Kematian yang Terlalu Pagi

(ini cerpen saya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan, juga terdapat dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07)

BERSAMA harum kamboja, tiba-tiba saja cahaya berebutan menerobos kamar dari jendela. Udara berpusing, teraduk-aduk, kertas-kertas berterbangan, buku-buku berbukaan bersicepat membolak-balik lembar halamannya sendiri di tengah lesatan bilah-bilah cahaya yang menyakitkan mata. Kamar pun banjir cahaya, menggigilkanku dalam sergapan ketakutan sekaligus ketakjuban. Gigilku dalam kecemasan melebihi kecemasanku atas kata-kata.
Seperti sepasang sayap yang saling bersedekap, perlahan cahaya menjadi lebih tenang. Gelombang udara pun membantun pelan. Dalam gentar yang teramat, kuberanikan membuka perih mata menangkap sesosok. Cahaya! Cahaya! Ahai! Tuankah malaikat itu? Tuankah?

Tuankah yang datang sepagi ini memenuhi undanganku yang kukirimkan lewat pertanyaan kalut dalam leretan waktu? O, tak siap aku menyambut kedatangan Tuan, meski pertanyaan-pertanyaanku tentang kematian kekasihku sepagi itu pada Tuan masih memburu dan terus memburu. Seperti Tuan yang memburunya dalam dingin pagi di jalan depan rumahnya, menyergap dan membawa ruhnya dari batang tubuh kecil itu yang kemudian bak ranting patah terempas di aspal yang basah. Lalu darah. O, Samira!

“Sebuah pikap sayuran menabraknya!” Teriak orang-orang di pagi itu seperti melupakan kuasa Tuan! Padahal kaulah sosok sesungguhnya di balik kematian kekasihku pagi itu. Heh, tapi aku tidak! Aku takkan tertipu oleh pikap sayuran yang melaju dan menyambar tubuh kekasihku Samira sebagai akibat kematiannya. Tak akan. Kaulah Tuan. Kaulah tuju dari segala tuju atas sebuah sebab kematian. Kaulah! Dan kepada kaulah, Tuan, aku bebal untuk terus memburukan tanya atas kematian kekasihku Samira. Sebab kami telah menyaurkan hati. Semalam. Baru semalam dalam sebuah pinangan.

Assalamu’alaikum

O, suara yang bercahaya! Suara yang teduh tanpa prasangka. Kau, kau Tuan? Malaikat kematian bersayap cahaya? Tapi mengapa suara dan tubuh cahaya Tuan seindah perempuan? Kelembutan yang mematikan. Bagaimana keindahan ini suntuk dengan yang bernama kematian? Bukankah kematian seperti memiliki kelamin pejantan? Sebuah kerja yang memerlukan renggutan kuat tangan lelaki pada jantung-jantung yang hidup. Menyemburatkan warna merah darah, meski dalam kematian yang sunyi bahkan seputih kapur. Atau bahkan kematian seayunan daun dalam embusan angin yang kering. Ternyata kau, Tuan, pemegang titah kematian itu.

Terperenyaklah semua mitos dalam pikiran manusia yang menyimpan nama kematian adalah sekepal tangan kasar lelaki. Lihatlah maha cahaya indah ini, yang meski itu pun tetap kupanggil dengan sebutan Tuan. Sebab dialah Tuan bagi penjemput kematian-kematian kita. Dan Tuan maha cahaya yang memenuhi ruang kamarku, yang berkuasa atas nama kematian, adalah sebuah tuju bagi pertanyaanku yang bertubi-tubi bagi kematian kekasihku sepagi waktu lalu itu.

Gentar. Tubuhku masih menggigil dalam gelombang cahayanya. Akankah dia merenggut ruhku juga dan mempertemukanku dengan kekasihku, juga sepagi ini? Ataukah memberi jawab bagi pertanyaan-pertanyaanku yang telah mendarah dalam hati; tentang kematian kekasihku yang terlalu pagi? 

Rupanya kau tak pernah belajar tentang kematian. Tahukah kau, baru saja aku meraup lebih dua ribu nyawa ketika sehelai rambutmu meriap.
 

Dua ribu nyawa! Sepagi ini? Sedang ia tak sedetik pun beranjak dari kamar ini, tapi telah mengitari semesta? Inikah yang disebut kecepatan maha cahaya dalam dimensi ruang dan waktu yang tak berukur? Aku terduduk lemas bertumpu pada dua lutut. Tubuhku masih terguncang dalam gigil. Cahayanya menembusi seluruh pori-poriku, menelanjangi jasadku yang kini hanya serupa irisan-irisan daging. Aku tak lagi berbentuk.

