Eksotisme Sungai Banjarmasin

 Perempuan-perempuan dengan kain setengah badan. Anak-anak mandi batilanjang. Ada jua nang maungut barukuan. Batatapas. Maharam di jamban. Kelotok-kelotok dan jukung meriakkan gelombang, merapat dan berangkat. Riuh air berkecipak. Suara-suara yang mericau. Pagi yang riuh dan basah. 

Duduk pagi-pagi atau saat senja di bibir sungai, kita seperti kembali ke atmosfer Banjarmasin yang “dicita-citakan” (mungkin). Memang, sungai-sungai di kota Banjarmasin tidaklah seindah sungai Huang Pu yang membelah bagian barat dan timur Shanghai. Tapi, tetap saja ada daya tarik lain dari sungai itu; keeksotisannya sendiri. Setidaknya begitulah penilaian saya, dan siapa saja boleh berbeda.

 

Sungai di Banjarmasin beserta kehidupannya berlangsung secara jujur, tidak dibuat-buat. Masih murni. Sungai di kota ini seperti perawan berambut panjang ikal mayang yang baru bangun tidur, tanpa make up, tanpa cuci muka, juga tanpa gosok gigi dan mungkin karena itu juga air sungainya seringkali berwarna kuning. Orang-orang mandi dan mencuci di sungai, kelontok dan jukung hilir mudik, buang sampah dan buang hajat, mancing dan kencing; aktivitas-aktivitas itulah yang kita temui di hampir sepanjang bantaran sungai. Begitulah bentuk kejujuran dan kemurnian dari kehidupan sungai kita yang bila dinikmati saat pagi dan senja terasa begitu murni.

Anda yang barangkali bertempat tinggal di pinggir sungai, pasti sudah paham dan hapal betul aktivitas apa saja yang terjadi di sungai dari pagi sampai malam. Dan konon, buang hajat malam-malam lebih enak dilakukan di batang banyu atau bertengger di jembatan titian sungai ketimbang di jamban. Ya terang saja kan, sebab jamban-jamban di batang banyu jarang atau malah tak ada yang pakai lampu. Sementara kalau bertengger di batang banyu atau jembatan titian bisa sambil memandang bulan atau menghitung bintang (maaf bila Anda membaca ini saat sambil makan).

Sisi lain di pinggir sungai, kita pun ternyata bisa menikmatinya sambil makan. Kenapa tidak? Soto Yana-Yani dan Soto Bawah Jembatan bukankah warung-warung makan yang menawarkan kenikmatan makan dengan “menu tambahan” sungai? Saya yakin, sebagian besar mereka yang memilih jauh-jauh makan ke Soto Yana-Yani atau Soto Bawah Jembatan adalah bukan karena makanannya semata, tapi juga karena ingin menikmati suasananya yang oleh banyak warung lainnya tak mampu memberikan service lebih itu.

Di warung-warung seperti itu kita bisa makan sambil memandang lanskap yang eksotis; aktivitas yang terjadi di sungai dan sepanjang bantarannya. Barangkali ada di antara kita yang akan merasa upacara makannya lebih nikmat bila sambil memandang perempuan dengan kain setengah badan mandi di sungai, atau anak-anak yang telanjang nyebur, jukung dan kelotok yang lewat, atau rumah-rumah penduduk di sepanjang sungai itu. “Jadi, seharusnya pemilik warung membayar warga yang tinggal di sepanjang pinggir sungai yang bisa dinikmati dari warungnya,” ucap saya kepada seorang teman suatu ketika saat makan-makan di warung pinggir sungai. Ya, karena secara tidak langsung pemilik warung juga telah “menjual” keeksotisan kehidupan sungai itu.

