Cita-Cita

Kejarlah apa yang kau cita-citakan, maka segenap alam akan bersatu untuk mewujudkannya.
(Sang Alkemis)

Mengapa anak-anak dulu cita-citanya hampir seragam? Kalau tak ingin jadi insinyur, pilot, dokter dan presiden, pasti ingin menjadi seperti Habibie (baca: pembuat pesawat terbang). Tak pernah disadari, kalau cita-cita itu bukanlah keinginan mereka, melainkan keinginan orang tuanya, keluarganya, gurunya, atau lingkungannya, yang mengajari mereka untuk menyebutkan cita-cita mereka. Dan wajar bila sekarang kita kaget ketika ada seorang anak perempuan menyatakan cita-citanya ingin menjadi pemain bola (dalam iklan di teve).

Meskipun kita tahu keinginan anak perempuan menjadi pemain bola itu adalah “rekayasa”, namun kita sadari memang telah terjadi “pembebasan” terhadap anak-anak untuk menentukan impiannya sendiri. Mungkin tak ada lagi orang tua sekarang yang mengajarkan anak-anaknya untuk menyebutkan cita-citanya menjadi pilot, dokter, presiden ataupun Habibie. Maka, ketika seorang anak suka mencampurkan beraneka macam jenis warna, ia pun menyebutkan keinginannya untuk menjadi “ahli kimia” (alkemi).

Cita-cita atau impian adalah salah satu yang membuat orang tetap bersiaga untuk bertahan hidup. Ada seorang penjual teh yang sepanjang umurnya terus menabung untuk mewujudkan impiannya berhaji ke tanah suci Makkah. Juga ada penjual minyak tanah keliling yang berkeinginan berhaji. Karena kuatnya keinginan mereka untuk mewujudkan impiannya, maka segenap alam pun bersatu mendukungnya untuk mewujudkan impiannya itu. Mereka berhaji sebelum mati, meski itu baru terlaksana setelah menabung selama puluhan tahun. Tentu saja haji penjual teh dan minyak tanah itu beda dengan hajinya mereka yang dengan mudah mendapatkan uang hanya dengan duduk di kursi empuk, atau malah uang hasil korupsi dan sikut sana sikut sini.

Nikmatnya cita-cita bukanlah pada hasil, tapi pada proses. Seperti penjual teh dan minyak tanah, ibadah dalam mencapai impian berhaji itulah yang teramat nikmat. Sebab, boleh jadi setelah gelar haji mereka peroleh, mereka justru tak lagi sesemangat sebelumnya. Toh, impian berhaji mereka telah terwujud. Bila pun usaha tetap dijalankan, itu karena hidup memang mesti terus dijalani.

Seorang kaya, proses menuju kekayaan itu lebih berarti dari nilai kekayaannya sendiri. Pada anak cucunya ia akan ceritakan bagaimana merintis hidup sehingga menjadi kaya. Tak mungkin ia menceritakan apa itu kekayaan. Saat kaya ia tak bisa lagi membayangkan bagaimana nikmatnya menjadi orang kaya, sebab ia telah centang perenang di dalamnya.

Lihatlah pula, bagaimana perjuangan para calon legislatif (caleg) untuk mencapai cita-citanya. Menarik. Kita mungkin tak pernah kenal dengan nama dan sosok caleg yang gambarnya tersebar di mana-mana itu. Lalu, bagaimanakah mungkin kita bisa memilih mereka (yang tidak kita kenal) itu menjadi “wakil kita”? Sebab kita tidak tahu bagaimana latar belakangnya atau apa misi visinya menjadi caleg? Apa mungkin kita hanya memilih lantaran kita suka dengan namanya, atau gambarnya, atau partainya, sementara kita benar-benar buta dengan sosok caleg itu?

Sebab itulah, pada suatu perbincangan antara dua caleg, hal itu ternyata telah mereka pikirkan pula. Seorang caleg (agak senior) menasihati caleg muda yang baru kali pertama mencalonkan diri. Dikatakan, bahwa yang paling pasti memilih mereka adalah keluarga dan teman-teman mereka sendiri. Sedangkan pemilih lainnya itu ibarat keberuntungan yang saling diperebutkan. Maka memang benar, para pemilih itu mesti “dibujuk”, “dirayu”, dan “diyakinkan”. Lalu, kita pun kadang tak hanya melihat gambar caleg itu sendiri, tapi juga ada gambar tokoh lainnya yang menemani. Terkadang juga ulama.