Tapi aku masih menyimpan pengkhianatan atas kematian kekasihku, yang dalam genangan waktu selalu dilulur tanya. Meski aku sadar, kematian memang tak pantas untuk dipertanyakan. Hanya tersebab aku berlebih mencintai kekasihku itulah tanya terus memburu. Pada apa-apa telah kucoba cari jawab. Kata-kata sudah habis rangkai dalam kertas-kertas ceritaku. Aku telah terkepung tanya; sebuah kematian kekasih yang terlalu pagi.

Akankah pada maha cahaya ini tanyaku akan berbilas? Sebab rahasia kematian kekasihku ada padanya. O, Tuan, kelembutan yang mematikan. Cahaya yang tenang layaknya sayap yang disedekapkan, dan berubah bilah-bilah pisau siap melukai kala sayap cahaya direntangkan. O, Tuan, berilah aku jawaban.

Tidak kau hitungkah, berapa kehidupan di dekatmu yang terenggut sudah? Pun, kekasihmu dalam kematian yang dingin sepagi waktu lalu itu. Tidakkah kau berpikir?

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.1

O, maha cahaya! Tahulah Tuan telah banyak kematian yang mengepung ingatanku. Juga cinta, bukan? Tak diragukan lagi. Seberapa aku memuja kekasihku, serupa perempuan-perempuan memuja ketampanan paras Yusuf. Kekasihku adalah perempuan biasa, tapi cinta tak perlu penjelasan. Tahulah Tuan itu. Benar, aku bukanlah Adam yang hanya bisa memilih seorang perempuan. Hanya saja hatiku, Tuan. Tahulah pasti Tuan, betapa rapuhnya hati anak manusia. Cinta, inilah yang menjadi kisah-kisah dalam perjalanan abad-abad. Menjadi artifak. Tahulah Tuan itu. Begitulah aku mencintainya, Tuan – akh, pengakuan yang tak diragukan dalam pengetahuan Tuan.

Ketakberdayaanku, pun tahulah Tuan. Dan maafkanlah, karena aku menyimpan pengkhianatan atas kematian kekasihku. Mungkin sampai nanti, sampai satu-satu penanda kehidupan luruh dan menyadarkanku. Tahulah Tuan, bila aku juga sudah mencoba belajar pada guru kehidupan bernama kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kematian. Dalam senyum yang ringan, dalam mata yang tenang, sudah pula aku berbenam. Namun berkali-kali juga aku remuk, untuk kemudian bangkit lagi menyusun batu-batu pijak. Pada laut yang gemilang, aku pun pernah tenggelamkan diri mencari seserpih mutiara hikmah atas kematian. Lalu gunung dan hutan-hutan telah pula menjadi ladang penjelajahan diri yang tak habis-habis. Tapi selalu saja, setelahnya kubawa pulang lagi tubuh kembaraku yang tercabik menjadi lelatu. Dan tahulah Tuan, itulah yang berulang-ulang. Berulang-ulang. Maka tahulah lagi Tuan, bila aku kembali mengetuk-ngetuk pintu jawab bagi sebuah kematian kekasihku. Sebab aku masih tak berterima, Tuan. Jangan tanya soal alasan, tahulah Tuan apa yang menjadi sebab.

Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.2

O, Tuan sang maha cahaya! Aku tak pernah berusaha lari dari kematian. Pun, kekasihku tak bisa berlari dari kematian yang menjemputnya sepagi waktu itu. Yang kutahu, itulah kematian yang terlalu pagi. Siapa yang bisa meramal, pada pagi tiga puluh hari lalu itu adalah pagi terakhir kekasihku yang pada malam hari sebelumnya aku masih bersamanya, berdua di kursi beranda rumahnya. Dan pada malam itu, sungguh aku telah menyerahkan separuh hidup dan pengharapanku atas hidupnya, aku meminangnya.

“Samira, aku ingin menggenapkan hidup sebelum mati. Maukah kau kujadikan istri?” Sebuah kata sakral kuucapkan, yang dengannya telah pula siap kurelakan sebagian hidupku untuk dimilikinya, dan siap kuterima pula sebagian hidupnya. Sebuah kata yang sering kurapalkan pada malam-malam yang sunyi dan suntuk, dan dengan keberanian yang berlipat-lipat untuk bisa terucap. “Perjalanan kita sudah panjang, Samira, sudah hampir setahun, sudah waktunyalah kita untuk saling menyaurkan cincin.”

“Menikah untuk menggenapkan hidup sebelum mati?”

