Keluarga Sinetron

tv-castcouch.jpg

Barangkali hidup ini memang lebih menyenangkan dengan tipu-tipu yang dipertontonkan sinetron-sinetron di layar kaca.

TABUNG kaca bernama televisi yang terdapat di tiap rumah kita harus diakui adalah sebuah “keajaiban”. Semenjak nama televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris tahun 19000, hingga detik ini televisi masih mampu bertahan sebagai salah satu pesulap paling andal yang setia setiap kapan saja kita menghendakinya berakrobat. Dan kita dengan suka rela meluangkan waktu sebesar-besarnya untuk setiap tayangan yang kita pilih — atau mungkin tayangan itulah yang justru memilih kita?
   Saya sengaja menyebut televisi sebagai “pesulap”, sebab setiap tayangan bisa berubah-ubah dalam sekejap mata hanya dengan memencet remote control. Dan bagi si pemegang remote control, dia seakan dewa yang bisa memutuskan saluran mana saja yang dikehendakinya, yang lain hanya bisa terbengong-bengong begitu saluran televisi loncat-loncat lantaran dipindah-pindah.
   Dan sungguh, dunia hiburan televisi kita sebagian besar diisi dengan infotainment yang pembawa acaranya terkadang berlagak seperti tengah menyampaikan berita gawat, lawakan, dan sinetron-sinetron yang berlangsung dari siang hingga larut malam.
   Sekarang coba kita hitung, berapa banyak waktu yang kita sediakan hanya untuk menonton tayangan-tayangan sinetron, yang sumpah mati sebagian besar adalah bual-bualan belaka, ditambah iklan-iklan yang diulang-diulang terus menerus seakan-akan hendak mencuci otak kita. Namun, sekali lagi, kita selalu saja dengan suka rela menyediakan waktu untuk menerima semua itu sebagai sebuah hiburan yang membahagiakan. O! Manusia yang kesepian di rumah sendiri, dan menganggap televisi lebih membahagiakan ketimbang waktu satu jam bicara dengan keluarga. Tak terkecuali di meja makan sekalipun. Barangkali kau sempat menahan suapanmu hanya lantaran tidak ingin satu dua detik adegan dalam sinetron terlewatkan. Dan menurutmu itu sangat berharga ketimbang nasi yang siap kau suapkan. Alahai…!
   Memang, ada kalanya kita tersadar bahwa jalinan cerita di sinetron itu nyata mengada-ada, dibikin-bikin, dilebih-lebihkan, didramatisir sampai batas yang membuat kita mual; anak dan orangtua ketukar-tukar, tiba-tiba ketabrak lalu lupa ingatan, buta, pincang, patah tulang, orang jahat pasti mengalami kecelakaan atau kena penyakit yang menjijikkan lantas mati mengerikan, berperan orang miskin tapi berwajah bule, berkulit putih bersih dan berpakaian bagus-bagus, tapi sungguh kita tetap saja menikmatinya tak jera-jera meski merasa telah dibodohi mentah-mentah oleh cerita itu. Alamak! Sungguh, inilah tipu-tipu nan indah.
   Bayangkanlah bila satu keluarga mempunyai selera tontotan sinetron yang sama, juga dengan kadar perhatian yang sama. Begitu tyme song sinetron mulai terdengar, masing-masing anggota keluarga itu mengambil posisi tempat untuk menonton, ada yang duduk, rebahan atau sandaran, yang dari malam ke malam tempat itu persis sama seperti kavling-kavling yang tidak boleh dilanggar oleh yang lain. Satu menit cerita berjalan, masing-masing mulai berkomentar, memberi kilas balik seolah yang lain tak paham, menebak-nebak alur cerita seakan-akan hebat padahal memang ceritanya sendiri yang memang kacangan. Membenci pemeran antogonis, mengasihani kebodohan pemeran protagonis, mengutuki kemenangan si jahat atas yang baik, dan menyumpahi tayangan iklan yang tiba-tiba memutus cerita. Alahai…!
Begitu terus menerus berulang, hingga tak terasa waktu satu setengah jam berlalu — kalikan setiap hari, dan kalikan dengan sekian bulan lamanya sinetron itu akan ditayangankan. Tapi, sumpah, ternyata itu tak cukup. Usai satu sinetron, disambung lagi dengan sinetron berikutnya, yang begonya ide ceritanya tidak jauh berbeda dengan sinetron sebelumnya. Celakanya lagi, artisnya pun itu-itu juga, dengan peran yang itu-itu juga. Walah! Dan sungguh, lagi-lagi kita tetap bersetia memberikan waktu untuk semua itu. Seakan-akan tak ada pekerjaan lain lagi yang lebih penting dibanding memanjakan diri di depan televisi dengan sinetron dan iklan, yang lagi-lagi, itu-itu juga.
   Barangkali hidup ini memang lebih menyenangkan dengan tipu-tipu yang dipertontonkan sinetron-sinetron di layar kaca. Menyaksikan kisah-kisah sinetron yang begitu menyedihkan, memilukan, yang lebih tragis dari kehidupan nyata, kita bisa berpura-pura melupakan kesusahan diri sendiri. Meskipun sungguh itu tidak pernah membuat perilaku kita menjadi lebih baik, sebab kita sadar tak mungkin meniru kehidupan di dalam sinetron yang itu hanya bikin-bikinan; yang orang baiknya baik alang kepalang, yang orang jahatnya jahat tak ketulungan.
   Jadilah layar kaca yang memutar sinetron-sinetron itu seperti “dunia baru” tempat untuk melupakan kehidupan nyata yang dirasa semakin ruwet. Menikmati segala bualan-bualan yang dipertontonkan, hingga barangkali bila dihitung-hitung sebagian besar usia kita telah “diisap” sihir televisi lewat tayangan-tayang sinetron gombal dan iklan-iklan yang membuat hidup kita seakan-akan tidak pernah cukup, tidak pernah lengkap.
   Yeah, barangkali saya memang terlalu berlebihan. Apa salahnya orang merasa terhibur, bahagia dan melupakan sejenak kesusahannya dengan menonton sinetron-sinetron itu? Ya, apa salahnya? Tapi saya selalu saja merasa mual setiap ada orang mengomentari sinetron-sinetron itu seolah-olah itu adalah kehidupan nyata. Duh, kehidupan kita yang sekali ini mengapa harus lebih peduli dengan kehidupan di sinetron yang tidak pernah menambahkan kebaikan apa pun pada diri kita.
   Dan bila di sini saya “berkita-kita” atau “berkau-kau”, itu belum tentu termasuk Anda. Jadi, lupakanlah.***

