Lelaki dan Pelacur

(Ini cerpen lama, yang saya tulis tahun 1998. Yeah, sekadar iseng, saya coba tampilkan di sini. Barangkali ada yang baca… )

 

BEGITULAH. Abidin seolah-olah baru tersadar. Dan mendapatkan dirinya sudah berada di sebuah lokalisasi, dalam kamar bersama seorang pelacur. Ketika pelacur itu hendak melucuti pakaiannya sendiri, kontan Abidin tersentak. Kaget.

“Tunggu…tunggu. Apa-apaan ini,” katanya bingung.

“Lho, bukankah mas berada di sini untuk ini?” jawab pelacur itu tak kalah bingung.

Sialan, maki Abidin dalam hati. Dia menyalahkan diri sendiri.
“Begini mbak, sebenarnya keberadaan saya di sini tanpa saya sadari. Saya tidak mengerti, kenapa tahu-tahu saya sudah berada di tempat ini,”
katanya mencoba menjelaskan keberadaan dirinya.
“Ha..ha…ha mas jangan bersandiwara. Emangnya mas dibawa hantu, lantas diletakkan di kamar ini?”

“Sunguh, saya benar-benar tak menyadarinya.” Abidin tetap mencoba meyakinkan pelacur di depannya.

“Baiklah, jika mas benar-benar tak menyadarinya. Tapi mas mau kan?” Pelacur itu lantas mulai membuka kancing bajunya sembari melirik genit.

“Hai…hai, saya bukan tipe lelaki begituan,” cegahnya setengah berteriak.

“Mas, gimana sih?” pelacur itu mulai gusar. “Kalau memang nggak mau, ya cepat ke luar sana. Buang-buang waktu saya saja.”

Bagaimana pelacur itu tidak marah, sudah hampir seminggu dia tidak mendapat tamu. Sedang ada lelaki di depannya malah main-main.

“Sungguh mbak, saya benar-benar tidak mengerti mengapa bisa sampai berada di sini.” Abidin mencoba meyakinkan perempuan itu. “Tapi karena saya sudah terlanjur membuang-buang waktu mbak, dan saya juga sudah kepalang basah masuk ke kamar mbak, bagaimana bila mbak menemani saya bicara saja? Dan saya tetap akan membayar.”

Sebenarnya janji Abidin untuk membayar hanyalah akal-akalan saja. Bagaimana mau bayar, di kantongnya cuma ada dua lembar ribuan yang hanya cukup untuk ongkos pulang.

Didorong rasa ingin tahu dan untuk menumpahkan kekesalan yang menyesak, juga karena pengaruh minuman keras masih menguasai dirinya, dia terpaksa berbohong.

“Ha… ha… ha… mas ini lucu. Mana ada orang ke tempat seperti ini hanya untuk bicara saja. Ha… ha… ha…” tawa pelacur itu sinis.

“Jika mbak tidak mau diajak bicara, jadi pendengar saja juga boleh. Saya juga tetap akan bayar.”

Pelacur itu kembali tertawa, hingga dadanya terguncang-guncang. Guncangan ini terlihat jelas dari celah baju, yang dua kancingnya atasnya terlepas.

Meski kelelakian Abidin sempat tersentuh juga, namun ia berusaha meredamnya. Sejak pertama dia menyadari, begitu berada di tempat mesum itu, hatinya sudah bersikukuh agar tak terpikat pelacur di depannya. Walaupun dalam hati kecilnya, Abidin mengakui pelacur yang bertubuh montok ini, cukup menggairahkan.

“Mas sudah beristri atau belum?” selidik pelacur itu, setelah tawanya reda.

“Su…sudah,” jawab Abidin ragu.

“Nah, kalau begitu mengapa tidak mengajak istri mas saja bicara?”

“Justru itu….”

“Justru apanya?”

“Justru masalah istri saya itulah, yang ingin saya bicarakan sama mbak.”

