Budaya Mawarung

Warung tak sekadar tempat makan,

tapi juga melahirkan kebudayaan

 

Jika Anda tinggal di Banjarmasin dan punya cukup uang di kantong, niscaya Anda tidak bakal kelaparan meski Anda mencari makan di waktu tengah malam. Yang paling populer untuk midnight menu di Banjarmasin, Anda bisa ke Lontong Orari (ini bukan promosi apalagi pesan sponsor, lho..) yang terletak di kawasan Kampung Melayu, tanya aja orang pasti tahu. Tempat lainnya bisa ke Kayutangi, Pasar Lama, atau S Parman. Sedangkan kalau cari makan di luar midnight menu, saat pagi sampai jam sepuluh malam misalnya, ke mana pun kaki Anda melangkah, Anda pasti menemukan warung makan (asal bukan ke kuburan). Jenisnya pun bermacam-macam, tinggal pilih.

 

Menjamurnya warung-warung makan di kota Banjarmasin ini, apakah itu membuktikan kalau Homo Banjarmensis (meminjam istilah cerpenis Seno Gumira Ajidarma menyebut manusia Jakarta dengan Homo Jakartensis) memiliki budaya mawarung atawa katuju makan? Sejauh ini memang belum ada penelitian ilmiah tentang itu. Namun konon ceritanya, Homo Banjarmensis atau urang Banjar memang katuju mawarung.

 

Di warung memang tak melulu harus makan, bisa saja hanya secangkir kopi atawa segelas teh dingin (sudah mafhum di banua, teh dingin artinya teh hangat atau malah panas dengan uap yang masih mengepul-ngepul). Ada jua teh lapas alias teh kada bagula. Nah, acara mawarung yang hanya memesan teh dingin atawa kopi inilah yang justru sering berlama-lama di warung ketimbang mereka yang memesan makanan seperti nasi kuning, lontong atau katupat kandangan (kali ini sengaja promosi masakan khas banua).

 

Bubuhannya yang sering berlama-lama di warung ini jualah yang memberikan gambaran salah satu ciri urang banua yang “sesungguhnya”. Banyak kisah yang dapat didengar dari bubuhannya ini, mulai kisah sehari-hari, bahapakan, balocoan, sampai berita-berita terkini di koran atau televisi. Dan mungkin dari warung ini pulalah sehingga lahir istilah panderan di warung, raja kisah atau tukang kisah. Mungkin sesekali kita juga akan menemukan orang-orang di warung dengan sarung membalut tubuhnya, duduk menjongkok di atas bangku sambil makan atawa maroko—dan barangkali inilah salah satu ciri khas urang banua yang masih indigenous.

 

Di China, seperti Shanghai dan Beijing, mawarung seperti di Banjarmasin juga terjadi (atau sebenarnya budaya mawarung ini sudah mendunia?). Di jalan-jalan tertentu di Tiongkok, kita akan sering menemukan deretan warung (baca: restoran) sepanjangan. Bahkan sepanjang kiri-kanan jalan. Menariknya, hampir semua tempat makan itu selalu dipenuhi pengunjung. Di beberapa restoran di Tiongkok, meja makan sebagian besar berbentuk bundar yang bisa diputar-putar, dan entah kebetulan meja makan yang jumlahnya berpuluh-puluh itu hampir semuanya terisi. Apakah orang-orang di sana jarang masak di rumah? Mungkin saja. Sebab saya berpikir, dengan jumlah penduduk yang begitu padat (sekitar 1,3 miliar) sehingga persaingan mempertahankan hidup dalam himpitan ekonomi menjadi sangat ketat, maka orang-orang di sana serba bergegas dan karenanya semuanya harus serba praktis, termasuk dalam urusan makan. Selain praktis, dengan suasana restoran yang eksotis, itu juga bisa menjadi tempat untuk mengendurkan urat syaraf setelah seharian bekerja. 

 

Bila “ketergegasan” di Tiongkok telah menciptakan budaya mawarung, seharusnya tak perlu heran bila di Veteran-Pacinan Banjarmasin sepanjang kiri-kanan jalannya juga dipenuhi warung makan. Hanya saja, rasanya Homo Banjarmensis belumlah termasuk orang-orang yang bergegas seperti di Tiongkok yang kalau jalan saja seperti orang sedang kebelet.

