Ensiklopedia (Sekadarnya) Sastra Kalsel

Ini adalah catatan kritis Ivan Denisovitch, sastrawan tinggal di Banjarbaru, e-mail: jipah_imaji@yahoo.com, terhadap buku Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (ESKS) terbitan Balai Bahasa Banjarmasin, 2008, yang dimuat di Cakrawala Radar Banjarmasin (Edisi Minggu 14 September). Judul aslinya: Ensiklopedi untuk Dokumentasi.

Alhamdulillah, telah terbit Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (ESKS), hasil jerih payah kawan-kawan di Balai Bahasa Banjarmasin (penyusun,  editor, penyunting) dan delapan sastrawan Kalsel (Tajuddin Noor Ganie, Micky Hidayat, Ali Syamsudin Arsi, R. Rangga, Jamal TS., Eko Suryadi WS, Burhanuddin Soebely, Fahmi Wahid dan Tajuddin Bacco)  sebagai koordinator (pengumpulan data) untuk daerahnya masing-masing.
Menurut Tim Penyusunnya, penerbitan ESKS berawal dari pengamatan terhadap sastra di Kalsel yang ternyata mempunyai tradisi sastra (sastra Banjar dan sastra Indonesia di Kalsel) yang berkembang dengan baik; tetapi, perkembangan itu belum terdokumentasi dengan baik. Untuk menunjukkan keberadaan, kekayaan, dan keberagaman sastra serta tradisi bersastra masyarakat Banjar, sepatutnya diperlukan sebuah ensiklopedia yang datanya lengkap. 

ESKS yang disusun dengan metode studi pustaka dan wawancara ini memuat 304 lema (entry) mengenai sastra di Kalimantan Selatan: pengarang, karya sastra, hadiah sastra, penerbit sastra, komunitas, istilah dan peristiwa sastra, tentu dimaksudkan sebagai salah satu referensi mengenai sastra Kalsel.

Walaupun sebenarnya bukan yang pertama, (sekitar tahun 2001 Tajuddin Noor Ganie   / TNG sudah menerbitkan Ensiklopedi Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (1995 -1996)), namun kehadiran ESKS ini perlu kita apresiasi dengan baik.  Dengan kehadiran ESKS, paling tidak bertambah lagi dokumentasi mengenai sastra di Kalsel.  Selain itu, dibandingkan dengan Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (SSKS) yang terbit lebih dahulu (2001), ESKS diperkaya dengan lema tambahan untuk nama-nama sastrawan seperti Abdurrahman El-Husaini, Agits Kursani, Aliman Syahrani, Fahmi Wahid, Ismail Wahid, M. Sulaiman Najam, M. Syarwani, Muhammad Ys, Syarkian Noor Hadie dan Taberi Lifani.

Sayang sekali, mohon maaf, menurut hemat saya ESKS ini masih perlu diperbaiki dalam penerbitan edisi berikutnya.  Tulisan ini cuma bermaksud  memberikan saran/ masukan perbaikan tersebut.

Aktualitas
• ESKS terkesan kurang aktual/ up to date, belum sepenuhnya meng-cover perkembangan sastra mutakhir di Kalsel. Contoh rubrik Cakrawala Radar Banjarmasin belum dijadikan lema. Polemik Sastra Banjar antara Jamal TS dkk di satu pihak dan Sainul Hermawan dkk di pihak lain yang kemudian dijadikan buku Sastra Banjar Kontekstual (2006) juga belum.  Juga sastrawan-sastrawan muda yang rajin menulis di Cakrawala, belum mendapat tempat dalam ESKS: Dewi Alfianti, Ratih Ayuningrum, Hudan Nur, Rismiyana, Nailiya Nikmah JKF,  Syafiqatul Mahmudah, Ana Fajar Rona,  Hajriansyah, M. Nahdianyah Abdi. Bahkan nama-nama yang menulis lebih dahulu:  Zulfaisal Putra, A.R. Zanky, M. Suriani Siddiq, Eddy Wahyuddin SP, Ahmad Surkati AR, (Akhmad) Setia Budhi, Muhammad FR, Muhammad Faried, sebagaimana halnya pengarang dari Amuntai: M. Hasbi Salim dan Fahruraji Asmuni, belum menjadi lema ESKS.

• Peristiwa sastra yang monumental seperti Aruh Sastra yang dilaksanakan setiap tahun dan event sastra sepenting Kongres Cerpen Indonesia V  (Banjarmasin, 2007) yang belum terlalu lama berlangsung, juga belum dicantumkan dalam ESKS

Kelengkapan dan Representasi
• Karena ESKS juga memuat biodata sastrawan Kalsel, saya membandingkan kelengkapannya dengan SSKS.   Penyusunan ESKS terkesan  tidak mengacu ke SSKS yang notabene terbitan Balai Bahasa Banjarmasin sendiri (SSKS tidak dicantumkan dalam Daftar Pustaka ESKS).  Tidak semua sastrawan Kalsel terkemuka yang ada di SSKS muncul di ESKS.  SSKS memuat 307 lema biodata sastrawan Kalsel, sedangkan ESKS menyajikan 304 lema mengenai sastra Kalsel.  Seandainya mengacu ke SSKS, saya yakin, ESKS akan lebih lengkap, selain itu kerja Tim Penyusun  akan lebih dipermudah dan, yang tak kurang pentingnya, akan terlihat adanya semacam kesinambungan antara SSKS dan ESKS yang sama-sama merupakan produk Balai Bahasa Banjarmasin.   Selain SSKS, sumber pustaka lain yang perlu dijadikan rujukan meliputi  Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan 1930 – 1995 (TNG), La Ventre de Kandangan (Burhanuddin Soebely dkk), Seribu Sungai Paris Barantai (Antologi Puisi Penyair Kalimantan Selatan, Aruh Sastra Kotabaru).

• Kalau sastrawan muda dari  Kandangan, Aliman Syahrani (hlm 19) ditampilkan  dalam ESKS, mengapa rekan “seangkatannya”, yang tak kalah kreatif dan produktifnya seperti Sandi Firly dan Harie Insani Putra “belum” dijadikan lema? Terlebih lagi kalau kawan sekomunitas Sandi dan Hari di Rumah Cerita seperti   Arsyad Indradi (hlm 33) dan Qinimain Zain (hlm 165) juga dijadikan lema.

