Mimpi Buruk Ujian Negara

 

Siapa sangka, ternyata Albert Einstein pada usia 16 tahun juga pernah gagal dalam tes pengetahuan umum.

 

Seandainya masa SMA saya di zaman seperti sekarang ini, maka kemungkinan besar saya tidak akan pernah tamat SMA. Namun saya percaya itu bukan lantaran saya bodoh, melainkan karena saya semasa SMA dulu seorang yang sangat malas belajar – jika memang membaca buku-buku pedoman sekolah dan menghapal rumus hitung-hitungan yang absolut tidak boleh selisih meski setengah angka pun, itu disebut sebagai belajar. Beruntunglah masa SMA saya adalah ketika nilai Ebta-Ebtanas masih bisa dibagi-bagi; nilai mata pelajaran yang tinggi bisa dikonversikan ke nilai mata pelajaran yang mendapat nilai rendah (seingat saya begitulah dulu kalau tak salah). Saya bisa membayangkan betapa repotnya dewan guru membagi-bagikan nilai saya yang rata-rata tak bisa dikatakan memuaskan itu.

 

Makanya tak heran bila seorang keponakan saya bertanya-tanya kepada bapaknya mengenai nilai-nilai rapor saya yang buruk itu (dia secara tak sengaja mendapatkan arsip rapor saya semasa sekolah dulu). Mungkin persisnya dia bertanya begini; mengapa pamannya yang nilai-nilai sekolahnya dulu buruk, kok bisa menjadi seperti sekarang ini? – meski kenyataannya saya sebenarnya tidaklah terlalu hebat apalagi luar biasa, kendati memang bisa saja dikatakan lebih baik mengingat nilai saya yang buruk semasa sekolah dulu. Tapi, bukankah di luar sana sering kita temui orang bodoh yang sukses, kaya raya, dan punya istri banyak pula – kendati juga beristri banyak tidak mesti kaya raya, apalagi harus pintar. Nah, apakah itu bisa dikatakan sebagai keberuntungan nasib?

 

Sekali lagi saya bersyukur karena tidak lahir sebagai generasi anak SMA sekarang, yang dituntut belajar secara serius lantaran takaran nilai yang harus diraih begitu tinggi. Bisa dibayangkan betapa repot dan seriusnya para siswa sekarang belajar. Dan ketika ujian, ternyata kacau balau; soal ujian tertukar-tukar, cetakan soal yang kabur, sampai siswa terpaksa harus ujian ulang lantaran soal ujian yang diberikan ternyata tidak sesuai.

 

Kasus yang terakhir itu dialami para siswa SMK Telkom Shandy Putra, Banjarbaru, yang terpaksa harus menjawab ulang soal ujian hanya karena ketidakbecusan pemberian materi soal kepada mereka. Padahal barangkali ketika siswa-siswa itu telah selesai menjawab soal ujian SMA (yang salah itu), mereka tengah bersiap tidur siang untuk mengistirahatkan otak yang letih. Eh, Tahu-tahunya mereka malah mendapat panggilan untuk menjawab soal ujian kembali. Lha, bisa dibayangkan betapa peningnya para siswa ini. Baru saja selesai menjawab soal ujian (yang salah), disuruh menjawab soal ujian kembali — yang tentu saja pertanyaan-pertanyaannya berbeda pula.

 

Kesalahan dan kekacauan yang terjadi itu tentu saja sangat merugikan para siswa, konsentrasi mereka terganggu, mental mereka terganggu. Dan betapa fatalnya andai karena kesalahan teknis selama ujian itu berakibat tidak lulusnya siswa (seorang atau 100 persen, saya kira tak ada bedanya). Iya, bisa saja ketidaklulusan itu lantaran pengaruh kekacauan yang terjadi selama berlangsungnya ujian. Iya kan? Dan ketidaklulusan yang hanya ditentukan dalam tiga hari masa ujian (yang kacau pula), apakah itu sudah menjadi sesuatu yang final untuk menyatakan mereka yang tidak lulus itu sebagai siswa yang kurang cerdas? (untuk tidak menyebut bodoh) dengan keberuntungan yang tak berpihak. Sementara yang lulus disebut sebagai siswa cerdas (dengan sedikit atau banyak keberuntungan selama menjawab soal, juga faktor eks semisal doa).

 

Padahal lulus atau tidak, begitu pula naik kelas atau tinggal kelas, belum sepenuhnya bisa menjadi tolak ukur bagi kecerdasan seseorang. Sebab kita tahu, Albert Einstein pada usia 16 tahun (1895) juga pernah gagal dalam tes pengetahuan umum, karena ia lebih menyukai matematika dan fisika (baca Dear Professor Einstein, Kaifa 2003). Seperti juga di film Good Will Hunting (Gus Vant Sant, 2005), anak muda bernama Good Will (dimainkan dengan cemerlang oleh Matt Damon) yang dikenal sebagai berandalan itu mampu memecahkan soal matematika yang padahal dosen di institut teknologi ternama AS, tempat si anak jenius itu bekerja sebagai cleaning service, memerlukan waktu 2 tahun untuk menjawabnya.

 

Jadi, saya kira, siswa yang tidak lulus Ujian Negara (UN) bukan berarti mereka adalah siswa yang tidak cerdas. Boleh jadi siswa tersebut memang tidak pandai pada ilmu pengetahuan yang kebetulan diujikan, sementara pada ilmu pengetahuan atau bidang lain semacam seni dan olahraga dia bisa saja lebih unggul. Nah, haruskah karena hanya tidak lulus di tiga mata pelajaran UN, lantas ia mesti tinggal kelas—membuang waktu satu tahun?

 

Barangkali kita bisa bersepakat dengan Einstein yang pernah menulis satu imbauan kepada pemerintah Jerman (waktu itu sedang berkecamuk Perang Dunia I) agar mengakhiri keharusan bagi murid-murid menempuh ujian akhir yang sulit sebagai syarat kelulusan dari SMA. Artikel yang diterbitkan di salah satu koran terbesar Jerman pada hari Natal tahun 1917 itu diberi judul “Nightmare” (Mimpi Buruk).

 

Saya pun lalu membayangkan, siswa-siswa yang telah selesai mengikuti UN itu kini tengah dihantui “mimpi buruk”, lulus tidak…, lulus tidak…., lulus tidak…. (sandi@radarbanjarmasin.com)

Iklan

4 pemikiran pada “Mimpi Buruk Ujian Negara

  1. mun aku gadepin yang namanya ujian, niatnya ngadepin sebuah peperangan dimana gue ‘harus menang’ dengan cara yang halal. kalo kalah ? berarti ada strategi yang kurang tepat or kita kurang persiapan, or memang sudah rejekinya segitu dikasih Allah. yang jadi masalah, gak semua kan mikirnya UN adalah sebuah evaluasi akan ilmu yang dimiliki. So, kapan majunya pendidikan kita kalo cuma menelorkan para plagiat dan pecundang ?! fiewh …

  2. begitulah negara kita, hukum alam yang berlaku… UN tuh seleksi alam terkejam, yang sempurna bisa lulus, sedangkan yang jelek ataupun masih dalam proses menuju sempurna di singkirkan agar tidak memalukan, sedih saya….

    : yup, padahal (seperti teori Einstein?) kepintaran itu juga relatif. Bisa saja yang gak pintar matematika, ternyata pintar merayu wanita. Nah, lho..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s