 

Secara ekonomis, mawarung sudah tentu tidak menguntungkan. Namun nilai praktisnya jelas lebih tinggi. Kita cukup menjentikkan jari, baca daftar menu, tunggu 10 menit, maka segera berdatanganlah makanlah yang kita pesan, terkadang ada juga tempat yang makanannya ambil sendiri. Nilai praktis ini juga sudah termasuk tempat meja-kursi, musik, kenyamanan dan terkadang nilai artistik interior restoran— tentu saja semuanya tidak serba “gratis”, dan karenanya saat membayar bill tagihannya terkadang begitu mahal. Yeah, karena kita juga harus membayar semua pelayanan itu. Dan karena dimanjakan dengan layanan dan kenyamanan ini jualah terkadang membuat orang suka berlama-lama di restoran ketimbang berlama-lama di meja makan rumah sendiri.

 

Halnya betah berlama-lama di warung-warung kecil yang biasanya menu utamanya wadai khas banua dengan teh atau kopi, di komunitas ini seringkali nilai “kisahnya” yang membuat orang enggan beranjak dari bangku. Semakin menarik kisah atau cara mengisahkannya, semakin panjanglah jam duduknya di warung. Bagaimana dengan gawian? Nah, itu pula yang penulis sendiri agak bingung memikirkannya.

 

Tapi tak mustahil dari warung-warung kecil banua inilah muncul tukang kisah-tukang kisah yang hebat, mulai dari bamadihin sampai bapantun. Syukur-syukur nanti bakal lahir jua tukang tulis kisah yang harat.[]

 

Iklan

27 pemikiran pada “Budaya Mawarung

  1. Ha..ha..ha hasrat “mewarung ” saya cuma terjadi pada pagi hari
    sebelum bekerja, berburu nasi kuning atau lontong…, memang banyak cerita di dapatkan dari sana dari cerita politik sampai yang urang banjar bilang ” me alabiu ” ada juga yg “mangabuau…” alias cerita karamput, tapi itu semua bukan masalah, malah seru dan bisa membangkitkan semangat..he..he.

  2. bukan hanya di Banjarmasin, di hulu sungai pun tumbuh subur budaya mawarung ini… dan bahkan ada “huhulutan” yang mengatakan kalau di hulu sungai, khususnya di kampung saya di kandangan, urang-urangnya banyak yang hidup “bagantung diwarung”… Bayangkan saja, setelah shalat shubuh sebelum turun ke pahumaan atau pergi ke kantor, “bacungkung” dulu di warung untuk minum secangkir kopi atau teh, makan wadai “untuk” panas dan nasi pundut atawa nasi kabuli. kemudian pada jam “isitirahat” bagawe baik yang di pahumaan maupun kerja di kantor wajib untuk “bacungkung” lagi diwarung. setelah pulang / bulik dari pahumaan atau kantor singgah dahulu di warung.
    Sore hari ke warung lagi, bacungkung lagi menikmati guguduh pisang hanyar basanga atau gumbili basanga. Malam hari setelah shalat magrib, mawarung lagi makan malam atau sekedar “mangabahau” di warung…
    ini menjadi aktivitas keseharian yang membudaya di masyarakat kita, urang banjar yang ada dihulu sungai…

  3. Konon lagi dengan budaya “mawarung”, suatu tempat paling istimewa bagi warga Banjar untuk duduk dan bicara panjang tentang kisruh politik, ekonomi, keamanan, kriminal dan lain-lain.

    Dengan kondisi ini, jangan heran kalau tradisi menulis kita masih dibilang “rendah”.

    Gagasan, ide dan pemikiran yang tumbuh di warung tidak dapat dikatakan sedikit. Tetapi kemudian membawa pulang ke rumah atau ke kantor kesimpulan “diskusi” warung untuk ditulis belum juga terbiasa.

    Karena kebanyakan hasil panderan di warung ini–disamping tidak diniatkan untuk ditulis– juga belum terbiasa untuk dituturkan dalam bentuk karya tulisan.