• Data lema Hadiah Seni (Sastra) (hlm 68-69) hanya berhenti pada penerima hadiah tahun 1994.  Penerima Hadiah Seni  tahun 1995 dan seterusnya belum dicantumkan.  Dalam lema ini juga dapat ditambahkan informasi bahwa pemerintah kabupaten / kota di Kalsel juga memberikan hadiah seni.    Pada tahun 2004 Pemerintah Kota Banjarbaru  memberikan Hadiah Seni kepada Eza Thabry Husano, Hamami Adaby dan Arsyad Indradi.

Proporsionalitas
• Lema H. Jauhari Effendi hanya menyajikan riwayat pendidikan dan riwayat pekerjaannya, belum mencantumkan karya dan kiprahnya sebagai sastrawan.  Juga gaya  penulisan lema ini kurang konsisten dengan keseluruhan gaya penulisan ESKS (orang ketiga), dengan munculnya pernyataan sebagai orang pertama: Kualifikasi akademik yang pernah saya jalani adalah …(hlm 69).

• Kalau ada lema Stand 13 Ian Arbie dan Stand 14 Ipriyadi (hlm 178) sebagai salah satu tempat kongkow-kongkow sastrawan Kalsel di Banjarmasin; mengapa tidak ada lema untuk (a)  RRI Nusantara III Banjarmasin (tempat siaran Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (UMSI) yang melahirkan banyak penyair dan sastrawan Kalsel, (b) Warung Samudera (seberang toko Belanga), tempat berkumpul/ minum/ diskusi para sastrawan setelah mengikuti siaran UMSI.  Mengapa pula tak ada lema untuk Toko Buku M. Joenoes, salah satu ikon sastra Kalsel di Banjarmasin, era 70-an hingga 90-an.  (Toko buku penyalur majalah Horison sejak edisi kertas koran, penyalur buku-buku sastra ketika jaya-jayanya penerbit Pustaka Jaya).  Setiap sastrawan Kalsel yang mengalami era 70-90-an pasti mengenang TB M. Joenoes dengan penuh perasaan nostalgis: letaknya di Ujung Murung, menempati lantai 2 dari bangunan kayu, naik dari tangga yang lumayan sempit, dari jendela kaca nakonya: terlihat sepotong panorama Sungai Martapura, suasana di dalam toko panas namun akrab dengan pelayanan yang ramah, dan harga buku masih bisa ditawar).

Keterkaitan dan Keakuratan
• Belum ada data silang (link) yang baik antarlema.  Ada lema (antologi puisi Radius Ardanias) Belibis Rindu (hlm 45) dan (organisasi yang didirikan Radius) Cendramata Study Club (yang benar: Cendrawasih Studi Club), namun lema untuk Radius Ardanias sendiri belum ada. Juga antologi puisi Sajak-sajak Pop ditampilkan sebagai lema (hlm 170), sedangkan penyairnya (Sabri Hermantedo) belum.

• Masih terdapat beberapa salah ketik. Busur Sastra dan Teater  Balambika tertulis Bujur Sastra dan teater Balambika (hlm 48). Penulisan lema Sastra Lissa 71 dan Sastra Marta Intan (hlm 171) perlu diperbaiki menjadi Sanggar Lissa 71 dan Sanggar Marta Intan.
 
 
Catatan Penutup:
• Dalam edisi ESKS berikutnya saya sarankan agar ditambahkan lema:  A. Kusairi, A. Mudjahiddin S, A. Rasyidi Umar, A. Roeslan Barkahi, Abdurrahman Al-Hakim (ARA), Abdussyukur MH, Ahmad Basuni, Aruh Sastra, Bengkel Sastra, Book Café Banjarbaru, Cakrawala Radar Banjarmasin, Dangsanak (majalah berbahasa Banjar), Dewi Alfianti, Djarani EM, FORDIAS, Forum Taman Hati, Generasi 80-an Sastrawan Kalsel, Hamberan Syahbana, Hari Insani Putera, Hudan Nur, Ian Emti, Imraatul Jannah, Isuur Loeweng, Jarkasi, Joni Wijaya, Jurnal Cerpen Borneo, Jurnal Kebudayaan Kandil, Keluarga Penulis Banjarbaru, Kilang Sastra Batu Karaha, Kongres Cerpen Indonesia V Banjarmasin, La Ventre de Kandangan, M. Fitran Salam, M. Fuad Rahman, Muhammad Radi, Nonon Djazuli, Polemik Sastra Banjar, Radius Ardanias, Rosydi Aryadi Saleh, Rudi Ante, Rumah Cerita, S. Surya, Sainul Hermawan, Salim Fachri, Sandi Firly, Sastra Banjar, Sabri Hermantedo, Setia Budhi,  Shah Kalana Al-Haji, Sri Supeni, H. Syarifuddin R., Tadarus Puisi, TB M. Joenoes,  Udien Adiezt, Ulie S. Sebastian, Watas Media, Zulfaisal Putera, dan banyak lagi.

• Karena sudah memiliki otoritas, editor/ penyunting hendaknya dapat bertindak lebih tegas untuk menyaring, menyunting dan mengunting informasi/ data yang masuk, agar terhindar dari isi lema-lema yang terkesan kurang  relevan dengan sastra. 

• Rancaki pang sastrawan Kalsel dibawai bapanderan.  Sastrawan Kalsel perlu lebih dilibatkan dan diperluas perannya tidak sekadar pengumpul naskah.   Jadikan mereka sebagai editor / penyunting.  Bahkan TNG yang rajin dan sudah lebih dahulu menyusun enksilopedia sastra Kalsel perlu dijadikan semacam konsultan dan nara sumber.  Ke depan, dalam skala yang lebih luas, sastrawan Kalsel dan Balai Bahasa perlu saling “mendekat” dan saling mengundang, untuk menepis isu yang sempat mencuat di rubrik Cakrawala Radar  Banjarmasin bahwa hubungan antara kedua belah pihak “masih perlu diperbaiki” (walaupun, saya tahu, selama ini Balai Bahasa telah melibatkan sastrawan Kalsel dalam beberapa kegiatannya seperti Bengkel Sastra, namun kesan saya, muatan yang terkandung ESKS merupakan salah satu indikasi yang kuat terjadinya mengenai isu itu). Hubungan di antara kedua belah pihak perlu ditingkatkan kualitas dan intensitasnya.[]

Banjarbaru, 23 Agustus 2008

 

Judul : Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan

Penulis : Penyusun : Saefuddin, Dahliana, Musdalipah, S. Akbari, R.E. Abdinie, S. Wahyunengsih, N.T. Patricia dan Y. Sudarman, Editor : Saefuddin, Dahliana, S. Akbari, Penyunting : H.M. Mugeni. 