“Lho mengapa mesti dengan saya? Mengapa tidak dengan yang lainnya saja?” tanya pelacur itu tambah tak mengerti.

“Bukankah dari semula tadi sudah saya katakan, saya terlanjur masuk ke kamar mbak dan membuang-buang waktu mbak? Jadi, untuk menebusnya saya minta mbak mendengarkan cerita saya. Dan jangan khawatir, saya pasti bayar.”

“Memangnya ada apa dengan istri mas?”

“Jadi mbak setuju?”

“Sudahlah. Sekarang mas cerita saja,” jawab pelacur itu sambil meletakkan rokok putih di bibirnya yang merah menyala. Cepat-cepat Abidin merogoh korek api dan menyalakan untuk si pelacur. Kemudian Abidin menyalakan rokoknya sendiri.

Ia mulai bercerita. Pertama dia menceritakan bagaimana sampai berada di kamar si pelacur. Setelah menenggak habis minuman sebotol minuman keras di kedai pinggir jalan bersama-sama temannya, Abidin mulai kehilangan kesadaran.  Dia tidak dapat mengontrol dirinya lagi. Langkah kakinya menghempaskan kesadarannya di tempat di mana sekarang dia berada.
“Sebenarnya saya bukan laki-laki pemabuk,” tegas Abidin.

“Lalu kenapa kamu tenggak minuman itu?”

Abidin terdiam. Pelacur menunggu. Dia juga terdiam duduk di kursi meja rias sambil menikmati rokok putihnya. Dalam hati si pelacur memuji ketampanan laki-laki di hadapannya.

Merasa tidak enak diperhatikan, Abidin meneruskan ceritanya. Bahwa dia bertengkar dengan istrinya. Hampir sebulan ini, rumah tangga Abidin memang sering diwarnai pertengkaran. Dan pertengkaran malam ini merupakan klimaks dari ketidaktahanan Abidin mendengar omelan istrinya.
Semenjak terkena PHK dari tempatnya bekerja, pertengkaran-pertengkaran kecil mulai sering terjadi dengan istrinya. Pokok persoalan sebenarnya berawal dari masalah perut.

Setelah uang pesangon menipis dan pekerjaan belum juga didapat, istrinya mulai sering ngomel, karena pemenuhan keperluan dapur menjadi tersendat-sendat. Ditambah lagi persoalan dua anaknya. Si Junai yang duduk di bangku kelas tiga SD, sudah dua bulan SPP-nya tertunggak. Si Jufri yang berumur 2 tahun, hampir dua minggu ini sering menangis terus karena susunya tak terbeli lagi.

“Saya bingung. Benar-benar bingung,” sungut Abidin sambil mengucek-ucek rambutnya. Lelaki ini salah satu korban keadaan, batin pelacur itu.

Tiba-tiba wanita ini tertawa keras. Abidin tersentak kaget.
“Ha.. ha.. ha.., kamu salah alamat. Salah alamat,” kata pelacur itu masih dalam sisa tawanya.

“Aaa…aaapanya yang salah alamat?” tanya Abidin bingung.

“Kau salah. Kau salah menumpahkan keluh kesahnya padaku. Kupikir, hidupku lebih susah dari kamu. Kamu hanya terlalu lemah. Sebagai seorang lelaki, apalagi seorang bapak, kepala rumah tangga, kamu harus mampu mempertahankan kehidupan keluargamu. Sekarang keadaan memang lagi susah. Tapi jangan sampai keadaan itu, menghancurkan kehidupan rumah tanggamu. Kita jangan begitu saja menyerah dengan keadaan. Kita harus mampu menyiasati kehidupan, jika tetap ingin bertahan hidup.”

Perlahan pelacur itu bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu.
“Sekarang kau pulanglah kepada istri dan anak-anakmu. Jangan sampai mereka tambah menderita lagi karena kau tidak ada di antara mereka. Simpan saja uang yang kau janjikan kepadaku.” Pelacur itu mempersilakan tamu lelakinya keluar.