“Ya. Pernikahan itu seperti menggenapkan hidup sebelum mati, Samira. Kita sudah mengalami masa kelahiran, anak-anak, remaja, dewasa, dan tentu pernikahanlah selanjutnya. Dan aku memilihmu untuk menjadi tautan hidupku, melahirkan dan membesarkan anak-anakku yang juga tentu anakmu. Kelak.”

Samira terpagut diam—sebuah bicara dalam bentuk yang berbeda kukira. Namun aku bisa membaca kata-kata dari wajahnya, juga rona dalam mata dan senyumnya yang memberi isyarat. Seperti bayang, aku melihat anggukan kepalanya meski tak dalam. Pelan. “Terima kasih, Bang. Nanti Samira bicarakan sama keluarga.”

Ah.., tunailah sudah sebuah pengharapan. Kugenggam tangannya, kukecup, dan kuucapkan terima kasih. Selanjutnya kami pun sama-sama merangkai dan membayangkan sebuah kehidupan rumah tangga yang bahagia – lazimnya impian setiap manusia dewasa.

Namun tak sesiapa pun tahu, bagaimana maut mengincar dan datang menjemput, begitu pun lonceng kematian tak ada yang bisa menerka kapan berdentang. Diam-diam, rupanya sang maut telah menghitung waktu bagi kematian kekasihku malam itu. Ya,  kau Tuan, malaikatulmaut itu. Kenapa sepagi itu Tuan datang menjemputnya? Kenapa, Tuan? Tuan pasti masih sempat melihat senyum manisnya di pagi itu sisa kebahagiaan yang kami ciptakan semalam, juga matanya yang terbuka pertama kali dari tidurnya. Atau, jangan-jangan Tuan sudah mengintai nyawanya sesaat sebelum dia terbangun – atu malah sejak malam kami duduk berdua di kursi beranda rumahnya? Tuan berdiri di sudut kamarnya, mungkin di dekat jendela kaca kamarnya yang masih tertutup gorden. Dan sebelum dia membuka mata, Tuan tatap wajah mungilnya yang tanpa dosa itu, namun Tuan cepat-cepat memalingkan wajah karena tak ingin tergoda oleh perasaan iba –meski aku sangsikan ini, karena aku tahu Tuan tak pernah pilih nyawa bila ajal seseorang itu harus Tuan jemput sesuai janjinya, tak peduli dia bayi merah atau orang tua yang lemah. Lalu Tuan alihkan pandangan ke luar jendela kaca kamarnya, memandang pagi yang masih bening embun. Mungkin waktu itu Tuan dengan perasaan muram, atau jangan-jangan riang?

O, Tuan! Sungguh jeli kematian atas kekasihku diatur pagi itu. Sebuah kematian yang tak terduga, namun itulah bukti nyata bahwa kematian bisa datang tiba-tiba. Meski sesaat sebelumnya masih sempat dihadirkan kegembiraan, kekasihku Samira penuh canda di meja makan keluarga, yang mengundang keheranan dan tanya ayah bunda dan seorang adiknya. Kita memang sering terlupa akan isyarat, bahwa di antara suka cita bisa saja terselip kabar duka.

Tawa pagi kekasihku yang sempat pecah di tengah ruang makan, tinggal gema tertahan ketika sesaat dia berangkat menuju jalan di depan rumah entah untuk keperluan apa –barangkali ini hanyalah cara kematian menjemputnya tanpa harus dijelaskan apa yang menjadi sebab dia menyeberang jalan, yang lalu Tuan memburunya, dan dengan sekali sergapan telah Tuan bawa nyawanya dari jasadnya yang terkulai layu di aspal yang dingin bersimbah darah. Apa itu tadi yang menyambar tubuhnya? Sebuah pikap sayuran? Tapi sungguh tak terlalu penting apapun yang menjadi sebab kematiannya, hanya ceracau hatiku mempertanyakan mengapa dia mati sepagi itu, tepat saat semalam kami memintal janji untuk sama-sama menggenapkan hidup sebelum mati, menyaurkan hati. O, Tuan, mengapa Tuan? 