Penerbit : Balai Bahasa Banjarmasin.

Tebal  : xv + 207 halaman

Edisi  : 2008.

Iklan

84 pemikiran pada “Ensiklopedia (Sekadarnya) Sastra Kalsel

  1. Tertinggalnya nama antara lain; Sandi Firly dan Hari Insani dalam lema insekklopedia ini, menurut hemat saya mengandung beberapa kemungkinan.
    1. Memang tidak dikenal oleh para penyusun.
    2. Khilaf/lupa mengingatnya.
    3. Sengaja ditiadakan.

    : senang bang ogi berkunjung. Soal ensiklopedia itu, sebenarnya saya diminta juga untuk membuat biodata oleh Balai Bahasa. Namun karena kesibukan (beda tipis dengan kemalasan), saya tidak bisa membuat biodata itu. Akhirnya, tidak termuatlah nama dan riwayat saya di buku itu.
    Tapi untung saja tidak banyak sastrawan yang malas seperti saya. Bayangkan seandainya seluruh sastrawan kalsel malas seperti saya, maka buku ensiklopedia itu barangkali tidak akan terbit, heheee…
    Kalau Harie Insani Putra dan yang (tidak termuat) lainnya, saya tidak tahu. Apakah karena tidak dihubungi, atau sama malasnya dengan saya… haha..

  2. paling tidak ada usaha, daripada cuma berkomentar dan tidak berbuat apa-apa 🙂

    : setuju. tetap berterima kasih kepada Balai Bahasa Banjarmasin yang telah susah payah bekerja membuat Ensiklopedia Sastra Kalsel.

  3. Saya dkk. menyampaikan ucapan terima kasih atas berbagai komentar mengenai penyusunan ensiklopedia sastra Kalsel, kami menyadari masih banyak kekurangan data yang menurut kawan-kawan sastrawan, antara lain; belum termuatnya sebagian nama sastrawan, peristiwa-peristiwa sastra yang dianggap penting, media yang mendukung sastra, serta hal-hal aktual yang berhubungan dengan sastra.
    Perlu kami sampaikan bahwa hal tersebut terjadi karena ada beberapa hal, di antaranya data yang masuk kepada kami hanya berupa kehidupan pribadi rumah tangganya, bukan kegiatan bersastra maupun karya-karya sastra yang pernah dihasilkannya. Sesungguhnya penyusunan ensiklopedia tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan, namun penerbitan ini sebagai upaya awal untuk mendokumentasikan dan memublikasikan kesastraan yang ada di Kalsel.
    Berbagai masukan dari semua kalangan, kami jadikan sebagai bahan masukan yang amat berharga, untuk perbaikan penerbitan ensiklopedia yang lebih baik.
    Perlu kami sampaikan juga, bahwa ensiklopedia tersebut telah kami sebarkan ke berbagai wilayah di Indonesia, hal ini sebagai upaya memublikasikan mengenai kesastraan di Kalimantan Selatan.

    : terima kasih kang asep atas penjelasannya. Semoga hal ini bisa dimengerti, dan juga kawan2 di balai bahasa lebih semangat lagi dalam bekerja.
    tabik.

  4. Saya sudah kirim naskah ke email anda tentang Ensiklopedia. Apa sudah diterima?. Trims

    : sudah, pa, tunggu aja.

  5. Aku baru buka situs kamu. Eh, Tajudin itu gitu an yah kada mangganang lawan kakawalan. Mestinya kalau mau buat buku di data dulu lengkap-lengkap , kalau perlu adakan temu sastarwan sekalsel. Undang mereka , senior dan yunior. Data tajudin itu kurang lengkap ya ! Maaf , ini ocehan tidak karuan.

    : mudahan aja pa tajudin kada sarik mambaca komen ini, hehee…

  6. menurut saya tidak masalah ada atau tidak ada nama sastrawan di buku itu, toh yang menilai masyarakat apakah seseorang itu layak disebut sastrawan. andrea hirata saja tidak mengakui dirinya sastrawan. lebih baik berniat baik saja jangan berburuk sangka

    : yeah…, setuju!

  7. Syukurlah kalau sudah diterima. Soalnya saya berkepentingan untuk mengklarifikasi posisi saya sebagai koordinator wilayah Banjarmasin. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan di kalangan sastrawan Banjarmasin yang biografi kesastrawanannya tidak ikut dimuat di dalam Enksiklopedia dimaksud. Saya sendiri punya buku Antologi Biografi 426 Sastrawan Kalsel (2008) dan Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2008 (2008).

    : nama ulun babila bisa masuk buku ensiklopedia pian lah..,
    hehehe… bagayaan haja pa ai..

  8. Saya berharap setelah membaca tulisanku dimaksud, kawan-kawan sastrawan seperti Fakhrurraji Asmuni mengetahui duduk soal yang sebenarnya. Salam buah Fakhrurraji. Aku kada sarik membaca komentarmu di situs ini. Okey.

    : alhamdulillah.., memang tanggapan pak tajuddin salah satu yang penting untuk dibaca, selain juga (seandainya) kurator lainnya memberikan tanggapan

  9. Tanggapan yang saya kirim ke situs ini tempo hari (yang kemudian dihapus) berkaitan dengan ulisan Saudara Fakrurraji. Saya merasa perlu menanggapinya karena apa yang ditulis ybs bisa menimbulkan salah pengertian pihak lain yang membacanya. Jadi tanggapan dimaksud saya maksudkan sebagai hak jawab dari saya. Supaya seimbang. Terima kasih.

    : seingat ulun, ulun tidak ada menghapus tanggapan pak tajuddin (gagal terkirim?). jadi, silakan pak tajuddin mengirimkan lagi tanggapan yang dianggap terhapus itu. dijamin, ulun kada mahapus. terima kasih.

  10. Terima kasih atas pemuatan tulisan saya di Radar Banjarmasin. Nama dan biografi anda ada di dalam dua buku saya terbaru. Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009 dan Antologi Biografi 426 Sastrawan Kalsel. Bab IX sejarah lokal yang memuat nama-nama sastrawan Kalsel 2000-2009 baru saja saya paparkan di hadapan peserta dialog sastra di Balai Bahasa Banjarbaru tempo hari. Mohon maaf tentang masalah penghapusan tanggapan. Saya lihat tanggapan dimaksud memang masih tercetak di situs ini. Trims sekali lagi. Salam.

    : selamat untuk dua buku Anda. Silakan kirim resensinya untuk Cakrawala Radar Banjarmasin melalui email ulun: sfirly@yahoo.com. tolong sertakan juga gambar covernya. trims.