Abidin cepat bangkit dari duduknya. Dalam benaknya hanya ada satu keinginan, memeluk istri dan anak-anaknya.***

updated: 08/22/98 09:42:18 PM

Iklan

25 pemikiran pada “Lelaki dan Pelacur

  1. Ternyata pelacur itu punya rasa kasihan juga ya terhadap lelaki yang sedang dirundung kesusahan. Kasih nasehat bagus, logis, dan langsung ke sasaran.

    Mas Sandi, kalau ngirim cerpen ke media macam radar, berapa lama baru di muat, trus kalau ndak di muat gimana saya bisa tahu? Saya kemarin ngirim cerpen, masuk kriteria gak ya? Lewat email radar@banjarmasin.com

    : Pantes saja saya tak pernah lihat cerpen Pak Suhadi, karena salah alamat. bukan radar@banjarmasin.com, tapi redaksi@radarbanjarmasin.com. Namun sebaiknya kirim ke email saya saja: sfirly@yahoo.com.
    Kalau mau tahu dimuat ato tidak, tengok aja terus koran hari minggu, hehee.. (yeah, kita kan bisa saling berkirim kabar lewat email, bukan begitu Pak Suhadi?) Ok, saya tunggu cerpennya, Pak.

  2. Pelacur yang baik hati, tapi memang karena pelacur juga manusia. Namun, kebaikan seseorang kadang tertutupi karena profesinya yang barangkali bukan karena ingin.
    Oya saya juga senang baca novel, ada kah jua menulis novel.

    : Novel? sudah lama obsesi bikin novel itu dikandung badan, tapi belum kesampaian juga, hehe… Doakan saja. Atau kita tunggu saja novelnya Pak Suhadinet? Bagaimana Pak Suhadi?

  3. Wah, salah ternyata!
    Nanti saya kirim lagi, ke sfirly@yahoo.com biar kalau kalau belum bisa dimuat saya bisa tau, ada feedback dari Mas Sandi. He..he… Makasih banyak Mas.

    : sip, pak. jangan salah alamat lagi ya, hehee…

  4. Sudah dikirim cerpennya.
    Saya pas lagi begadang ini. Bikin revisi jadwal pembagian tugas ngajar guru. Banyak yang minta hari ini, hari itu, jam anu. Rombak-rombak terus. Jadi pusing, mending kirim cerpen dulu ke Mas Sandi. He..he..

    : terima kasih kiriman cerpennya, pak suhadi. Menarik…

  5. Pelacur memang ada yang baik hanya saja kebaikan itu terkadang salah kaprah krn pekerjaannya

    : apakah memang benar pelacur di dalam cerpen “Lelaki dan Pelacur” itu perempuan yang baik? Saya lupa apa yang terpikirkan saat membuat cerpen itu.

  6. Jadi bisa memenuhi kriteria apa tidak Mas Sandi? Trus ada kritiknya ndak?

    : Sssttt…, Pak Suhadi, untuk yang ini kita diskusi lewat email aja. Di sini banyak yang baca, hehee… Lagi pula, yang lain kan tak tahu apa yg kita bicarakan. Trims.

  7. pencerahan bisa datang dari siapa saja, bahkan dari apa saja..

    great story..

    :trims. Semoga kita selalu menemui hal yang mencerahkan… untuk hidup yang kadang meletihkan…

  8. wah pelacur pulang buhannya barucau….
    unda ada pang mandangar kisah , ujarnya pas kai main wan pelacur nitu sidin baisian duit 7500 an nya padahal sakali main 15.000 an jar. paksa ai kai mamasukakan satangah2 haja. bingung ai pelacur tu tadi..lalu batakun “kanapa kai satangah haja masuknya” jawab sidin ai ” aku ba isian duit 7500 an nya”

    hhahahahaaaaa……salam wal ….lawaas kada batamuan nah….
    kirim salam wan buhannya lah….oiiii

