Sebuah Novel yang Tak Selesai…

AKU membayangkan diriku sebagai lelaki yang duduk di sebuah café, sendiri, di samping dinding kaca di sebuah pinggir jalan kota. Sembari membaca novel ditemani secangkir kopi dan rokok, sesekali aku memandang ke arah jalan melihat orang lalu lalang. Saat itu senja, dan aku tak sempat menghabiskan novel yang aku baca ketika malam sesaat lagi tiba. Pelan-pelan aku menyimpan novel ke dalam tas ransel, dan memasukkan bungkus rokok ke dalam saku jaket setelah menyalakan sebatang rokok lagi.

 

Aku beranjak dari tempat duduk, menuju pintu café. Di luar langit berwarna kuning keemasan disepuh merah. Angin terasa begitu dingin menampar. Sesaat aku menatap senja yang kian menghilang itu sambil menarik nafas dalam-dalam. Setelah melakukan satu kali hisapan rokok seperti angin senja yang dingin, dan memandang arah jalan kiri kanan, aku akhirnya memutuskan melangkah ke depan menyeberang jalan. Meski aku juga tak tahu kemana tujuanku. Sebab aku tak punya peta.

 

Aku hanyalah seorang pejalan yang terdampar di sebuah kota yang belum pernah kukunjungi. Sendiri. Dan angin senja mengibarkan rambutku yang tergerai masai. Untuk menahan dingin, aku rapat dan ketatkan kedua tanganku ke dalam saku jaket lusuhku. Melangkah pelan-pelan memandang jalan yang lengang. Entah, kemanakah langkahku berhenti. Namun aku tahu, aku akan mencari sebuah masjid atau musola. Aku menajamkan pendengaranku, berharap mendengar suara azan di langit kota yang dihuni orang-orang berkulit putih ini. Sayup, suara azan itu kudengar juga. Jauh. Jauh sekali kiranya. Mungkin datang dari atas bukit sana, entah berapa kilometer dari tempatku berjalan. Selebihnya hanyalah suara-suara motor yang berseliweran. Meski tak begitu ramai, tapi di senja itu suaranya terasa begitu jelas dengan lampu-lampu yang mulai bernyalaan di sepanjang jalan. Aku terus melangkah seperti membiarkan kakiku berkehendak kemana ia membawa tubuhku yang terasa semakin ringan, sementara tas ranselku rasanya dari waktu ke waktu semakin berat saja.

 

Barangkali sudah lima tahun aku telah menempuh perjalanan, sendiri menjelajahi kota-kota yang tak kukenal. Kukira nama kota-kota itu tak semuanya terdapat di dalam peta. Dan seingatku, aku juga tak pernah membaca nama kota itu terdapat dalam pelajaran di sekolah dasar itu…..

 

…………

  

KALI ketika, aku juga membayangkan diriku sebagai lelaki yang tengah memberikan tanda tangan pada novel-novel seusai acara launching novel tersebut. Orang-orang, tua muda, mengerumuniku, mengantre, hanya sekadar untuk mendapatkan tanda tanganku yang hanya berupa coretan yang tak lebih baik dari goresan pensil seorang anak kecil yang baru belajar menulis. Dan di antara mereka yang antre itu, kilat mataku menangkap senyum dan binar mata perempuan-perempuan cantik yang mengagumiku. Tentu saja bukan mengagumi tampangku, tapi mengagumiku lantaran novelku yang dianggap luar biasa. Padahal aku sendiri menulis novel itu asal-asalan saja, sesuka-sukaku, sesok-sok tahu, dan dengan bumbu-bumbu percintaan yang dibikin sedramatisir mungkin hingga sanggup menguras air mata perempuan dan membuat para lelaki merasa dia mendapatkan inspirasi bagaimana menjadi seorang lelaki sejati. Entah bagaimana aku mendapatkan ramuan cara menulis, sehingga seolah-olah setiap orang selesai membaca novelku itu menjadi serasa hidup ini begitu indah, cerah, dan tak ada sesuatu apapun yang perlu dikhawatirkan. Dan yang terutama, hatinya menjadi lebih halus dan puitis. Atau menurut bahasa-bahasa para motivator – yang seolah-olah hidupnya tak pernah ditimpa masalah – yakni mendapatkan sesuatu yang “mencerahkan”. Akh, omong kosong! Sebab aku tetap berkeyakinan, motivasi sesungguhnya adalah merupakan dorongan yang muncul dari diri manusia itu sendiri, tinggal dia mau atau tidak saja. Sebab percayalah, para motivator itu pun sesungguhnya pasti punya masalah yang tak kalah ruwet dan bikin susah tidurnya.

 

Nah, setiap usai memberi tanda tangan pada novel-novel yang di sampulnya tertera namaku dengan tulisan besar-besar, aku biasanya mendapat undangan dari perempuan – biasanya dia cantik, sebab kalau tidak mana berani dia mengajakku – untuk sekadar makan siang atau makan malam. Kebanyakan lagi, para perempuan itu adalah juga dari kalangan penulis, baik pemula maupun yang sudah lama berkecimpung dalam dunia tulis menulis, terkenal atau sudah tak seterkenal dulu lagi. Memang pernah juga diundang beberapa perempuan yang bukan dari kalangan penulis, dan mereka ini biasanya adalah penggemarku yang memang sudah “tergila-gila”. Sebab itu pula, mereka tak menolak bila kuajak ke hotelku, untuk sekadar berbincang lebih dekat, sudah pasti juga dibumbui dengan kecupan-kecupan ringan. Sungguh, tak lebih dari itu. Biasanya juga mereka yang memulai, bukan aku. Barangkali mereka hanya ingin memiliki kenangan yang lebih dalam berupa kecupan, yang andai bisa disimpan, mungkin kecupan itu akan disimpan di dalam sebuah kotak kenangan. Bila mereka minta lebih dari sekadar kecupan, aku dengan tegas menolaknya. Aku bilang, itu tidak mungkin, sebab aku memiliki seorang perempuan dan seorang anak yang masih kecil yang setia menungguku di sebuah rumah di sebuah kota. Biasanya mereka maklum, dan meminta maaf. Ya, aku maafkan, meski setelah itu bisa saja akan terjadi saling memberi kecupan lagi….

