Novel Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu

27-Dyan ReyzandiNovel “Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu” ini bercerita tentang seorang pemuda yang tak pernah menatap mata dan mendengarkan suara ayahnya. Dalam pencarian itu, ia justru menemui musuh-musuh ayahnya. Sedangkan ibunya, hanya memberikan sedikit gambaran tentang sang ayah. Juga sebuah buku bersampul hitam; yang menyimpan catatan tentang cinta sang ayah kepada ibunya– dan dari situ ia juga belajar bagaimana memutuskan pilihan terhadap dua perempuan yang sama-sama ia cintai. (#Novel Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu, Sandi Firly)

Novel Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu

47-Novel catatan ayahAda kenyataan yang tak bisa kau bantah.
Seperti aku yang tak bisa menyangkal darah balian di nadiku.
Juga tak bisa membantah kenyataan bahwa tak sedikit pun aku mengenal rupa ayahku.

Ada cinta yang datang tanpa harus kau pahami.
Seperti dalam kisah yang diam-diam kutemukan dalam catatan Ayah.
Catatan tentang cinta yang ternyata masih menyala.

Sekaligus tentang cinta yang masih meninggalkan banyak luka.

Catatan yang juga mengingatkanku akan cinta yang perlu dituntaskan.
Cintaku, apakah kepada gadis masa kecilku yang kembali;
ataukah kepada perempuan bermata teduh yang setia menanti.

Akankah cinta mampu membawaku pulang,
pada darah balian yang tak akan pernah bisa kumungkiri?

Dalam catatan Ayah tentang cintanya kepada Ibu,
jawabannya kutemukan.

Hanya Sebutir Debu

Hanya Sebutir DebuJudul:   Hanya Sebutir Debu
No. ISBN:  9786020237626
Penulis:  Sandi Firly
Penerbit:  Quanta, PT Elex Media Komputindo –  Gramedia
Tanggal terbit:  April – 2014
Jumlah Halaman:  192

Novel ini memotret persoalan lingkungan dari dekat. Efek eksploitasi pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan dilihat pengarang dari perspektif peralihan moda transportasi. Dari situ kita tahu, bahwa pasca habisnya hutan Kalimantan, batu bara muncul sebagai andalan. Perubahan penuh sengkarut pun mencuat tajam.

Ratusan truk berderak setiap hari, bagai raksasa lapar di jalanan kota Rantau dan sepanjang jalan yang dilaluinya, menerbangkan debu ke rumah-rumah yang terbuka serta mendatangkan goncangan yang menakutkan bagi jiwa dan kehidupan para tokoh di dalam cerita ini. Mereka tidak hanya bergelut dengan kajian kitab-kitab, juga mesti bersikap atas lingkungan duniawinya yang terancam. Dan itu sungguh tidak mudah. Penuh pertentangan dan pergulatan. Demi harga diri dan nilai percintaan.

Maka, debu dan goncangan truk-truk di jalanan itu sesungguhnya analog dengan, sekaligus menjadi latar, dari debu dan goncangan jiwa tokoh-tokohnya, yang dalam beberapa bagian terasa lebih dahsyat. Sudut pandang pengarang yang unik, saya kira menyumbang besar pada dimensi latar semacam ini.

 

Raudal Tanjung Banua (Sastrawan dan Ketua Redaksi Jurnal Cerpen Indonesia)

: Catatan ini diberikan Raudal pada cetakan indie novel Hanya Sebutir Debu yang sebelumnya berjudul Rumah Debu tahun 2010.

Pelajaran Tentang Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

Tahun 2020, di sebuah Sekolah Dasar di salah satu sudut Indonesia.
Seorang Ibu Guru Bahasa dan Sastra Indonesia bertanya kepada muridnya di Kelas IIIA. “Anak-anak, ada yang bisa menyebutkan salah satu tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh?”
”Denny JA!”
Suara lantang itu terdengar dari murid di bangku paling belakang.
”Husss.., jangan ngawur kamu,” sela Ibu Guru. ”Siapa yang mengatakan itu? Dari mana kamu dapatkan?”
”Dari sini, Bu.” Murid yang rambutnya disemir warna putih (trend saat itu) memperlihatkan sebuah buku berjudul: 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.
”Buku itu tidak benar,” kata Ibu Guru cemas terhadap muridnya. Dia teringat waktu enam tahun lalu ketika buku itu ramai diperbincangkan.
”Buku ini disusun orang-orang hebat, Jamal D. Rahman dkk. Jadi tidak mungkin salah, Bu,” sahut murid itu pasti.
Ibu Guru pun termenung.[]