<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>potret</title>
	<atom:link href="http://sfirly.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sfirly.wordpress.com</link>
	<description>*...sekumpulan catatan yang barangkali hanya omong kosong...*</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Oct 2009 17:27:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sfirly.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/1de74fae4d506a538408300a63d003df?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>potret</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Bandung; Apa yang Anda Pikirkan?</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2009/10/09/bandung-apa-yang-anda-pikirkan/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2009/10/09/bandung-apa-yang-anda-pikirkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 17:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis.
Bila Anda asli urang Sunda (baca: Bandung), pernahkah menanyakan kepada orang lain apa kira-kira yang  terlintas di benaknya ketika pertama kali disebutkan nama Kota Bandung? Mungkin jawabnya adalah Kota Kembang—sesuai dengan julukan kota ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=289&subd=sfirly&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:right;"><em>Kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa neng geulis.</em></p>
<p>Bila Anda asli <em>urang</em> Sunda (baca: Bandung), pernahkah menanyakan kepada orang lain apa kira-kira yang  terlintas di benaknya ketika pertama kali disebutkan nama Kota Bandung? Mungkin jawabnya adalah Kota Kembang—sesuai dengan julukan kota ini, seperti halnya Bogor disebut Kota Hujan.</p>
<p>Atau, ketika disebutkan Kota Bandung maka yang langsung terbayang adalah kesejarahannya (Bandung lautan api), gedung sate, kulinernya, atau justru <em>neng geulis</em>-nya? Ya, orang bisa menyebut apa saja sesuai dengan apa yang diketahui dan dipahaminya.</p>
<p>Dari sekian julukan dan identifikasi itu, apakah semuanya (masih) relevan? Siapakah yang tahu mengapa (dulunya) Kota Bandung disebut sebagai Kota Kembang? Apakah karena di kota ini banyak terdapat kembang? Atau kembang itu hanya metafora dari <em>neng geulis</em>? Hmm…, saya kira yang terakhir itu yang lebih tepat.  Sebab, kenyataannya memang tak banyak kembang yang kita jumpai di banyak jalan di kota ini – terkecuali “kembang-kembang” berjalan atawa <em>neng geulis</em>. <span id="more-289"></span></p>
<p>Saya kira, tak salah memetaforkan gadis-gadis di kota ini dengan kembang; jenis tanaman yang memang banyak disuka bahkan dipuja, sampai-sampai kita juga mengenal ungkapan “kembang desa”. Dan <em>urang</em> Bandung pasti juga sudah jamak mendengar pujian-pujian terhadap kecantikan <em>mojang parahyangan</em>.</p>
<p>Hal lainnya yang kini juga menjadi perhatian kota-kota lain terhadap Bandung adalah perkembangan <em>fashion</em>-nya.  Kota ini memang dikenal sebagai salah satu “kota mode” di Indonesia—barangkali karena itu juga mengBandung disebut sebagai <em>Parijs van Java</em>, selain nuansa kotanya; bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial yang banyak terdapat hampir di tiap sudut kota, terutama kawasan Jalan Braga yang siang ataupun malam cukup ramai dengan pejalan kaki, juga café-café.</p>
<p>Sebagai “kota mode”, maka jadilah Bandung pusat perbelanjaan yang banyak didatangi dari pelbagai penjuru. Tak heran, <em>factory outlet </em>tumbuh menjamur &#8212; yang pada perkembangannya juga banyak ditiru di kota-kota lain. Bahkan ada yang memakai nama “Bandung Product’ seperti terdapat di kota Banjarmasin.</p>
<p>Begitulah, Bandung menjadi salah satu kota yang mungkin banyak diimpikan sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali. Karena selain sejuk, dengan banyak pohon-pohon tua, beragam kulinernya juga sangat terkenal. Dan keramahan <em>urang </em>Bandung bak sehangat bandrek, minuman khasnya yang banyak disuka.</p>
<p>Tapi, jangan lupa. Bandung kini juga terasa padat sehingga kemacetan terjadi di mana-mana. Saya pun menjadi khawatir, ketika ditanyakan: “Apa yang terlintas pertama kali ketika disebutkan nama Kota Bandung?” maka orang yang pernah ke Bandung akan memberi jawaban; “Macet <em>pisan, euy&#8230;!</em>” Nah, lho?![]</p>
<p>: catatan ini diterbitkan di koran <em>Radar Bandung</em> edisi Sabtu (10/10).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=289&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2009/10/09/bandung-apa-yang-anda-pikirkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setelah Pinggul, Paha, Selanjutnya..?</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2009/09/06/setelah-pinggul-paha-apalagi/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2009/09/06/setelah-pinggul-paha-apalagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 21:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Barangkali memang lebih banyak wanita yang lebih percaya diri dengan apa yang dipakainya daripada apa yang dipikirkannya.