  11. Ding Sandi.
    Maaf baru kali ini aku bisa menanggapi blog anda.
    Terima kasih atas pemuatan tulisanku di blog anda. Namun, perlu dijelaskan bahwa judul tulisan yang dimuat itu (ada kata ” sekadarnya”) bukan dari aku. Judulku, kalau tak salah, bernuansa netral saja : Ensiklopedia untuk Dokumentasi.
    Aku hanya berharap, semoga setiap orang dapat menanggapi secara positif dan konstruktif tulisanku.

    salam hangat.
    Ivan (jipah_imaji@yahoo.com)

    : senang bang ivan berkunjung. benar, judul “Ensiklopedia (Sekadarnya) Sastra Kalsel” itu ulun yang bikin. Keterangan mengenai judul asli catatan pian ulun sebutkan juga di tulisan yang tercetak miring.
    dari komentar yang ada di blog ini, ulun kira cukup berimbang, dan sebagian juga kritik konstruktif.

  12. Kawan-kawan sastrawan Kalsel yang merasa tidak puas dengan ESKS, saya kira ada baiknya jika saling bersatu dan berembug untuk menyusun ESKS tandingan yang jauh lebih baik. Setidak-tidaknya lebih sesuai dengan standar yang diinginkan (lebih kena di hati). Saya kira, semakin banyak buku sejenis diterbitkan orang di Kalsel semakin baik bagi komunitas sastrawan di daerah ini. Paling tidak, jika ESKS yang satu dinilai menyesatkan, masih ada ESKS lain yang dapat dijadikan sebagai denah penunjuk arah. Bagaimana, sanggup?

    : Ayo, siapa merasa tertantang?

  13. Ding Sandi.
    Ya. masalahnya memang sudah clear. Cuma aku haja yang kurang nyaman. Tapi tak apa. Its okey.
    Aku setuju, dengan pendapat TNG, pendapat yang sama juga pernah diajukan oleh Qinimain Zain, ketika ketemu aku.
    Bisakah TNG jadi semacam koordinator untuk ini. Bentuk juga semacam tim kecil editor terdiri dari sastrawan kalsel yang punya komitmen. Untuk pekerjaan besar ini perlu waktu yang agak longgar dan sponsor.

    Salam hangat untuk semua kawan-kawan sastrawan kalsel.

    terima kasih. ya, sebenarnya judul yang ulun buat itu hanya untuk lebih “memancing” pembaca saja — maklum orang koran, hehe.. Seperti komen ulun kepada TNG (baca di atas, atau di bawah?), bukankah TNG sudah membuat ESKS? Atau ada ide yang lain lagi?

  14. Sandi, saya tidak keberatan jika saran di atas dimuat di Cakrawala Sastra Budaya Radar Banjarmasin. Saya harap ada sastrawan Kalsel yang sanggup menyusun ESKS tandingan yang saya sarankan. Jika ternyata tidak ada yang sanggup, maka terimalah ESKS yang sudah ada itu. Hargailah jerih payah kawan-kawan di Balai Bahasa Banjarmasin. Mudahkan?. Oh, iya Sandi, bolehkan mengirim berita-berita sastra budaya melalui situs ini. Tampaknya lebih mudah via sini dibanding via email. Maklumlah saya masih gagap teknologi. Trims

    : Nah, ini tantangan lagi. Tapi pak, kalaupun tidak ada yang sanggup membuat ESKS tandingan, juga tidak mesti (dipaksa) harus menerima ESKS yang ada kan? Untuk jerih payah kawan-kawan di Balai Bahasa Banjarmasin, (bukankah itu ) memang sudah pasti ada harga dan dihargai? Juga, bukankah bapak sendiri sudah membuat ESKS (tandingan)?
    Berita-berita sastra sebaiknya tetap dikirim ke email saya: sfirly@yahoo.com
    trims.

  15. Menanggapi saran Ivan Denisovitch, saya sepertinya tidak bersedia menjadi koordinator. Masalahnya, saya sudah hampir selesai mengerjakan apa yang saya sarankan itu. Khusus untuk entri-entri biografi sastrawan Kalsel sudah selesai saya tulis, judulnya Antologi Biografi 426 Sastrawan Kalsel. Saya tinggal melengkapinya dengan entri-entri buku sastra, definisi-definisi, dan peristiwa sastra, maka jadilah ESKS tandingan itu. Saya berharap ada buku lain yang sejenis yang ditulis oleh orang lain. Mungkin dari kalangan dosen perguruan tinggi yang ada di Kalsel. Seingat saya buku referensi sastra dan buku sejarah sastra untuk lingkup daerah Kalsel masih sedikit jumlahnya. Beda dengan buku jenis lain, antologi puisi misalnya. Mari kita tutup kekosongan ini. Jangan sampai terjadi buku sejenis ini ditulis oleh orang luar negeri seperti kasus buku Jukung Banjar (Erick Petersen) tempo hari. Maaf, saya seperti terlalu sering menulis komentar di situs anda

    : tak apa sering-sering. komennya kan jadi banyak 🙂

  16. Tajudin aku sudah membaca artikelmu di Radar tentang duduk persoalan ESKS dan tugasmu.
    Eh,Tajudin, aku mau beli bukumu itu (ESKS dan sejarah sastrawan lokal) penasaran lho ingin lihat isinya.Habis di tempat saya tidak ada dijual. Aku bayar case.

    : silakan transaksi. kalo banyak, saya bisa dapat persenan berapa ya, hehee…

  17. Buat Fakhrurraji Asmuni dan kawan-kawan sastrawan Kalsel lainnya mohon bersabar. Buku Antologi Biografi 426 Sastrawan Kalsel dan Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009 masih dalam proses, masih belum punya cover, masih dirancang.

  18. Asw. Bang Asep, saran sy malah jangan dipublikasikan ke luar kalsel buku ESKS-nya. Takutnya jd rujukan untuk memandang sastra kalsel, terlalu tdk akurat.
    usul. tarik dulu, revisi, baru sebarkan ke seantero Ind. klo perlu sampe eropa…

  19. Apa semua yang komentar disini sastrawan??? Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Melempar batu sembunyi tangan bukan jalan yang baik. Solusinya apa??? Diam? bergumam? Ah itu bukan solusi, ada yang bisa mengajari cara menulis yang baik dan benar?

