Ramadan, Maka Berbahagialah…

 Pinggan perak sungguh gemilang
antik cawan dari pangeran
saban lekang Ramadan menjelang
patik mohon maaf pada puan dan tuan
selamat menjalankan puasa. (lf)

SMS itu saya terima dari seorang penulis perempuan keturunan Tionghoa, Lan Fang (seperti inisial lf yang dicatatkannya di akhir SMS-nya itu), Jumat (29/8) lalu. Apakah Lan Fang seorang muslimah? Sungguh saya tak tahu.

Saya yakin, beberapa kawan sastrawan di Kalsel juga mendapatkan SMS yang sama dari penulis novel Perempuan Kembang Jepun itu. Barangkali Lan Fang mengirimkan SMS ke saya, karena mengingat perkenalan pada tahun 2007 lalu di Kongres Cerpen Indonesia (KCI) di Banjarmasin. Atau, mungkin dia juga mengingat bahwa dia pernah mengirimkan cerpennya ke email saya untuk diterbitkan di halaman Cakrawala. Atau, barangkali sebenarnya dia tidak ingat sama sekali siapa saya. Tapi karena nama saya ada di ponselnya, lalu dia pun mengirimkan SMS itu — dan saya lebih meyakini yang terakhir ini.

Sebenarnya tak hanya SMS Lan Fang saja yang masuk ke ponsel saya menjelang Ramadan ini. Beberapa kawan sastrawan dan kawan lama juga mengucapkan hal yang sama, seperti SMS kawan dari Tenggarong ini:

kada kerasaan bulan puasa sudah parak, kada besyair, kada besajak, marhaban yaa Ramadan, selamat menunaikan ibadah puasa, mudahan kita berpahala, amin

Memang, sudah lazim kita mendapatkan ucapan-ucapan selamat menjelang Ramadan. Saling menghaturkan maaf, menjalin silaturahmi, serta doa-doa. Ada kegembiraan dari bait-bait kata yang terjalin. Dan kita pun merasakan atmosfer yang berbeda melingkupi hari-hari ini, hari-hari menjelang bulan suci. Merasakah Anda, bila langit hari-hari ini seperti berbeda dengan langit-langit yang lalu? Merasakah bila cahaya menjelang magrib terasa lebih menusuk kalbu — barangkali juga mampu menghadirkan lintas kenangan masa kecil dulu ketika menunggu beduk di surau? Merasakah bila mulut seperti tak sabar untuk tak mengecap makanan dan minuman, tapi tiba-tiba merindukan saat sahur dan berbuka dengan sebiji kurma? Berbahagialah saudaraku, berbahagialah…

Saya masih mengingat khutbah khatip Jumat tadi, bahwa orang yang berbahagia menyambut datangnya bulan suci Ramadan, maka diharamkan atasnya api neraka. Itu baru bila merasa bahagia menyambut Ramadan, apalagi menjalankan ibadah-ibadah saat berada di dalamnya? Maka berbahagialah…

Begitulah pula mereka yang saling berkirim salam dan maaf menjelang Ramadan, saya yakini adalah ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur karena telah diperjumpakan lagi dengan bulan yang indah ini.

Kita tahu, di mana-mana suasana Ramadan mulai terasa, mulai dari dari iklan-iklan di televisi yang mulai menyesuaikan tema, hingga pusat perbelanjaan yang tiba-tiba seperti sangat religius Ð meski kita tidak akan pernah mendapatkan petunjuk mengenai waktu di dalamnya, semisal sudah sampaikan waktu salat? Sebab di dalam mal waktu seperti beku, selamanya terasa siang karena lampu-lampu yang terang benderang sehingga kita tidak pernah tahu apakah di luar telah sore atau malam.
Dan tiba-tiba juga, Ramadan memang telah di depan mata. Maka, izinkahlah saya untuk berbagi bahagia juga; “Marhaban Yaa Ramadan. Selamat berpuasa, hingga nanti kita menjadi fitri, suci”.[]

Iklan

18 pemikiran pada “Ramadan, Maka Berbahagialah…

  1. Bang Sandi..ini Aulia.
    Baru blajar mbuat blog nah..
    lawas kd bejalanan ke radar..selawas pindah alamat..
    met berpuasa aja sekeluarga..
    Aulia minta maaf bila dulu ada salah dan khilaf

    : ya, Aulia. eh, itu Radar ada Radar Muda Ramadan. Coba hubungi Khairil, siapa tahu ada yang bisa dibantu atau dikerjain. Mungkin soal konsultasi kesehatan selama Ramadan/Puasa. Sukses…

  2. Terimakasih supportnya bos, selamat menunaikan ubadah puasa sampai tuntas tas tas. Amun ulun banyak kesalahan mohon dimaafkan yeeee

    : ya, ane juga bila salah mohon dimaafkan. bukankah Ramadan hari yang mesti disambut penuh kegembiraan dan bermaaf-maafan?