Rasanya baru kemarin kita menyaksikan pinggul-pinggul wanita yang berkibaran lantaran model bawahan hipster (celana atau rok yang dikencangkan di bawah pinggul) yang dipadukan dengan baju agak pendek. Kini, gaya baru yang kita lihat di jalan-jalan, mal, atau malah di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=284&subd=sfirly&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:right;"><em>Barangkali memang lebih banyak wanita yang lebih percaya diri dengan apa yang dipakainya daripada apa yang dipikirkannya.</em></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Rasanya baru kemarin kita menyaksikan pinggul-pinggul wanita yang berkibaran lantaran model bawahan <em>hipster </em>(celana atau rok yang dikencangkan di bawah pinggul) yang dipadukan dengan baju agak pendek. Kini, gaya baru yang kita lihat di jalan-jalan, mal, atau malah di kampus, adalah wanita-wanita dengan paha terbuka. Trend celana pendek yang sekarang banyak digandrungi (tak hanya wanita muda) membuat paha-paha mereka bisa ditatap bebas, tak peduli apakah paha itu putih bersih, sawo matang, ideal, gemuk atau kurus, malah tak jarang kita juga mendapati paha yang selulit. <em>Alahai…</em><br />
<span id="more-284"></span><br />
Barangkali memang tak terlalu penting bagaimana bentuk pahanya, yang penting “ngegaya”. Karena kalau tak ikut trend, takut dibilang ketinggalan model. Lantas, siapakah yang diuntungkan dari fashion ini? Sudah pasti para desainer, hanya dengan bahan kain lebih sedikit, harganya tetap saja tidak lebih murah dari celana panjang. Yang diuntungkan lainnya adalah produsen krim pelembut dan pemutih kulit. Dan tentu saja, kaum lelaki – terutama yang matanya jelalatan dan pikirannya tak karuan. Ya, siapakah yang bisa menghalangi pikiran lelaki yang ingin mencolek paha itu? Atau bahkan lebih dari itu? Yang jelas, bukankan tak perlu lagi mengintip dari balik rok?</p>
<p>Pakaian sebagai produk kebudayaan memang terus berkembang bentuknya. Dari zaman baju baja (<em>armor</em>), jubah seperti yang dikenakan di timur tengah atau para rahib, semuanya pada awalnya adalah bersifat eksterior. Bahwa pakaian digunakan sebagai pelindung, seperti baju baja yang berabad-abad lalu untuk melindungi diri dari senjata tajam peperangan atau binatang buas. Dan jubah di timur tengah untuk melindungi dari debu padang pasir. Namun kini pakaian bukan sekadar pelindung saja, layaknya payung untuk menahan hujan atau terik matahari. Pakaian sudah bersifat lebih dari itu. Ia telah menjadi bagian dari diri pemakainya. Seorang yang mengenakan sebuah produk pakaian akan mengatakan, “It’s me!”—meski bisa saja ia tidak tahu mengapa, sekadar ikut trend, dan andaipun sesungguhnya itu sama sekali tak cocok untuknya. Yeah, bukankah selalu begitu?</p>
<p>Apa yang hendak kita katakan mendapati kenyataan banyak kaum wanita mengenakan celana pendek sekarang ini? Perlu juga kita renungkan apa yang dikatakan kritikus budaya Umberto Eco, bahwa wanita telah diperbudak model, tidak hanya karena adanya kewajiban bagi mereka agar terlihat atraktif, untuk mengesankan kelembutan, untuk menjadi cantik dan merangsang, yang membuatnya menjadi objek seks. Nah, apa hendak dikata? Sebab barangkali memang lebih banyak wanita yang lebih percaya diri dengan apa yang dipakainya daripada apa yang dipikirkannya.</p>
<p>Trend pakaian dari waktu ke waktu sebenarnya adalah sebuah sirkel, sebuah siklus lingkaran. Celana panjang yang ujungnya sangat sempit – karenanya agar telapak kaki bisa muat harus menggunakan kantong kresek— yang juga banyak digandrungi anak muda sekarang, itu pernah dialami remaja pada tahun 1990-an, dan bahkan jauh sebelum itu juga pernah trend di kalangan penyuka musik <em>heavy metal</em> dan <em>punk</em>. Meski memang, untuk trend celana <em>hipster</em> dan celana pendek untuk kaum wanita saat ini boleh jadi adalah penemuan abad ini– dipopulerkan Agnes Monica di layar kaca, yang sebenarnya juga meniru gaya Amerika.</p>