Sungguh, Tuan, kematian kekasih di pagi itu seperti bukan waktu yang tepat, terlebih di tengah kegembiraan kami. Meski benar kematian tak mengenal waktu dan tempat; di dalam sebuah pesawat yang celaka karena kalut dihantam cuaca, di atas kapal yang karam dipulun gelombang, di dalam kereta yang relnya terlepas, tertimbun longsoran tanah, diamuk gempa, atau kematian yang sunyi di hadapan regu tembak atau pada seutas tali yang dikalungkan pada batang leher. Begitulah, tiap kematian memiliki misterinya sendiri. Dan bila kebahagiaan sering memiliki wajah yang sama, tak halnya kesedihan. Bisakah kita samakan kesedihan mereka yang sama-sama kehilangan keluarganya yang tewas dalam kecelakaan pesawat atau kapal yang karam? Samakah sakitnya kehilangan si kecil buah hati tercinta dengan orangtua yang teregut dari hidup selamanya? Atau antara kekasih dan saudara yang sama-sama lenyap senyap tak berbekas? Bagaimanakah kita bisa meraba lukanya, sedihnya, pahit getirnya? Air mata mungkin sama-sama menggabak, tapi adakah kata yang bisa mengungkap sebuah kedukaan dengan kadar yang sama? Kegembiraan seringkali usai sekali reguk dalam satu perayaan semalam, tapi kesedihan bisa serupa duri di dalam hati, bernanah, berdarah, dan akan terus terbawa bahkan hingga mati. Begitulah aku, Tuan.

Dan maafkanlah bila aku bebal memaksakan tanya tentang kematian kekasih di pagi itu, yang barangkali tak penting benar dalam keluasan semesta. Sebab menantang cahaya Tuan saja aku tak bisa. Sungguh hina dan tak sopannya aku menanyakan tugas Tuan. Ketahuilah, sesungguhnya tak ada keraguan padaku atas kerja Tuan menjalankan titah dan perjanjian dari Yang Maha Agung, bahwa nyawa kekasihku harus Tuan renggut. Hanya aku saja, Tuan, yang kemudian selalu mengingatnya sebagai sebuah kematian yang terlalu pagi. Ya, terlalu pagi. Pagi Minggu yang di ruang kamarku masih hangat aroma kopi. Sepotong roti, asap rokok pertama, dan sebuah koran dengan cerita pendekku di dalamnya. Sedemikianlah kabar yang meruntuhkan ketenteraman pagi itu datang. Sebuah kematian kekasih. Tidakkah kematian yang terlalu pagi, saat dentang jam kehidupan baru dimulai, hanyalah sebuah kabar yang terlalu mengada-ada? Jendela yang baru kubuka pun masih tampak dingin basah embun. Udara di luar sewarna susu. Bagaimana bisa kemurnian pagi seperti itu diusik oleh sebuah kematian? Pagi yang tidak tepat untuk sebuah kematian. Tidak sesiapa pun! Terlebih untuk seseorang bernama kekasih!

“Aku ingin menggenapkan hidup sebelum mati. Kata itulah yang berulangkali diucapkannya seperti membaca puisi kepada kami pagi itu di meja makan. Samira mengucapkannya sambil tertawa, makanya kami kira bercanda. Ah.., ternyata itu pertanda,” lirih suara ibunya mengabarkan.

Dan kabar itu tak bisa ditolak. Kematian tak bisa ditawar. Maka pagi yang murni itu pun menjadi sewarna api.

Demikianlah awal tumbuhnya pengkhianatanku kepada sebuah kematian. Demi waktu, lalu kuundang jawab bagi kematian kekasih yang terlalu pagi. Hanya tanyalah yang terus kugugatkan kepada yang merenggut napas kekasihku, yang padanya ikut pula tercerabut hidupku. Aku tak pernah lelah menunggu jawab. Meski mungkin tetap takkan ada jawab yang dapat membuatku lebih lapang menerima kematian sang kekasih yang terlalu pagi. Sebab aku bersikeras, kematian yang terlalu pagi hanyalah kabar yang mengada-ada. Bukankah merenggut nyawa pagi-pagi adalah kerja yang tergesa-gesa bagi keberartian sebuah kehilangan?
 
Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.3

O, Tuan! Sungguh aku tak mendustakan kebenaran ayat itu. Hati inilah, Tuan. O, betapa rapuhnya. Kenapa tidak Tuan biarkanlah kami mengecap kesenangan walau sebentar saja. Sebentar saja. Cukup menggenapkan hidup sebelum mati, menjadikan kami sepasang suami istri. Kenapa Tuan, tidak ditunda kematian atasnya?

Wahai keturunan Adam, aku pun sebenarnya sedih diberi tugas mencabut roh makhluk-makhluk bernyawa karena di antaranya itu termasuk manusia yang terdiri dari kekasih-kekasih Allah, para rasul, para nabi, para wali dan orang-orang solihin. Betapa aku tidak disenangi oleh keturunan Adam, mungkin aku akan dicemooh karena ditugaskan mencabut roh manusia yang menyebabkan orang berdukacita kehilangan sanak keluarga dan orang-orang yang tersayang di kalangan mereka.

