Hudan

 

Bila kau menjenguknya, jangan takut kalau-kalau tak bisa menghiburnya. Sebab dia terlalu pandai untuk menghibur dirinya sendiri.

 

Dia terbaring lemah, pucat. Selimut panjang menutupi hampir sepanjangan tubuhnya, dan kita tahu — namun mungkin takkan berani menyaksikan — luka besar memanjang dan sebagian besar organ di dalam perutnya rusak; tulang rahim, tulang pinggul dan satu tulang rusuknya terlepas menyentuh paru-parunya sehingga menyulitkannya bernapas. Sebab itulah terkadang dia tampak tersengal-sengal dan berusaha mengatur tarikan napasnya agal bisa normal. Sementara kedua kakinya tak bisa digerakkan, meski dia mengaku masih bisa merasa.

 

Dia sebenarnya tak boleh tertawa – karena akan ada tarikan napas dari perut – namun dia tetap saja mencoba melucu kepada mereka yang datang menjenguknya. Kau pun tak akan sanggup menolak bila dia memintamu untuk membacakan puisi atau bernyanyi; maka berpuisilah Abdussukur dan Micky Hidayat, maka bernyanyilah Andre, temannya dari Martapura. “Jangan lagu itu, jangan lagu India, aku tak suka,” dia tetap cerewet. Dan lagi-lagi kau pun tak akan tega untuk tidak memenuhi permintaannya menyanyi lagi, atau membaca puisi lagi. Tapi dia akan mendengarkan sungguh-sungguh, matanya terpejam, dan bila puisi atau nyanyianmu menyentuh perasaannya, maka kau bisa melihat air matanya membulir dari matanya yang tampak letih itu.

 

Dia, Hudan Nur, barangkali sekarang menjadi terkenal ke seluruh nusantara. Peristiwa kecelakaan yang dialaminya mengundang keprihatinan kalangan sastrawan. SMS-SMS berseliweran menanyakan kabarnya dan juga bagaimana cara mengirimkan bantuan. Mulai dari Jogja, Bandung, Lampung, Kendari, dan Kaltim, menanyakan tentang dirinya. Meski, barangkali, tak semua sastrawan dari daerah itu mengenal dekat dirinya.

 

Bahkan, saya merasa malu ketika sastrawan Saut Situmorang di Jogja sana berkali-kali mengirimkan SMS menanyakan bagaimana caranya mengirimkan bantuan kepada Hudan, dan juga meminta agar berita kecelakaan Hudan dikirimkan ke emailnya untuk disebarkan ke seluruh Indonesia. Bagaimana saya tak malu, ketika SMS-SMS itu saya terima, saya masih belum berbuat apa-apa.

 

Saya juga terharu menyaksikan kepedulian yang begitu besar kalangan sastrawan terhadap Hudan. Satu sikap yang memang selayaknya, seperti satu keluarga, seperti kata Sutardji Calzoum Bachri: terluka padamu, berdarah padaku.

 

Bila kau menjenguknya, jangan takut kalau-kalau tak bisa menghiburnya. Sebab dia terlalu pandai untuk menghibur dirinya sendiri. “Aku tetap cantik kan?” katanya kepada saya, mungkin dia sadar mukanya terlihat pucat dan kepalanya yang biasa berjilbab memperlihatkan rambutnya yang ikal tergerai masai. Dia tetap tak berubah rupanya. Saya hanya bisa tersenyum kecil, dan tak banyak kata yang saya kira mampu membuat dirinya merasa lebih baik.

 

Hudan yang kita kenal memang adalah sosok perempuan yang supel, cerdas, dan energik. Dia terlibat di banyak kegiatan; mulai dari teater, pembacaan puisi, menulis cerpen, koran kampus, buletin, dan bahkan perjalanannya ke Pelaihari yang kemudian berujung pada kecelakaan itu adalah dalam rangka memantau pelaksanaan Pilkada Tala. Pada dirinya, kita seperti melihat banyak energi yang berlimpah sehingga mesti disalurkan ke banyak aktivitas, terutama bidang seni yang memang disukainya.

