Mobil dan Simbol

 


Hidup memang penuh dengan
mitos dan simbol-simbol,
bahkan sejak manusia terlahir

URANG Banjar itu kaya-kaya en trendy, lho… Tak percaya? Anda mungkin pernah melihat mobil-mobil mewah melintas di jalanan. Mulai dari BMW, Hammer sampai Rolls-Royce Phantom yang harganya di atas Rp5 miliar, cek.. cek… Terkadang kita juga melihat mobil-mobil jenis sport, baik yang benar-benar sport maupun yang di-sport-sportkan. Tentu saja tidak banyak, namun itu sudah cukuplah membuktikan bahwa urang di banua juga ada yang lebih dari sekadar kaya.

Hanya saja kasihan, mau dikebutkan di mana mobil-mobil jenis itu? Kita tahu, jalanan di banua ini tidak cocok untuk ban mobil mahal seperti itu. Jalanan di Banjarmasin macetnya sumpah mati sudah termasuk gawat, sedangkan jalan provinsi ke hulu sungai masih banyak yang putus aspalnya, ditambah lagi debu batubara. Haha! dikira jalan di banua kayak di Sentul atau ajang balap F1.

Namun saya yakin, mereka yang memiliki mobil-mobil mewah itu sadar sesadar-sadarnya kalau jalanan di banua memang tidak cocok bagi mobil mewah mereka. Itu pastilah sudah dihitung. Hanya satu jawaban yang rasanya paling tepat untuk memiliki mobil-mobil mewah itu; demi kelas sosial. Kalau bukan kebingungan mau dikemanakan lagi duit-duit mereka.

Kelas sosial itu penting, man..!. Itu menentukan kedudukan Anda di masyarakat. Di jaman seperti sekarang, konstruksi citra tidak hanya dibangun dengan kecerdasan atau kepandaian dalam bidang ilmu pengetahuan, atau kecemerlangan budi pekerti, tapi juga bisa dengan uang. Paman Gober dalam cerita Donal Bebek en Trio Kwek-Kwek, meski kaya raya namun harta dan uangnya hanya ditimbun di dalam gudang, sehingga ia dicap pelit oleh para keponakannya. Nah, saya kira mereka yang sudah susah payah bekerja mengumpulkan uang pantas membelanjakannya sesuai dengan takaran harta yang didapat. Jadi, wajar saja mereka yang tak sekadar kaya itu membeli mobil-mobil mewah, setidaknya mereka juga menghargai dirinya sendiri yang telah bersusah payah mengumpulkan uang hingga bejibun.

Soal dijalankan kemana mobil-mobil itu, yeah barangkali itu tidak terlalu penting. Cukup round-round sekali seminggu di pusat kota, sudah puaslah. Sudah betul, tak perlu buka kaca jendela mobil untuk menampakkan batang hidung bahwa; “aku lho yang punya”. Itu mengesankan terlalu sombong. Tidak baik. Apalagi masih banyak warga yang makan sehari saja susah, belum lagi cuaca di banua kita yang panasnya kadang minta ampun dan berdebu, mending tetap adem di dalam kemewahan mobil. Biar saja orang-orang bertanya, “mobil siapa itu ya?” Dengan begitu, si pemilik mobil terkesan tidak pamer. Yakin sajalah, nama Anda sebagai pemilik mobil mewah bakal ketebak, setidaknya tidak jauh-jauh dari nama Anda-lah. Sebab yang lebih dari sekadar kaya di banua tidak terlalu banyak.

Fotografer di tempat saya bekerja pernah berfoto bergaya di samping mobil Rolls-Royce Phantom milik seorang pengusaha lebih dari sekadar kaya yang kebetulan sedang parkir entah di mana, saya lupa menanyakan, tapi mungkin lagi parkir di halaman hotel atau pendopo gubernuran karena rasa-rasanya hanya di tempat-tempat seperti itulah mobil super mewah tersebut layak diparkir. Nah, untuk apakah dia berfoto di samping mobil itu? Pastilah karena mobil itu langka di banua lantaran harganya yang selangit. Meski memang, dengan berfoto bersama mobil mewah tidak serta merta menaikkan status sosial kita. Tapi justru semakin mengukuhkan simbol sosial si pemiliknya.

Mobil memang salah satu lambang kekayaan. Barangkali begini logikanya; Orang kaya sudah pasti punya mobil, namun punya mobil belum tentu kaya. Siapa saja boleh mengaku kaya, tapi kalau tidak punya mobil, mana orang percaya? Sementara punya mobil pun harus lihat-lihat dulu mobilnya; apakah mobil taksi, mobil angkutan barang, atau malah mobil-mobilan.

Bagi mereka yang menjadi orang kaya baru (OKB—sebenarnya istilah lama), juga perlu mengganti atau memiliki hobi baru yang sesuai dengan kelas sosial yang disandangnya. Seorang kawan yang kebetulan punya jabatan bagus dan sekarang juga punya mobil, belakangan juga punya hobi baru yang sesuai dengan statusnya. Kalau dulu dia suka menenteng “raket kecil” tenis meja, sekarang dia lebih sering menenteng raket yang lebih besar, raket tenis. O’ iya! itu harus, dan sahih. Malah akan jadi lucu kalau dengan status sosial yang meningkat, tidak diimbangi dengan peningkatan hobi pula. Dan kalau boleh saya sarankan, mulailah juga menjajal hobi baru bermain golf. Itu penting. Dengan begitu Anda akan bertemu dengan sosial kelas Anda.

Hidup ini memang penuh dengan mitos dan simbol-simbol. Mulai sejak lahir, manusia sudah diberi tanda-tanda dan simbol-simbol. Anda lahir di bulan Oktober, maka Anda berbintang Libra, dan simbolnya adalah Neraca, lalu kecenderungan sifat Anda adalah bimbang dan pendiam. Begitulah, karena manusia termasuk Homo Simbolicus. Lalu kita pun akhirnya memilih simbol-simbol sendiri bagi identitas kita. Dan setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri-sendiri, dan itu sahih. Termasuk soal mobil yang telah menjadi simbol bagi Anda.

Bila saya ber-Anda-Anda di dalam tulisan ini, itu belum tentu saya bicara tentang Anda, sebab kenal Anda saja mungkin tidak. (sandi@radarbanjarmasin.com)

Iklan

Satu pemikiran pada “Mobil dan Simbol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s