Hujan

hujan21.jpg 

Terkadang hujan juga mengandung kecemasan. Hujan tak bisa henti, sementara kita tak bisa menunggu. Tak jarang kita harus menembus hujan itu. Merasakan butir-butir hujan menerjang tubuh begitu kerap, runcing, dan dingin.

   Saya tidak sedang berkhotbah bila saya mengatakan bahwa manusia hanyalah secuil debu di keluasan semesta ini. Barangkali juga debu-debu bintang. Yang ketika, seperti Jakarta yang cuma diguyur hujan sehari semalam telah berubah menjadi kolam-kolam, manusia-manusia pun tak kuasa menghadapi air yang meluap.
   Di televisi kita saksikan mobil-mobil berderet mengular karena tak berani melewati banjir, atau juga sudah terbenam, sementara orang-orang hanya bisa bertahan menunggu air surut dengan sendirinya. Kapal terbang tak kuasa mengangkasa di tengah deru gemuruh langit yang menyimpan guntur, petir dan badai.
   Meski ilmu manusia saat ini telah mencapai era komunikasi tercanggih, ternyata di hadapan kekuatan alam seperti banjir yang disebabkan hujan sama sekali tak berdaya. Ramalan-ramalan cuaca hanya menjadi tontotan, tentu dengan perasaan cemas, tanpa mampu tahu bagaimana mengatasi atau mengendalikan cuaca buruk yang akan datang itu. Orang-orang menjadi gagap menghadapi alam yang terus berubah-ubah. Peringatan demi peringatan akan bencana sudah menjadi berita harian, kadang hirau, kadang dibaca seperti menu kuliner.
   Hujan: memang melankolis, namun juga menyimpan kekuatan yang dahsyat. Tentu juga berkah. Kita telah membaca dan mendengar, “hujan” menjadi untaian dalam puisi-puisi cinta, seperti menawarkan kesenduan yang dingin sekaligus hati yang rawan. Betapa juga kita sering saksikan, ketika orang-orang berteduh saat hujan mulai berjatuhan, gerimis, lihatlah mata-mata mereka yang terpekur memandangi butir-butir hujan yang melincir dari kanopi, jatuh di tanah, atau dari langit yang tercurah. Termenung. Entah, mengapa hujan seringkali membuat orang termenung. Mungkinkah karena hujan, orang-orang yang terjebak di jalanan lantas tak bisa berbuat sesuatu selain termenung? Entah apa yang sedang berkitar-kitar di benak. Tak berucap apa-apa. Dan Sapardi Djoko Damono pun menulis: Gerimis Jatuh.

gerimis jatuh kaudengar suara di pintu
bayang-bayang angin berdiri di depanmu
tak usah kauucapkan apa-apa; seribu kata
menjelma malam, tak ada yang di sana

   Begitulah hujan. Orang-orang saling berteduh, tapi seperti sendiri-sendiri. Saling asing. Saling diam. Bila pun ada kata terucap, hanya basa-basi pengusir kebosanan. Selebihnya hanyalah ketermenungan, seakan-akan ingin menelusuri lorong hati sendiri.
   Beda bagi sepasang remaja, hujan bisa saja menjadi kenangan abadi sepulang sekolah. Bercanda di dalam hujan, berlari-larian seperti bocah-bocah. Itulah dunia remaja yang tak mengenal keruwetan berpikir orang-orang tua. Seolah hidup hanyalah hari ini. Esok persoalan nanti.
   Namun terkadang di dalam hujan juga bisa mengandung kecemasan. Hujan tak bisa henti, sementara kita tak bisa menunggu. Karenanya tak jarang kita harus menembus hujan itu, meski harus kuyup. Merasakan butir-butir hujan menerjang tubuh begitu kerap, runcingm dan dingin.
   Kini, hujan telah menjadi kecemasan bersama (orang-orang Jakarta?). Merendam jalan-jalan, rumah-rumah, dan segala yang rendah. Kita semua menunggu hujan berhenti, menunggu air menyurut. Dan sekali lagi saya tidak sedang berkhotbah bila saya mengatakan bahwa kita yang secuil debu ini “terhapus” oleh hujan yang kadang kita rindu dendam, namun lain kali ingin sekali henti.***

Iklan

18 pemikiran pada “Hujan

  1. Ganti template euyyy….dalam benakku hujan adalah dingin yang menggigil sekaligus menakutkan. Karena dalam hujan ada petir, kenangan juga kerinduan.

  2. hujan!
    ada berbagai pendapat tentang hujan!
    ada yang mengatakan bahwa hujan itu rezeki, bala bencana, kerinduan dan masih banyak yang lain.
    warga jakarta misalnya bisa mereka mengatakan itu bencana sementara daerah lain yang kekeringan tentu saja mereka sangat merindukan hujan.
    sedang di daerah ini kita bisa mengatakan bahwa hujan adalah rezeki
    hujan !
    kita sudah tahu semua bahwa itu adalah tugas yang di bebankan pada salah satu malaikat
    oleh tuhan. dan kita tidak bisa membantah itu, karena kita di beri ilmu oleh tuhan sangat sedikit sekali. ya walaupun kita berada pada zaman teknologi tetap saja kita tak mampu.
    yang namanya manusia tetap saja kita tak mampu menandingi kemaha kuasaan tuhan
    maaf ! saya juga tidak sedang berkhutbah.

  3. Hujan memang sudah bisa diprediksi, merupakan fenomena alam yang sudah berjalan sejak dunia ini terkembang. mungkin juga scara inplisit hujan merupakan kejadian naluriah bagi yang terlibat dalam love, coba baayangkan masing2 apa anda pernah merasakannya?

  4. Hujan… memberikan kesan tersendiri,… tapi bagi aku hujan kadang mengundang sendu, membatasi aktifitas di luar rumah, namun akan jadi indah di dalam rumah bila kita melewatkan waktu hujan turun itu untuk bercengkrama bersama orang- orang terdekat yang kita cintai…. jadi semakin dekat dan akrab.
    Sementara kita, manusia tidak bisa menahan hujan untuk turun, karena itu berarti melawan kekuasaan Allah…. karena hujan merupakan rahmat umum dari Allah bagi saudara2 kita di tempat tertentu yang membutuhkan air….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s