Bahkan Swiss-belHotel pun mengandalkan sungai yang ada tepat di ujung halamannya sebagai tawaran keindahan bagi pengunjungnya. Beberapa gelaran sering dilangsungkan di situ. Meski memang, ketika berada di acara itu, suasana sungai tidak begitu bisa dinikmati karena seringkali acaranya digelar waktu malam. Namun setidaknya para pengunjung di sana bisa merasakan angin malam yang berembus dari pinggir sungai; tidakkah itu memberikan atmosfer yang berbeda juga? (meskipun nanti saat pulang, barangkali banyak pengunjung yang masuk angin lalu kerokan).

Kita juga bisa lihat beberapa tempat makan lainnya yang memanfaatkan suasana sungai sebagai daya tarik, seperti yang terlihat di sepanjang jalan depan gubernuran. Baik yang digelar secara lesehan maupun yang terapung, sampai yang bergerumul berdesakan di satu tempat. Dan semuanya tetap berusaha memberikan pelayanan kepada pembeli agar dapat menyantap menu sambil menikmati aliran sungai.

Begitulah. Banjarmasin memang tak melulu kemacetan, kesumpekan dan kebisingan. Masih ada sisi lain dari wajah kota ini yang menawarkan kerinduan. Sungai-sungai yang masih memiliki keeksotisannya, seperti perawan cantik berambut panjang ikal mayang yang baru bangun dan belum gosok gigi, dan karenanya wajar bila airnya sering berwarna kuning. Pun ternyata tetap bungas dalam kekusutannya.***  

Iklan

19 pemikiran pada “Eksotisme Sungai Banjarmasin

  1. sungai … hum…lawas kada baklotok nah … meelangi kekawanan di subarang situ huhuhuhu 😛

    : Kalo aku, dulu sekali pernah naik jukung bersama Novi Abdi, kawan di Kompas Borneo Unlam, dari sungai kecil di samping kanting Kompa Unlam sampai pasar terapung. Eksotis, heheee…

  2. Sungai di Banjarmasin, hampir punah. Kini telah ber(re)evolusi dari sungai menjadi selokan, kemudian menjadi got saluran pembuangan sampah. Banjarmasin, nyaris mulai kehilangan identitas khasnya sebagai kota seribu sungai.

    : Betul sobat. dan saya kira, sebutan awal bahwa Banjarmasin adalah “kota seribu sungai” sebenarnya terlalu dilebih-lebihkan. dan semakin memprihatinkan ketika tak ada yang bangga dengan identitas itu. Buktinya tak ada upaya untuk mempertahankan sungai-sungai yang ada. (lho.., kok komentarku malah lebih panjang ya, hahaaa…) trims.

  3. Sungai,,, kalo aku liat sekarang ini sungai2 di bjm udah beralih fungsi? Aku prihatin melihat realita yang sekarang ini muncul. Secara faktual historis sungai di bjm mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan di daerah lain. Dahulu kita pernah mendengar adanya handil, antasan, de el.. el.. yang mempunyai peranan cukup mumpuni dalam sektor irigasi masy. Banjar.

    : saya juga turut prihatin.. (dengan tangan di dagu, mengelus janggut, manggut-manggut…)

  4. belum pernah ke banjarmasin, jadi ga tau gimana keeksotisannya.
    tapi anda beruntung masih bisa menikmatinya.
    Ditempatku (Medan), tak lagi bisa disebut sungai

    *ngayal bisa mandi disungai bareng perempuan-perempuan dengan kain setengah badan kebayang dah ke eksotisannya*

    :mrgreen:

    : bila sungai di kota sudah mati, mari kita jaga sungai-sungai yang mengalir di dalam jiwa…

  5. ada kabar menarik neh buat blogger kalsel, ikuti kompetisi desain blog dan website di speedy competition, daftar mulai dari sekarang. gratis euy… syaratnya, blogger tinggal daftarkan alamat blognya ke radio sky banjarmasin, penilaian / seleksi mulai dari sekarang, n yang lolos seleksi akan di adu di final tanggal 2 – 4 mei 2008, buruan CP : 085952753904 / Yogie

  6. Ulun suka dengan eksotisme Banjar, tapi ada bagian-bagian dari eksotisme itu yang sudah sepatutnya kita buang. Maharam di jamban misalnya, merupakan bagian dari eksotisme yang dapat mencemari sungai.