Iklan

6 pemikiran pada “Keluarga Sinetron

  1. Televisi atau “Tabung kaca”, “Kotak Ajaib” dan sebutan apapun telah merampas ruang dan waktu kita. Orang menonton bola malam hari, akan masuk ke dalam waktu siang/sore yakni dalam suasana lokasi lapangan sepak.
    Sejak desain grafis semakin canggih, apapun sinetron Indoensia menjelma menjadi hantu. Si Entong yang apa adanya, kini berubah menjadi cerita hantu. Indosiar kukira pelopornya,, lihat saja sinetron di siang hari dipenuhi buaya-buaya jejadian dengan sentuhan grafis murahan. Hantu-hantu di sinetron pertelevisian Indonesia menjadi tidak berwibawa, karena ia tidak menakutkan. Bandingkan dengan film Indonesia dulu, Film Pengabdi Setan, Bayi Ajaib dan Sondel Bolong. Hantu masih berwibawa, karena orang ketakutan menontonnya.
    Sungguh di televisi kita ada setan, setan yang tidak menakutkan tapi bikin geli 🙂

  2. Keluarga dalam sinetron itu sesungguhnya diri kita sendiri, Bang!
    Jika nasib kita tak sama dengan yang digambarkan oleh sinetron, barangkali itu pukulan buat kita. Dan jika nasib kita lebih baik dari gambaran di dalam sinetron, maka itu adalah ujian buat kita.
    Dunia panggung sandiwara. Sinetron juga sandiwara. Dan kitalah pemainnya.

    Tabik!

  3. Ya, seperti ketika Emha Ainun Nadjib mengomentari “Goyang Ngebor” Inul, bahwa pantat Inul itu adalah “wajah kita sendiri” — seolah-olah kita bercermin di pantat Inul. Alahai…!

  4. malas nonton tv kalo acaranya gak karu-karuan. Paling asyik tuh acara kuliner, jadi yang kada tapi bisa bamasak ni (paling jago masak air hehehe) rasa bisa banar bamasak…yang jelas jadi agenda mau makan apa kalo jalan-jalan ke luar kota. btw, kalo film, alhamdulillah film favorit saya diputar ulang lagi bro ! yup, rurouni kenshin !

  5. bujur jar Danumurik tu, tapi ada jua nang mamadahakan bahwa tv/komputer tu Dajjal Rumah tangga, karena ciri-cirinya persis sama dengan yang di sebutkan dalam riwayat, yakni bermata satu. wallahu a’lam

  6. keluarga sinetron sesungguhnya bukan kita. emha memang kadang ngelantur menyamakan wajah kita dengan pantat inul. itulah kita yang sering kabur melihat kenyataan. kacamata kadang diperlukan.

    om, tolong komentari puisi karya mahasiswaku di blogsainulh.wordpress.com. kalau ada yang tak orisinal, tolong tunjukin buktinya. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s