  20. Ding Sandi.
    Maaf kalau blog anda akhirnya menjadi ajang diskusi ESKS.
    Dalam komennya terdahulu TNG bilang : “kawan-kawan sastrawan Kalsel yang merasa tidak puas dengan ESKS, saya kira ada baiknya jika saling bersatu dan berembug untuk menyusun ESKS tandingan yang jauh lebih baik”. Belakangan dia bilang tak bersedia menjadi semacam koordinator karena sudah hampir selesai dengan yang disarankannya. Ya tak apa.
    Baiknya kita tunggu dulu ESKS karya TNG yang bisa dipandang sebagai tandingan ESKS versi Balai Bahasa. Mungkin kita akan memberi catatan / masukan lagi terhadap ESKS versi TNG.
    Saran Dewi Alfianti perlu pula menjadi perhatian. Tapi nampaknya ESKS itu sudah terlanjur disebarkan. Sebuah ensiklopedia tidak sekadar berfungsi sebagai dokumentasi, tapi terlebih sebagai rujukan / acuan / referensi.
    Komentar Syafwan : “berani berbuat, berani bertanggung jawab” menurutku tertuju kepada semua pihak (baik kepada Balai Bahasa Banjarmasin maupun kepada sastrawan Kalsel yang bersikap kritis). Menurutku, dengan bersikap kritis, memberikan masukan / saran terhadap ESKS, sastrawan Kalsel sudah bertanggung jawab terhadap (perkembangan) sastra di Kalsel.

    Salam untuk semua. Mohon maaf kalau ada salah kata.

  21. Saya khawatir jika saya yang menjadi koordinatornya, maka hasilnya akan sama saja, karena bahannya juga sama yang itu-itu juga. Saya ingin ada ESKS lain yang ditulis orang lain dengan bahan baku hasil galian sendiri yang jauh lebih valid tentunya. Saya baca beberapa tulisan kawan-kawan yang mengkritisi ESKS Balai Bahasa, tampaknya banyak kawan yang jauh lebih cocok untuk dijadikan sebagai koordinator ESKS tandingan itu. Saya menilai kawan-kawan dimaksud sudah menguasai benar kiat-kiat membuat buku referensi sastra sejenis ini. Jadi saya kira tinggal mempraktekan kiat-kiat yang sudah dikuasainya dengan baik itu. Insya Allah ESKS tandingan itu dapat segera diwujudkan. Bagaimana sanggup?

  22. Balai bahasakan UPT Pusat bahasa, Depdiknas, bisa saja buku itu ditarik, seperti beberapa buku teks ditarik depdiknas dari sekolah. Masalahnya, seberapa perlu kita menarik itu. kalau benar2 mendesak bisa usul langsung ke Pusba atau Depdiknas. Tapi menurut saya, seperti yg pernah disampaikan Bang Asep dr Balai bahasa. Beliau sepertinya mengisyarakatkan adanya revisi. Daripada sibuk membuat ensiklopedi tandingan, mending buku yg ada didesak utk direvisi dg catatan tim penyusunnya kali ini yg benar2 expert. Penting untuk membuat proyek pembuatan buku yg menggunakan cukup banyak uang itu benar2 tepat sasaran.

  23. untuk syafwan, polemik adalah hal biasa. tema ESKS ini wajar jika dikomentari banyak pihak. Wacana yg berhamburan kelak akan jadi warisan budaya, tak peduli mereka memberi solusi atau tidak.

  24. memetakan karya sastra, sastrawan (kalsel), even sastra atau segala sesuatu yang menyangkut sastra di kalsel dalam sebuah ensiklopedi sastra tentu sangatlah “penting” tapi juga yang tak kalah pentingnya bagi para sastrawan di kalsel adalah berkarya dan terus berkarya, rasanya merinding bangga jika ada membaca karya sastrawan kalsel di media nasional

    Selamat berpolemik dan maju terus sastra di kalsel.

  25. Saya sependapat dengan mba Dewi. Hanya saja keadaan yang berlarut-larut membuat saya jengah. Saling tuding dan menyalahkan itu bukan solusi. Dan yang sangat di sayangkan, Balai Bahasa sendiri terkesan tidak menggubris usulan rakyat-rakyat jelata seperti saya dan teman-teman yang lain. Mungkin masih menganut keyakinan “belum tua, belum boleh ngomong.” Bukan bermaksud mencela, hanya saja sebagai salah seorang penikmat sastra, saya sangat mengidam-idamkan sebuah catatan sejarah kesusastraan Kalimantan Selatan berada di rak buku kamar saya. Sekarang bagaimana solusinya? Kalau memang Balai Bahasa sepakat dengan revisi ya, ditarik saja dulu. Di revisi (disempurnakan) agar tidak mengecewakan konsumen, atau membengkokkan sejarah yang ada. Saya yakin para sastrawan Kalimantan Selatan pasti mau dan bersedia membantu Balai Bahasa dalam perbaikan buku tersebut. Seperti pesan kakek saya “gawi sabumi,” pasti lebih mudah.

  26. Yth. Para Pemerhati Bahasa, Sastra, dan Budaya Daerah

    Kalimantan Selatan

    Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Kalsel sedang menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pemeliharaan Bahasa dan Sastra Daerah. Untuk menyempurnakan draf raperda tersebut, kami mengundang Saudara untuk memberikan masukan, gagasan, pemikiran konstruktif demi penyempurnaan raperda ini. Atas perhatian Anda kami ucapkan terima kasih.

    KLIK: http://raperda.wordpress.com/2008/11/09/raperda-bahasa-dan-sastra-daerah-kalsel/

  27. please, do something, not necessary big, but just useful little things. please not, much ado about nothing. and, don’t you understand that the most important thing, is not thing at all, and for sure, not seeingthing too.

  28. Saya kira kita semua para sastrawan Kalsel janganlah meniru para penguasa otoriter yang dengan mudahnya melarang buku-buku yang tidak sesuai dengan kepentingannya untuk ditarik dari peredaran. Saya kira ESKS tak perlu ditarik, yang perlu dikerjakan adalah membuat buku sejenis yang jauh lebih baik lagi mutu muatannya. Jangan paksa balai bahasa untuk merevisinya. Para pihak yang tidak puas dengan ESKS sendirilah yang harus berinisiatif menjadi revisiatornya secara mandiri atau kolektif.

  29. Nah….

    Kata Dewi Alf: ESKS perlu direvisi, bahkan kalo perlu usul ke Pusat Bahasa dan Depiknas.

    Kata Tajuddin: Peredaran buku ESKS Balai Bahasa(yang dikhawatirkan menyesatkan) itu tidak perlu ditarik dan dipaksa direvisi.

