“Polisi Tidur”

Barangkali perbandingannya;  jalan mulus itu hanya 50 persen, sisanya adalah lubang-lubang, gundukan-gundukan tambalan aspal bekas galian pipa, perbaikan jalan, ditambah kemacetan-kemacetan.

Semua tentu sudah mafhum, “polisi tidur” di sini bukanlah polisi yang tidur di kantor atau di pos jaga. Ini “polisi tidur” di tengah jalan, berupa gundukan semen melintang di tengah-tengah aspal.

Saya yakin, semua yang pernah pergi naik kendaraan bermotor pasti pernah melindas “polisi tidur”. Sebab kita tahu, “polisi tidur” ini hampir kita temui di mana-mana, terutama di gang dan jalan-jalan kecil. Ukuran gundukannya macam-macam, ada yang gemuk tinggi, atau kurus tinggi, atau gemuk – kurus rendah. Bagaimana pun bentuknya, setiap yang hendak melintas, selalu mengerem kendaraan dan dengan pelan sekali kita rasakan ban kendaraan kita melindas “polisi tidur” itu agar tidak terjadi goncangan atau hempasan yang keras. Bersamaan itu pula, kita pun harus ngerem rasa jengkel dan kesal terhadap “polisi tidur” itu.

Entah bagaimana hingga ada konsep “polisi tidur” ini, dan siapa pula yang memberikan nama itu. Namun kita tahu, “polisi tidur” ini sudah menjadi “rambu” lalu lintas secara nasional seperti pernah terlihat dalam iklan sebuah produsen rokok – yang belakangan sudah tak terlihat lagi di layar tv mungkin lantaran diprotes dan dituntut Polri yang tersinggung berat.

Bisa dipahami, maksud dibuatnya “polisi tidur” ini agar para pengendara tidak memacu dengan cepat kendaraannya. Tapi sungguh, keberadaan “polisi tidur” ini sangatlah mengganggu kenyamaan pengendara yang saya yakini sebagian besar bukanlah pengebut jalanan terutama di jalan sempit. Padahal kita juga tahu, tak banyak dan tak panjang jalanan di kota, ambil lah contoh Banjarmasin, yang mulus. Barangkali perbandingannya; jalan mulus itu hanya 50 persen, sisanya adalah lubang-lubang, gundukan-gundukan tambalan aspal bekas galian pipa, perbaikan jalan, ditambah kemacetan-kemacetan.

Nah, apakah kita ingin menambah lagi ketidaknyaman dalam berkendaraan itu dengan “polisi-polisi tidur”? Apakah kita memang suka dengan istilah: “Kalau bisa dibuat susah, mengapa harus dipermudah?” Ah, rasa-rasanya kita memang terlalu sering membuat susah yang seharusnya bisa dibikin mudah, nyaman dan lancar.

Protes terhadap dibuatnya “polisi tidur” ini pernah terjadi di selingkaran lapangan Mudjani Banjarbaru. Sukses, protes warga yang terganggu kenyamaan berkendaraan di kawasan itu ditanggapi pemerintah setempat yang dengan segera menghancurkan “polisi-polis tidur” yang melintang. Protes serupa juga pernah dilontarkan untuk “polisi tidur” di depan gubernuran Kalsel di Banjarmasin, namun hingga tulisan ini dibikin “polisi-polisi tidur” itu tampaknya masih tertidur di sana.
Barangkali pembuatan “polisi tidur” ini juga seperti hendak meneguhkan atas “berkuasanya” terhadap jalan itu. Artinya, kendaraan Anda harus pelan-pelan tidak boleh kencang, karena ini wilayah “Ku”, “Kami”, dan di sini banyak anak-anak. Hahaa.., tertawalah si “pemilik jalan” karena bisa mengendalikan mereka atau kita yang lewat di jalan “miliknya”.

Padahal, sesungguhnya ada cara yang lebih akrab dan bersahabat andai pembuatan “polisi tidur” itu memang dimaksudkan agar kendaraan yang lewat harus pelan-pelan. Misalnya, bikin saja rambu-rambu dengan tulisan; “Mohon Pelan-Pelan, Banyak Anak-Anak” (tidak perlu pakai tanda seru di ujung kalimatnya, karena itu lebih mengesankan galak ketimbang penegasan. Bila kesannya galak, maka tak jauh beda dengan pesan; “Awas, Ada Anjing Galak!”).

