Hudan II

Dia datang dengan *segunung api…*
(*Iwan Fals, Air Mata Api, album Mata Dewa, 1989)

SABTU malam (5/7) Minggu, Hudan Nor datang di Book Cafe, samping Museum, Banjarbaru. Sastrawan muda Kalsel yang tiga bulan lewat mengalami kecelakaan parah, yang meremukkan beberapa tulang paha, rahim dan rusuknya ini mengaku kangen dengan kawan-kawan sastrawan. Ia pun lalu membacakan sebuah catatan (barangkali puisi), yang ditulisnya di saat-saat masa terberatnya di rumah sakit. Dengan disaksikan beberapa sastrawan, seperti Rifani Djamhari, Fitran Salam, Sirajul Huda, Harie Insani Putra, Nina Indhiana, mahasiswa STIKP PGRI Banjarmasin Wawan dan Umai, kelompok Sanggar Matahari, serta beberapa pengunjung lainnya, Hudan dengan bibir bergetar membacakan catatan yang masih ditulis tangan itu. Berikut ini catatan Hudan, yang akan ditampilkan bersambung….

Banjarmasin Menangis, 23 Juni 2008
Yth. Segenap Dedah
Di
Samudra Mimpiku

Selamat Datang,

Hari ini aku berjumpa lagi dengan matahari. Sudah lama nampaknya, aku tidak merasakan kegarangannya setelah aku kalah dengan keluhku, dengan rasa sakitku. Hari ini aku mencoba menulis lagi, sekadar menuliskan segenap apa-apa yang pernah aku rasai. Memang, tidak semua rasa bisa ku patrikan di sini. Sebab lembah khayal dan keterbatasan apa yang kupunya. Aku ada karena ada. Itu saja alasanku untuk menulis. Selebihnya, berapa nilai dari sebuah air mata!? Bukankah cukup ternilai namun tidak setiap dari kita paham akan itu!

Terkadang kita hanya peduli dengan diri kita sendiri. Dengan perasaan kita. Dengan keterbatasan yang kita punya. Dan dengan segala kelemahan kita yang kita sesali. Aku menulis bukan karena itu semua. Sungguh hanya naluriku, yang mengajakku setelah aku terbangun dari lembah mimpi. Aku tahu, setiap dari kita mempunyai alasan kenapa melakukan sesuatu meskipun salah satunya menyatakan dengan alasan tidak tahu. Namun, tahu apa kita dengan semua. Lembah khayalan terkadang membuat kita tidak mengerti betapa luasnya alam semesta ini. Betapa bernilainya satu persatu tarikan napas. Aku tlah mengalaminya, aku berjalan antara hidup dan mati, entah apa yang aku rasa, namun, dalam benakku dunia begitu-begitu saja. Dan benar apa kata “Rendra” suka duka kita bukanlah istimewa sebab setiap manusia juga memilikinya hanya kadarnya saja yang berbeda.

Nah, sekarang aku kembali berjalan di lembah kisah. Aku mengelilingi labirin jiwa yang di dalamnya hanya ada aku dan sebongkah kristal juga gugusan gletser yang siap patah-jatuh ke dasar lantai. Aku menulis atas paksaan pikiranku. Yang beberapa waktu sempat tersendat. Aku ada karena kau ada. Aku ada karena dia. Dia ada karena kalian. Kalian ada karena mereka. Namun, sebenarnya kita semua tidak pernah ada.

Beberapa kali aku pernah tercebur di lembah yang aku sendiri tidak mampu keluar dari dalamnya. Sebab, di dalamnya aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah kutemukan di luar lembah itu. Maka aku putuskan untuk bertahan di lembah itu. Namun, dalam diri ini sebenarnya mengakui tidak betah juga tinggal di lembah seperti ini. Namun, pada waktu itu aku dikuasai hasrat dan nafsu yang masa sekarang aku mencoba keluar dari lembah itu. Aku mencoba untuk melihat dunia luar. Dunia dalam kaca mata sebenar-benarnya.

Uh. Ternyata, aku salah dalam memaknai hidupku ini. Aku tidak memahami dengan sungguh bahwa dunia yang kudiami selama 4 tahun ini adalah dunia yang dikuasai oleh hasrat dan gelora hidup tanpa makna. Aku lupa di atas langit masih ada langit. Masih ada berlapis-lapis yang tidak terduga. Sekarang, apa yang bisa kulakukan? Selain mengenang apakah dengan menyesal dan sembahyang semuanya akan terlepas? Oh, tidak. Harus ada yang ditebus. Harus ada yang dikorbankan maka biarlah tubuhku yang bersalah menebusnya. Selagi otak masih berpikir bahwa langit masih biru. Tak apa. Aku akan ikhlas menerima segenap yang dituliskan. Aku akan menebus segala perbuatanku yang menurutku sudah di luar batas kewajaran.

Yah, sementara ini mencoba menata hidupku dulu, sebelum semua meninggalkanku. Aku masih mempunyai waktu untuk keluar dari lembah itu. Dan aku harus keluar dari tempat itu. Yah, aku sudah keluar. Aku sudah terbebas dari lembah itu. Sekarang, aku berada di tempat yang dikatakan orang tempat yang cukup menjemukan. Tapi aku tidak sependapat dengan mereka. Bagiku, tempat ini adalah penebus masa laluku. Aku masih mampu. Aku pasti bisa katakan dari apa-apa yang ditakuti oleh orang-orang di luar sana. Sungguhpun aku seperti sebelumnya.

Di satu sisi, aku merasa kehilangan atas apa yang pernah aku miliki sebelumnya. Di sisi lain, aku justru bersyukur dengan ini semua. Dengan begini aku paham bagaimana mengembalikan rupaku ke arah yang tepat. Itu saja. Bekas sisa butiran air mata yang kupunya juga seberkas masa depan yang terselip di kantong bajuku. (bersambung)

Iklan

8 pemikiran pada “Hudan II

  1. Ketigax (he..he…)

    Salut buat Mbak Hudan..
    Saya ikut prihatin, tapi saya percaya Mbak Hudan punya kekuatan hati yang luar biasa, yang akan mengalahkan segalanya.

  2. “Di satu sisi, aku merasa kehilangan atas apa yang pernah aku miliki sebelumnya. Di sisi lain, aku justru bersyukur dengan ini semua. Dengan begini aku paham bagaimana mengembalikan rupaku ke arah yang tepat. Itu saja. Bekas sisa butiran air mata yang kupunya juga seberkas masa depan yang terselip di kantong bajuku.”
    ======
    Kata-kata yang sangat indah dan penuh ketegaran. Siapapun pasti akan bangga, sebagaimana Mas Sandi dkk, terhadap Hudan. Salut buat Hudan!

  3. salam tahbis bagi orang yang dituntunNYA.. betapa indah perjalanan itu ternyata.. sehingga apapun yang terjejak dan dijejak selalu penuh keindahan makna..

    Hudan aku tidak pernah mengenalmu tapi terimakasih atas segala pencerahan yang kau berikan dengan sukarela… semoga jalan itu selalu terang untuk mu, untuk kita dan untuk semua..amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s