Musim Caleg

Dengan menempel gambar wajah di angkot, tidak di kaca mobil milik sendiri, apakah itu karena takut mobilnya jadi terlihat jelek, meski yang ditempel adalah gambar wajah sendiri?

Selain musim durian, saat ini juga lagi musim caleg.

Pernah melihat gambar-gambar para calon legislatif (caleg)? Tentu saja pernah — kecuali Anda dalam dua bulan belakangan ini hanya mengurung diri di dalam rumah dengan alasan apapun, menutup diri atau karena sakit.  Atau, jangan-jangan gambar caleg yang bersebaran di mana-mana itu, salah satunya adalah wajah Anda sendiri? Suami atau istri Anda? Keluarga Anda? Teman, atau tetangga Anda?

Saya sendiri sejauh ini tidak berani membayangkan bagaimana seandainya gambar wajah saya, dalam ukuran besar, nampang di pinggir-pinggir jalan. Dengan alasan yang tak bisa saya jelaskan, mungkin saya tidak akan berani menatapnya setiap berpapasan.

Kalau di koran atau buku, mungkin karena seringkali hanya dalam ukuran kecil, tak masalah. Pun, seperti di kolom ini, gambar saya sengaja dibikin hitam putih dan direkayasa di photoshop agar tidak terlihat “benar-benar saya” atau bentuk aslinya. Meski memang, tetap saja orang mengenal bahwa itu saya.

Nah, saya yang sengaja atau tak sengaja bersitatap dengan gambar-gambar caleg di pinggir jalan itu mau tidak mau kadang mengamatinya. Dan ternyata menarik juga. Menarik dalam pengertian saya tentunya, yakni menarik mengamati ekspresi wajah-wajah para caleg itu. Coba ingat-ingat gambar caleg yang pernah Anda lihat, ekspresi wajah yang diperlihatkan cukup beragam; ada yang terlihat begitu meyakinkan (entah apakah karena kopiah atau stelan jasnya), ada yang terlihat kaku (seperti demam foto), ada juga yang tanpa ekspresi meski tangannya mengepal ke atas, ada pula yang tersenyum lebar dan senyum dikulum, ada lagi yang wajahnya tampak culun, ada juga seperti gambar mau nikah, yang (lebih) kurang enak ada gambar wajah caleg yang tampak melotot – meski saya yakin waktu difoto caleg tersebut tidak sedang marah atau benar-benar sengaja melotot. Dan macam-macam lagi ekspresi lainnya.

Satu lagi, sebagian besar desain poster para caleg itu dibuat biasa-biasa saja, atau tidak terlalu menarik secara estetika. Biasanya gambar wajah setengah badan (dengan pelbagai ekspresi seperti yang saya sebutkan di atas), lalu dilengkapi dengan gambar partai, atau ditambah dengan gambar orang lain, biasanya pimpinan partai di pusat atau tokoh setempat.

Mengamati hal itu, saya juga jadi teringat dengan gambar-gambar kampanye Barack Obama, yang baru saja terpilih sebagai presiden AS. Dari situs-situs di internet, saya mendapatkan banyak poster-poster kampanye Obama yang dibuat sangat menarik, baik secara desain poster maupun ekspresi dan sikap atau gerak tubuh Obama. Meski Obama berkulit tidak putih, tapi dari foto-foto yang saya lihat, penampilan Obama begitu berkarakter dan tidak kaku.

Yang menarik juga, sekarang banyak caleg “naik” angkot. Mereka tidak “duduk” di depan, tapi di belakang dari yang paling belakang alias ditempel di kaca belakang mobil. Cara sosialisasi yang menarik, dan yang saya yakini juga sangat murah – toh kan paling-paling memberi si sopir angkot. Dengan “naik” angkot setiap hari, saya rasa ini juga cara yang efektif untuk lebih dikenal masyarakat lebih luas. Setiap hari mondar-mondari, dari Banjarbaru ke Martapura misalnya, pastilah akan terlihat oleh ribuan pasang mata.

Lalu saya juga berpikir, mengapa para caleg yang tentunya rata-rata orang berduit itu tidak menempel gambar wajahnya di kaca mobil miliknya saja? Apakah takut mobilnya jadi terlihat jelek, meski yang ditempel adalah gambar wajahnya sendiri? Makanya lebih baik ditempel di angkot, barangkali juga biar terkesan merakyat. Maaf, bila sampai saat tulisan ini saya bikin tadi malam, sementara begitulah anggapan saya.

Dari sekian banyak gambar wajah caleg, saya hingga saat ini masih “sebatas” tertarik mengamati ekspresi wajah-wajahnya. Meski memang, terkadang saya menemukan slogan atau kalimat yang berupaya menunjukkan “prestasi” diri, namun kesannya justru menjadi lucu. Tapi tak apalah, setidaknya jalanan tampak lebih meriah, selain juga karena umbul-umbul dan bendera parpol. Semoga saja saya tidak pernah bosan melihat gambar wajah-wajah caleg yang sepertinya sengaja untuk selalu kita tatap saat di jalan itu.[]

Catatan ini diterbitkan di Radar Banjarmasin, edisi Minggu (9 November), halaman Cakrawala, Sastra & Budaya.