    Kata Ivan: Tunggu dulu ESKS karya Tajuddin.

    Nah…., yang mana baiknya?

    ttd
    moderator, hehee.. 🙂

  30. ada baiknya ensiklopedi dibuat seperti wikipwedia saja. online. open to any sources to contribute. open access to anybody in need. dan open opportunity to any effort in keeping the Grand Encyclopedia of Kalsel Literature. got the point?

  31. Menarik sekali saran yang diajukan oleh Alexander Baboe. Sesuai dengan sifatnya yang terbuka, maka sastrawan Kalsel atau siapa saja yang berminat sesungguhnya dapat saja memasukkan biografinya langsung ke Wikipedia. Memasukkan biografi sastrawan Kalsel ke Wikipedia merupakan langkah strategis yang perlu ditempuh supaya sastrawan Kalsel dapat dikenal luas di luar daerahnya. Langkah ini mungkin lebih jitu dibandingkan dengan menerbitkan ESKS atau buku referensi sejenis. Biayanya jauh lebih murah (cuma bayar sewa pakai komputer di warnet terdekat). Biayanya murah dan hasilnya mengglobal. Saya sendiri sudah melakukannya kurang lebih setahun yang lalu.
    Selain itu biografi saya juga dapat dibaca di Melayu Online

  32. this kind of stuff make us going around nothing. so, buddies, let make another venture. i mean let all of hand in hand agree to make another encyclopedia. a bigger one, let call it “Encyclopedia Banjarnica”” and all of us put an effort to make it real. Obama remind us: Yes, We Can.

  33. Sandi,
    RALAT:
    Tulisan saya Strategi Ensiklopedia Sastra Kalsel (23/11/08) baru kemarin tertulis : …kepada para sastrawan Banjarbaru – Martapura lebih dari sepuluh orang SEHARUSNYA tidak lebih dari sepuluh orang (Ketinggalan kata TIDAK). Mohon dimuat ralatnya agar tidak menimbulkan fitnah. Untuk ini saya mohon maaf. (Saya juga ada SMS untuk ralat ini). Terimakasih.

    Salam sastra
    East Star from Asia

  34. TAMBAHAN: Nampaknya kata: TIDAK LEBIH dari sepuluh orang, perlu penjelasan lebih jauh (karena masih membuat perasaan saya tidak enak terhadap kawan-kawan lain yang hadir waktu itu).

    Jelasnya:
    1. Pasti bisa saja ada yang hadir, tetapi tidak mendengar (karena tidak memperhatikan atau konsentrasi pada pembicaraan lain atau hal lain).
    2. Pasti ada yang hadir dan mendengar tentang hal ESKS itu.
    Jadi TIDAK LEBIH dari sepuluh orang mendengar tentang hal ESKS itu, bisa jadi menjadi beberapa orang (karenanya saya tidak mungkin menyebut siapa-siapa yang pasti mendengar). Namun, yang pasti saya masuk dalam ESKS karena mendapat informasi dari pertemuan itu. Ini pasti (yang membuktikan bahwa informasi itu memang ada).

    Salam sastra
    East Star from Asia

  35. Aku lawas nah kada bakunjung ke sini, masalahnya aku mainternet hanya menggunakan HP Nokia, kartunya IM3. Bila cuaca pina baik kawa connect, bila hujan atau mendung atau katong kosong ya istirahat dulu, kada bajalanan ke situs-stus.
    Tajudin, buku yang anda kirim lawan aku sudah lawas kuterima. Isinya bagus. Bagaimana kalau dicetak berbentuk buku. Kan menarik. Masalah biaya, minta partisipasi dari sastrawan yang ngarannya tabuat di buku itu. Aku pribadi bersedia menyumbang atau apa saja namanya. Asal diberi tahu lebih dahulu. Gitu Lho .Salam untuk kakawalan di Banjaramasin, banjarbaru, dan daerah lainnya.

  36. Terima kasih buat Saudara Fakhrurraji Asmuni. Saran yang baik. Cuma aku ragu-ragu menyebar-luaskannya. Khawatir jadi masalah di kemudian hari. Penyebar-luasan buku itu aku pending untuk sementara waktu. Anda termasuk orang yang beruntung berhasil mendapatkannya. Kawan-kawan sastrawan Kalsel lainnya belum ada yang memilikinya. Nanti kukirim AB426SKS versi setengah quarto yang lebih manis dipandang mata. Oh iya, bisa tolong kirimi saya foto-copy biografi sastrawan Kalsel wajah baru yang karya sastranya dimuat dalam buku Mahligai Junjung Buih. Buat Sandi Firly mohon maaf saya telah memanfaatkan fasilitas milik anda ini untuk menjawab surat terbuka Saudara Fakhrurraji. Salam, semoga tetap sehat walafiat dan mendapat rezeki yang banyak. Amin.

  37. di cakrawala sastra dan budaya rb (18/1/09) yg lalu, pak tajuddin ada menulis tentang gairah bersastra di kalsel 2000-2008, tulisan itu pun banyak bolongnya. tdk akurat dan tidak lengkap, jadi perlu diperiksa lagi buku yang bakal dijadikan tandingan esks itu.
    menurut saya ada yg lebih penting dari sekadar pencatatan nama, yaitu kajian selektif atas karya sastrawan kalsel. ada banyak nama, tapi sangat sedikit karya yg kita lihat dan baca secara kritis. inilah yg membuat banyak orang ragu, mana sih sastrawan kalsel itu.
    salam.

  38. Manuskrip AB426SKS bukan tandingan ESKS. Karena AB426SKS cuma memuat biografi sastrawan Kalsel. Ruang lingkupnya lebih sempit. Saya belum punya waktu untuk mengerjakan ESKS tandingan. Terima kasih atas tulisan anda. Soal yang bolong-bolong itu sudah saya tambal. Kriteria yang saya pergunakan sangat sederhana. Tidak kritis. Sesuai judulnya saya cuma mengumpulkan biografi sastrawan Kalsel dalam satu buku. Sumber datanya adalah biografi sastrawan yang sudah ada di dalam sejumlah buku sastra terbitan Kalsel. Hanya itu. Jangan berharap terlalu banyak pada saya. Hanya itu yang dapat saya kerjakan. Kemampuan saya sangat terbatas. Masih untung saya mau mengerjakannya. Saya terpaksa mengerjakannya karena tidak ada orang lain yang mau mengerjakannya. Kada jadi duit ujar orang Banjar. Hehe, jangankan jadi duit, saya malah harus keluar duit cukup banyak. Bagi saya, tidak jadi soal bermanfaat atau tidak. Bermanfaat syukur, tak bermanfaat apa boleh buat. Salam.

