Banjarbaru, Kedai dan Buku

Bila ada yang bertanya, apa impian saya terhadap kota Banjarbaru di hari ultahnya hari ini? maka saya akan membayangkan sebuah kedai berisi penuh buku-buku

 

 

Pohon-pohon pinus di lapangan Murdjani itu masih saja mampu membuat saya terpesona, meski telah sekian tahun sejak pertama kali saya terkesima melihat deretan pohon yang mengitari lapangan multifungsi itu; ada lapangan bola, tempat ngebut-ngebutan, sampai ajang pameran (mulai yang jelas, sampai yang seperti pasar dadakan).

 

Dari lapangan Murdjani ini, bila Anda berjalan lurus ke luar menuju tepi jalan raya, maka Anda akan mendapati sebuah taman kecil dengan sebuah bola besar berornamen daun yang (terkadang) dari sisi-sisinya memuncratkan air; air mancur, begitu orang-orang menyebutnya. Di taman ini, kerap terlihat pasangan suami istri lengkap dengan anak-anak mereka menghabiskan waktu senja – nyaris selalu kita bayangkan mereka adalah keluarga yang bahagia. Di seberangnya, sebuah kedai selalu tampak ramai dipenuhi muda-muda, dengan musik (lebih sering rock) yang diputar kencang-kencang. Di taman ini pula, pada waktu-waktu tertentu kita lihat orang-orang membaca puisi dan bentuk seni pertunjukan lainnya. Agak ke barat dari taman ini, juga ada sebuah taman lainnya dengan pohon-pohon besar nan rindang, juga sekumpulan hewan yang terkurung; kebun binatang kecil, begitu orang-orang menyebutnya.

 

Di pelbagai sudut kota ini, kita temui juga kedai-kedai dengan aneka menu masakan. Dari yang kelas pisang goreng hingga ayam tepung, dari rasa Jogja hingga Amerika, dari ruang tertutup hingga terbuka. Sebagai kota pendidikan, tak lengkap bila saya tak menyebutkan juga bahwa toko-toko buku di kota ini semakin beragam, bahkan kabarnya sebuah jaringan toko perbukuan besar akan masuk di kota ini.

 

Sebagai kota kecil, Banjarbaru memang membayangkan sebuah kota yang nyaman (barangkali kita mesti berterima kasih kepada perancang awal kota ini: Belanda?) yang membangun jalan-jalan lebar, sebuah lapangan besar, dan taman-taman kota, juga kincir angin di salah satu sudutnya. Tak heran bila seorang teman (dosen) di Banjarmasin ingin segera bergegas meninggalkan kota Banjarmasin yang hiruk-kikuk (saya sengaja tidak mengeja = hiruk-pikuk) dan memilih menetap di Banjarbaru – kota yang konon katanya banyak melahirkan sastrawan (kalau tidak ingin mengatakan penyair).

 

Sastrawan di kota (Banjarbaru) ini pula yang disebut-sebut banyak menyelenggarakan kegiatan sastra, sehingga menjadi acuan daerah lainnya di Kalsel – hmm…, satu prestasi yang untuk sementara ini masih saya pertimbangkan dalam hati untuk mengakui, meski saya sendiri tinggal di kota ini. Tapi barangkali juga memang tidak terlalu berlebihan. Setidaknya, hari ini, 20 April 2008, akan dilangsungkan penyerahan hadiah kepada para juara lomba penulisan cerpen dan puisi yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. Yeah, selamat untuk para juara.

 

Dari nama Gunung Apam, Banjarbaru kini menjelma menjadi sebuah kota yang dicita-citakan (mungkin). Setidaknya mampu memberikan inspirasi kepada para penghuninya.