Iklan

18 pemikiran pada “Musim Caleg

  1. ini dia yang juga merasa dikelilingi seleb di Banjarbaru.

    dari dulu saia juga tak habis pikir dengan pose-pose yang begitu-begitu saja, tidak ada terobosan artistik dalam poster kampanye. mungkin harus menunggu saia jadi calon walikota… hihihihi…

    soal kenapa tidak dipasang di mobil sendiri?
    nah itu karena tidak semuanya memiliki mobil sehingga jelas repot kalau dipasang di motornya. kalau punya mobil tapi tak di pasang, saia yakin karena bakal malu sendiri, yakin saia itu.
    😦

    : kalo pakacil jadi calon walikota, siapa kira2 wakilnya? Si Manusiasuper?

  2. Mungkin mereka perlu belajar ilmu komunikasi massa
    kali, terutama ilmu ekspresi, atau bahasa tubuh..untuk
    mencuri perhatian orang lain,dengan begitu hanya dengan fotopun si caleg kelihatan meyakinkan.

    :Betul, dan mungkin juga mesti sering-sering bercermin untuk mencari sisi mana dari wajah yang paling bagus buat dipotret. Siapa tahu ternyata dari sisi atas, hahaaa….

  3. Belum menemukan caleg yang kampanye lewat blog, atau yang mengikuti langkah Obama (bersama Oprah). Kalau saya yang jadi caleg bang (kalau loh), saya pasti minta bantuan bunda Dorce dan Tukul Arwana buat kampanye. Inya Allah….

    : Bagus lagi minta bantuan Ki Joko Bodo, hehehee

  4. ulun kalo jadi caleg, mau kampanye liwat sms dan radio saja. biar nggak ada yang ngludahin dan ngencingin poster ulun.

    : haha…, saya juga pernah lihat gampar poster yang lagi tersenyum, tapi ada yang iseng ujung kiri kanan giginya ditambahin taring.

  5. Lumayan, sarana belajar murah meriah untuk anak. Belajar mengenal warna, angka dan ekspresi wajah. Haha…

    musim partai juga musim pengaspalan dalam gang, musim bagi2 sembako, kalender dll. Dimana ya yang bagi-bagi durian?

    : moga ada caleg yg baca, lantas kampanye dengan bagi2 durian, yaa hee..

  6. caleg? nambahi job digital printing…
    mbuka lahan pekerjaan bagi orang lain…
    balikin modal poster itu kira2 berapa bulan gaji kalo udah jadi dewan ?hehe

  7. yang tidak habis pikir, jumlah partai tiap tahunnya terus meningkat, seiring meningkatnya permintaan pasar yang tak pernah surut. Bisa dibayangkan pada pemilu yang akan datang; andaikan ada 500 partai, berapa jumlah calegnya ya? jangan-jangan satu kecamatan jadi caleg semua. siapa yang akan pilih siapa? (wah, susah, janji mereka serupa tapi tak sama)

  8. saya udah bosan liat wajah manusia diposter …..

    saya pingin liat wajah ayam, wajah kucing, ato wajah alien

    yang dipasang di jalan – jalan, ato kaca mobil…

    jadi .. kalo enggak ada lagi caleg yang bisa dipercaya oleh

    manusia, mungkin ini saatnya kita memilih alien. ato kucing

    sajah :mrgreen: 😀 😀 😀

  9. Ah, tidak usah pusing dengan poster itu. Itu kesempatan mereka untuk jual tampang. Mereka itu ada maunya sih.Maksudnya, mereka jadi caleg supaya dipilih.Yang ada di benak caleg itu bagaimana supaya bisa duduk di kursi empuk DPR/DPRD kan gajinya besar, belum lagi uang sidang. Adakah mereka memikirkan nasib rakyat ? wallahu a’lam.
    Sandi, minggu ini aku tidak sempat baca radar, keburu habis dibeli orang. Maklum radar di amuntai oplahnya sedikit. Jadi, kalau hari minggu harus menunggu di depan kios orang jual koran, jika terlambat tidak kebagian jatah.

  10. sebenarnya, oplah Radar di Amuntai cukup banyak, pak.
    Tapi itulah, karena Radar banyak diburu, hehee…, makanya cepat laku. Terlebih hari Minggu, halaman sastranya seperti angin menderu… hahaaa…

  11. Pembaca Radar hari Mingu adalah orang-orang yang pada setiap hari kerjanya santai dan rileks (ini penting supaya terhindar dari stroke atau ganguan jiwa). Karenaya ia serius dan mengerutkan dahi di hari minggu (seminggu sekali saja, bukankah hidup ini terlalu pendek untuk dibawa serius seminggu suntuk). Pilih saya di Pemilu 2009 Caleg nomor 1 dari PPA3NP: Partai Peduli Amat, Amat Aja Nggak Peduli.

  12. mampir… salam kenal …
    pantas aja mereka naik taksi nempel di belakang …
    kalau di depan kasihan sopir & penumpang yang lain… he…. he….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s