Percayalah, kecelakaan hingga menghilangkan nyawa itu sebagian besar terjadi di jalan-jalan besar, bukan di gang sempit atau jalan-jalan kecil yang sunyi. Jadi, tidak perlulah dibikin “polisi tidur” di jalan atau gang mana pun. Daripada bikin “polisi tidur”, lebih baik memperbaiki jalan yang rusak. Bukankah hampir tak ada jalan dan gang yang tak berlubang? Dan “polisi tidur” yang ada segera saja diratakan.[]

Iklan

17 pemikiran pada ““Polisi Tidur”

  1. Polisi tidur di gang dan jalan lingkungan pemukiman dibuat lebih banyak karena warga setempat terganggu oleh perilaku pengendara yang suka ngebut.

    Persoalan ini memang dua arah, dari sisi perilaku pengendara sendiri dan sarana jalan yang ada.

    tapi, polisi ‘tidur’ saja bisa sedemikian merepotkan ya?
    apalagi kalau ‘bangun’
    😦

  2. Polisi tidur ? di Amuntai ada polisi bisu, tuli, tak punya perasaan bahkan berdiri saja siang-malam di tempatnya tanpa mengenal lelah tanpa peduli panas dan hujan.Polisi apakah itu ? Patung !
    Nah , kalau di daerahku perlu juga polisi tidur.Masalahnya, anak remaja sering kebut-kebutan.Apalagi Sabtu sore,itu di muka kantor camat Amuntai Tengah, Sungai Malang (Jalan Tembus) wah, tempat itu dijadikan ajang kebut-kebutan, susah kalau mau lewat sana.
    Pendapatmu benar juga, gundukan tanah ” polisi tidur ” lebih baik difungsikan atau digunakan untuk menutupi jalan yang berlubang-lubang.Sekian.

  3. “Polisi guringan!” jar Amat.
    “Ayu ja!” polisinya manyahut.

    Buh! Lakas banar mun dibawai guringan polisi ni. Nah! Nitu pang nang ngarannya polisi tidur. Tagal anehnya limbah dibawai guringan tadi, si polisinya makan tahu basanga wan Amat di warung. Umai lah satumatannya guring sakalinya. Babaya satangah manit ja langsung makan tahu.

    Limbah di cari tahu, sakalinnya guringan nang dimaksud Amat tadi tu gorengan. Mauk jua si Amat ni. Gorengan disambat guringan, he he he he.

    Hadang dulu, Mas Sandi! Ui urangnya! handak batakun nah , ada lah yu polisi nang makan guringan di jalan? he he he he…!

  4. Lain padang lain ilalang. Polisi tidur di Banjarmasin sepertinya akan menjadi polemik yang panjang. Menimbulkan pro dan kontra tentunya. Setelah proyek perbaikan jalan beberapa bulan yang lalu jalan-jalan di Banjarmasin sudah terbebas dari kolam-kolam pemancingan. Hanya saja timbul masalah baru. munculnya bibit pembalap-pembalap liar dirasa perlu untuk segera diperhatikan. Apakah polisi tidur itu merupakan solusi yang tepat. Setahu saya polisi tidur itu hanya ada di pos siaga tiap-tiap ruas jalan, dan tidurnya pun kadang-kadang berteman AC dan televisi.

  5. Selain pengendaranya yang kasihan, “polisinya” juga kasihan banget, tiap hari dilindas² ngga digaji pula. Lama kelamaan bosen juga tuh “polisi”

    belum lagi kalau “polisi tidurnya” pada demo minta digaji, bisa tambah pusing komandannya.

    Tapi komandanya dimana ya, apa lagi tiduran dijalan juga kali ya?

  6. Bagaimanapun polisi tidur (sidur) perlu untuk ketenangan dan keamanan masyarakat. Hanya saja, bentuknya yang perlu dibenahi. Jangan sampai, misalnya terlalu tinggi, sehingga berbahaya bagi wanita hamil, orang sakit, dan pengendara yang kurang konsentrasi. Kalau dihitung-hitung, lebih banyak “baiknya” daripada “buruknya”. Yang pasti, jangan sampai ada “pengendara tidur”; bisa gawat jadinya ….

  7. polisi tidur bisa bikin bensin borosss ……………

    tapi, kalo ngantuk, polisi tidur bisa bikin kita terjaga, dan

    bisa bikin kita bergaya narsis didepan cewek

    jadi, voting saya untuk pembunuhan polisi tidur adalah 1/2 suara.

    hihihihi …. 😀 😀 :devil: 😀

  8. Contoh ke 1.
    Cibinong, 20 Desember 2009

    Hal : Lamaran Pekerjaan

    Kepada Yth.,
    Manajer Sumber Daya Manusia
    PT. Hand’s Parmantindo
    Jl. Raya Bumi Sentoda No. 5
    Cibinong

    Dengan hormat,

    Bpk. Bambang Satrio, seorang asisten editor di PT. Hand’s Parmantindo, menginformasikan kepada saya tentang rencana pengembangan Departemen Finansial PT. Hand’s Parmantindo.
    Sehubungan dengan hal tersebut, perkenankan saya mengajukan diri (melamar kerja) untuk bergabung dalam rencana pengembangan PT. Hand’s Parmantindo.

