Siapakah Sastrawan?

(terbit edisi koran Radar Banjarmasin, Minggu 12 Oktober 2008 di halaman Cakrawala Sastra dan Budaya — Masih ada kaitannya dengan polemik buku Ensiklopedia Sastra Kalsel; Baca Ensiklopedia (Sekadarnya) Sastra Kalsel)

Apakah beda mereka yang disebut sastrawan di dalam buku ensiklopedia sastra Kalsel dengan yang tidak?

Siapakah sebenarnya sastrawan itu? Atau, bilamanakah seseorang itu baru disebut sastrawan? Pertanyaan ini dikirimkan seseorang lewat SMS kepada saya beberapa waktu lalu. Sumpah, saya gelagapan menjawabnya. Lalu, saya kembali dicecar dengan pertanyaan begini; Apakah seseorang yang telah menulis puisi, cerpen, prosa, sudah layak disebut sastrawan meski karyanya tidak pernah dikorankan dan hanya diselipkan di bawah bantal? Apakah seseorang itu baru disebut sastrawan apabila karyanya telah dipublikasikan atau dibukukan? Atau, sastrawan itu adalah mereka yang hanya tercatat dalam buku-buku ensiklopedia sastra? Bila yang terakhir jawabannya, maka mungkin selamanya saya tidak akan pernah tercatat sebagai sastrawan. Selamanya!

Dicecar pertanyaan dan pernyataan seperti itu, saya termenung-menung. Meski saya bisa saja memberikan jawaban, tapi apakah jawaban saya bisa dikatakan benar dan sah? Saya juga sebenarnya bisa juga mencari jawabannya di buku-buku sastra atau malah di Kamus Bahasa Indonesia sekalian – tapi itu tidak saya lakukan. Setelah tercenung sekian saat, saya tak bisa juga (tepatnya tak mampu) memberikan jawaban yang mungkin bisa membuatnya tenang, mungkin senang, atau merasa menemukan jawaban yang benar tentang siapa yang disebut sastrawan.

Apakah pertanyaan-pertanyaan SMS itu ada hubungannya dengan terbitnya buku ensiklopedia sastra Kalsel yang pekan-pekan ini ramai dibicarakan (untuk tidak mengatakan dikritisi), saya sebenarnya tak ingin mengira-ngira – meski saya menduga memang begitu. Ya, bagaimana tidak, SMS itu dikirimkan di saat Cakrawala memang lagi diserbu naskah-naskah yang membicarakan tentang buku ensiklopedia sastra Kalsel itu. Yeah, apa boleh buat.

Di sini saya (tetap) tidak hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Kalau saya tetap memaksakan diri untuk menjawab, saya khawatir justru akan membingungkan. Ya, membingungkan, membingungkan yang entah bagaimana. Nama saya sendiri dalam beberapa tulisan yang mengulas buku ensiklopedia sering disinggung sebagai yang tidak tercatat (sebagai sastrawan) di dalam buku itu. Nah, bagaimanakah saya harus menjawab pertanyaan itu?

Dengan tidak tercatatnya nama saya di buku ensiklopedia sastra Kalsel(siapa atau lembaga apapun yang membuatnya), sedihkah saya? Marahkah saya? Kecewakah saya? Sebentar, saya berpikir, mengapakah saya harus sedih, marah, atau kecewa? Toh, saya menulis cerpen, esai dan (sedikit) puisi sejak tahun 1994 tidak pernah berharap kelak akan tercatat dalam buku ensiklopedia sastra Kalsel (siapa atau lembaga apapun yang membuatnya). Barangkali juga karya yang saya tulis (oleh siapa atau lembaga apapun yang membuat buku ensiklopedia) memang belum bisa membuat saya disebut sebagai sastrawan. Ya, tak apa-apa. Saya juga menulis cerpen, esai dan (sedikit) puisi tidak pernah berharap kelak disebut oleh siapa atau lembaga apapun sebagai sastrawan. Jadi, mengapa saya harus sewot? Apalagi sampai “memusuhi” siapa atau lembaga apapun yang membuat buku ensiklopedia itu.

Kalau saya marah-marah, mencak-mencak lantaran tidak tercatat dalam buku ensiklopedia sastrawan Kalsel, nanti saya dikira sok sastrawan lagi. Atau malah saya dikira kahandakan disebut sastrawan. Atau apalah yang itu bisa membuat saya ditertawakan. 