  7. Yang jelas aku kapok mandi di sungai … sempat kutuan … igh ! Balum lagi diigut buntal…wekz… Bahinipan di higa siring haja gin, sembari menadah angin sepoi-sepoi, liatin para skateboarders atraksi …. sambil makan pentol hehehehe

  8. kapa wisata yg katany mau operasi bln februari 2008, ternyata blm jg dipakai sampe sekarang.terkendala SK Walikota yg blm selesai…..padahal jika dioperasikan, akan menambah kuat keidentikan banjarmasin sgb kota 1000 sungai

  9. coba deh sungai-sungai di Bjm ini dibersihin,dirapiin, trus rumah makan2x terapungnya dibanyakin,pasti asyik sore2x nongkrong di sungai.jadi ga cuma ngukur jalan aja kerjaannya abg Bjm tiap sore, ngabisin bensin aja,BBM sekarang semakin susah dicari,minyak bumi mo habis. di sekeliling sungainya juga tanamin pohon, biat teduh………..beeeeeeeeeeeeeh, pasti adem banget tuh. asal jangan buang sampah semabarangan aja,engga lucu banget deh nyante di tempat yg kotor.

  10. CARI DIgoogle ,keluarnya artikel ini…

    boleh saya minta?

    : silakan ambil, tapi sumber tulisannya tetap dicantumkan ya.., hehe 🙂

  11. bang firly… saya pernah bertamu ke rumah seorang tetua di banjarmasin.. beliau mengingatkan saya tentang karakter banjar itu dibangun oleh 3 hal: bahasa, sungai, dan agama(islam)…

    Dalam hal sungai . Pembunuhan karakter kota banjarmasin rupanya sudah menjadi banal. (maaf menggunakan kata ini karena saya kemarin baru membaca sebuah kalimat tentang ambisi sebuah desain- dalam bahasa indonesianya kira-kira begini: Ambisi sebuah desain, adalah terserap ke dalam budaya, sehingga menjadi sesuatu yang tidak tampak, menjadi biasa, menjadi banal.)

    Menurut bang firly.. Dapatkah sesuatu yang sudah biasa itu menjadi kelihatan? mewujud pada keperdulian? menjadi sebuah gerakan? melahirkan sebuah perbaikan?

  12. wah…, wah…, pernyataan dan pertanyaan novelis kita Farah Hidayati ini berat juga. Terima kasih telah berkunjung ke blog.. yang barangkali hanya berisi catatan2 omong kosong ini.

    hmm.., baiklah, saya akan coba menjawab pertanyaan farah dengan gaya sok seorang dosen hehe..

    Begini, sesuatu yang biasa itu sebenarnya nampak, kelihatan, hanya saja kadang tidak disadari. Bahkan, sesuatu yang salah, namun dilakukan terus-menerus (berulang-ulang), ia bisa menjadi biasa, bahkan malah bisa jadi benar (atau terjadi pembenaran).

    benar, sebuah desain memang dirancang agar diserap secara alam bawah sadar. namun ia juga tidak melupakan lingkaran experience (pengalaman) audiens, sebagai jalan masuk. dengan adanya kesamaan experience, maka desain itu akan mudah diterima dalam arus budaya yang ada. karenanya, kehadiran desain itu kadang tak terasa, biasa, banal, tapi sesungguhnya ia bisa membawa perubahan yang besar.

    Dapatkah sesuatu yang sudah biasa itu menjadi kelihatan? Tentu saja bisa. Hanya saja harus ada yang “menunjukkannya”, atau menjadikannya sebuah gerakan nyata untuk perbaikan dan kemajuan.

    hahaa…, begitu, apakah cukup meyakinkan? 🙂 — meski saya juga masih berpikir, nyambung tidak ya jawaban saya ini? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s