 

Bila ada yang bertanya, apa impian saya terhadap kota (Banjarbaru) ini, maka saya akan membayangkan sebuah kedai berisi penuh buku-buku. Orang-orang duduk di meja kecil dengan dua tiga empat kursi, berbicara, berdiskusi tentang buku-buku, novel-novel, sambil menikmati senja yang riuh. Saya juga membayangkan seorang per seorang membaca puisi atau cerpen, sementara sekumpulan lainnya mendengarkan dengan santai sambil menikmati teh atau kopinya yang di daftar menu diberi nama: Kopi Hitam Sutardji Calzoum Bachri, Kopi Pahit Chairil Anwar, atau Teh Manis Djenar Maesa Ayu, Teh Melati Ayu Utami, atau Kopi Coklat Leo Tolstoy, Kopi Arab Amin Maalouf, Cappuccino Itali Calvino, Milkshake Shakespeare, dll, dll (atau Anda punya usul nama menu lainnya?). (sandi@radarbanjarmasin.com)

 

 

: Potret ini untuk memperingati Hari Jadi Kota Banjarbaru yang Ke-9, pada hari ini (20 April 2008).

 

 

Iklan

8 pemikiran pada “Banjarbaru, Kedai dan Buku

  1. Kalau tidak salah ingat, di Bandung ada semacam kedai buku tentunya dengan perekrutann anggotanya. Tujuan kedai buku itu untuk memberikan kesan bangga membaca buku, bagi setiap anggotanya.

    : ya, membaca atau membawa buku itu cool…

  2. Seorang teman sedang merencanakan book cafe di tempat nan indah, dan mudahan lebih bagus dan lebih banyak bukanya dari Pustaka Pribadi saya hingga merenggut libido menikmatinya. Tapi, kalau kalah dari pustakan saya, paling sekali dua kali datang he he

    : andai koleksi buku book cafe-nya kalah banyak dari pustaka sampean, mestinya sampean ikut nyumbang ke book cafe, hehee…

  3. Banyak koleksi buku ? pinjam bisa ? atau mungkin njenengan lebih semangat bila aku pakai kata-kata gini : beli deh 🙂

    : ya, beli deh, eh beli dong…

  4. book cafe? asyik juga. di sini sedang dirancang blog cafe… sebuah tempat di mana orang-orang nongkrong, buka laptop, browsing dengan free wi-fi, lantas blogging. bocoran menunya: rss coffee, blogpucino, nasgor css, mie blogwalk dll…

    yup, bos. doain aja semoga book cafe-nya jadi. dan kapan2 bila (diundang) ke Jakarta, saya akan sempatkan untuk berkunjung ke blog cafe; hmm…, blogpuccino kayaknya enak juga…

  5. book cafe? tampaknya bakal jadi ruang pertarungan lisan dan tulisan. Pemenangnya adalah…? Aku akan berkunjung siapapun pemenang dan pecundangnya sekadar untuk bercengkrama tentang apa saja: tentang huruf-huruf yang beku sampai kata-kata yang tak bisa diam. Tempat yang kurindukan akhirnya diwujudkan oleh kawan yang telah kawin dan telah berketurunan. Selamat book cafenya ya. Rinduku buatmu, sayang.

  6. gimana gitu baca komet scripta…. he
    saya sudah memantapkan hati untuk ikut memeriahkan dan meributkan book cafe nantinya. dan yang pasti saya akan mencari orang yang bisa saya ajukan permintaaan untuk menularkan ilmunya pada saya yang hina-dina ini di rungan tersebut. Hidup book cafe (kaya kampanye ajah)…
    jabat erat dan tabik!

    : Bila tak ada orang yang mau menularkan ilmunya, maka cari saja di buku-buku ya, hehee…

  7. seandainya emang sudah ada, pasti tiap hari gue nongkrong disono…kagak peduli lagi yang namanya pusat perbelanjaan. bagi gue membaca itu segalanya, baca buku itu kereeen……

  8. untuk Yulia dan siapa saja:
    Book Cafe sudah hadir di Banjarbaru, tepatnya Jl Rajawali samping Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
    (ok, saya tunggu di sana, hehee.. promosi..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s