    : Hahaaa… loco banar, wal ai. Iya, lawas kada batamuan. Datang aja ke Book Cafe, insya Allah ane ada haja di sana. Salam

  9. judulnya bisa diganti jadi: “Lelaki dan Pembatuan” hehehe… btw, pabila jua sorang diundang ka Book Cafe…

    : Masih ingat aja sampean lawan Pembatuan, bos lah, hehee… Sawat jua kah manjanguk ka situ.. 🙂
    Bila ke Banjar(baru), semestinyalah singgah ke Book Cafe (siapa saja, khususnya yang mengaku suka baca buku). Ditunggu, Bos… Sukses selalu di belantara Jakarta. Salam buat jagoan2 sampean…

  10. Wah, udah lama gak berkunjung dengan mas yang satu ini… Apa kabar mas???

    Adakalanya pelacur lebih baik dari pada manusia yang melacurkan dirinya pada suatu titik kemunafikan… Banyak orang yang melacurkan dirinya hanya untuk ego-centrisme belaka…

    : terima kasih berkunjung lagi. sering-sering aja mampir…

  11. Thanks Mas Sandi, saya sudah baca Radar edisi minggu. Rasanya senang sekali. Seperti anak kecil yang dibelikan baju baru untuk lebaran.

    : Alhamdulillah… Bukankah dengan membuat orang lain senang, maka sesungguhnya kesenangan yang kita dapat jauh lebih berlipat? (Tapi lebaran memang sebentar lagi, Pak Suhadi…)

  12. wal, ancap banar kisahnya, kdd lika-likunya..tiba-tiba saja si pelacur mnjadi berempati. tapi, sepuluh tahun memang telah berlalu, mgkin seperti aku yang sekarang baru belajar, he..he.. novelnya jgn dibcarakan aja, digawi!

    : Hahahaa…, ya itulah salah satu cerpenku sepuluh tahun yang lalu. Setidaknya bisa melihat jejak awal2 proses kreatif. Novel? Seandainya ada yang memberi beasiswa, kira-kira hancap aja digawai, hahaa….

  13. Apa jar Hajri tu…hehe…pinanya lagi maugai berkas-berkas nang bekarat ni….

    : berkas-berkas nang berkarat pun kadang-kadang memiliki nilai yang tinggi, seperti harta karun, hehee…

  14. mmmmmm anu, pelacur ternyata juga punya hati nurani,
    ahhh seandainya semua pelacur seperti itu
    *membenturkan kepala sendiri ke dinding*
    he,,, sippppp
    cerpen yang telah terjamah waktu, tapi masih segar dalan ingatan

    : yang sulit dalam membuat sebuah karya, adalah bagaimana karya itu bisa meninggalkan jejak dalam ingatan.

  15. cerpen ini seksis. dinamika tokohnya bagus banget. tension dramatisnya main. hidup tak pernah mulus. penuh liku. dan yang mungkin tertinggal dalam kenangan lelaki adalah ungkapan, “Pelacur itu kembali tertawa, hingga dadanya terguncang-guncang. Guncangan ini terlihat jelas dari celah baju, yang dua kancingnya atasnya terlepas.” ungkapan dari mata yang merindukan masa kecil yang damai. hahaha

  16. Mas Sandi, boleh minta no hp-nya gak, kalau boleh kirim ke no saya ini ya, 085249825152

    ya sudah, saya kasih tahu di sini saja no hp saya (08125020503), biar sekalian go publik, hehee..

  17. Wah, sastrawan Kalimantan. Selamat berjuang dan salam kenal.

    : Selamat berjuang juga Pak Willy. Semoga sastra di Kalteng bisa cepat berkembang.

  18. cerita ni pinanya bermula dari sebuah pengalaman prbadi, lalu dipecah-pecah, lalu dihitung-hitung, lalu ditimbang-timbang, ditulis, ditimbang-timbang lagi, dan jadilah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s