  39. aku handak batakun adalah nang ingat lawan penyair rusli gambut, orang hamparaya (kandangan)ganal di gambut, inya dahulu kalo manulis puisi di sinar harapan jakarta, pelita jakarta, kompas, banjarmasin post dll juga hrison mamakai ngaran olly kapilawastu. kalo kada salah inya saangkatan lawan sabre hermantedo, arsyad indradi, tapi rusli banyak aktif di teater, banyak naskahnya nang dipentaskan oleh kakawanan. inya umpat mandiriakan himpunan sastrawan kalsel bersama seniornya yustan azidin, hijaz yamani,ajim ariadi rustam karel,dsb, dimana inya wahinilah dan masuklah dalam ensiklopedi sastra kalsel. adakalah nang mau mangirimi ka aku di jakarta. kalau ada tarimakasih banar pang kaina kuganti ongkosnya.

  40. Penyair Rusli itu kalau tak salah namanya Rusli Haudy. Tahun- 1970-1980-an namanya cukup terkenal di Kalsel. Benar ia salah satu tokoh teater. Tapi kemudian kudengar ia ke Jakarta dan berkiprah di sana, seperti halnya Johan Kalayan (alias Yan Pieter AK). Setelah itu lama namanya tak terdengar. Aku tak tahu apa hubungan antara Rusli Haudy dan Yana Haudy yang menulis komentar di atas.

  41. Ading Sandi yth,
    Naskah tanggapan kakanda untuk Ratih Ayuningrum dan Nailiya Nikmah JKF mengapa tak kunjung dimuat di Cakrawala Budaya SKH Radar Banjarmasin?. Padahal naskah dimaksud merupakan hak jawab yang galibnya harus diprioritaskan pemuatannya menurut aturan main Undang-undang Pokok Pers yang berlaku di Indonesia. Banyak kawan sastrawan Kalsel yang menanyakannya. Mereka mengira saya tak sanggup menjawabnya. Bahkan ada yang memprovokasi, saya sudah kelelahan dan kehabisan kata-kata. Sehingga mengambil sikap pasrah. Hehehe. Mohon maaf saya terpaksa memakai jalur yang tidak semestinya ini untuk berkomunikasi menyampaikan keluhan dimaksud. Boleh dihapus jika apa yang saya tulis ini dianggap tidak relevan dengan tema blog anda. Salam.

  42. Assalamu’alaikum, kur sumangat dangsanak di banua.
    aku mambuka-buka blog tatamu ini nah, ada jua nang manyarimpit aku.
    ini aku rusli haudy, syukurai lah kakawanan ada nag masih ingat. tapi itu yana meambil
    hujung ngaranku orang manalah. itu Ivan ingat hajalah, kaya apa ikam wayahni ngaran makin langkar hanya bairama rusia lagi lah. masihlah bakakumpul di sanggar atawa di balakang pasar kartak baru,kakawanan lain lawas kada batamu, kaya apa Ajamamuddin Tifani,Bachtiar Sanderta, Nang Iyus, ibrahim yatim. hambran sahbana, sabri, dan Arsyad masih kah di Banjarbaru, Tadjuddin Ganie dimana bagawi sudah jadi pajabat kali lah, inya tu tumat dahulu rajin mangumpuli karya kakawanan dan wani badabat pasti iya kada ingat lawan saurang, karna aku tulak madam iya lagi-lagi bagus-bagusnya bakarya.
    aku sanang banar bayak batumbuhan panyair-panyair di banjar, salamat tarus haja bakarya waja sampai kaputing.
    wassalamu’alaikum

  43. @TNG
    pertama, naskah yang pian kirim “salah”, atau bukan tanggapan.
    Tapi, bukan lantaran salah kirim naskah lantas ulun tidak memuat. Tapi karena diskusi soal “tulisan” pian ulun anggap selesai. lagi pula apa yang ditulis nailiya, tidak langsung menanggapi tulisan pian. selain itu, juga ingin memberi ruang bagi tulisan-tulisan lainnya.
    trims, dan itu bukan karena ulun tidak paham UU Pers…

    @ruslihaudy
    Ajamuddin Tifani sudah meninggal dunia (tahun 2006?). Dan mengenai nama-nama yang lain, mudahan ada sastrawan “muka lama” (istilah TNG) yang bisa menjelaskannya.
    pian sendiri di mana sekarang?

  44. Alhamdulillah, Bang Rusli Haudy nya langsung yang menanggapi. Pina lawas sidin madam ka banua urang, tapi sidin masih ingat wan kakawanan sidin. Ajamuddin, Bachtiar Sanderta, Sabrie Hermantedo sudah meninggal dunia. Arsyad Indradi dan Hamberan Syahbana masih aktif menulis dan mengikuti perkembangan sastra di banua. Mudahan jua Bang Rusli masih menulis. Salam hangat dari kami di banua.

  45. Buat ading Sandi. Trims atas jawabannya. Saya tidak paham soal tulisan yang “salah” itu. Tulisan dimaksud saya tulis sebagai tanggapan. Tapi, sudahlah, yang penting publik sudah tahu bahwa saya sudah berusaha menjawab semua tanggapan yang dialamatkan kepada saya. Salam.

  46. Buat Kakanda Rusli Haudy. Ulun (TNG) masih kaya bahari. Balum jadi pajabat. Sudah parak pangsiun. Bagawi di Balai Hyperkes dan Keselamatan Kerja Kalsel Banjarmasin. Salam.

  47. Innalillahi wainna ilaihirajiun, buat kawakawan nang sudah wafat semoga diterima di sisiNya. Amin.
    alhamdulillah kakawanan dan ading-ading di banua tarus bakarya jadi ada panarus sastra di banjar.
    aku sekarang di Jakarta, setelah tolak madam ka banua orang lawas di Brunei hampir 20 tahun mengajar di sana, sekarang pensiun handak kai buli kakampung batamu kakawanan. ading Sandi terimakasih infonya.Kulihat karya ikam kreatif dan sangat filsafi, tarus ja manulis ikam babakat banar jadi seorang esais puisi.
    Adinda Tajudin Noor kawalah aku dikirimi buku karya ikam, aku ada manyimpan satu-satunya karya ikam Bulu Tangan tahun 1982, waktu itu dibari kanda Hijaz (almr)waktu tatamu di jumpa sastrawan ASEAN di Kuala Lumpur Malaysia.
    Ading Ivan di mana ikam mamangka wahini. Kanda Ajim Ariyadi masih adalah dg sanggar budayanya. salam kakawanan barataan.

