Taman yang Hilang

1taman.jpg

oleh: sandi firly

Barangkali kota memang terlalu sombong untuk hamparan rumput dan pohon-pohon rindang

Bila ada kata “hilang”, berarti sebelumnya “pernah ada”. Jadi pertanyaannya: pernahkah kita ingat atau berpikir bahwa di Banjarmasin ada tempat yang disebut taman? Bila pengetahuan dan ingatan saya tidak salah, di Banjarmasin hanya ada dua tempat yang disebut taman, Taman Sabilal Muhtadin dan Taman Warik yang sekarang sudah dipindah.

Taman yang berada di lingkungan Masjid Sabilal Muhtadin bukanlah taman dalam konsep sebuah tata kota yang berarti ruang publik (public space), melainkan sebuah taman yang merupakan bagian dari masjid besar itu sendiri. Jadi, Taman Sabilal Muhtadin bukanlah bener-bener diperuntukkan untuk public space. Sebab itu juga, kita jarang melihat orang-orang beristirahat atau berekreasi di taman itu; baca koran, nyantai, anak-anak berlari-larian mengejar bola, dsbnya. Pokoknya, yang pasti taman di lingkungan Masjid Sabilal bukanlah tempat tujuan masyarakat umum untuk berekreasi. Lha bagaimana tidak;  bayangkan misalnya ketika di taman orang-orang pada santai bercanda, sementara dari corong masjid panggilan adzan berkumandang.

Taman Warik di Jl AS Musyaffa pun kalau kita lihat secara seksama adalah merupakan bagian dari Taman Sabilal Muhatadin. Taman ini sempat menjadi tujuan warga Banjarmasin, terutama mereka yang berada di pojok-pojok atau pinggiran. Inilah sebuah taman kota yang sempat menjadi primadona. Hampir tiap Minggu sore taman ini ramai dipenuhi pengunjung yang ingin bersantai bersama keluarga. Meski tidak terlalu besar, taman ini setidaknya sudah memberi ruang kepada publik. Namun entah berdasarkan kepentingan apa, taman ini akhirnya berubah fungsi. Lalu sepi.

Barangkali inilah penyakit sebuah kota yang bergerak menuju maju – yang sebenarnya kemajuan itu juga bisa menjadi absurd. Di saat berbagai kota di negara seluruh dunia trennya membangun kota taman, di sini malah membangun ruko-ruko dan mal. Padahal, ruang publik yang ideal untuk negara tropis adalah taman kota.

Shenzhen, sebuah kota di provinsi Guangdong, yang merupakan pintu keluar-masuk warga RRC ke Hongkong, tak saja membangun taman-taman tapi juga penghijauan yang uniknya berupa pohon-pohon mangga. Menariknya lagi, di saat musim panen, warga dilarang memetik mangga-mangga tersebut. “Bila sampai ketahuan, akan dikenai denda cukup besar, yakni 100 yuan (sekitar Rp100 ribu) per biji,” ujar Awen, warga Shenzhen, kepada saya yang pada suatu ketika sempat terdampar di sana. Di Banjarmasin, yang banyak kita saksikan justru “pohon-pohon” billboard.
Begitulah semestinya, sebuah kota tak hanya dibangun atas jalan-jalan, mal-mal dan gedung-gedung. Itu adalah simbol-simbol keangkuhan, dan setiap simbol keangkuhan berpotensi mengundang penghancuran (ingat World Trade Centre atawa Pusat Perdagangan Dunia yang pada 11 September tadi diperingati empat tahun keruntuhannya). Mestinya sebuah kota (juga) harus dibangun lebih manusiawi. Kota bukan belantara beton, susunan bata-bata dan kawat baja. Harusnya ada sebuah taman besar tempat tawa dilepaskan, canda dideraikan, dan kaki-kaki yang menjadi sejuk menginjak rerumputan setelah terkurung dalam sepatu dan terpanggang panas matahari bercampur debu.

Sudah saatnya rutinitas upacara kehidupan kota kita beri ruang untuk istirahat. Dan itu salah satu pilihannya adalah taman, bukan play station di rumah-rumah yang mengajarkan kekerasan dan membuat anak-anak menjadi malas.

Tapi barangkali kota memang terlalu sombong untuk hamparan rumput dan pohon-pohon rindang. Maunya semua dimakan dan kemudian ditanamlah tiang-tiang angkuh, tembok-tembok dan kemudian menjadi berhala, seperti juga berhala kecil telepon selular kita yang di dalamnya terekam segala macam rahasia yang paling busuk sekalipun.

Gedung, taman, mestinya bisa tumbuh bersama, saling memberi ruang. Tapi taman memang bukanlah mesin uang yang bisa memberi keuntungan materi, taman hanya sebuah ruang absurd bagi kehidupan. Udara segar di taman tak bisa dipegang, begitu juga suasananya yang sejuk bukan sesuatu yang perlu dipikirkan. Sebab itulah mengapa air conditioner ada, pengganti kesejukan yang sengaja diciptakan oleh pasar kapitalis.
Memang begitukah sebuah kota dibangun, tanpa makna? Jadilah kita robot-robot yang hanya tunduk kepada simbol-simbol dan angka-angka, bukan lagi kepada jiwa. Apa jadinya?

Yeah, dan Banjarmasin adalah juga sebuah kota yang entah menuju kemana. Yang kita tahu, tahu-tahu berdiri puluhan ruko, tahu-tahu berdiri mal, tahu-tahu berdiri tiang-tiang billboard menjual iklan dan imajinasi, tahu-tahu banjir lagi. Sementara taman, mungkin hanya perlu kita hamparkan di hati kita masing-masing saja, tempat di mana taman takkan pernah hilang.

(sfirly@yahoo.com)

Iklan

3 pemikiran pada “Taman yang Hilang

  1. sebuah kota seharusnya mempunyai minimal 30 % lahan hijau.banjarmasin msh blm mencapai 30 %.tp jika lahan kamboja jd dibikin alun2, maka banjarmasin akan seperti kota2 besar lain yg punya alun2.namun katanya juga lahan kamboja lg punya masalah, ada pengusaha yg ingin buat mal modern disitu.

    mampir jg di kalimantanku.blogpot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s