***

Sekali lagi, tulisan ini tidak saya maksudkan sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seseorang seperti yang saya sebut di awal tadi. Karena bila dianggap sebagai jawaban, pastilah tidak memuaskan. Sebab saya sendiri tidak tahu disebut apakah saya, yang menulis cerpen, esai dan (sedikit) puisi ini. Kalau pun saya boleh menyebut diri saya sendiri, maka sebut saja saya sebagai penulis, dengan “P” besar atau “p” kecil, toh apa bedanya? Seperti juga saya tidak tahu apa beda mereka yang disebut sastrawan di dalam buku ensiklopedia sastrawan Kalsel itu dan yang tidak. Bukankah kita tidak menjadi seperti apa yang orang katakan atau catatkan, tapi apa yang kita kerjakan.[]

Iklan

22 pemikiran pada “Siapakah Sastrawan?

  1. sepertinya definisi sastrawan meruapakan sebuah pertanyaan besar, apalgi baagi mereka yang ‘baru’ mulai tertarik mencicipi dunia sastra… entahlah… semoga cepat terjawab. Siapa GERANK sastrawan tuh?

    : kalau dalam kamus, definisi sastrawan itu (kira-kira, soalnya belum buka kamus) adalah mereka yang menulis karya sastra; puisi, cerpen, novel, prosa dan dipublikasikan.

  2. menurut saya diakuinya sastrawan itu tidak terletak pada siapa yang tertulis dalam buku ensiklopedia itu. yang menurut saya cacat sebagai buku jenis itu.

    : hemm…, apakah Anda sastrawan? hehe.. :>

  3. Hem.. Definisi yang cair. Bagaimana kalau dimasukkan ke dalam lemari es. Agar ensiklopedia itu lebih segar dan nyata di tengah dahaga kesusastraan.

    : Nah, nang komen ini kayaknya sastrawan benaran, hehee.. :>

  4. terlepas dari sastrawan atau tidak
    (karena jelas aku merasa bukan sastrawan, hehe meskipun suka nulis dikit dan disimpan di bawah bantal dan hanya kau yang baca)
    i just wanna say
    happy bday brother (16/10/2008)
    god bless u!

    : terima kasih… (diucapkandengan nada terharu… — sementara aku tak pernah mengingat persis tanggal lahirmu, hanya bulannya yg sama)

  5. Ngomong-ngomong soal ensiklopedia sastra, Kalteng (Balai Bahasa Provinsi Kalteng) juga punya program menyusun Ensiklopedi Sastra Kalteng (lihat: Puji Santosa. 2008. ‘Upaya Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra di Kalimantan Tengah’, Borneonews, 6 Oktober 2008).

    Cuma mengulang pertanyaan saja: Siapakah sastrawan yang masuk ke Ensiklopedia Sastra Kalteng?

    : yeah, semoga saja tidak menjadi polemik seperti di Kalsel.
    tapi, jadi polemik pun kukira tak apa-apa juga. setidaknya
    bisa jadi pembelajaran. bukan begitu…?

  6. saya rasa sastrawan di pandang dulu, manusia kan penilaiannya dari mata, penampilan udah kayak sastrawan baru bisa dibilang sastrawan 😀 wkwwkwk
    nah mas sandi sendiri gak cocok, mas terlalu cakep buat jadi sastrawan, seniman aja mas ya wekekekeke..

    sɐɯ ɥol ƃuıppıʞ ʇsnɾ

    : “nah mas sandi sendiri gak cocok, mas terlalu cakep buat jadi sastrawan, seniman aja mas ya wekekekeke..” <— bagian itu
    bikin saya nggak enak, pengen ngaca, hahaa…

  7. Ha ha ha ha…!

    Umai banyaknya nang bingung siapa sastrawan, hi9x9+8-6=! Kada usah ngalih-ngalih mambahas soal siapa sastrawan…! Nang jelas sastrawan tu manusia.

    Tapi…ayam jagao tu pinanya mun baisukan mendeklamasikan puisi jua lah, sampai-sampai urang bangunan, …he he he he…! Nah am jadi umpat bingung jua nah….

    Ayu ja, mun ketu sastrawan tu makhluk Tuhan YME karena kada mungkin sastrawan menciptakan dirinya surangan, ya kada? Jadi sastrawan atawa kada, sebagai makhluk Tuhan yang dibari kemampuan, mari kita samakan visi, yakni hidupkan sastra di Kalsel semampu kita. Hidup sastra Kalsel!

