Aruh Sastra

(Ini sebuah catatan ala kadarnya menyambut Aruh Sastra IV di Amuntai)

AKHIRNYA kabar itu datang juga. Setelah banyak pihak yang mengkhawatirkan Aruh Sastra IV di Amuntai tidak terlaksana sebagaimana mestinya — mengingat tahun 2007 ini akan segera tutup almanak –, menjelang akhir-akhir tahun jadwal dan undangan acara Aruh Sastra itu saya terima juga. Dilaksanakan 14-16 Desember 2007. Ya, alhamdulillah..
Setelah Kongres Cerpen Indonesia (KCI) V dan Kongres Budaya yang baru saja lewat, kini para sastrawan dan seniman kembali akan kumpul-kumpul lagi. Bicara lagi, diskusi lagi. Meski setelah itu semua usai, masing-masing kita mungkin masih terpancang pada waktu dan kekinian kita yang tak pernah beranjak pada sesuatu yang baru. Baik dalam kekaryaan, tradisi sastra, ataupun sikap kita sendiri dalam memandang kehidupan bersastra di Kalsel.
Barangkali kita masih memandang suatu momen sastra hanyalah bentuk-bentuk seremonial yang cukup dimaknai tidak lebih dari sekadar pertemuan-pertemuan. Selebihnya hanyalah perayaan-perayaan, sebuah keriangan, tanpa adanya kemungkinan-kemungkinan untuk menggali dan menciptakan suatu kondisi yang lebih kondusif bagi peningkatan kualitas kekaryaan dan keberlangsungan hidup sastra dan sastrawannya sendiri.
Pasang surut semarak bersastra memang memiliki waktu dan nostalgianya sendiri. Patah tumbuh, redup dan bersinarnya adalah milik mereka pada zamannya. Tapi kita yang masih di sini, bersama-sama pada waktu dan momen yang sama, semestinya memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memberikan daya bagi kehidupannya.
Benar, bahwa sastra sangat identik dengan kerja individual. Karya sastra yang lahir sebagian besar adalah hasil pergulatan hidup yang intens dan pengalaman para pengarangnya. Tapi sastra juga tak lepas dari pembaca dan pembacaan. Di sana ada banyak kemungkinan yang menjadikannya lebih bermakna dan memiliki sinar kualitasnya sendiri. Tanpa ada yang membaca sebuah karya, maka selamanya karya itu akan bisu, seperti sebuah jejak yang tertinggal dan tak terbaca, lalu terhapus. Terkecuali kelak seseorang menemukannya setelah pengarangnya tak lagi terikat oleh waktu, terkubur bersama jasadnya dan hanya meninggalkan namanya yang bila memang masih menyebarkan sebuah keniscayaan akan keagungan buah pena dan pikirnya.
Inilah, mengapa sastra memerlukan sebuah penanda. Sejak berabad-abad lalu manusia telah memiliki akal untuk mengekalkan ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu pada apa saja yang memungkinkannya untuk terus terbaca, tidak saja pada zamannya tapi beratus-ratus tahun kemudian; pada daun lontar, pada kulit kayu, pada kulit binatang, pada dinding-dinding gua, dan pada batu-batu – yang pada kita kini diterima pada lembaran-lembaran kertas, buku, dengan tulisan bagus dan pada tabung-tabung komputer-internet yang kedahsyatan pencarian informasinya tengah mencapai puncak-puncaknya. Ini bukti bahwa media penting bagi keabadian dan keterbacaan sebuah karya sastra. Sebab kelisanan tidak akan pernah bisa terbaca, dan ingatan tidak memiliki suatu kepastian untuk tidak pikun. Maka benar kata sebuah pameo, bahwa kata-kata yang terucap di bibir akan hilang terbawa angin, hanya kata yang tercatat yang akan tetap abadi.
Kelisanan — seperti juga budaya Banjar yang banyak berpijak pada lisan– tidak cukup memiliki usia panjang, bila tidak dalam perjalanan waktunya akan mengalami distorsi atau malah kehancuran. Seperti lamut. Saya merasa terenyuh ketika penyair Micky Hidayat menyebutkan bahwa kakek yang balamut pada malam pembukaan KCI V di Banjarmasin, adalah satu-satunya pelamut yang tersisa yang masih hidup.
Jadilah malam itu saya membayangkan tengah menyaksikan untuk terakhir kalinya seorang pelamut tampil sendirian di atas panggung sambil menabuh tarbang. Suara tuanya yang serak dan tak terlalu jelas – bukankah ketika manusia menuju tua sebenarnya dalam paradoksnya ia juga tengah menuju menjadi bayi, lalu kepada tiada tempat asal mulanya? — seperti hendak menegaskan bahwa hikayat yang diceritakan adalah petuah-petuah penghabisan.
Entah, apakah pada lain waktu saya masih bisa menyaksikan kesenian tradisional sastra lisan Banjar itu dimainkan. Meski saya tak terlalu berharap akan menemui kembali kakek pelamut yang malam itu bagi saya tampak seperti seorang maestro. Tapi setidaknya kita masih bisa berharap ada yang terpanggil jiwanya untuk “menyalin” ilmu lamut, agar kelak kita tidak pernah mendengar sebuah riwayat tentang “lamut terakhir” di tanah Banjar.

ARUH Sastra IV di Amuntai telah dikabarkan. Ada banyak “ritus” di dalamnya yang bisa kita masuki dan selami demi meningkatkan “kekhidmatan” tradisi bersastra kita. Semoga nantinya ini bukan sebuah pesta yang setelah selesai santap malam lalu pulang, lantas tertidur kekenyangan. Begitu terbangun, telah lupa apa yang dibicarakan, dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Semoga saya juga tidak tengah mengigau saat ini! (sandi@radarbanjarmasin.com)

Iklan

Satu pemikiran pada “Aruh Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s