Tahun Baru

Saya pernah membayangkan,

bagaimana seandainya pada malam tahun baru

malaikat Israfil tergoda meniup terompet sangkakala? 

Tahun berganti. Kita pun segera membiasakan untuk mencatatkan angka tahun 2008; di buku-buku kerja, di surat-surat, di kwitansi, dan juga barangkali di salah satu sudut lembaran pertama buku novel yang baru dibeli. Awal-awal mungkin kita masih terlupa mencatat angka tahun baru itu – karena serasa masih di tahun 2007, dan betapa itu akan menyadarkan kita bahwa tahun telah berganti, dan waktu terasa begitu cepatnya berlari.

Almanak di rumah, di kantor, juga akan segera berganti dengan yang baru, tahun 2008. Hanya jam dinding yang tidak berganti. Tetap jam yang itu-itu juga dari tahun ke tahun – kecuali baterainya yang sering diganti karena mati.

Seperti biasa, perpindahan tahun akan selalu disambut dengan gegap-gempita. Pesta-pesta dan arakan-arakan. Dari pesta jalanan hingga ruang-ruang rahasia. Kembang-kembang api selalu saja memiliki pesona yang tidak pernah bosan untuk dinikmati saat memancar di langit yang hitam di malam tahun baru. Dentaman petasan dari yang terkecil hingga yang mampu membuat jantung berdebar dan telinga berdengung seperti hendak mengguncang dunia agar tetap terjaga meski malam telah larut. Juga terompet-terompet yang tak henti ditiup seolah-olah dengan meniup terompet itu maka kita berhak atas malam pergantian tahun itu, berhak ikut gembira, berhak menjadi bagian dari orang-orang yang secara bersama-sama larut dalam euforia itu.

Namun saya pernah membayangkan, bagaimana seandainya pada malam tahun baru itu malaikat Israfil tergoda meniup sangkakala? Begitu banyaknya terompet yang ditiup pada malam tahun baru sehingga seolah-olah dunialah yang sedang berteriak, tidakkah itu akan mengundang kejengkelan dan kecemburuan Israfil? Barangkali merasa diejek oleh kesombongan manusia-manusia yang seakan dengan meniup terompet itu dia merasa telah memiliki dunia ini.

Sedangkan kita telah membaca, malaikat Israfil senantiasa meletakkan terompet sangkakala di mulutnya. Terompet itu di mulutnya sejak alam raya ini diciptakan. Nah, tidakkah itu berarti sangkakala senantiasa siap ditiupkan? Bayangkan pula, sebagai malaikat yang mendapat tugas satu-satunya sebagai peniup sangkakala, tidakkah Israfil ingin segera melaksanakan tugas itu agar tunai? Meniup terompet berupa tanduk raksaksa yang terdiri dari cahaya. Bercabang empat; ke barat, ke timur, ke bawah bumi, dan ke langit ketujuh. Besar tiap lingkaran dalam tanduk itu selebar langit dan bumi. Terompet itu akan ditiup sebanyak tiga kali. Tiupan pertama membuat makhluk takut, tiupan kedua makhluk mati, tiupan ketiga membangkitkan makhluk dari kubur.

Untunglah malaikat tidak punya selera humor, misalnya Israfil merasa tergoda untuk meniup terompet itu sebelum ada perintah dari Tuhannya. Tidak juga akan iseng dua malaikat yang menemaninya, malaikat Jibril di sebelah kiri dan malaikat Mikail sebelah kanannya, misalnya dengan merebut terompet itu dari mulut Israfil. Namun, Israfil disebutkan selalu memasang telinga untuk mendengarkan perintah untuk meniup sangkakala itu!

Tapi dunia memang penuh senda gurau. Maka perenungan malam tahun baru adalah perenungan yang berdebam, lebam, bukan perenungan yang diam. Pergantian tahun disambut seperti sebuah ujian yang berhasil dilewati, dan kemudian menyosong tahun baru dengan gairah yang terlalu berlebihan pada malam hari awal tahun itu. Meski ketika keesokan harinya, di siang hari pertama tahun baru, kita terbangun dengan perasaan nelangsa menatap matahari siang yang telah meninggi karena baru tidur pagi hari. Dan itu adalah matahari yang itu-itu juga, meski tahun telah berganti. Lalu apakah bedanya tahun baru, selain hanya almanak-almanak yang berganti dan usia kita yang dikurangi?

Barangkali di siang hari pertama itu juga akan ada perasaan getir. Usia hidup terpotong, kita terus menua, jauh meninggalkan masa kanak-kanak atau usia muda sepuluh atau duapuluh tahun lalu. Tapi juga barangkali tetap akan ada perasaan gembira, karena berada di antara keluarga; istri dan anak-anak tercinta. Menghitung-hitung hidup, baik dan buruk selama tahun 2007 yang telah lewat. Lalu menatap hari-hari tahun 2008 dengan perasaan riang, dan syukur.***

Iklan

5 pemikiran pada “Tahun Baru

  1. …justru karena malaikat tak mungkin tergoda itulah, maka ane membayangkan bagaimana bila tergoda…?

    Selamat Tahun Baru 2008, sukses…

  2. Bagaimana kalo Anda juga menulis tentang ‘sepi’nya tahun baru milik kita bersama “Tahun Baru Hijriyah”.
    Mungkin kita akan lebih ikhlas jika malaikat meniup terompet sangkakalanya di aswal Muharram seperti ini. Ok. Selamat Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1429H”. Tetaplah menulis!

    Tabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s