    Bung Sandi, ui Bung Sandi. Umai kada heran-heran! Bah sakalinya ni lain di telepon, pantasai kadada suaranya. Kada ingat, he he he he!
    Bakunjuangan mun ada waktu di laman ulun wan bari komentar di sana, he9+8+5-8×3=….

    : nah, nang ini pasti sastrawan atawa ahli bahasa, haha…

  8. ehm..oh gitu kah ? memang memicu naluri ‘mempertahankan diri’. Mempertahankan diri : sastrawan atau bukan !? Kalo saya seh gak ambil pusing, bang. Yang penting ga da tunggakan di warung, makan masih bisa 3 x sehari (bahkan bisa ntraktir temen**) trus kalo ntar mati, utang saya pada lunas and the last saya masih bisa tetep nulis…gitu daaah :). O’ya lupa, yang penting lagi saya masih bisa memperjuangkan idealisme saya (yang mungkin juga idealisme orang-orang di alam semesta ini) baik lisan maupun tulisan. ^Semangat^ !!!! ^_^ dadah kawai-kawai

  9. ehm..oh gitu kah ? memang memicu naluri ‘mempertahankan diri’. Mempertahankan diri : sastrawan atau bukan !? Kalo saya seh gak ambil pusing, bang. Yang penting ga da tunggakan di warung, makan masih bisa 3 x sehari (bahkan bisa ntraktir temen**) trus kalo ntar mati, utang saya pada lunas and the last saya masih bisa tetep nulis…gitu daaah :). O’ya lupa, yang penting lagi saya masih bisa memperjuangkan idealisme saya (yang mungkin juga idealisme orang-orang di alam semesta ini) baik lisan maupun tulisan. ^Semangat^ !!!! ^_^ dadah kawai-kawai — http://www.diarypuan.wordpress.com (baelang uuuuy..)

    : yeah, pokoknya menulis!

  10. eh..bang, situ tagl 16 ya b’day na ? hihihi, beda sehari ma misua ku..dia tanggal 17 tuh 🙂

    : oya, sampaikan ucapan selamatku.

  11. Kerja sastrawan dalam bingkai ini sungguh mulia. Mereka berkontemplasi memaknai hidup, membolak-balik buku, menulis untuk sebuah karya yang berpihak kepada kebenaran. Bagi Seorang sastrawan, jargon seni untuk seni atau sastra untuk sastra tidak berlaku.

    Yang perlu kita bangun adalah sastra yang estetik dan berpihak kepada kebenaran serta berpijak pada nilai-nilai Islam. Dengan begitu, sastrawan dengan karyanya bisa mengantarkan siapapun yang membacanya untuk senantiasa dekat dengan Tuhan. Sungguh mulia bukan !.

    : Kalau ini, saya tebak seorang cendekiawan 🙂

  12. sastrawan itu manusia juga cuma punya kelebihan dari segi intelektual dan kreativitas.senangnya bergelut di bidang sastra,ya menulis puisi,cerpen, atau esai sastra termasuk juga menulis krttik (nah, ini kritikusnya – kritikucingnya nanti hehehe)

    : begitu ya?

  13. Dalam Ensiklepedia Sastra berisi lema-lema tidak semata-mata sastrawan, tetapi juga karya, penerjemah, penerbit, sistem distribusi, peristiwa sastra, penghargaan sastra, mitologi, istilah khusus sastra, kritikus, dan pakar sastra. Sastrawan yang masuk menjadi lema ensiklopedia sastra kriterianya adalah pengarang atau penulis sastra, orang yang bergulat terus-menerus dibidang sastra, baik tulisan maupun lisan, baik sastrawan nasional, lokal, maupun internasional.

  14. Saya lebih menyenangi sebutan seniman (senewen) tulis. Kami makin senewen ulah mantan Menparsenibud Jero Wacik. Masa seorang guru SMA yang hanya menyunting sebuah buku hukum adat dari prov.Sumbar mendapat Anugerah Budaya. Saya mengedit 3 hukum adat dan menulis 40 buku mengenai budaya serta hampir 500 folklore tidak dipandang mata.Sungguh gila birokrat negeri ini.

  15. Pak Puji Santosa,aktivitas bapak mengenai gelar budayawan tahun 2008 kepada dua tokoh Kalteng (Usop dan Makmur) tidak ada kelanjutannya lagi. Jadi kegiatan tersebut bagaikan pesanan saja. Apakah hanya mereka yang pantas ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s