Saigo


Percayakah, hasrat manusia akan damai sama besarnya dengan hasrat membuat senjata pemusnah yang paling mematikan?

Ketika sekelompok kecil prajurit Jepang di gua pulau Iwo Jima terdesak oleh pasukan Amerika, sang pimpinan memutuskan agar para prajurit Jepang itu bunuh diri, suatu tindakan yang diyakini sebagai sikap ksatria.

“Saudara-saudara, kita adalah pasukan kehormatan Kaisar. Satu-satunya bagi kita adalah gugur secara hormat. Inilah takdir kita… untuk menemukan tempat kita di Kuil Suci Yasukuni. Kita akan bertemu di sana,” khotbah sang pimpinan dengan hikmat sekaligus heroik. “Banzaaaiiii….!” Maka satu per satu prajurit jepang itupun meledakkan diri mereka sendiri dengan granat tangan. Hancur tercerai-berai.

Adegan memiriskan di film Letters from Iwo Jima (Clint Eastwood, 2007) itu dipuncaki dengan ditembusnya kepala sang pimpinan oleh peluru pistolnya sendiri. Darah dari batok kepala sang pimpinan muncrat ke wajah Saigo, prajurit Jepang yang masih berdiri gentar demi menyaksikan rekan-rekannya berguguran satu per satu, tidak dengan senjata pasukan Amerika, tapi dengan granat mereka sendiri. Dan Saigo menolak patuh. Anak muda itu melarikan diri, namun dicegat oleh seorang prajurit yang belum sempat melakukan aksi bunuh dirinya.

“Kita bisa mati di sini, atau kita bisa terus bertempur. Mana yang lebih baik untuk melayani Kaisar?” sergah Saigo. Dengan mata nanar, prajurit itu tetap menodongkan pistolnya ke muka Saigo. Namun sesungguhnya ia sendiri menyadari ketakutannya akan kematian. Mereka sama mudanya. “Yang mana!” teriak Saigo lagi, yang kali ini mampu membuat prajurit itu menurunkan pistolnya, dan kemudian ikut Saigo menjauh dari kematian konyol itu.

Benar Saigo takut mati, kematian yang sia-sia. Ia tidak peduli ketaatan kepada Kaisar yang itu berarti mati konyol dengan melakukan aksi bunuh diri. Saigo juga tak melihat semangat nasionalisme di dalam sebuah peperangan. Dalam keyakinannya perang hanyalah berarti kematian. Dan ia menolak kematian seperti itu, sekalipun untuk negerinya sendiri, untuk Kaisar. Seperti sejak awal ia tak hendak ikut wajib militer, ia tak ingin berperang, karenanya tak satu peluru pun dilepaskannya dari senapan. Ia lebih suka menulis surat untuk istrinya yang hamil muda. Dan ia tahu Jepang tak akan menang melawan Amerika di pulau keramat Iwo Jima dalam Perang Dunia ke-II itu.

Dengan menolak mati demi Kaisar, apakah Saigo lantas jadi pengkhianat? Terkecuali itu, adakah sesungguhnya ia memiliki semangat yang lebih besar yakni semangat hidup, semangat damai, semangat yang tidak tersekat oleh batas-batas teritorial, suku, agama, ras, ataupun bangsa?  Ia menampik patuh kepada Kaisar, kepada negeri. Perang tidak akan membawa kebaikan apa-apa, kata John Lennon. Sekalipun mungkin demi bangsa, demi nasionalisme.

Apakah sebenarnya nasionalisme itu? Bila pertanyaan ini dilemparkan kepada Albert Einstein saat ia masih hidup, maka si rambut jabrik jenius itu akan menjawab, “Nasionalisme adalah sebuah penyakit kekanak-kanakan. Ia adalah campak bagi umat manusia.” (Albert Einstein; The Imagination is More Important Than Knowledge, 2005). Seperti Saigo, Einstein pun melihat semangat nasionalisme pada zamannya adalah sebuah nasionalisme taklid buta, nasionalisme yang menjadi pembenar akan pelenyapan manusia, atau bunuh diri, di dalam sebuah pertempuran. Sedang Einstein meyakini bahwa kedamaian tidak bisa dilakukan melalui kekerasan, ia hanya bisa dicapai melalui pemahaman. Sebab itulah Einstein menyatakan betapa hebat kebenciannya kepada heroisme yang bertahta, brutalitas tak bernalar, penanaman cinta negeri yang menyimpang, dan betapa hina serta tercelanya perang.

Dan kita juga melihat, demi kepatuhan kepada bangsa atau demi Bush, hampir 3000 pasukan Amerika mati dalam perang Iraq, yang hingga kini kita tahu tak ada kebaikan apa-apa pun yang didapat setelah pertempuran itu usai. Selain hanya menyisakan puing-puing, wanita-wanita janda, anak-anak yang menjadi yatim karena kehilangan bapaknya, serta orang-orang yang akan menjadi cacat seumur hidupnya. Sekalipun kita sepakat bahwa kepemimpinan Saddam harus diakhiri, tapi itu bukan berarti dengan kekerasan, bukan dengan perang.

Nasionalisme memang terlalu sempit untuk umat manusia. Namun kita juga tidak bisa menafikannya, karena umat manusia telah “terlanjur” berbatas, menjadi kelompok-kelompok, negara-negara, dan karenanya nasionalisme diperlukan untuk memperjuangkan dan mempertahankannya, pun demi kedamaian. Di dalam semangat nasionalisme itu, terlahirlah pahlawan-pahlawan bagi bangsanya sendiri – yang meski selamanya tidak akan pernah menjadi pahlawan bagi umat manusia. (sandi@radarbanjarmasin.com)

 

Iklan

3 pemikiran pada “Saigo

  1. Nasionalisme tercipta, mungkin,
    karena ada ikatan emosi semata.

    Saat ikatan emosi tak begitu kuat, sebuah nation, bisa saja pecah. Kita sudah lihat banyak contohnya lewat sejarah.

    Nasionalisme, saya setuju seperti kata Mas Sandy, akan melahirkan pahlawan-pahlawan bagi bangsanya sendiri.

    Andaikan memang ada alien, lalu menyerang bumi, seperti di film-film fiksi ilmiah itu, maka akan muncullah pahlawan bagi umat manusia. Karena ia berjuang melawan sesuatu yang bukan manusia. Eit..nyambung gak (he..he..).

    Tapi pahlawan umat manusia itu bukan hanya muncul dari perang saja bukan? Bisa saja seseorang adalah pahlawan karena sebuah penemuan yang sangat penting artinya bagi kehidupan kita, bisa juga barangkali karena dedikasinya bagi kemanusiaan, kesehatan, dll.

    Ah..saya yang bodoh, ikut-ikutan komentar soal ini (He..he..).

    : Alien? Wah, betul juga itu pak “guru” suhadi. Tapi, bila alien (kalau memang benar-benar ada) menyerang bumi, sebaiknya kita ajak damai saja ya… Siapa tahu akan ada pertukaran “manusia-alien” antar planet, hehee..

  2. Out of topic. Bagaimana kabar kafe buku di Banjarbaru? Saya ingin mampir kalau ada waktu nanti…

    : alhamdulillah kafe bukunya jalan. Ya, kalau berada di banjarbaru musti mampir. Karena kalau tidak, akan dikutuk oleh buku-bukunya, hehee… trims

  3. jadi usil terpikir: bahwa nasionalisme hanyalah produk dari ketidakmampuan membebaskan diri dari batasan-batasan yang sebenarnya diciptakan sendiri 😦

    : Hmm… (sambil mengelus janggut, karena kata-kata pakacil selalu dalam…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s