Tahu-Tahu…, Tahun Baru

Jangan lupa, kala meniup terompet di malam tahun baru nanti, berdoalah semoga Israfil tetap tak tergoda untuk turut meniup terompet sangkakalanya.

Tahun baru yang sebentar lagi tiba, bagaimanakah kita hendak memaknainya? Apakah memang ada hal baru setiap kita memasuki awal tahun (baru)?

Rasa-rasanya, debar-debar dan gegap-gempita itu hanya akan kita rasakan tatkala menjelang malam awal tahun. Langit di sekeliling kita tiba-tiba seperti memekik karena begitu banyaknya yang meniupkan terompet. Dan kembang api terus berdenyar-denyar menerangi angkasa seolah tak pernah putus hingga ujung malam. Jalanan dibanjiri kendaraan, seakan malam itu semua orang mesti turun ke jalan agar tidak kehilangan momen awal tahun. Macet lagi, sudah pasti. Klakson pun mulai dipencet, mendengking saling bersahutan. Lalu semuanya riuh dalam tawa kegembiraan, meski juga tak tahu apa maknanya. Barangkali karena telah berhasil melewati tahun 2008, dalam artian tidak tamat riwayatnya alias mati, dan bakal bertemu tahun 2009. Atau, itu hanyalah bentuk kompensasi dari kebingungan manusia memaknai awal tahun, selain hanya bisa hura-hura dengan meniupkan terompet, menerangi langit dengan kembang api, dan mejeng-mejeng di pinggir jalan hingga menjelang subuh?

Sementara, di ruang-ruang hiburan saling berlomba menampilkan “sang penghibur” — lebih sering biduan dan dancer lantaran sudah pasti seksi – satu bukti bahwa tak ada hiburan yang lebih menarik ketimbang menampilkan sosok perempuan, lebih-lebih bila secara visual seksi dan sensual. Biar terkesan wah, dibuatlah namanya Happy New Year 2009, dll. Hiburan pun terkadang berlangsung sampai pagi, sebab besok hari di awal tahun biasanya pekerjaan diliburkan atau mungkin meliburkan diri.
Namun ada juga yang memaknai awal tahun dengan perenungan. Biar terkesan gebyar, maka perenungan ini pun dibuat secara massal yang dikemas dalam tabliq akbar. Barangkali akan ada pertanyaan; bagaimana mungkin bisa merenung di tengah orang banyak? Nyatanya, kita masih sering menemukan orang-orang yang menangis – saya yakin bukan tangis yang dibikin-bikin—saat disebutkan dosa-dosanya (manusia), surga dan neraka, dan juga mereka yang durhaka kepada orangtua. Barangkali saat berada di tengah atmosfer itu ia menyatakan dirinya akan tobat setobat-tobatnya, meski ketika sudah keluar dari barisan jamaah: wallahu’alam. Sebab begitulah iman manusia, ibarat gelombang, kadang surut kadang pasang.

Setelah semua pesta dan perenungan akhir tahun itu, semuanya senyap. Hingga subuh pun tiba. Dan pagi hari di awal tahun itu, nyatanya sama saja dengan pagi hari sebelumnya. Matahari yang menyembul adalah matahari yang itu-itu juga. Barangkali jadwal bangun pagi saja yang berubah kesiangan. Namun saya percaya, penjual sayur tetap tidak berubah, subuh-subuh dia telah menerabas gelap dan dingin (mungkin ia tidak hirau dengan tahun baru, sebab kehidupan tetap harus dijalani dan itu artinya sayur mayur harus dibawa pagi-pagi). Saya memang sering berpapasan dengan penjual sayur ini saat pulang kerja, dan itu rata-rata antara pukul 03.00-04.00 dinihari.

Dan selalu, jalanan di hari pertama awal tahun itu dipenuhi sampah pesta semalam — yang karenanya petugas kebersihan harus bekerja ekstra hingga siang. Setelah itu, apa? Barangkali kita yang bangun kesiangan dengan agak malas membuka jendela menatap matahari yang mulai meninggi. Di meja, kopi sudah dingin karena terhidang sedari pagi. Pelan-pelan, masih dengan agak malas, menuju tempat biasa menggantung almanak. Mencabut almanak tahun 2008, dan menggantinya dengan alamanak baru tahun 2009 – mungkin bergambar Presiden AS yang baru terpilih, Barack Hussein Obama. Lalu, sepanjang hari awal tahun itu pun kita habiskan dengan tetap agak malas – dan pastinya juga telah lupa buat apa meniup terompet hingga mulut terasa bengkak dan menghabiskan lusinan kembang api yang cahayanya semu di malam tadi.

Memang, tahun baru tanpa terompet sepertinya tak lengkap. Namun jangan lupa, kala meniup terompet di malam tahun baru nanti, berdoalah semoga Israfil tetap tak tergoda untuk turut meniup terompet sangkakalanya.

***

Aha! Tahun baru masih lagi beberapa hari di depan. Selagi terompet-terompet belum lagi serempak ditiupkan, dan kembang api belum lagi diluncurkan, cari dan rebutlah sendiri maknanya – meski semestinya setiap hari kita harus selalu berjuang mencari makna dari hari-hari yang tak terasa begitu cepat berlalu itu. Tahu-tahu 2008 segera berakhir, tahu-tahu 2009 sudah di depan mata, tahu-tahu usia bertambah (atau berkurang?), tahu-tahu (hidup kita) sudah sampai di sini, tahu-tahu…, tahu-tahu…

“Ok, selamat tahun baru!” saya ucapkan (masih) dengan kebingungan mencari maknanya.[]

Catatan ini edisi koran diterbitkan Minggu (28/12) di Radar Banjarmasin

Iklan

21 pemikiran pada “Tahu-Tahu…, Tahun Baru

  1. hm…taun baru lagi…. seperti biasa…cuma di kost…paling cuma ke loteng pas jam 12 liat kembang api bentar…. 😦

    hepi nu year..

  2. Malam tahun baru…. Agh…. Habitual tahunan yang aneh? Tapi banyak yang merayakan ya? Mungkin takut di katakan kuper bila tidak ikut serta. Agh… Mending tidur aja…

  3. kebanyakan tahun baru dimaknai secara meriah teler sampai pagi lupa subuh kadang lupa dhuhur semua tergantung yang memaknai kalau aku tahun baru tdk terlalu penting cuma berubahnya tahun dan tanggal karena kemeriahan hanya semu semata yang paling penting mampukah kita berpindah menjadi manusia yang lebih baik dari tahun ke tahun salam kenal.

  4. Ass.

    Pergantian tahun terkadang begitu saja berlalu, tanpa sedikitpun memberikan kesan dan pelajaran. Seolah-olah hidup tak lebih dari sekedar menikmati hak yang diberikan Allah SWT, tanpa nilai tanpa tanggungjawab.Betapa banyak peluang yang terbuang. Betapa banyaknya waktu berlalu tanpa nilai.

    Selamat Tahun Baru…

  5. wal aku masih penasaran (kisahnya bingung dan merenung), maksud ente ‘homo banjarmensis’ tu, orang banjar yg homokah..hehe..haha..huhu

    eh, tahun lulu kita berjanji, tahun ini jadi lo kita ke singapur, malaysia, dan thailand (dengan gaya bertanya yg serius)?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s