    Mengenai diri saya, dapat saya jelaskan sebagai berikut :
    Nama
    Tempat & tgl. lahir
    Pendidikan Akhir
    Alamat
    Telepon, HP, e-mail
    Status Perkawinan
    : Florentina Putri
    : Probolinggo, 5 Agustus 1979
    : Sarjana Akuntansi Universitas Pancasila – Jakarta
    : Perum Bojong Depok Baru 1, Blok ZT No.3, Cibinong 16913
    : 021 – 87903802, HP = 0817 9854 203, e-mail = putri.flo@gmail.com
    : Menikah.

    Saat ini saya bekerja di PT. Flamboyan Bumi Singo, sebagai staf akuntasi dan perpajakan, dengan fokus utama pekerjaan di bidang finance dan perpajakan.

    Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan :

    1. Daftar Riwayat Hidup.
    2. Foto copy ijazah S-1.
    3. Foto copy sertifikat kursus/pelatihan.
    4. Pas foto terbaru.

    Besar harapan saya untuk diberi kesempatan wawancara, dan dapat menjelaskan lebih mendalam mengenai diri saya. Seperti yang tersirat di resume (riwayat hidup), saya mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman potensi dan seorang pekerja keras.

    Demikian saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak.

    Hormat saya,

    Florentina Putri
    Contoh ke 2.
    Jakarta, 20 Desember 2009

    Hal : Lamaran Pekerjaan

    Kepada Yth.,
    Manajer Sumber Daya Manusia
    PT. Gilland Ganesha
    Jl. Raya Kebon Durian No. 11
    Jakarta Timur

    Dengan hormat,

    Sesuai dengan penawaran lowongan pekerjaan dari PT. Gilland Ganesha, seperti yang termuat di harian Kompas tanggal 18 Desember 2009. Saya mengajukan diri untuk bergabung ke dalam Tim Marketing di PT. Gilland Ganesha.

    Data singkat saya, seperti berikut ini.
    Nama
    Tempat & tgl. lahir
    Pendidikan Akhir

    Alamat
    Telepon, HP, e-mail
    Status Perkawinan
    : Baiti
    : Bukit Tinggi, 19 Februari 1976
    : Sarjana Manajemen Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) – Jakarta
    (Konsentrasi Manajemen Pemasaran)
    : Perum Bumi Sentosa Blok A.5 Bekasi
    : 021 – 87914990, 0815 965 5695, benny_kas07@yahoo.co.id
    : Menikah

    Saya memiliki kondisi kesehatan yang sangat baik, dan dapat berbahasa Inggris dengan baik secara lisan maupun tulisan. Latar belakang pendidikan saya sangat memuaskan serta memiliki kemampuan manajemen dan marketing yang baik. Saya telah terbiasa bekerja dengan menggunakan komputer. Terutama mengoperasikan aplikasi paket MS Office, seperti Excel, Word, Acces, PowerPoint, OutLook, juga internet, maupun surat-menyurat dalam Bahasa Inggris.

    Saat ini saya bekerja sebagai staff Marketing di PT. Hilmy Finance. Saya senang untuk belajar, dan dapat bekerja secara mandiri maupun dalam tim dengan baik.

    Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan :

    1. Daftar Riwayat Hidup.
    2. Foto copy ijazah S-1 dan transkrip nilai.
    3. Foto copy sertifikat kursus/pelatihan.
    4. Pas foto terbaru.

    Saya berharap Bapak/Ibu bersedia meluangkan waktu untuk memberikan kesempatan wawancara, sehingga saya dapat menjelaskan secara lebih terperinci tentang potensi diri saya.

    Demikian surat lamaran ini, dan terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu.

    Hormat saya,

    Baiti

  9. Polisi tidur menghambat perkembangan ekonomi masyarakat. Pembuat polisi tidur adalah contoh anggota masyarakat pengecut, yg tidak berani berhadapan muka dengan pengebut.
    Kalau terjadi kecelakaan dijalan tentu yg salah adalah pengendara, mengapa “jalan” yg harus jadi kambing hitam?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s