Namun Allah berjanji akan menjadikan berbagai sebab kepada kematian yang akan dilalui oleh keturunan Adam. Sehingga keturunan Adam itu akan memikirkan dan mengaitkan kematian itu dengan sebab-sebab yang dialami oleh mereka. Apabila berlaku kematian, mereka akan berkata bahwa si anu itu mati karena mengidap sakit, ataupun karena mendapat kemalangan, mereka akan terlupa mengaitkan aku dengan kematian itu.

Pada hakikatnya ajal itu adalah ketetapan Allah, yang telah termaktub sejak azali. Semuanya telah nyata di dalam takdir Allah, bahwa kematian pasti tiba pada saat yang ditetapkan. Aku hanyalah tentara-tentara Allah yang menjalankan tugas seperti yang telah diamanahkan.4

Tapi rupanya kau tetap mengaitkan kematian kekasihmu itu kepadaku. Sungguh aku merasa sedih dan malu, dan karenanya aku akan terus menemuimu. Namun setidaknya kau harus ingat:
Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mencepatkannya.5
Wassalam

UDARA di ruang kamar mendadak berkibar-kibar. Sang maha cahaya merentangkan sayapnya. Bilah-bilah cahayanya berlesatan dan menusuk. Aku terpuruk, tersungkur di lantai dengan kertas-kertas yang berterbangan dan buku-buku yang berbukaan. Lalu, sekali lagi aku mencium harum kamboja seperti ketika maha cahaya datang. Aroma kematian saat datang dan saat pulang. O, pergikah, Tuan? Tuan? Bilah-bilah cahaya tersedot ke luar jendela. Perlahan suasana dalam kamar menjadi tenang. Hening. Tinggal aku yang dalam keterpurukan menggapai-gapai ke arah jendela yang terbuka. Selalu saja dia pergi seperti pagi-pagi yang lalu, dan pasti datang lagi pada pagi-pagi yang akan. Namun yang aneh, setiap dia datang, aku merasa itu adalah kedatangannya yang pertama.

Seketika kudengar pintu kamar dibuka dengan tegesa-gesa.

“Duh…, kenapa? Dia datang lagi, ya?” suara ibu di pintu selalu saja bernada cemas dan sedih.

“Ya, dia datang lagi, bu. Datang lagi.”

Ibu menghambur memeluk tubuhku di lantai. Aku merasa payah sekali. Lalu dibimbingnya aku menuju ranjang. Usai merebahkanku dan memberi selimut, ibu mulai merapikan kamarku, terutama kertas-kertas yang berhamburan dan buku-buku.

“Kamu harusnya mulai belajar, tiap usai menulis dan membaca, kertas-kertas catatan dan buku-bukunya musti dirapiin lagi. Masa ibu terus yang merapikan. Jadi penulis itu tak mesti awut-awutan.”

Ah.. ibu. Selalu saja kalimat itu yang diucapkan setiap membereskan catatan-catatan dan buku-bukuku.

“Cerpen apa lagi yang kamu tulis? Harus ibu bacakan lagi?” ucap ibu sambil memeriksa lembar-lembar kertas catatanku.

Aku cukup tersenyum kecil, tahulah sudah ibu.

“Baiklah, ibu akan bacakan. Tapi, sebelumnya kamu harus makan bubur yang sudah ibu siapkan dan juga obatnya ya?”

Dan aku tak perlu menjawab dengan kata atau isyarat apapun. Sebab seperti biasa ibu akan selalu menempelkan pipinya di pipiku. Kemudian aku pun merasakan ada air yang membulir dari ujung mata ibu membasahi pipiku. Hangat. Selalu, seperti pagi-pagi yang lewat, semejak kematian kekasihku yang terlalu pagi waktu itu.***

Banjarbaru, 2006-2007

Keterangan:
1. (QS. 29 : 57)
2. (QS. 62:8)
3. (QS. 33:16)
4. (Sebab-sebab kematian bagi memenuhi janji Allah kepada malaikat maut, sebagaimana diriwayatkan oleh Saidina Abbas r.a dalam sebuah hadis Nabi. Terdapat dalam Kitab Syarh Tadzkrtul Qurthubi, halaman 24)
5. (Surah Al-A’raf: ayat 34)

Iklan

2 pemikiran pada “Kematian yang Terlalu Pagi

  1. numpang mampir di weblog penulis ngetop banua.
    maju terus, meski sekali-kali bolehlah mundur.

    salam dari paringin, balangan.

    : salam juga. sering-seringlah mampir.. dan sampai ketemu di Aruh Sastra Kalsel di Balangan, Oktober nanti. Sukses…

Komentar ditutup.