Aceh

“Bagaimana kalau kita kembali ke Aceh?”
Seketika di benakku berkelebatan rekaman-rekaman peristiwa perjalanan ke tanah jauh itu hampir empat tahun lalu.

Langit di Kota Banda Aceh mulai meredup memasuki waktu malam, ketika mobil kami yang berangkat dari Medan mulai memasuki kota yang baru diamuk gelombang tsunami itu. Bau aneh dan asing langsung menyambut kedatangan kami. Ternyata itu adalah bau mayat. Bagaimanakah sebuah kota yang berbau mayat? Sungguh, aku tidak bisa menjelaskannya. Ya, bagaimana mungkin sebuah bau bisa dijelaskan? Walau kita hapal betul bau bawang merah saat digoreng, tapi bukankah kita tidak akan bisa menjelaskan bagaimana bau itu? Sebab bau tak memiliki warna dan bentuk. Ia hanya bisa dirasakan lewat indera penciuman.

Bau yang aneh dan asing, namun tidak akan sampai membuat kita muntah. Mungkin juga bau seperti kapur barus. Dan udara di seluruh penjuru Banda Aceh dipenuhi bau yang asing itu. Tapi orang-orang sudah tidak menutup hidung lagi. Di warung-warung, orang tetap bisa menyantap makanannya dengan tenang sambil membaca koran, melihat daftar orang-orang yang hilang (barangkali masih tersembunyi di bawah reruntuhan). Foto-foto orang-orang hilang itu juga dengan mudah ditemukan tertempel di pohon-pohon pinggir jalan, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi bila kita mengetahui keberadaannya. Gambar-gambar yang tampak ceria, tersenyum, tapi entah apa kabarnya – barangkali juga sudah tak berkabar.

Lalu hamparan puing-puing sejauh mata memandang, tenda-tenda pengungsian sepanjang pinggir jalan, organ-organ tubuh yang mengintip di balik reruntuhan (karena belum sempat dievakuasi). Sementara truk-truk hilir mudik menerbangkan debu-debu kelabu jalanan bekas lumpur — di bagian lain masih ada jalanan tak bisa dilewati karena tertutup lumpur kering. Truk itu ada yang mengangkut pengungsi, ada juga tim evakuasi, atau yang datang membawa bahan pakaian dan makanan.
Begitulah perjumpaanku dengan Aceh hampir empat tahun lalu. Seperti bekas luka yang tak pernah bisa hilang meski digerus waktu berwindu-windu.

***

Aceh. Nama itu sejak kecil memang begitu menggodaku. Nama-nama pahlawannya– yang beberapa posternya tertempel di dinding sekolahku di Madrasah Ibtidaiyah, terasa unik. Dan aku paling suka melukis wajah Cut Nyak Dien yang memiliki garis wajah tegas dan khas, atau Cut Nyak Meutia yang anggun bak putri raja.

Sejak di madrasah itu pula, nama Aceh telah tercatat di dalam impianku sebagai sebuah kota yang kelak akan kukunjungi. Sebutan Serambi Makkah kian menebalkan hasrat itu. Di kepala kecilku waktu itu terbayang sebuah kota santri yang damai dan tenang. Orang-orang saling menyapa, tersenyum ramah. Perempuan-perempuannya mengenakan kerudung, yang saban petang beriringan pergi ke surau bersembahyang.

Bila kemudian impianku menjejak tanah rencong akhirnya terwujud di saat tsunami belum satu pekan usai memporakporandakan Aceh pada 26 Desember 2004, itu bukanlah pertemuan yang kubayangkan. Tapi barangkali, peristiwa besar itu pula yang memungkinkan aku ke sana. Tak sendiri, tapi bersama Sekretaris Radar Banjar Peduli (RBP) Yohandromedha, dan dr Diauddin dari Martapura.