 

Saya masih ingat dulu ketika dia ingin sekali belajar menulis cerpen. Berkali-kali dia memperlihatkan cerpennya kepada saya untuk saya baca. Berkali-kali pula saya mengerutkan kening membaca ide ceritanya yang saya pikir “aneh”. Sampai kemudian dia meminta saya menjadi gurunya menulis cerpen, meski ternyata dia tidak pernah menjadi murid saya, karena sejak dia mengatakan itu dia tidak pernah lagi memperlihatkan cerpennya untuk saya baca. Namun, tiba-tiba, cerpennya juga termasuk di dalam buku kumpulan cerpen Bunga Penyejuk Hati, dan rencananya juga terdapat dalam buku kumpulan cerpenis perempuan Kalsel, Nyanyian Tanpa Nyanyian (editor Y.S. Agus Suseno) yang saat ini masih dalam tahap pracetak.

 

Kini dia terbaring, hanya terbaring, untuk waktu yang mungkin akan sangat panjang. Tak banyak yang bisa dikerjakannya. Entah, apakah dia punya banyak waktu untuk membaca dan menulis. Sebab dia memang terlihat sangat payah, mengingat luka yang diakibat kecelakaan itu memang sangat parah. Namun kita yakin, dia adalah perempuan yang tak mudah menyerah. Seperti puisi yang dibaca Sukur: perjalananmu, perjalananku, perjalanan kia, adalah perjalanan pengabdian, perjalanan kesetiaan, teruskanlah perjalanan itu, sahabatku, tegarlah.  (sandi@radarbanjarmasin.com)

Iklan

14 pemikiran pada “Hudan

  1. Semoga cepat sembuh, dan semoga sakitnya memberikan inspirasi untuk berkarya.

    :amin. amin…

  2. Salam buat Hudan mas. Saya dengar ceritanya dari Mas Harie. Saya berdoa semoga Hudan sembuh secepatnya, dan semua yang menyayanginya akan tetap menyayanginya.

    terluka padamu, berdarah padaku

    Semoga jalan raya kita menjadi lebih aman…

    : jalan raya lebih aman, lebih mulus, dan truk-truk batubara disingkirkan. bagaimana, setuju?

  3. Saya tak kenal Hudan. Tapi saya merasa….apa ya?
    Menyayangkan kecelakaan itu…
    Tapi itu sudah kehendakNya.
    Saya cuma bisa mendoakan semoga sahabat anda lekas sembuh…

  4. Boss, mana postingannya lagi.

    : maaf kawan-kawan, postingan barunya agak terlambat. saya lagi agak sibuk nyiapin Book Cafe di Banjarbaru bersama beberapa teman. insyaAllah, secepatnya akan ada postingan baru. terima kasih perhatiannya.
    salam

  5. Hudan, wanita tangguh millenium
    jangan biarkan cobaan ini merongrong
    karena ku tahu kau bisa tuk lebih mengaung

    derita ini hanya ujian Rabb-ku
    ujian untuk lebih memuliakanmu
    semulia Maryam

    Semoga cepat sembuh dan kita bisa bersama kembali dalam HIMABSII

  6. saya bisa merasakan beban ini….dan hanya bisa mendo’akan…tabahlah kawan ku…sabar lah…ini bukan penderitaan… tapi awal dari suatu kebahagiaan yg tak terhingga

  7. hudan……….
    lihat aqu disini, tepat di sampingmu yang selalu kau katakan aku tak mau berjalan kaki sendiri……….
    hudan……
    disana ada aku yang kau katakan akulah yang kau lihat
    hudan…..
    hudan, hudanQ
    baca ini langsung kabari aku y

    : insya Allah akan saya sampaikan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s