Ayat-Ayat Cinta vs Ayat-Ayat Setan

ayat_ayat_cinta_poster.jpgayat-ayatcinta1.jpgsatanic_verses.jpg

Kenapa?

Apakah ada hubungannya Ayat-Ayat Cinta dengan Ayat-Ayat Setan? 

Bila banyak orang membanding-bandingkan novel Ayat-Ayat Cinta dengan filmnya yang sekarang lagi booming, saya malah berpikir adakah Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy) ketika menulis Ayat-Ayat Cinta itu teringat dengan Ayat-Ayat Setan karya terlarang Salman Rushdie?Tentu tak ada satu bagian pun yang mirip antara kedua karya itu, selain hanya judulnya saja yang rada-rada mirip. Namun tak salah juga bila kita curiga, bahwa novel Ayat-Ayat Cinta yang ditulis Kang Abik adalah sebentuk “perlawanan” terhadap bibit-bibit kebencian yang bisa dimunculkan dari Ayat-Ayat Setan sehingga Pemimpin Iran, Ayatollah Khomeini mengumumkan fatwa mati bagi sang pengarang.

Kita tahu, Ayat-Ayat Setan (The Satanic Verses, 1989) karya Salman Rushdie sejak dua dasawarsa lalu adalah novel yang sangat kontroversial. Dari http://www.suaramerdeka.com/harian/0707/03/opi05.htm dicatatkan: Sesuai dengan judulnya, Ayat-ayat Setan, novel itu bercerita tentang sosok setan yang berada di pucuk-pucuk ketinggian. Setan tersebut berkelana di atas ketinggian, mondar-mandir layaknya Spiderman, mencari manusia untuk diberi wahyu. Sampai suatu ketika, dia bertengger di pundak sosok manusia terpilih. Pengarang menyebutnya dengan Mc Hammer, yang artinya Si Palu.

Tokoh itu juga bisa disebut dengan Mockery, yang artinya Monyet. Dengan gaya bertuturnya sendiri, Rushdie menyebut tokoh itu memiliki puluhan nama yang buruk sehingga setan menyukai dan memilih sang tokoh tersebut sebagai penyambung air liurnya (1988: 21).

Tokoh dengan puluhan nama yang buruk itu memiliki istri yang cantik bernama Ayesha. Sang istri selalu mendampingi saat-saat genting, ketika Setan datang memberitakan sejumlah kabar gembira. Kedatangan itu disertai dengan bunyi gemerincing “seperti ribuan lonceng yang saling bertubrukan” (1988: 48).

Pada mulanya, sang tokoh takut bukan kepalang, tetapi lama-kelamaan dia malah bersahabat dengan Setan. Ayat demi ayat dikumpulkan, dan jadilah sebuah kitab bernama Ayat-ayat Setan (The Satanic Verses).

Pada saat yang bersamaan, kata Rushdie, “pengagumnya makin bertambah karena ayat-ayatnya begitu indah.” Bila dicermati, tafsir terhadap novel bukanlah sekadar parafrase cerita tersebut dengan hikayat suci suatu agama. Fatwa mati Pemerintah Iran adalah salah satu produk interpretasi masa lalu yang memparafrasekan hikayat suci dengan hikayat ciptaan Rushdie. Sekalipun masa lalu, produk tersebut tidak berhenti. Nyatanya Pemerintah Inggris telah mereproduksi interpretasi itu sebagai bagian dari konteks yang berbeda. (http://www.suaramerdeka.com/harian/0707/03/opi05.htm)

Bagi yang sudah baca novel Ayat-Ayat Cinta, tentu saja kutipan cerita Ayat-Ayat Setan di atas tak akan terbayang sama sekali.

Tapi bukankah dari Ayat-Ayat Cinta kita mendapatkan hal yang sebaliknya dari Ayat-Ayat Setan? Kita semakin merasakan betapa indahnya Islam, betapa lembutnya Islam, betapa santunnya Islam, betapa mawarnya Islam, betapa harumnya Islam, betapa sabarnya Islam, betapa tabahnya Islam. Dan itu semua berkat kepiawaian Kang Abik meramu ceritanya dengan pesan-pesan (Islam) yang luar biasa.

Ah.., barangkali juga saya hanya mengada-ngada karena telah mencoba menghubung-hubungkan Ayat-Ayat Cinta dengan Ayat-Ayat Setan… yang jelas tak ada hubungannya sedikit pun…***     

Iklan

16 pemikiran pada “Ayat-Ayat Cinta vs Ayat-Ayat Setan

  1. Bagusnya bikin novel baru saja dangsanak ai … melebihi AAC. Terlalu banyak analisis di media cetak dan blog. api, dibaca juga he he … Ayat-Ayat Sahabat.

    : niat bikin novel dari dulu-dulu, bos.. Karena baru sebatas niat, jadi nggak jadi-jadi, hehe…

  2. Wuahaha………ha….ha….om nich ada ada ajach.
    tapi bagus lho salut dech om.
    salut!!!
    salut!!!

    : Salut Situmorang, eh salah…, Saut Situmorang <– teman di jogja, sastrawan.