<p>Rasanya kita perlu juga was-was. Setelah penemuan model pakaian yang memperlihatkan selingkaran pinggul atau malah udel, dan sekarang paha, ke depan bagian mana lagikah dari tubuh perempuan yang akan dibiarkan terbuka? Anda berani membayangkan?[]</p>
<p><em>: catatan ini diterbitkan di Radar Bandung, edisi Senin (7/9)</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/284/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=284&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2009/09/06/setelah-pinggul-paha-apalagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>homesick</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2009/09/02/homesick/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2009/09/02/homesick/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 04:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[..aku masih mengingat kampung kecil itu; angin yang datang dari tepi laut, musala dengan pohon sawo berdaun lebat &#8211; tempat waktu kecil menunggu bedug berbuka dan salat tarawih, pelita di depan rumah, dan tegur sapa ramah kerabat tetangga. Akhirnya, selalu, semuanya bermuara pada dua pasang batu kembar di tanah lapang&#8230;.[]
      [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=282&subd=sfirly&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>..aku masih mengingat kampung kecil itu; angin yang datang dari tepi laut, musala dengan pohon sawo berdaun lebat &#8211; tempat waktu kecil menunggu bedug berbuka dan salat tarawih, pelita di depan rumah, dan tegur sapa ramah kerabat tetangga. Akhirnya, selalu, semuanya bermuara pada dua pasang batu kembar di tanah lapang&#8230;.[]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/282/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=282&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2009/09/02/homesick/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>di puncak bogor&#8230;</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2009/08/22/di-puncak-bogor/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2009/08/22/di-puncak-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2009 08:14:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[
memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta&#8217;Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat&#8230;
sebelumnya, selama perjalanan pulang dari Bogor ke Bandung lewat jalur puncak (saat berangkat ke Bogor pada Kamis (20/8) itu kami lewat jalan tol cipularang), papan-papan bertuliskan villa berderet sepanjang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=279&subd=sfirly&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-280" title="puncak" src="http://sfirly.files.wordpress.com/2009/08/puncak1.jpg?w=290&#038;h=194" alt="puncak" width="290" height="194" /></p>
<p><em>memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta&#8217;Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat&#8230;</em></p>
<p>sebelumnya, selama perjalanan pulang dari Bogor ke Bandung lewat jalur puncak (saat berangkat ke Bogor pada Kamis (20/8) itu kami lewat jalan tol cipularang), papan-papan bertuliskan villa berderet sepanjang jalan nyaris hanya berjarak 50 meter. Kebanyakan villa-villa  itu menjorok ke arah dalam, baik ke tebing maupun ke atas. Tentu saja setiap villa itu menawarkan view yang menarik; pemandangan lembah, perkebunan teh yang begitu luas, serta puncak-puncak yang berjajar tinggi rendah. Namun, sebagian orang juga menghubungkan villa ini dengan layanan perempuannya. Dan seketika saja saya teringat dengan seorang teman (tak elok pasti bila saya menuliskan namanya di sini&#8230;)</p>
<p><em>memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta&#8217;Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat&#8230;</em></p>
