Jalan Perbatasan

perbatasan kalsel-kalteng 

Cukup dengan merasakan jalan mobil Anda, andaipun Anda menutup mata (tentu tidak sambil nyetir) saat melakukan perjalanan dari Banjarmasin ke Palangka Raya, Anda tetap bisa mengetahui persis apakah Anda berada di wilayah Kalsel atau Kalteng. (Percaya sajalah…)

ANDA lama tak melakukan perjalanan ke Palangka Raya lewat jalur darat?
Saya menanyakan itu, karena saya juga hampir dua tahun tak melakukannya. Sampai kemudian pada Mei 7 2008 lalu saya ke sana, dan tampaklah perbedaan yang nyata itu.

Saya berangkat pagi-pagi bersama Hajriansyah, penyair yang juga cerpenis di Banjarmasin, untuk menghadiri acara bedah buku kumpulan cerpen saya berdua Harie Insani Putra, “Perempuan yang Memburu Hujan”, di Universitas Palangka Raya. Selama masih melaju di atas jalanan Kalsel, tak ada perbedaan yang terasa, masih seperti dulu, jalanan berlubang-lubang dan bergelombang. Itu sudah bertahun-tahun, barangkali jumlah lubang jalanannya telah bertambah pula.

Baru ketika melewati perbatasan wilayah memasuki Kalteng, ban mobil kami langsung disambut jalanan yang mulus, licin, dan bersih. Rumput-rumput di kedua sisi jalan tampak seperti hamparan permadani hijau yang dibentang sepanjangan tepi jalan, terpotong pendek dan rapi. Pohon-pohon yang berjejer, seolah-olah jaraknya diukur secermat mungkin di tepi jalan, semakin memperindah perjalanan pagi yang masih menyisakan sedikit kabut dingin itu. Sesekali kami juga berpapasan dengan petugas kebersihan jalan yang tak hanya memunguti sampah, tapi juga memotong dan merapikan rumput-rumput.

Nyaris, ya nyaris tak satu lubang pun yang kami temui sepanjang perjalanan ke Palangka Raya itu. Kalau pun ada, barangkali itu tak seberapa banyak dan pasti diameternya tak besar, karena kami benar-benar menikmati perjalanannya dan sedikitpun tak merasa terganggu dengan jalanan di wilayah Kalteng itu. Kami tahu, lubang-lubang jalan telah ditambal dengan aspal.

Saya sarankan, bila Anda melakukan perjalanan ke Palangka Raya, berhentilah sejenak di perbatasan wilayah Kalsel-Kalteng. Amatilah jalanan di antara perbatasan itu, maka Anda akan melihat betapa sebuah jalanan bisa menunjukkan kekontrasan yang nyata sebuah kota. Persis di ujung perbatasan wilayah Kalsel, aspal yang terkelupas begitu besar – tentu saja sepanjang jalan wilayah Kalsel kita juga sudah menyaksikan jalan yang rusak seperti itu. Sementara sejak di garis batas itu, jalanan di wilayah Kalteng tampak terbentang mulus (nyaris) tak ada cacat sedikit pun.

Sebab itu pula, sekalipun selama melakukan perjalanan dari Banjarmasin ke wilayah Kalteng itu kita memejamkan atau menutup mata (tentu saja tidak sambil menyetir), maka kita bisa mengetahui secara persis apakah masih berada di wilayah Kalsel atau sudah memasuki wilayah Kalteng. Caranya; rasakan saja jalan mobil yang kita tumpangi. Apabila masih sering terguncang-guncang, terhempas-hempas, atau zig-zag, maka yakinlah bahwa kita masih berada di wilayah Kalsel. Dan bila ban mobil terdengar berdesing melaju tanpa ada guncangan, menunjukkan bahwa jalanan mulus, nah itu berarti kita telah memasuki wilayah Kalteng.
Begitu pula sebaliknya, jika kita melakukan perjalanan dari arah Kalteng menuju Kalsel; bila tiba-tiba mobil terkesan menghindari sesuatu, sehingga zig-zag, atau bergoyang karena melawati jalan berlubang, maka itu artinya kita telah memasuki jalanan di wilayah Kalsel. Iseng-iseng pikiran saya berbisik, sebaiknya di perbatasan menuju wilayah Kalsel itu juga mesti ditulis rambu jalan yang bunyinya kira-kira begini: “Hati-Hati, Anda Telah Memasuki Kawasan Jalan Berlubang.”

Agus, supir yang mengantar koran Kalteng Pos (grup Radar Banjarmasin) yang setiap pagi mengirimkan koran ke terminal Banjarmasin untuk dibawa kembali ke wilayah Kalteng seperti Tamiang Layang, Buntok dan Muara Teweh, mengaku heran dengan pemerintahan Kalsel yang membiarkan jalanan rusak selama bertahun-tahun. “Saya hapal setiap lubang di jalanan wilayah Kalsel ini. Bagaimana tidak, karena setiap hari saya melewatinya. Dan lubang itu dibiarkan bertahun-tahun tanpa pernah ditambal atau diaspal,” ujarnya.

Memang, menikmati jalan-jalan di Kalteng, khususnya jalan di kota Palangka Raya yang mulus dan lapang, maka sebagai urang Banjar kita tidak bisa untuk tidak merasa iri. Sebab, di kota Banjarmasin, hari-hari kita harus menghindari lubang-lubang dan berjubelan di jalanan yang kian hari rasanya bertambah sempit saja. Ironisnya, jalanan rusak itu dibiarkan berlarut-larut dan bertambah parah, sementara di beberapa sudut jalan lainnya, lubang baru tercipta lagi.***

 

 

Iklan

7 pemikiran pada “Jalan Perbatasan

  1. mengenaskan…
    dan tentu saja lubang-lubang itu tidak dapat dipakai sebagai alasan dan anjuran bagi kita untuk meningkatkan keahlian mengemudi
    😦

    : teman saya punya istilah “bagus” untuk jalan2 berlubang di Banjarmasin ini, yakni “Jalan Arung Jeram”. Sebab tubuh terguncang-guncang dan terhempas saat melewatinya, layaknya arung jeram. cermin budaya sungai lagi?

  2. Anda betul, saat ini banyak jalan2 di kalsel yang rusak, kalau hujan kaya kolam lele habis dipanen saja, di tempat saya misalnya.

    : mending sekalian jadi kolam lele beneran ya, pak… Ada jua hasilnya.

  3. “–atau dengan menyebut tempat tinggal saya di Banjarmasin, itu bisa membuat Anda mengunjungi saya bila mampir di sini?–”

    saya akan mampir BAng, kalo k eBAnjarmasin, tenang ajah, hehehe. Apa kabarkah dirimu, sudah lama kita saling melupakan, hehehe.

  4. Pernah saya melewati tempat itu, perbatasan Kalsel dan Kalteng. Ketika mobil yang kami tumpangi bergoncang-goncang di jalan yang tak mulus seperti kapal kena gelombang sungai, koor kami berkata “Selamat datang di Kalimantan Selatan”. Jika kami memasuki jalan mulus, dan mobil terus melaju tanpa goncangan maka kami pun berkata “Anda telah memasuki Kalimantan Tengah”.

    : Hahaa… Hidup Kalsel!! (diteriakkan dengan nada getir…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s