  3. Emm… AAC VS AAS yaa? Wah, kalo novelnya AAS dibikin film pasti sambutannya lebih gempar daripada AAC dong??!!! Bisa jadi,, hee… Tapi setidaknya essensi dari film AAC mudah2an dapat diresapi masyarakat secara bijak, sesuai dengan pesan dan makna dari novelnya AAC… Ya gak mas..?? Btw, mas bagi2 dong bukunya ma ulun??Hee…

    Setuju..!!
    Tapi bila kamu saya kasih buku, ntar yang lain ngiri. Sementara bila semuanya dikasih, tekor dong saya, heheee…

  4. AAS udah ada filmnya tuh..”THE FITNA”. Cuma dilarang disetel di Indonesia (Alhamdulillah). Novel AAC ? Terlalu jambu untukku…terus terang aja.

    Dari namanya aja sudah ketahuan, The Fitna, pasti isinya fitnah melulu.
    Novel AAC terlalu jambu..? Itulah masalahnya, karenanya banyak orang yang emang suka jambu.. hehee…

  5. Hee..he…he… Ah…,sekali2 kan gak pa2 toh? Hitung2 lagi promosi juga kan…???hee… Kan biasanya marketingnya penerbit begitu… hee… Ta’ tunggu lo ngasih bukunya ma ulun??!!!

    : maksa nich yee…

  6. Assalamu’alaikum w.w.
    Wah tulisannya asyik banar ni. AAC versus AAS. Kayapa mun digabung ja, jadinya AACS (Ayat-Ayat Cinta Setan)? He…he…he…, maaf bagayaan ja Dingsanakai! Kada Sarik kalo? Mudahan kada. Juaia pang bagusnya Pian baulah jua novel nang bagus kaya AAC, jangan AACS lah! Bahaya am mun cinta setan nang diangkat, penuh nafsu ja tu isinya. Ayu ja Dingsanakai, salam ja gasan kakawan di Kalsel dari Kalteng. Wassalam.

    : sip haja. Ayuja, cita-cita jua baulah novel, mudahan ai jadi jua…

  7. Ah,, segitunya sampeyan??? Kan lebih baik beramal ilmu, daripada beramal harta…hee.. Gitu kan kata pepatah??? Jadi sering2 lah beramal…he

    : hahaa…. saya telah mencoba beramal dengan ilmu (membuat buku), nah tinggal sampean yang beramal dengan membeli buku itu.

  8. Duh..rizky…gak modal beli tah buku na Sandi… :D. Sumpeh, mpe sekarang baca buku Perempuan …. Hujan-Hujanan ? Kikikik… : D blom kelar juga…mpe rumah dah sibuk n ketiduran..daftar nulis aja panjang banget nih, belum juga ditulis-tulis. Kok ngeblog sempat ya ? Au ah

    :..Nah, dengarin tuh RIzky apa kata Mia…, hahaa…

  9. Wah… salah kabeh deh mbak?? Kayak gak tau aja keuangan mahasiswa… Tapi kira2 kalo beli bukunya mas sandi bisa2 di buru hujan gak ya??He… Soalnya banyak kehujanan jer pas baca bukunya…hee..he

    : ya, jangan heran bila belakangan ini banyak orang, khususnya perempuan, yang suka hujan-hujanan, hehee…

  10. kayaknya perlu juga neh ada ‘lembaga pengkreditan buku’. Hp aja ada yang kredit…buku juga deh. Asal gak pake bunga aja, banyak buku yang pasti udah kukredit. Hehehehe.

    : apa aja kayaknya bisa dikredit, hanya tambah usia yang tak bisa dikredit…

  11. wadaw…
    bakal pusing pula aku. Jangan² memang ada hubungannya, Om. Siapa tau antara ‘cinta’ dan ‘setan’ itu sebetulnya sodaraan jauh, yahhh sepupu 4-5 kali lah…
    Soalnya kadang kita bingung juga, untuk perkara tertentu, apa karena cinta, atau karena ulahnya setan…
    wuii’…. mumet aku…
    🙂

    : semoga mumetnya sudah sembuh, hehee….

  12. Ya, keduanya menurut saya cenderung bertolak belakang, apakah itu termasuk hubungannya atau bukan, terserah interpretasi masing2 individu. Ngeri juga aku membayangkan kalo keduanya related, berhubungan.. Nama Ayesha, adalah terjemahan versi bahasa Inggris Aisyah, istri Nabi. Seperti Yaqub menjadi Jacob, dan Ibrahim menjadi Abraham.

    Membaca petikan AAS (SV) yang dikutip Sandi aja membuat aku merinding. Merinding ngeri. Semoga Allah mengalahkan musuh2nya di dunia dan akhirat.
    Maaflah amun pendapat kada mutu =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s