 

…..

 

SAAT lain, aku juga membayangkan diriku sebagai lelaki yang tengah berteriak-teriak sambil memegang megaphone di atas sebuah mobil jeep, mengumpat, memaki-maki para kapitalis dan penguasa yang rakus yang sanggup menghisap darah rakyat hingga ke tulang sum-sumnya. Mataku merah, suaraku keras dan gahar. Setiap aku meninju langit, ribuan massa yang berdiri mengelilingiku juga ikut meninju langit sambil koor meneriakkan kata-kata… “Revolusi…!”, “Hancurkan…!”, “Hidup kaum proletar, musnahkah borjuis kapitalis…!”..

 

Door….! Door….! Door…!

 

Suara letusan itu seketika membungkam suara massa yang mengelilingku. Sekejap aku juga sempat terdiam. Namun sedetik kemudian aku kembali berteriak lantang.. “Pembunuh…!”, “Pembunuh…”, “Arcghhhh….” Kurasakan dadaku terasa perih menusuk. Kupegang, basah. Kulihat darah mengucur membasahi baju almamaterku. Aku limbung, terduduk dengan mengempaskan kedua lututku. Orang-orang menjerit… terus menjeri…, hingga aku tak bisa mendengar dan melihat mereka lagi….

 

……

 

WAKTU berbeda, aku juga membayangkan diriku sebagai perempuan di tepi sungai yang hening dengan angsa-angsa putih melancar di atasnya….

 

…..

 

Iklan

9 pemikiran pada “Sebuah Novel yang Tak Selesai…

  1. Ulun senang dengan bayangan kedua. Jadi seorang novelis terkenal yang dikerumuni cewek-cewek cantik sampai ada yang ngajak berkecup-kecupan…(halllaaaahh….lelaki…)
    Mungkin itulah faktor kenapa Tuhan tidak menjadikan ulun sebagai novelis atau cerpenis andal. Karena belum dijadikan saja sudah kotor begitu pikirannya..haaaa…haaaa… salam hangat selalu bosss…

  2. ini dia neh, Bos. Ada 2 pasal yg bisa diurai lebih panjang. Atau justru meragukan…

    (Aku hanyalah seorang pejalan yang terdampar di sebuah kota yang belum pernah kukunjungi…)

    (Barangkali sudah lima tahun aku telah menempuh perjalanan, sendiri menjelajahi kota-kota yang tak kukenal….)

    ——
    Kalo terdampar, maknanya jadi tidak sengaja, sementara menjelajahi…artinya memang ada keinginan untuk bepergian. Bukan terdampar.

    ——
    Bisa diceritakan tuh awal mulanya kenapa ia menyukai bepergian. Apalagi si tokoh memiliki banyak pengandaian. Menjadi banyak tokoh. Mengarah ke psikologi? Kenapa si tokoh bisa demikian?
    ——

    Tabik

  3. … terdampar, lalu menjelajah (kira-kira begitu).
    Ya, karena ini adalah “Sebuah Novel yang Tak Selesai…”, maka awal mengapa ia menyukai bepergian (pada aku sebagai pejalan), sementara ini belum ditemukan alasannya (karena belum selesai). Mengarah cerita psikologi? Juga belum bisa dikatakan demikian (karena memang belum selesai). Tapi, setidaknya terima kasih atas masukan yang diberikan… Siapa tahu, dari sini nanti “Sebuah Novel yang Tak Selesai…” ini bisa diselesaikan dalam ketakselesaiannya…

    Tabik

  4. Khairil.. (seorang yang kukenal sebagai lelaki yang mau terus belajar), bayangkan saja kau sebagai siapa…, barangkali segenap alam semesta akan membantumu menjadi seperti apa yang kau mau.. (itu kata-kata sang alkemis)

  5. Kucari cerpenmu di sini, tapi kok tak ada. Dimana kumencarinya. AKu mau membaca mereka sebagai anak-anak yang lahir dari rahim kreativitasmu. Berilah link cerpen. Apapapun yang kau tulis, sering jadi kenangan berkepanjangan, terkadang jadi mimpi indah, kadang mimpi buruk. Kau kadang mengigau seperti diriku.
    salam.

  6. Aku tak suka dengan tema blog-mu. warnanya kusam. aku suka hijau. gantilah kalau bisa. hahahaha. Bukankah kau juga suka hijau? Daun-daun muda di atas nampam, rumput-rumput di tama kota, tapi buka daun muda di atas ranjang. hahaha.

    salam lagi deh.

  7. :d…:d
    SIPS…
    SALUTTTT….

    : Saut Situmorang lagi. tapi gambar anak kecil itu mirip dengan gambar di buku kumpulan puisi Saut Situmorang berjudul “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan”. Saut…, eh salut…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s