Sajak Sederhana tentang Cinta

Juli 18, 2009

 

: begitulah kita saling mencintai
meski tak pernah mengerti
berapa jarak rindu dan sunyi


Sastrawan Rifani Djamhari Wafat

Juni 19, 2009

Sastrawan Rifani Djamhari Wafat
Lelaki Sederhana Itu Telah Pergi

Di ujung deadline kerja saya pukul 01.30 (Sabtu dinihari, 20/6/2009), HP saya berbunyi mengabarkan sebuah sms masuk (setiap sms ataupun telepon di saat jam begini, selalu mengundang rasa was-was akan kabar tidak menyenangkan). SMS itu dari Abdurrahman El Husaini, penyair asal Martapura. Dan benar, isinya adalah yang saya takutkan sejak beberapa hari ini:

Berita duka, innalillahi wa innailaihirojiun,
telah berpulang kawan kita Rifani Djamhari
(hari Sabtu pukul 01 lebih) di rumah duka
Gatot Subroto Gang Kuini 5, (Banjarmasin).
tolong kabari yang lain.

: dalam kurung itu tambahan dari Abdussyukur, aktor teater Banjarmasin, yang SMS-nya menyusul masuk ke HP saya kemudian.

Saya termangu membaca kabar duka itu. Terselip rasa penyesalan di hati saya, karena tidak sempat menjenguk beliau ketika masih dirawat di RS Ulin sejak Selasa (16/6). Padahal, pagi-pagi sekali hari itu saya diberi kabar. Namun, karena hari itu saya harus berangkat ke Sampit, saya tidak sempat menjenguk beliau. Begitu pula ketika pulangnya, Kamis (18/6).

Ketika saya, Hajri, Harie, dan Raudal kumpul di rumah saya di Landasan Ulin, Banjarbaru, sore Jumat (19/6) menjelang kepulangan Raudal ke Jogja sore itu, saya dan Harie berencana hari Minggu (21/6) akan menjenguk sama-sama ke Banjarmasin. Sore itu pula, saya sempat menelpon istri almarhum, menanyakan kabar beliau, serta mohon maaf tak sempat menjenguk. Istri beliau juga menceritakan tentang mula pembekuan darah di kepala setelah jatuh di wc rumah, yang lantas dioperasi. Saya pun lalu meminta izin untuk mengumuman penggalangan dana yang rencananya akan saya terbitkan di hari Minggu halaman sastra cakrawala.

(Alm) Rifani Djamhari yang saya kenal adalah lelaki sederhana lembut, tenang, dan ramah. Seperti puisi-puisi beliau, yang juga meski terasa sederhana, lembut, namun mampu menghadirkan imaji yang dalam. Terakhir saya berjumpa beliau, di rumah beliau di Banjarbaru usai salat magrib sekitar dua minggu yang lalu.

Itu pula yang dikatakan Raudal Tanjung Banua (yang telah tiba di Jogja), ketika membalas SMS duka dari saya di ujung deadline itu.

: Innalillahi wa innailaihirojiun,
ikut berduka cita dengan rasa kehilangan
yang sedalam-dalamnya. Beliau sahabat yang baik,
tenang, pendiam, tapi penuh perhatian.
Dilapangkan jalan ke haribaan-Nya,
dan diikhlaskan hati semua keluarga. Amin.

Di saat menuliskan ini setelah deadline berakhir, saya berjanji besok siang (Sabtu, 20/6) saya akan ke rumah duka…

——

Puisi Sederhana untuk Lelaki Sederhana

berbaju putih dengan sekembang senyum
kita nikmati teh buatan istrimu usai magrib itu
manis, manis
itukah isyarat sebelum maut mengecupmu?