  48. Pak Rusli Haudy,
    membaca komentar pian di blog ulun, sangat menarik sekali. ulun berpikiran akan menerbitkan komentar pian ini di halaman sastra dan budaya Radar Banjarmasin.
    ulun rasa akan sangat menarik. ada semacam nostalgia, dan juga menyambung komunikasi yang sempat terputus, terutama dengan sastrawan generasi muda.
    tapi tentu akan lebih menarik lagi, bila pian mau meluangkan waktu untuk menuliskan catatan pendek, entah itu esai atau surat sastra, atau apapun — yang ulun yakin itu akan sangat berharga.
    terima kasih sebelumnya. dan semoga bisa batamu pian bila sekali waktu ulun ke jakarta.

    salam dari banua

  49. buat adindaku Sandi
    di Banua

    Kini dua puluh tahun lampau, kulepaskan rindu dalam imaji kepada kawan,menitipkan kenang di lubuk terdalam rindu dendam tolak madam ke negeri urang
    Kini dua puluh tahun lalu
    aku mau tiba sebelum pulang di tanah leluhur
    tanah kerinduan membayangkan canda tawa bersama kawan, bersama teman, bersama cendawan-cendawan batang kulur dari pahuluan yang sedang memidarkan cahya memanahkan dahaga dalam puisi sari rasa segala cita
    Kini dua puluh tahun lampau
    ketika kutinggalkan riak sungai martapura berhias batang ilung dan banyu habang dari tanah gambut
    ketika kutinggalkan arus sungai barito menjunjung buih dan pengunungan meratus dalam semusim
    semua semakin dekat
    semua semakin melekat bertaut pekat merapat seperti menatap seperti berbisik
    masih adakah suara?
    masih adakah?
    aku ingin kembali berkayuh bersama kawan bersama dangsanak bersama-sama melantingkan puisi
    karna
    puisi itu cinta dalam rindu puisi itu raga dalam kata puisi itu rasa dalam karya puisi itu adalah kita setapak perantauan menangkap ilafat
    Kini dua puluh tahun lalu di tempatku di Pulau Ayer sekarang
    kukurimkan suara
    kepada
    Adindaku Sandi
    salam rindu kapan bisa bertemu

    Brunei, April 2009

  50. Kanda Rusli Haudy
    Bisakah kami minta e-mail pian. terima kasih.
    salam hangat dari banua.

  51. Ading ivan

    ini emailku: ruslihaudy@gmail.com

    kaya ikam di banua aktif haja kah bakakumpul kakawanan sambil berkarya.
    rancakkah di banjar ma adakan baca [uisi atau baca prosa kaya dahulu. ada sanggarkah ikam.\atau ding Sandi ma asuh ruang budayakah.
    Si Tadjudin ada karya hanyarlah, coba pang padahakan kirimi aku kena kutabus.
    salamat bakarya

  52. #Wajidi: ya, setuju. trims ditautkan.

    #orang awam: ya, Ivan Denisovitch adalah nama samaran M. Rifani Djamhari, sastrawan asal Banjarbaru, yang meninggal dunia pada Sabtu, 20 Juni 2009 dini hari pukul 01.30.

  53. Innalillahi wa innalillahi rojiun. Saya mengucapkan ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Ivan Denisovitch alias M. Rifani Djamhari. Semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi-NYA. Amin.

  54. Saya ucapkan terima kasih kepada adinda Sandi Firly atas kesediaannya memuat tulisan saya berjudul Obituari M. Rifani Djamhari Alm di Cakrawala Sastra Radar Banjarmasin, Edisi Minggu, 5 Juli 2009. Sayang sekali karena kesulitan teknis (keterbatas halaman) maka ada beberapa bagian penting yang tidak ikut dimuat. Sehubungan dengan itu, kawan-kawan sastrawan Kalsel yang ingin membaca versi obituari seutuhnya bisa mengeklik laman saya. yakni tajuddinnoorganie.blogspot.com. Terima kasih.

  55. # Pak Tajuddin Noor Ganie:
    terima kasih untuk catatan obituari M.Rifani Djamhari — yang juga memiliki nama samaran Ivan Denisovitch, yg dengan nama samaran inilah beliau menulis “catatan” di atas. Dan sempat “bertegur sapa” dengan Rusdy Haudy — entah, apakah Rusdy Haudy telah mengetahui wafatnya sang “Ivani Djamhari”

  56. innalillahi wa inna ilaihirajiun

    kada disangka aku takajut mandangar berita dangsanak Ivan telah wafat, hanyar jua tahu.
    terakhir aku mangirim email 12 juni 2009 bakisah kakawanan bahari. sampat aku bacanda, sejak kapan bangaran orang rusia ikam fani jarku.
    tapi kada sawat dibalas emailku, tahu-tahu mandangar inya wafat.
    satu lagi kita telah kehilangan seorang kawan, seorang pekerja seni yang tekun dan mengabdi seni sebagai lantunan hati nuraninya yang sendu.
    untuk dangsanakku Ivan “Rifani”Djamhari.
    semoga Allah memberikan tempat yang sebaik-baiknya di sisiNya. Amin.
    terimakasih kepada adinda Sandy, kalau kada kabar ikam di blog ini kada tahu aku. salam kepada adinda Tadjuddin Noorganie

  57. terimaksih atas kritik dan sarannya itu merupakan cambuk bagi saya untuk lebih mempublikasikan karya walaupun itu bukan pekerjaan “zuhud” dalam berkarya.Saya sudah lama terbitkan Kumpulan syair “Bunga ‘Arsy”,Antorlogi bersama;Duri-duri Tataba, Potret diri, Jembatan,Cerita anak-anak:Itik Japon dan Kera Hitam, Kura-kura dan kera. Titah Sang Raja Alam, Kintau, Lagu daerah berjudul Kintau, itu diantaranya.

  58. boleh lah… anak banjarbaru bisa berkarya,,,gkgkgkgk…….

  59. Cerita tentang salat Jum’at di Mekkah konon pernah dilakoni oleh Datu Sanggul di daerah Tatakan Rantau. Di mana karena tidak pernah sembahyang Jum’at di kampung halaman, maka pada setiap hari Jum’at beliau diberitakan harus membayar denda syariah. Wallahualam bissawab.

  60. Maaf, Sandi saya salah masuk. Tulisan di atas mestinya masuk ke kolom sembahyang Jum’at di Mekkah. Silakan dihapus. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s