Mudik (2)

(surat terbuka kepada sahabat, kawan, yang kenal, dan tak mengenal saya)– catatan ini diterbitkan di Cakrawala, Sastra Budaya Radar Banjarmasin, edisi Minggu 28 September 2008.

Ketika catatan ini kalian baca, barangkali saya tengah melaju dalam perjalanan menuju kampung halaman nan jauh di pesisir Kalimantan Tengah sana. Saya bersama istri dan anak kami yang baru berusia satu setengah tahun berangkat pagi-pagi sekali. Sehabis sahur dan salat subuh, seorang teman dengan mobilnya akan mengantarkan kami ke Palangka Raya – selanjutnya saya bersama istri dan si kecil akan melanjutkan lagi menuju Sampit – kota yang pernah mencatat amuk sejarah di tahun 2001 itu.

Seperti yang saya catat dalam Potret pekan kemarin, di pekan terakhir Ramadan ini panggilan kampung halaman begitu menderu-deru seperti “angin limbubu” (meminjam kata yang banyak terdapat dalam sajak-sajak Ajamuddin Tifani (1951-2002)—yang pada Selasa, 23 September tadi diperingati Hari Kelahirannya dalam bentuk pentas dan kesaksian sejumlah sastrawan di Museum Banjarbaru). Maka saya pun memutuskan untuk mudik, setelah dua tahun lebih saya tak menjenguk tanah lahir. Bila biasanya saya pulang sendirian, kali ini bersama istri dan seorang anak yang akan saya banggakan di sana.

Ketika catatan ini kalian baca, sahabatku, barangkali saya tengah memandang ke luar jendela mobil. Melihat pohon-pohon yang seperti berlarian di sepanjang jalan, atau barangkali hamparan lahan gambut proyek sejuta hektare yang terbengkalai, atau menatap jalan yang tak lagi berdebu seperti dua tahun yang lalu. Meski pandangan saya kepada pohon, lahan gambut dan jalan, tapi pikiran saya mungkin telah melayang jauh ke kampung halaman; Sungai Suriyan yang luas membentang bermuara di Gosong Buaya, pucuk-pucuk, masjid, angin laut yang lembut, serta senyum ramah kawan dan sanak saudara.

Lalu saya akan menceritakan kepada istri saya masa-masa kecil dan remaja dulu; kenakalan-kenakalan yang dibanggakan, keluarga saya, sahabat-sahabat saya. Tapi tentu saja saya tidak akan, dan tidak akan pernah, menceritakan gadis yang telah merebut cinta pertama saya di kampung halaman, karena saya tahu itu bisa merusak suasana hatinya. Kita mengenal, hati perempuan sangat lembut dan mudah tertusuk.
Kepada si kecil, saya akan ceritakan tentang keponakan-keponakannya yang banyak, tentang pantai, dan tentang jalan-jalan kampung yang akan kami nikmati saat menjelang senja. Namun saya masih ragu, apakah saya juga akan menceritakan tentang kakek-neneknya di sana? Sebab, di kampung halaman nanti, dia hanya akan saya ajak ke sebuah tanah lapang –berseberangan jalan dengan masjid terbesar di kampung– yang penuh dengan gundukan tanah dan kayu atau batu-batu kembar yang saling berhadapan; dan di antaranya adalah sebagai penanda bahwa kakek-neneknya pernah ada.

Saya tahu, anak saya tidak akan mengerti. Biarlah, barangkali juga saya menceritakan itu untuk menghibur diri saya sendiri. Saya hanya akan berusaha agar dia selalu ceria sepanjang perjalanan ini atau tertidur nyenyak di pangkuan ibunya saat kelelahan. Saya akan pandangi wajah mereka berdua seperti layaknya pandangan seorang bapak kepada orang-orang yang dicintainya.

Perjalanan ini, sahabat, adalah perjalanan terjauh pertama anak saya– sayajuga masih mengingat luka pertama di ujung kiri mata kirinya karena terantuk meja makan bundar kecil kami. Barangkali kelak dia tidak bisa mengingat bagaimana perjalanan panjang ini dia lalui. Namun saya pasti akan mengingatnya dengan baik, dan ketika dia besar saya akan ceritakan perjalanan ini kepada dirinya; suka dukanya, dan betapa lelahnya. Sebab saya yakin, nanti dia akan banyak melakukan perjalanan; perjalanan-perjalanan jauh, menjejaki banyak kota, mengunjungi banyak negeri, setidaknya melengkapi jejak perjalanan bapaknya yang belumlah pernah genap –dan pasti tak akan pernah genap– menjelajahi hamparan bumi Allah ini.

Inilah perjalanan seperti kembalinya sekawanan burung ke ke tempat asal setelah pengelanaan jauh dari musim ke musim. Dan saya, istri dan anak saya hanyalah satu kelompok perarakan yang pulang kepada kerinduan yang selalu memanggil-manggil itu. Bayangkanlah, bagaimana besarnya perarakan yang telah mencapai puncaknya menjelang akhir Ramadan ini. Jalanan, udara dan laut telah dipenuhi para pemudik yang berlomba ingin segera menggenapi rindunya kepada kampung halaman. Gema takbir pun telah terngiang-ngiang di telinga, malam takbiran, salat id, senyum-senyum yang semarak pada Hari Kemenangan. Ke sanalah, ke sanalah saya menuju, sahabat. Kepada pusaran rindu itu, rindu itu.

Ketika catatan ini kalian baca, barangkali saya juga tengah mengingat kalian; sahabat-sahabat dan kawan-kawanku. Mengingat kalian penuh seluruh. Maka, iringkanlah doa dalam perjalanan ini, saya pasti akan merasakannya lewat angin yang berembus dari celah kaca mobil, atau arakan awan sepanjang jalan menuju pulang. (sfirly.wordpress.com)

: kepada sahabat, kawan, yang kenal, dan tak mengenal saya, saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1429 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Iklan

11 pemikiran pada “Mudik (2)

  1. Met lebaran juga bang. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga selamat sampai tujuan. Titip salam buat keluarga di sana. Oh…ya… Jangan lupa oleh olehnya bang, He..he..he.. (becanda). Assalamualaikum.

  2. Mudahan selamatan di jalan…! Asyik ni bulik ka kota kalahiran nah. Ulun tahun ini kada mudik. Ayu ja Dangsanakai, selamat Idul fitri 1429 H wan ayu kita saling mamaafakan…! Salam gasan kaluarga…!

  3. Assalamu’alaikum w.w. Di mana posisi Bang? Lancar ja kalo acara mudiknya? Bakunjangan lah di wadah kami…!

    : posisi kadang-kadang tengkurap, telentang,
    tapi gak pernah bisa terbang, hehee…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s