<p>Alhamdulillah, saat berada di puncak di Masjid Atta&#8217;Awwun, waktu memasuki salat Ashar. Brrrr&#8230; betapa dinginnya kala air di kran masjid membasuh tangan. Makmum, yang sebagian besar adalah pelancong, cukup banyak mengisi shaf, sekira lima baris. Barangkali, ketinggian puncak mengingatkan diri kepada sang pencipta &#8212; bukankah kala kita berdoa menadahkan tangan, dan nabi pun mi&#8217;raz ke langit ke tujuh&#8230;, puncak semesta&#8230;</p>
<p><em>memandang dari ketinggian puncak Bogor di Masjid Atta&#8217;Awwun; bukit-bukit berjajar menjulang berselimut kabut, di bawah semuanya tampak kecil, dan oh, betapa langit terasa begitu dekat, begitu dekat&#8230;</em></p>
<p>di puncak, aku mengingatmu penuh seluruh&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/279/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=279&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2009/08/22/di-puncak-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sfirly.files.wordpress.com/2009/08/puncak1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">puncak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat dari Cakrawala</title>
		<link>http://sfirly.wordpress.com/2009/07/25/surat-dari-cakrawala/</link>
		<comments>http://sfirly.wordpress.com/2009/07/25/surat-dari-cakrawala/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 22:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sfirly.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Salam sastra,
Kiranya memang inilah saatnya. Saya telah sampai pada jalan yang tidak lagi hanya lurus ke depan, tapi ada sebuah belokan yang begitu menggoda saya. Dan saya memilihnya.
Saya pun tiba-tiba seperti terjaga, bahwa jalan lurus selama ini terasa kian melenakan, sehingga melemahkan daya hidup saya. Sedangkan pada jalan berbelok itu, masih misteri, menjanjikan warna-warna baru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=271&subd=sfirly&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Salam sastra,</em></p>
<p>Kiranya memang inilah saatnya. Saya telah sampai pada jalan yang tidak lagi hanya lurus ke depan, tapi ada sebuah belokan yang begitu menggoda saya. Dan saya memilihnya.</p>
<p>Saya pun tiba-tiba seperti terjaga, bahwa jalan lurus selama ini terasa kian melenakan, sehingga melemahkan daya hidup saya. Sedangkan pada jalan berbelok itu, masih misteri, menjanjikan warna-warna baru dan menggelorakan tantangan.</p>
<p>Memang, bukan hal mudah untuk akhirnya saya memilih jalan berbelok itu. Di jalan sekarang ini, di Banjarbaru ini, di tempat kerja saya <em>Radar Banjarmasin</em> ini, semuanya tidaklah terbangun begitu saja. Dan betapa juga begitu banyak hal yang mewarnai perjalanan hidup saya selama ini, selama sembilan tahun lebih sejak <em>Radar Banjarmasin</em> berdiri pada 25 Januari tahun 2000 lalu. Terlebih, saya termasuk orang pertama di koran ini.<span id="more-271"></span></p>
<p>Sejak awal pula, saya berupaya menghadirkan halaman <em>Cakrawala</em> (Sastra dan Budaya) di <em>Radar Banjarmasin</em>. Alhamdulillah, kehadirannya mendapat sambutan yang sangat baik dari kawan-kawan sastrawan di Kalimantan Selatan. Begitu pula sastrawan dari luar tanah Banjar, semisal Raudal Tanjung Banua (Jogjakarta), Sunlie Thomas Alexander (Bangka Belitung), Isbedy Setiawan (Lampung), pun menaruh apresiasi yang tinggi dengan mengirimkan karyanya ke <em>Cakrawala</em>.</p>
<p>Tak sedikit, berawal dari <em>Cakrawala</em> ini pula, banyak sastrawan yang akhirnya membukukan karya-karya (cerpen, puisi, esai atau kritik sastra) mereka. Pun, tunas-tunas baru bersemaian dari <em>Cakrawala</em> ini, dan bahkan ada pula yang telah “mengabadikan” karyanya ke dalam bentuk buku.</p>