Barangkali tak seluruhnya caleg itu ingin menjadi caleg, tapi lantaran karena ada tawaran, peluang, kemungkinan, dan sedikit berharap keberuntungan. Boleh jadi dan mungkin benar, caleg bukanlah sebuah cita-cita. Tapi setelah terpilih, itulah cita-cita –yang mungkin juga tak pernah tahu apa yang dicita-citakan itu. Yang ada hanyalah proses.[]

Edisi koran terbit di Kolom Potret, halaman Cakrawala Sastra dan Budaya Radar Banjarmasin, Minggu (30/11)

Iklan

22 pemikiran pada “Cita-Cita

  1. Yang ditakutkan. Caleg-caleg itu menjadi penjual teh, melupakan janji-janji mereka, atau berpura-pura lupa. *muka polos, seolah tidak pernah dibohongi wakil rakyat*

  2. daripada cita-cita kecil dulu tidak kesampaian, kan lebih baik merubah cita-cita jadi caleg, biayanya murah cukup dengan obral janji, obral baliho, obral iklan, obral bandera, dan obral duit…

  3. Memang benar kadang-kadang suatu ucapan cita-cita hanya sebagai pemanis bibir,lebih tepat nya cita-cita tsb tidak digapai dengan sungguh-sungguh, banyak orang sukses dan kalangan selebriti bercerita bahwa apa yang dicapainya sekarang bertentangan dengan cita-citanya diwaktu kecil, termasuk saya
    yang tidak pernah memiliki cita cita sebagai..anu.., saya hanya
    berkeinginan bisa hidup dengan layak saja sudah cukup, bukan
    berarti hidup saya tanpa tujuan dan arah, tapi saya sadar cita-cita adalah suatu proses kehidupan,sedangkan kehidupan sebenarnya ada yang sudah mengatur yaitu kekuasaan TUHAN.

  4. Cita2 . . . ? Sbuah statement yg srng dilontarkn. Saat pertxaan diajukan “apa cita2 mu?” dan dijawab dgn polosxa “berguna bgi orng lain” . Bknnya apresiasi tingg yg diterima, malah tikaman mexktkn “itu bukan cita2 bung!”. Lha? Apa yg slh dgn jawaban itu? Ya tersrh dia donk mau jawb apa, khan hakekatxa cita2 adlh sebuah titik yng hndk dicpai. Tdk pdli apkh titik itu general atau khusus,spesifik atau tidak. Cita2 kan tdk hanya berupa jabatan atau pekerjaan. Jika memang dia bercita-cita mendaki gunung fuji seorang diri,biarkanlah ia bercita-cita. Biarkanlah alam menyatu dngn dirixa mencapai cita2 itu. Cita2 datangnya dari hati, bukan dari orang tua teman atau lingkungan. Mslh terwujud atau tidak, itu masalah TUHAN, bukan kita. . .

    He . . . He. . .he. . .

  5. Wh masalah cita 2, keponakan saya adaih bang umur dua tahun tapi dah sering suka gambil foto2 orang atau objek pake cam dig, take angle foto2nya sih lumayan juga, sayang om nya (saya) gak bisa belkan kamera khusus buat dia, maklum cuma seorang “Pengangguran Menulis Mimpi”, he he, wah ada masalah caleg rame ya, ikut nyulis juga ah di………

  6. Cita-cita itu sebenarnya temanku. Ia bernama lengkap Marsita Nur Hasanah. Awalnya ia dipanggil dengan nama Sita. Akan tetapi , orang-orang terdekatnya kemudian memanggilnya Cita. Sampai akhirnya Cita menjadi anggota KPK dan menyambangi rumah salah seorang yang dulunya caleg. Tiba-tiba saja mantan caleg itu berkata, “Cita cita! Jangan kau “s”ita barang-barangku itu…!”

    Hua ha ha ha…!