Cermin #5

Mei 24, 2009

Nenek dan Daun Gugur

… Sahibul hikayat, ada seorang nenek yang kerjanya setiap menjelang magrib memunguti daun-daun sawo yang gugur di halaman musala dekat rumahnya. Bertahun-tahun sudah ia melakukannya. Sampai kemudian, seorang pemuda alim menjadi tetangganya. Demi melihat seorang nenek memungut daun-daun menjelang magrib, pemuda alim merasa tak tega dan membersihkan daun-daun itu sebelum sang nenek tiba. Namun alangkah sedihnya sang nenek ketika mendapati halaman musala telah bersih. Ia pun bertanya kepada jamaah musala, “Siapa yang membersihkan daun-daun ini? Tidak tahukah kalian, bahwa setiap helai daun yang saya pungut adalah amal pahala untuk bekal saya kelak? Biarkanlah, biarkanlah saya mendapatkan pahala dari daun gugur itu di ujung usia ini…” Air matanya pun melincir sehening senja menjelang magrib itu.[]

Segelas Air Putih

Aku tertegun menatap ujung jalan depan rumah, berharap melihat punggung sang musafir.

Enam menit sebelumnya.
“Berilah saya segelas air putih,” pintanya.
Saya tertegun di depan pintu. Pastilah dia seorang musafir, bila bukan malaikat yang menyamar menjadi manusia seperti prasangka saya kepada setiap peminta yang datang. Tapi lelaki setengah baya berpakaian kumal ini berbeda, ia hanya meminta segelas air putih.
“Tunggu sebentar,” saya bergegas ke dalam mengambil air. Istri saya dan si kecil kebetulan tak ada di rumah, sejak kemarin mereka menginap di tempat nenek si kecil, dan hari ini rencananya pulang.
Setelah meminum habis segelas besar air putih, musafir itu berucap, “Terima kasih. Bila setiap sedekah yang diberikan tanpa membicarakannya kepada orang lain dan membangga-banggakannya, ia akan dijauhkan dari kesedihan.”
Tit… tit…, bunyi SMS di sakuku mengagetkan. Entah bagaimana, tiba-tiba sang musafir pun menghilang dari hadapan. Tak sempat memikirkan bagaimana ia bisa lesap begitu cepat, aku membuka SMS yang ternyata dari istriku: Bang, tadi nyaris saja angkot kami tabrakan. Alhamdulillah, tak apa-apa. Sebentar lagi kami sampai. Love u.[]

Hujan dan Kodok

Suatu malam, hujan bertanya kepada kodok, “Mengapa kau selalu memanggilku dengan suaramu yang jelek itu?”
“Tidak tahukah kau bila suaraku adalah tasbih? Seperti halnya juga kamu hujan, yang kadang dibenci, padahal adalah rahmat?”
“Lantas, siapakah sebenarnya yang tidak pernah mengerti?”
Hujan dan kodok tertawa.
Sepanjang malam mereka berdialog, begitu akrab, begitu kerap, hingga menjelang subuh.[]


Surat Terbuka untuk Sastrawan Kalsel

Mei 10, 2009

Kepada semuanya…

Postingan “Untuk Sastrawan Kalsel” (di bawah) mungkin membingungkan bagi sebagian kawan-kawan. Tapi bila Anda pembaca setia Cakrawala (sastra dan budaya) Radar Banjarmasin pada hari Minggu, maka Anda akan mengerti.

Pada hari Minggu ini (10 Mei 2009), cukup banyak kawan sastrawan berkirim SMS mempertanyakan: “Mengapa? Mengapa?”. Setiap mendapat pertanyaan itu, saya hanya termangu (dalam waktu cukup lama) menatap layar hp– bagaimanakah saya harus menjawabnya? Bagaimanakah saya harus menjelaskannya? Maka, maafkanlah bila akhirnya SMS kawan-kawan itu tidak bisa saya jawab. Saya merasa terharu, terharu…

Sungguh, saya sedang berduka, saya seperti telah kehilangan “anak kandung”  yang dengan segala daya saya tumbuhkan dan saya didik selama hampir 9 tahun. Upaya keras saya untuk menyelamatkannya juga sia-sia, meski saya telah berusaha menjadi seseorang yang keras kepala… Karenanya, maafkanlah saya…

Saya bukan sedang sentimentil, kawan, tapi ini benar sebuah kehilangan. Sungguh…

Salam


Untuk Sastrawan Kalsel

Mei 9, 2009

cakrawala

“….Maafkan aku, kawan-kawan…”

(Hari Berkabung Cakrawala, 10 mei 2009)