<p>Begitu antusias dan bergairahnya kegiatan bersastra di Kalsel, dari semula hanya satu halaman, tak sampai dua tahun halaman <em>Cakrawala</em> ditambah menjadi dua halaman. Ini dimaksudkan untuk bisa menampung karya-karya penulis (termasuk pemula) yang cukup banyak masuk ke meja kerja saya. Meski kemudian, berdasarkan pertimbangan manajemen, sejak 10 Mei 2009, halaman <em>Cakrawala</em> dikembalikan menjadi hanya satu halaman lagi.</p>
<p>Dalam perjalanannya, <em>Cakrawala</em> juga pernah memberi ruang bagi Puisi-Puisi Siswa dan sempat dilengkapi dengan ulasan dari penyair. Termasuk bekerja sama (Unlam, pemerintah daerah, dll) dalam menggelar lomba penulisan, baik cerpen, puisi, ataupun esai tentang sastra (dan selanjutnya karya pemenang diterbitkan di <em>Cakrawala</em>, lantas dibukukan).</p>
<p>Dalam kegiatan rutin <em>Aruh Sastra</em>, halaman <em>Cakrawala</em> juga menjadi mitra kerja untuk setiap informasi kegiatan termasuk publikasi naskah-naskah yang selalu ditunggu para pecinta sastra – semoga <em>Aruh Sastra</em> di Batola yang sedianya akan dihelat pada Desember 2009 nanti masih bisa bekerja sama dengan <em>Cakrawala</em>, meskipun saya sudah tidak lagi mengasuh halaman ini.</p>
<p>Ya, mulai awal Agustus 2009 nanti, saya tidak lagi menjadi pengasuh halaman <em>Cakrawala</em> karena saya sudah tidak di <em>Radar Banjarmasin</em> lagi. Saya hijrah ke Bandung, berkerja di <em>Radar Bandung</em>&#8211; masih satu grup dengan <em>Jawa Pos</em>.</p>
<p>Lantas, siapakah pengasuh halaman <em>Cakrawala</em>? – begitulah pertanyaan sebagian kawan sastrawan yang disampaikan dengan nada cemas.</p>
<p>Beruntunglah, sekitar lima bulan lalu saya bertemu dengan Randu Alamsyah (penulis novel <em>Jazirah Cinta</em>, yang kini menjadi wartawan <em>Radar Banjarmasin</em>). Kepadanyalah halaman Cakrawala saya percayakan. Dan saya yakin, di tangan Randu, halaman <em>Cakrawala </em>nantinya akan tetap menjadi barometer bagi perkembangan sastra di Kalimantan Selatan.</p>
<p>Demikian, jalan berbelok itu sudah begitu dekat. Dan saya telah bersiap menjalaninya. Bila angin tak berubah, maka saya akan meninggalkan tanah Banjar ini tanggal 3 Agustus 2009 nanti menuju Bandung. Meski, saya juga berencana untuk bisa berangkat terlebih dulu ke Bangka Belitung (Babel) untuk mengikuti acara <em>Temu Sastrawan Indonesia (TSI) II</em> yang berlangsung 30 Juli – 2 Agustus 2009 – dan itu artinya keberangkatan saya bisa lebih cepat, yakni tanggal 29 Juli.</p>
<p>Selayaknya sebuah perpisahan, maka izinkahlah saya meminta doa restu dan ampun maaf atas khilaf dan kesalahan yang mungkin pernah saya perbuat, baik sengaja atau tak disengaja. Bukankah manusia tempatnya salah dan lupa?</p>
<p><em>(Akhirnya, tak ada puisi yang dapat saya kutip untuk menutup surat ini – sebab buku-buku sudah terlanjur saya kardusin semua).</em></p>
<p><em>Salam sastra,</em></p>
<p><em>wassalam</em></p>
<p><em>: catatan ini diterbitkan di Cakrawala Radar Banjarmasin, Minggu 26 Juli 2009</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sfirly.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sfirly.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sfirly.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sfirly.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sfirly.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sfirly.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sfirly.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sfirly.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sfirly.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sfirly.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sfirly.wordpress.com&blog=1500084&post=271&subd=sfirly&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sfirly.wordpress.com/2009/07/25/surat-dari-cakrawala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c110c9d5a6f3f8ec1fbaa5f16c66090?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">sfirly</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>