    Nah lawas ulun kada ka sini. Bang Sandi, what news you? You good-good only? Talking-talking, when you walking-walking to Balai Bahasa Banjarmasin? He he he he…! Bagayaan ja Bang ai. Amun ada waktu, jalan-jalan di laman ulun. Salam gasan kakawalan.

  7. dulu … waktu saya masih bersekolah SD, ditanyain apa cita² kamu … dengan bangganya mau jawab jadi “hakim”

    sekarang … anak seumuran itu ditanyain, apa cita² … “jadi seleb” … he he he

  8. “cita-cita”
    hobby ku adalah cita-cita ku
    cita-cita ku adalah hobby ku

    wktu kecil sering di gendong sambil di tanya
    “juli,cita-citanya mau jd apa”?????
    “juli mau jadi……”
    setiap hari jum’at sore,cita-cita ku mulai di salurkan,mpe skrng malah ketagihan,akhrnya cmn jd mimpi n tmbah narsis

    wualahhhhhhhhhhh yg baca psti binun
    toenkkkkkkkk…….
    heheheheheh

  9. …menjawab safwan:
    “kalau caleg lupa janji, itu banyak terjadi…”

    …Syam:
    “ya, apalagi sekarang menjelang Lebaran Idul Adha, di mana-mana banyak yg ngobral. Tapi mungkin bagus kalo ada caleg nyumbang sapi kurban 10 ekor, pasti dah kepilih tuh… hehe..”

    …mansup:
    cita-cita, coba-coba, cabe-cabe 🙂

    …yulian:
    “ya, bang, manusia hanya bisa berencana (bercita-cita), tuhan jualah yang menentukan.” (sambil manggut-manggut, ngelus janggut…)

    …yoga:
    dalam agama memang ada disebutkan bahwa, sebaik-baik manusia adalah yang banyak manfaatnya (berguna) bagi orang lain. (maaf, tidak sedang ceramah…)

    …dhani:
    bakat memang bisa terlihat sejak dari kecil. kalau dari kecil suka bergaya kalau dipotret, maka ada bakat jadi narsis kala besar. kayak mansup gitu, hehee…

    …mahmud:
    kabar baik. belum ada undangan dari balai, mud… 🙂

    …nia:
    hmm…, cita-cita jadi hakim kala kecil, saya rasa bukan hal biasa. barangkali nia orangnya agak “beda”.

    …juli:
    jadi, apa cita-citanya juli? (emang bingung #@*”&)

    …sarah:
    asal jangan lupa daratan aja, sarah… 🙂

    …harie:
    aji mumpung, aji massaid, aji-an serat jiwa… 🙂

  10. Saya tak tau, apakah waktu kecil pernah ditanyakan soal cita-cita saya. Kebetulan saya juga pernah bicara dengan seorang anak muda yang baru pertama kali dicalonkan sebagai caleg pada sebuah partai besar, dan saya juga katakan:
    “… ini adalah waktu dan proses belajar untukmu, tak usahlah kau berharap terpilih …”

    dan untuk daerah pemilihan saya, ternyata saya hanya mengenal sekitar 7,14% caleg. dan yg bisa saya bantu cita-citanya hanya 1 orang alias 0.51%.
    🙄

  11. Ass.
    Pak Sandi,

    Numpang nongkrong. Istirahat sebentar, masih terasa lelah dan tarik napas, masih mengejar cita-cita (proses yang tidak pernah berhenti), karena segenap alam lagi pada rapat apa mau mewujudkannya atau tidak cita-cita tersebut.

    Wass.

  12. Cita-cita? hmmm…ketika aku tidak ingin jadi siapa-siapa, tiba – tiba melalui waktu aku telah jadi apa-apa…

  13. Anak-anak dan remaja sekarang kebanyakan bercita-cita jadi selebritis ketimbang ilmuwan. Kalau sudah begitu, kapan kita bisa memajukan peradaban dan kebudayaan yang masih jauh tertinggal di negeri ini, ya…..? salam buat Harie dan Isuur, maaf belum sempat ke cafe booknya.

  14. Memang anak-anak sekarang bercita-cita ke arah yang diidolakannya.Senang menyanyi ya ingin jadi penyanyi.Bercita-cita boleh tapi sesuaikan dengan kemampuan. Ingin menggapai langit tapi tak punya tangga ya lebih baik jangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s