  4. Ass.

    Seperti sedang mewarung, suguhan kisahnya budaya mewarung di atas (nang bakisah jua siip) … ya terkadang mewarung bisa melepaskan kepenatan dan tekanan kehidupan.

    Mungkin Pak Sandi melewatkan saja kisahnya … mewarung orang Acih.

    Mewarung … cenderung menjadi kebiasaan masyarakat agraris, yang tidak terlalu terikat dengan waktu kerja formal layaknya masyarakat industri. Mewarung, rasanya tidak sama dengan me – restoran … ada perbedaan dalam beberapa hal.

    Harapan …. Syukur-syukur nanti bakal lahir jua tukang tulis kisah yang harat … ikut mendoakan. Pengarang H. Potter saja sebelum menuliskan kisahnya, kalau tidak salah sering berkunjung ke kedai kopi sambil nyoret-nyoret di kertas.

  5. bagaimana kalau budaya mewarung kita bikin film dokumenter bos, lalu kita jual ke tv biar se-nusantara tahu kalau kalimantan selatan punya budaya yang menarik. yaitu mewaruuuung

  6. Warung adalah ruang komunal yang tidak hanya menjadi tempat jual beli (makanan dan minuma), tapi lebih dari itu menjadi pusat informasi dan gosip.

  7. Mari Saudara-saudara yang ada disini, Kita galakkan aktivitas mewarung…
    Kita harus yakin, bahwa aktivitas mawarung bisa membantu Perekonomian bangsa…
    Untuk peresmian, silahkan saudara- saudara hubungi saya untuk ditraktir…

  8. Jadi ingat novel “Maryamah Karpov”, pelecehan atas mimpi Ikal membuat bahtera untuk mengejar cintanya yang dijadikan sebagai bahan taruhan. Lucunya adegan tersebut diilustrasikan dalam suasana “Budaya Mawarung” orang-orang melayu belitong…

  9. @nia:
    begitulah harapan kita, nia. bukan hanya melahirkan orang-orang yang pandai mahalabiu, hehe…

    @yulian:
    ya, semangat mawarung 🙂

    @atta:
    ayo ke banjarmasin, aku traktir mawarung

    @syam:
    barangkali dari hulu-lah asal mawarung (?)

    @rindu:
    kemana pun rindu… 🙂

    @jamrud:
    teh ulahan bini itu nang lebih nikmat, bukan begitu?

    @taufik:
    semoga saja nanti berubah, dari budaya lisan jadi budaya tulis.

    @gusti:
    duh, jangan samakan mawarung dengan salat.. 🙂

    @randu:
    tak sempat ngitung, hehee

    @benyamine:
    ya, jk rawling melahirkan karyanya di warung…

    @isuur
    dibikin film? siapa takut!

    @inas:
    ya, apa saja bisa dibicarakan, termasuk soal harga cabe dan ramalan cuaca hari ini, hehee…

    @randu:
    hidup warung!

    @sandyagustin:
    ini tampaknya penggemar andrea… hehee

    @dhani:
    kalo ada yg jualan di kubur, kira-kira yang jual dan beli siapa ya? 🙂

  10. di warung kawalah sambil-sambil menulis novel, wal? pinanya perlu jua ditampilkan sedikit cuplikan (pra)novel ente–nangkaya hudan

  11. rindu minta bawai, kyapa tu wal? kabulkanlah keinginannya..

    nah, aku hanyar tebacai komen ente ke benyamine dan rindu, tapi untuk rindu, jgn janji aja wal, lah, nangkaya caleg-caleg kita–sekali lagi, kabulkanlah keinginannya dengan niat sebenarnya (yg tulus)..hehe

  12. @harie:
    warung kita kaya apa wal? 🙂 (kita seperti terlalu sibuk, atau semangatnya yang turun? mudahan nanti bisa kita benahi lagi).

    @hajri:
    -ente terlalu banyak komen, jadinya gambar ente aja di avatar.
    -cuplikan (pra) novel ane ditampilkan? sepertinya ente saja yang mau, yang lain belum tentu.
    -rindu? hmmm….

    @ tambal ban:
    tambal ban sudah buka juga? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s