Hudan III

Dia terlihat baik-baik saja, tapi siapa tahu dalam hatinya…?

Hudan Nur kembali hadir di Book Café, Sabtu (12/7) malam. Kali ini dia bersama Isuur Loeweng membacakan cerpen saya, Tubuh dan Kepala Mencari Rupa. Ia sudah terlihat lebih baik. Canda tawanya kembali berderai, seakan peristiwa kecelakaan tiga bulan lewat telah menjadi bagian masa lalunya – meski dia masih harus menjalani beberapa perawatan termasuk rencana operasi cairan darah beku di dalam kepalanya akibat benturan saat tabrakan di wilayah Pelaihari itu. Berikut ini adalah sambungan catatannya saat dirawat di RS Ulin, Banjarmasin, yang dibacakan pada malam Minggu (7/7), pekan lalu:

MENJELANG kebangkitanku kembali. Keluar dari tempat nista itu. Aku merencanakan beberapa perjalanan melepas kepulanganku dari perjamuan dengan dewa mabuk kemarin sore. Ketika aku mulai menatih hari, melangkah melewati hari yang kusiangi dengan keringatku. Untung saja, masih ada tersisa seberkas harapan di saku bajuku. Hingga sekarang aku bisa menebarkan beberapa langkah dengan kepastian. Ketika aku mencoba memahami satu persatu makna dari langkah yang kupijakkan. Maka, aku merasakan bahwa aku tidak sendiri begini. Masih banyak di langit sana, lapisan yang juga menyimpan kenangan masa lalu yang serupa dengan apa yang pernah aku alami. Satu hal yang hari ini membuatku tersenyum. Kesadaran bahwa kita adalah pengembara. Mengembara dari daerah satu ke daerah lain, dari cinta satu ke cinta lain bahkan dari luka yang satu ke luka yang lain. Yah, begitulah.

Kepemahaman dariku seputar hidup. Ternyata hidup itu-itu saja. Tak ada yang berbeda, sama halnya dengan pagi selalu ditemani mentari atau malam dengan sinar rembulan dengan bintang-bintang. Begitu-begitu saja bukan? Hidup adalah sesaat. Selebihnya, aku terkwatrin. Tak ada yang bisa kau temukan di sini, selain menghadapi kesementaraan itu. Memahami sejengkal demi jengkal makna kesentausaan. Segenap hal di balik kejadian. Lalu, ada angin berhembus. Menyentuh helain rambutku. Mungkin ini pertanda bahwa alam mulai mengajakku berkawan. Bersama menapaki hidup, bersama membangun dinding harapan, dan berjanji bersama untuk tidak saling terpisahkan. Sampai mati kita berurai.

Aku sudah tidak mampu mengingat, berapa banyak aku menghabiskan waktu dengan kemalasanku. Kadang, sifatku yang uring-uringan membuatku terpaksa keluar dari hijab yang kubuang di balik mimpi. Adakah yang mampu aku jelaskan dengan semua kecengenganku dalam menyelami labirin hidup ini? Ternyata semuanya kembali ke nilai stagnan. Bahwa segala apa yang dibuat sekarang, adalah tak bermakna. Tak ada yang dapat menjelaskan mengapa bunga diciptakan dengan berbagai warna serta aroma selain keanekaragaman. Selebihnya, apakah aku dapat keluar dari labirin yang kubuat sendiri itu. Atau bagaimana? Ada segenap rasa yang tidak mampu aku pahami dengan akal sehat. Namun, sekali lagi yang harus kuingat di sini, bahwa kita hidup jangan menggunakan rasa tapi akal sebagai penimbang baik dan benar. Sejauh akal adalah Tuhan kita dalam bertindak dan mengambil kebijakan dalam berhal.

Oh ya, selain itu aku juga memahami bahwa kita ini bukan hanya debu tapi adalah hal yang sebenarnya tiada. Yah, aku sebenarnya tidak suka menuliskan itu. Namun, aku bisa apa? Sudahlah, aku tidak akan pernah tuntas, mengupas tentang hidupku. Karena setiap kita mempunyai sisi yang berbeda. Tentunya bukan? Tidak ada yang sanggup memahami keberagaman, dengan segala eksotilisitas dan keterbatasan. Yah, beginilah caraku. Semoga aku siap menggali kehidupan yang baru. Sebab Hudan sekarang adalah Hudan yang dibuat oleh Hudan sendiri. Hudan yang merdeka semerdeka-merdekanya.***

Iklan

3 pemikiran pada “Hudan III

  1. Maaf ya, saya tidak bisa memenuhi undangannya. Lagi nyelesain penelitian yang melibatkan banyak orang. Jangan kapok ngundang ya. Salam berkarya seni.

    : semoga ini bukan karena sampean merajuk, karena pernah terlupa ngundang, heheee… (tapi saya percaya dgn kata2 sampean di atas).

  2. selamat malam hudan.
    selamat malam hudan!
    selamat malam hudan?

    : Hudaaaannn…, dipanggil tuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s