  3. Terimakasih supportnya bos, selamat menunaikan ibadah puasa sampai tuntas tas tas. Amun ulun banyak kesalahan mohon dimaafkan yeeee

    : (jawabannya masih sama) ya, ane juga bila salah mohon dimaafkan. bukankah Ramadan hari yang mesti disambut penuh kegembiraan dan bermaaf-maafan?

  4. Selamat berpuasa, semoga semua amal ibadah kita diterima Allah SWT. Maaf, ikut nimbrung nih, dari nun jauh di pedalaman di rawa HSS.
    Salam untuk blogger Banjarmasi semua, walau kita jauh di mata, tapi dekat di dunia maya.

    : dari rawa HSS? Pasti kenal sama pak Suhadi. Titip salam ya. Dan selamat berpuasa…

  5. salam sastra. selamat puasa. semoga puasa memberikan kita hikmat dan syafaat. agar hidup bertambah hidup.

    :salam sastra juga. salut buat kantongsastra.blogspot. semoga nanti lahir sastrawan-sastrawan dari tanah kalteng.

    tabik

  6. Assalamualaikum, duh ngalih jua ulun nih datang pembuncitan tarus maklum rumah tajauh sadikit (alasan klasik, he..he..)
    Slamat berpuasa bang, kada kerasaan 3 mingguan lagi kita bahari raya. Muhun maaf minta ridho salawas ini lun banyak maulah pusing, maunjuk cerpen yang kada mangaruan gasan di baca (he..he..he..) Alhamdulillah sampida lun dah lancar jalannya, ban sudah dapat nang pas, rantai sudah kancang rantainya, tinggal mamilih jalannya haja lagi. Biar dahanu tasatup satup kamirisan di jalan. Makasih banyak wan ujaran ujaran pian banyak banar manfaatnya.

    : sip… Terus kayuh sepedanya. Jangan takut jatuh, itu biasa.
    Bila ujaranku banyak manfaatnya, maka itu datangnya dari Allah.
    Tapi bila ujaranku salah, maka itu khilaf diriku semata, maka maafkanlah juga lahir batin.. (begitu sering kita dengar dari para ustaz)

  7. Salam kenal. Diskusi mencari sastrawan Kalteng cukup hangat di Borneonews. artikel lain bisa dibaca di cabiklunik.
    Sampai di Pangkalan Bun gak ya Radar Banjarmasin? Wah gak sempat memperhatikannya.
    Selamat berpuasa. Makasih atas kunjungannya.

    : sayang sekali, Radar Banjarmasin tidak sampai pangkalanbun. saya berharap, diskusi mencari sastrawan kalteng pd akhirnya nanti menemukan solusi bagaimana sastra(wan) kalteng bisa lebih semarak lagi. terimakasih juga pak willy. salam tuk semua…

  8. Assalamu’alaikum wr.wb.
    sering terdengar ‘kada karasa’an lah sudah bulan puasa pulang’. padahal…pengennya, ‘alhamdulillah, lama dinanti-nanti akhirnya Ramadhan tiba juga’. Dimana aktifitas mahdhoh berada dalam derajat yang tertinggi. Kawah perjuangan yang menuntut keikhlasan dan kesabaran. Berbahagialah masih ada umur tiap Ramadhan tiba, artinya diberi peluang untuk meraih kemuliaan dan semoga meraih cita menjadi takwa.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    : Amin.. Bagaimanakah dengan perasaan yang seperti ini: “Saat sebelum Ramadan, kita ingin segera berjumpa dengannya. Tapi begitu bertemu, kita ingin Ramadan segera berakhir dengan Lebaran. Padahal, seandainya kita mengetahui betapa mulianya bulan ini, niscaya kita ingin bulan sepanjang tahun adalah Ramadan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s