Dan ketika sepekan lalu Yohandromedha berucap, “Bagaimana kalau kita kembali ke Aceh?”, maka lintasan-lintasan pengalaman itu kembali berkelebatan di kepalaku. Semuanya terasa masih lengkap. Bau asing itu, hamparan puing sepanjang jalan, foto wajah-wajah ceria orang yang hilang tertempel di pohon, organ tubuh di sela reruntuhan, serta jalanan yang semuanya tampak berwarna kelabu.

Pun, saat salat Jumat pertama di Masjid Baiturrahman Banda Aceh seusai badai tsunami, aku menyaksikan punggung-punggung yang terguncang menahan tangis mendengar khatib menceritakan tentang hikmah dari segala musibah. Beberapa di antara mereka ada yang berpelukan seusai salat. Sementara para pendatang mengabadikan diri berfoto dengan latar masjid yang menjadi salah satu tempat menyelamatkan diri dari air bah.
Kini hampir empat tahun sudah. Tentu Aceh telah berubah. Dan aku masih saja terkenang nikmatnya racikan rempah-rempah kopi (Aceh) Ulee Kareng, juga seorang perempuan yang mengajarkanku satu bahasa universal yang indah: “loen galak keu gata” di Pantai Lhokseumawe kala itu.[]

Edisi koran terbit di Radar Banjarmasin Minggu, 14 Desember 2008 

Iklan

16 pemikiran pada “Aceh

  1. Keypad kecil yang tergores. Butiran embun merembes dari serat urat hati. Membasahi paru, hati dan nurani. Perih ini memekik perjalanan malam, ribuan umpatan berhaluat untukmu saudara serahim. Aku kecewa, sangat kecewa. Aceh datang, berkata; apa pedihmu melebihi lukaku? Aku menangis, sembah sujudku ya Rabbi….

  2. sedih dan terharu mengingat tentang Aceh … semoga hikmah dibalik musibah itu bisa dirasakan oleh saudara² kita disana, meski skrg masih dalam keadaan yang trauma

  3. Ass.

    Terhampar kembali ingatan tentang Aceh … tsunami … bau itu …

    Aroma kopi dari rempah-rempah racikan (Aceh) ulee kareng sekilas alihkan bau itu, namun bau itu … memahat hati dan menjadi kenangan yang merekatkan kemanusiawian dan persaudaraan.

    Wass.

  4. Ass.

    Terhampar kembali ingatan tentang Aceh … tsunami … bau itu …

    Aroma kopi dari rempah-rempah racikan (Aceh) ulee kareng sekilas alihkan bau itu, namun bau itu … memahat hati dan menjadi kenangan yang merekatkan kemanusiawian dan persaudaraan.

    Wass.

  5. baca tulisan diatas sungguh membuat saya terharu dan terenyuh, membawa saya seakan-akan ada di situ
    seandainya saya yang diajak kesana, mau banget..

    yah musibah besar, semoga dari peritiwa itu, bisa kita ambil hikmahnya..

  6. Aceh, aku tau orang-orang Aceh memiliki watak pantang menyerah, tegar menghadapi berbagai masalah. Begitulah Aceh sejak dulu kala.

  7. tsunami seakan ingin mengingatkan kita
    enough is enough!
    waktu telah tiba
    ‘tuk mensyukuri yg ada
    ‘tuk selalu bahagia
    sebelum semuanya hilang
    hanyut dalam tsunami berikutnya

  8. oo, aceh..kini, subur kembalikah ladang-ladang ganjaku yg tergerus tsunami?

    nya, musibah aceh wan musibah joga (gempa beberapa tahun yg lalu jua) itu berkaitan wal, ai. aceh ladang kemudian pemasoknya, jogja penerima (baca: pasarnya)

    tapi, aku sedih juga sih kalo mengingat-ngingat sesuatu yg sedih..

  9. ralat: aku lupa, ladang ganja tu jauh di dataran tinggi, sementara yg digerus pasang tsunami tu dataran rendah beserta pesisirnya. pinanya kada papa pang–dan masih subur–ladang-ladang itu. sukurlah..ups!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s