman. Selebihnya, apakah aku dapat keluar dari labirin yang kubuat sendiri itu. Atau bagaimana? Ada segenap rasa yang tidak mampu aku pahami dengan akal sehat. Namun, sekali lagi yang harus kuingat di sini, bahwa kita hidup jangan menggunakan rasa tapi akal sebagai penimbang baik dan benar. Sejauh akal adalah Tuhan kita dalam bertindak dan mengambil kebijakan dalam berhal.</em></p>
<p><em>Oh ya, selain itu aku juga memahami bahwa kita ini bukan hanya debu tapi adalah hal yang sebenarnya tiada. Yah, aku sebenarnya tidak suka menuliskan itu. Namun, aku bisa apa? Sudahlah, aku tidak akan pernah tuntas, mengupas tentang hidupku. Karena setiap kita mempunyai sisi yang berbeda. Tentunya bukan? Tidak ada yang sanggup memahami keberagaman, dengan segala eksotilisitas dan keterbatasan. Yah, beginilah caraku. Semoga aku siap menggali kehidupan yang baru. Sebab Hudan sekarang adalah Hudan yang dibuat oleh Hudan sendiri. Hudan yang merdeka semerdeka-merdekanya.***</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sfirly.wordpress.com/115/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sfirly.wordpress.com/115/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=115&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2008/07/13/catatan-hudan-ii/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/sfirly-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>